Buku dan Makanan

Friday

Saya sudah lama membaca buku Andai Buku Itu Sepotong Pizza karya Hernowo, namun baru ngeh betapa dahsyatnya pengiasan yang digunakan oleh penulis yang langsung mendapat tempat di hati pembaca dengan bukunya tersebut. Bagaimana tidak, buku yang merupakan investasi leher ke atas, dibandingkan dengan makanan yang menjadi kebutuhan masyarakat. Itu adalah perbandingan yang benar-benar sempurna dalam membangkitkan minat membaca seseorang. Andai Buku Itu Sepotong Pizza.

Mulai hari ini, Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah akan menggelar Perlombaan Marching Band antar sekolah se-Sumatera. Acara yang memperebutkan Piala Gubernur, Menpora dan Best of The Best Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah ini diikuti lebih dari 50 kontingen yang berasal dari berbagai daerah. Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau. Dengan jumlah masing-masing kontingen mencapai 60 orang, gawean yang digelar dua hari tersebut menjadikan suasana pesantren semakin ramai.


Nah, dalam keramaian tersebut, saya dan teman-teman yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Ar-Raudhatul Hasanah (IKRH) menggelar bazar dengan menjajakan makanan, minuman, baju atau buku. Semua dagangan itu berasal dari alumni-alumni pesantren sehingga penjualnya pun orang-orang pesantren juga. Walhasil, selain memancing minat dari peserta-peserta lomba, stand bazar kami juga menarik simpati dari santri-santriwati yang masih mondok.

Satu hal yang menarik adalah, dan ini berkaitan erat dengan apa yang saya sampaikan di awal, hari pertama penjualan yang hanya menyediakan waktu sekitar 3 jam --ba'da isya' hingga waktu tidur santri (pukul 10.00 Wib)-- makanan yang disediakan dalam jumlah besar hanya tersisa sedikit. Itu pun yang jenis nasi. Ada pun jenis cemilan dan makanan kecil seperti roti bakar, ludes. Bahkan, masih ada yang mencari-cari meskipun telah dinyatakan habis total. Saat itu, saya melihat makanan ringan yang mendatangkan keuntungan yang berat. :)

Buku? Ah, sepertinya buku jauh lebih berat dari sekedar makanan ringan atau minuman. Sehingga menyusahkan beberapa orang untuk membawanya. Bukankah setiap orang ingin kemudahan dan kenikmatan? Apalagi kurangnya makanan, selain mudah membawanya-- namanya saja makanan ringan, tentu ringan bukan?-- juga mendatangkan kenikmatan. Berbeda dengan pandangan sebagian orang terhadap buku, tidak hanya berat akibat pengaruh halaman atau isi di dalamnya, juga tidak terlalu nikmat untuk dijadikan cemilan.

Tidak benar memang kalau hal di atas kita jadikan patokan penilaian pandangan setiap orang mengenai buku. Tidak semua orang menjadikan buku sebagai beban hidup yang tentunya membebani. Di antara beragamnya pecinta kuliner tetap ada pecinta tulisan dan ide. Kita harus optimis akan hal tersebut. Toh, meskipun salah --saya tidak berharap akan hal ini--, keoptimisan akan menghasilkan kemungkinan untuk memperbaiki, meskipun waktunya akan lama. Berbeda dengan sikap pesimis, yang pasti tidak akan melahirkan perbaikan karena sikap itu yang sebenarnya harus diperbaiki.

Buku dan Makanan

Bicara tentang buku dan makanan, dalam soal rasa, pengecapnya saja sudah berbeda. Jika makanan dapat dirasa lewat lidah sehingga melahirkan rasa manis, pahit, asam, pedas, asin dan lainnya, buku dapat dirasa lewat pikiran. Pikiran yang menjadi proses dialog antara pembaca dan penulis. Rasa yang dilahirkan tentu bukan manis, pahit, asam, pedas dan asin sebagaimana di lidah. Tetapi dalam pikiran! Sekali lagi, PI-KI-RAN. Pikiranlah yang akan mengolah bumbu-bumbu bacaan.

Kabar baiknya, buku berdampak lebih luas lewat rasanya. Jika makanan berdampak pada kesehatan jasmani, lewat gizi dan kandungan di dalamnya, maka buku berdampak pada kesehatan seluruh jasmani dan rohani. Hal yang menarik adalah, kesehatan rohani dapat berpengaruh kepada kesehatan jasmani sehingga apa yang diraskan rohani akan dirasakan pula oleh jasmani. Berbeda dengan kesehatan jasmani yang tidak begitu berpengaruh kepada kesehatan rohani.

Buku dan makanan. Menyandingkannya sebagai permisalan sebagaimana yang dilakukan Hernowo, tentu, merupakan gebrakan yang hebat dalam penyebaran virus gila baca. Tak main-main, pendekatannya lewat kebutuhan paling fundamental! Makanan! Siapa coba yang ga' suka makanan!

Tapi, saya tidak membayangkan kalau ada pengiasan makanan yang menggunakan buku. Misalnya, makan rujak serasa membaca. Menikmati gado-gado layaknya menganalisis karya tulis ilmiah. Santap siang bagaikan membaca cepat. Aha! Apa yang akan menjadi pandangan orang nanti?

Tidak bermaksud untuk berlama-lama lagi, catatan ini boleh dianggap serius dan boleh juga tidak. Mereka yang menganggap serius, saya harapkan dapat menyumbang ide-ide segar lainnya untuk membangkitkan minat baca masyarakat Indonesia, yang kabar-kabarnya masih menggunakan tanda tanya [?] jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang telah menggunakan prosentasi [%].

Nah, bagi yang menganggap catatan ini tidak serius, ya bolehlah tidak usah menanggapi usulan saya untuk membuat pengiasan makanan dengan buku. Anda tidak harus mengganti Bakso Iga-Iga rasa Buku Ayat-Ayat Cinta. Atau, lebih ekstrem lagi, Anda mendirikan usaha minuman dengan nama Es Kolak Buku Harry Potter. Tolong, hal itu jangan dianggap serius karena saya pun mengusulkannya tidak dengan keadaan serius. Peace..