Pernahkah Kita Benar-Benar Merasakan Kebahagiaan?

Saturday

Musik ada di sekitar kita. Yang perlu dilakukan hanyalah... mendengarkannya! (Evan Taylor/August Rush)

Barangkali saya harus mengakui bahwa saya terkadang terlambat dalam menikmati sajian film-film bagus. Tak tahu apakah permasalahannya. Namun, untuk film August Rush yang dirilis pada tahun 2007 saja, saya baru bisa menikmatinya pagi ini, empat tahun setelah film itu dirilis. August Rush adalah film yang disutradarai oleh Kirsten Sheridan dan menjadi nominasi Academy Award 2007. Diperankan oleh Freddie Highmore (Evan/August Rush), Keri Russell (Lyla Novacek), Jonathan Rhys Meyers (Louis Connelly) dan Robin Williams (Maxwell "Wizard" Wallace), film ini diawali dengan ucapan menarik dari Evan:

Listen, can you hear it?

The music, I can hear it every where

In the wind, in the air, in the light, it's all around us

All you have to do is to open yourself up, all you have to do is listen

Where I've grown up, they tried to stop me from hearing the music

But when I'm alone, it builds up from inside me

And I think if I could learn how to play it

They might hear me, they would know I was theirs and find me

Sometimes the world tries to knock it out of you

But, I believe in music the way that some people believe in fairy tales

I like to imagine that what I hear came from my mother and father

Maybe the notes I hear are the same ones they heard the night they met

Maybe that's how they'll find me

I believe that once upon the time long ago

heard the music and followed it…

Ya, akhirnya film ini menyadarkan saya bahwa ada begitu banyak suara yang kita dengar setiap harinya. Suara-suara yang berasal dari segala sesuatu itu, jika benar-benar kita nikmati, akan menjadi instrumen musik yang sangat memukau. Dalam film karangan Paul Castro, Nick Castle, dan James V. Hart ini dibuktikan bahwa musik dapat saja lahir dari dentuman suara bola basket, suara klakson mobil, gemerincing koin, kepakan sayap burung, desir angin, putaran roda kereta api dan lain sebagainya. Dapat pula dari kantong plastik yang berterbangan, suara pintu yang dibuka atau hal-hal lain yang tentunya kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Evan, sebagaimana dalam salah satu dialog yang dikatakannya bahwa ia mencintai musik lebih daripada ia menyukai makanan, tumbuh dalam kebahagiaan menikmati musik. Bukan musik yang berasal dari alat musik, melainkan dari perpaduan bunyi yang berasal dari benda di sekelilingnya. Hidup baginya adalah musik, dan ia benar-benar hidup di dalamnya. Kuncinya hanya satu: Musik ada di sekitar kita. Yang perlu dilakukan hanyalah... mendengarkannya!

Lantas, saya mencoba untuk merenungkan sejenak apa yang berhasil saya petik. Renungan itu membawa saya pada apa yang pernah saya dengar di beberapa ceramah agama tentang konsep penggandaan nikmat ketika seseorang menyukurinya dan azab yang pedih ketika mengabaikannya. Apakah benar ketika bersyukur kenikmatan akan bertambah? Bagaimana kenikmatan itu bertambah? Jumlahnya?

Saya lalu berusaha untuk mendatangkan saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidup. Apa pun itu dan sekecil apa pun bentuknya. Saya ingat saat-saat saya berkumpul bersama dengan keluarga, dengan teman-teman di pesantren, dengan sesama mahasiswa di kampus dan yang lainnya. Saya putar memori otak saya agar mampu menunjukkan kembali apa yang pernah terjadi ketika saya benar-benar bahagia.

Hasilnya, apa yang saya lihat dalam perjalanan hidup membangkitkan kembali apa gairah dan motivasi untuk menjadi lebih baik. Jika saya melihat saat-saat di mana saya begitu bahagia ketika tulisan saya dimuat di surat kabar atau diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit, maka semangat menulis saya pun semakin menggebu-gebu. Aliran ide untuk menulis semakin deras mengalir menelusuri setiap hormon. Dari pikiran, turun ke aliran yang berada di tangan dan akhirnya menggerakkan jemari untuk menekan tuts laptop. Huruf demi huruf tercetak dan menyapa mata saya untuk kemudian diteruskan kembali menuju otak untuk dipikirkan. Bagaikan sebuah sirkulasi, yang masuk akan keluar dan yang keluar akan mendatangkan pemasukan. Begitu seterusnya.

Berbeda halnya ketika saya mencoba untuk mengingat-ingat beberapa tulisan yang dikembalikan oleh redaksi media massa dan penerbit. Saya merasakan bahwa saya adalah salah satu dari sekian banyak orang 'bodoh' yang menghabiskan banyak waktu untuk menuliskan lembaran-lembaran yang akan dikembalikan. Atau bukan hanya dikembalikan, tetapi dilupakan dan tidak dilihat sama sekali. Tulisan yang tidak jelas kabar beritanya, tulisan yang hanya dibaca oleh saya sendiri atau minimal redaksi yang bingung dalam memahami tulisan tersebut. Begitu banyak waktu yang terbuang, begitu banyak uang yang terpakai, begitu banyak kegiatan yang ditinggalkan, hanya demi perbuatan yang sia-sia.

Semakin dalam saya mengembalikan ingatan saya pada suatu hal yang membahagiakan, saya merasakan semangat yang semakin besar untuk menjadi lebih baik. Begitu pula ketika saya semakin dalam untuk berusaha mengembalikan ingatan saya pada hal-hal yang menyedihkan, kesedihan itu semakin tampak dan semakin menyeramkan terlihat. Sampai di sana, saya mempunyai keyakinan bahwa penggandaan nikmat yang dimaksudkan dalam ceramah agama yang berasal dari firman Allah tersebut adalah ketika kita tidak berhenti pada satu titik kesuksesan karena terus didorong oleh semangat menjadi lebih baik. Dan azab yang pedih adalah ketika kita begitu takut untuk menghadapi kehidupan yang terus berjalan tanpa memedulikan apakah kita berjalan atau hanya duduk saja, bahkan tertidur!

Musik ada di sekitar kita. Yang perlu dilakukan hanyalah... mendengarkannya!

Itu perkataan Evan yang sangat memukau. Saya ingin mengganti kata musik dengan kebahagiaan dan kata mendengar dengan kata merasakan.

Kebahagiaan ada di sekitar kita. Yang perlu dilakukan hanyalah... merasakannya!

Semoga bermanfaat.

0 komentar: