Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?
Jum'at pagi, saya kembali menginjakkan kaki di Surabaya setelah 5 hari berada di bumi dewata, Bali, dalam rangka Pembinaan dan Temu Nasional Peserta Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Republik Indonesia. Tidak banyak yang berhasil saya serap dari pertemuan itu kecuali mencuatnya dalam diri saya pertanyaan yang saya jadikan judul catatan ini.
Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?
Bagi seluruh mahasiswa PBSB, pertanyaan itu begitu penting. Bagaimana tidak, program yang dikhususkan bagi para santri yang mengenyam pendidikan pesantren ini diadakan memang atas dasar kepedulian pada dunia pesantren. Tak heran jika, dalam salah satu poin penting surat perjanjian penerimaan beasiswa ini, santri diharuskan untuk mengabdikan dirinya pada pesantren setelah mengenyam pendidikan di berbagai universitas dan institut di Indonesia dan lulus sebagai seorang sarjana.
Pak Ruchman Basori, sebagai pendamping Mahasiswa PBSB, dalam majalah Santri menuliskan hal ini dengan sangat jelas bahwa mahasiswa peserta PBSB yang tersebar di ITB, IPB, UIN Syarif Hidayatullah, IAIN Walisongo, UIN Sunan Kalijaga, UGM, ITS, UNAIR, IAIN Sunan Ampel, UIN Maliki Malang dan Universitas Mataram pada hakikatnya mempunyai tanggung jawab sebagai duta pesantren dan masyarakat serta menjadi pioneer pengembangan dan pemberdayaan pesantren dan masyarakat!
Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?
Sebagai terapan dari apa yang 'diharuskan' oleh Kementerian Agama tersebut, beberapa mahasiswa peserta program tersebut berkumpul dan akhirnya merumuskan konsep pengabdian yang akan mereka gagas dan praktekkan nantinya.
Walau berbeda dalam gagasan, hal yang sangat terlihat jelas dari berbagai usulan ketika itu adalah penerapan nilai-nilai kepesantrenan di Masyarakat [dan juga pesantren]. Hal ini harus diakui mengingat kehidupan santri tentu saja tidak berada di pesantren saja, tetapi juga pada masyarakat. Kelak, harapan Menteri Agama Republik Indonesia, Suryadharma Ali, yang hadir di forum tersebut, santri-lah yang akan muncul sebagai pemimpin-pemimpin di masyarakat bahkan negara!
Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?
Apa yang saya dapatkan di Bali tersebut, mengingatkan saya pada apa yang pernah saya terima di pesantren. Sejak duduk di kelas 1 Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, kami memang selalu diajarkan agar tetap memegang nilai-nilai kepesantrenan dan akhirnya menyebarkannya di lingkungan sekitar ketika kembali ke daerah masing-masing. Di mana pun kalian berada, nama pesantren ada di jidat kalian masing-masing, begitu kata-kata yang selalu kami dengar. Kata-kata tersebut akhirnya bersatu dengan diri kami masing-masing dan akhirnya
Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?
Bagi saya pribadi, butuh waktu lama untuk menjadi seorang pioneer pengembangan dan pemberdayaan pesantren dan masyarakat. Apalagi, saat ini, saya sendiri masih harus kuliah dan belum terjun secara langsung pada dua objek tersebut. Namun demikian, apa yang dilakukan oleh seorang trainer lulusan pesantren Darussalam, Gontor Ponorogo, telah menginspirasi saya. Nama beliau adalah Akbar Zainuddin. Penulis buku Man Jadda Wajada, yang merupakan penjelasan dari pelajaran mahfudzot yang berisikan kata-kata mutiara yang dapat menjadikan kehidupan lebih bermakna.
Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?
Nah, di sela-sela perkuliahan yang saya jalani dengan Beasiswa PBSB tersebutlah, saya ingin mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Akbar Zainuddin lewat bukunya.
Cerita awalnya adalah ketika Mbak Triani Retno, yang kelak menjadi editor buku Peaceful Jihad for Teens bertanya tentang jihad karena melihat latar belakang pendidikanku yang dari pondok pesantren. Saya pun menjawab dengan apa yang saya ketahui. Dialog singkat tersebut, akhirnya berujung pada ide untuk menulis buku bertemakan jihad. Bedanya, jika buku-buku jihad pada umumnya ditulis dengan kata-kata ilmiah nan bersifat akademik, buku yang saya tulis tersebut, tentunya dengan mengikuti arahan dari editor, saya tulis dengan bahasa yang meremaja dan ringan-ringan saja. Toh, buku ini memang diperuntukkan untuk remaja agar terhindar dari kasus teror yang mulai mengincar para remaja sebagai dalangnya. Hal ini terbukti dengan apa yang dilakukan oleh Dani, remaja yang baru lulus SMA, pengebom hotel Mariot, dan juga 8 remaja yang masih duduk di bangku SMP dan SMA yang diduga anggota terorisme dan baru saja tertangkap di Jawa Tengah, baru-baru ini. (Suara Karya, 23/01/2011)

Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?
Nilai apa yang saya terapkan dalam buku itu?
Salah satu nilai kepesantrenan yang selalu ditanamkan dalam diri saya ketika di pesantren adalah al-ma'hadu fauqol jami' wa li jami' at-Towaif, pesantren berada di atas dan untuk semua golongan. Dengan nilai itu, santri diharapkan menjadi pelopor kedamaian bagi masyarakat sekitar. Berlomba hanya untuk kebaikan saja tanpa saling menjatuhkan antara satu dan lainnya. Tidak ada saling dengki apalagi iri. Berpacu dalam satu kesatuan demi kemajuan bersama.
Maka buku itu pun saya tulis dengan penekanan bahwa remaja muslim harus mampu untuk menunjukkan kualitasnya demi menegakkan nilai-nilai ke-Islam-an di Indonesia. Bukan dengan mengebom atau menjadi teroris, tetapi dengan karya-karya yang diakui dan diapresiasi oleh banyak orang.
Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?
Sebagai penutup, apa yang saya telah lakukan ini barangkali belum mencukupi untuk menjawab pertanyaan besar judul catatan ini. Namun, setidaknya, melakukan sesuatu yang telah berwujud nyata tentunya lebih baik ketimbang hanya konsep dan wacana saja. Mari menerapkan apa yang telah kita terima di pesantren untuk pengembangan pesantren dan juga tentunya masyarakat.



0 komentar:
Post a Comment