[Di balik layar "Peaceful Jihad for Teens"] Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?

Monday

Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?


Tahun 2005, Dr. Ronald Lukens-Bull, antropolog berasal dari University of North Florida, Amerika Serikat, menerbitkan sebuah karya menarik, yang mengkaji tentang dunia pesantren di Jawa Timur dalam hal negoisasi identitas dan modernitas dalam Islam, yang berjudul Peaceful Jihad. Buku terbitan Palgrave Macmillan yang ditulis dengan berbahasa Inggris tersebut menitikberatkan pembahasan pada bagaimana sebenarnya proses modernitas dalam tubuh umat muslim, khususnya di Jawa Timur, untuk kemudian menjadikan mereka mempunyai keunikan tersendiri dalam berbagai hal. Lebih lanjut, Dr. Lukens-Bull menyatakan bahwa apa yang pernah diteliti oleh Cliffort Geertz, masih terlalu terbatas pada sebuah perjuangan santri modernis perkotaan (santri) versus tradisionalis pedesaan (priyayi) atau populer beriman (abangan). Maka,menambah penelitian antropologi dengan berfokus pada dinamika yang terjadi pada sekolah-sekolah Islam di Jawa Timur dikenal sebagai pesantren. Ia melakukan penelitian mendalam pada 1990-an tentang bagaimana para guru Islam dan pemimpin dalam pesantren itu menggabungkan politik dan simbolik-budaya matriks ke dalam kurikulum. (http://murtaufiq.blogspot.com/2008/09/peaceful-jihad-negotiating-identity-and.html)


Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?


Pada tahun ini, 2011, saya menuliskan buku dengan judul yang sama dengan tambahan kata for teens di belakangnya. Saya sendiri, belum membaca secara langsung apa yang dituliskan oleh Dr. Ronald Lukens-Bull. Namun, secara garis besar, dengan mengacu pada beberapa pembahasan tentang buku karangan beliau di internet, saya dapat memastikan bahwa apa yang saya tulis dan beliau tulis adalah sesuatu yang berbeda. Perbedaan yang paling mencolok adalah ketika beliau melandaskan penulisan buku tersebut pada ilmu antropologi yang beliau miliki, maka apa yang saya tulis adalah murni dari apa yang saya ketahui dari ilmu al-qur'an, al-hadis, dan fikih yang membahas tentang jihad untuk kemudian menyandingkannya dengan situasi remaja pada saat ini. Hal ini saya kira penting mengingat remaja saat ini cenderung menyukai hal yang instan dan to the point: tidak terlalu banyak penjelasan, langsung pada pokok permasalahan. Singkat, padat, mudah dipahami.


Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?

Sebelum saya mendapatkan judul peaceful jihad for teens, naskah mentah itu saya beri judul Ayo Jihad!. Saya merasa judul Ayo Jihad tersebut sudah cukup menarik bagi remaja mengingat unsur provokatif yang ada di dalamnya. Namun, di saat saya sedang menuliskan naskah tersebut, saya sempat bercerita banyak dengan Pak Ruchman Basori, pendamping mahasiswa penerima beasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama, tentang aksi-aksi terorisme di Indonesia yang mengatasnamakan agama. Pembicaraan tersebutlah yang akhirnya memunculkan istilah peaceful jihad. Saya sendiri tidak mengingat pasti apakah istilah itu ada kaitannya dengan buku Dr. Ronald Lukens-Bull atau tidak. Namun, istilah itu muncul begitu saja ketika saya dan Pak Ruchman berdiskusi, saat itu.


Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?


Gagasan untuk 'meluruskan' pemahaman jihad menuju hal-hal yang damai sudah lumrah di dengar di Indonesia. Apalagi pasca pengeboman di Bali dan Hotel Mariot. Banyak orang yang mengutuk aksi terorisme yang mengedepankan kekerasan, walaupun dengan alasan agama. Hal ini, menurut saya, bukan berarti mereka tidak ingin membela agama mereka sendiri, melainkan untuk menjaga marwah agama yang mereka yakini. Menarik untuk menyimak apa yang dikatakan oleh M. Ikhlas Tamrin yang saya tuliskan dalam pembukaan pembahasan mengenai "Jihad Penghancur" di buku Peaceful Jihad for Teens:


"Gerakan koalisi dunia melawan terorisme yang diprakarsai oleh Amerika Serikat ternyata memiliki akibat lain karena ternyata perang melawan terorisme lambat laun berubah menjadi perang melawan Islam. Hal inilah yang menimbulkan stigma bahwa terorisme sama dengan Islam. Pernyataan di atas dapat dilihat dari banyaknya organisasi Islam dan Tokoh Islam yang dicap teroris"


Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?


Pernyataan itu jugalah yang akhirnya mendorong saya untuk juga ikut serta mendukung jihad damai di Indonesia, khususnya untuk para remaja. Artinya, menurut saya, remaja jangan sampai terjebak oleh rayuan para pencari 'calon pengantin' agar mau menjadi pelaku terorisme seperti Dani, remaja berusia 18 tahun yang menjadi pembawa bom dan akhirnya meledakkan diri sendiri di Hotel Mariot, 17 Juli 2009.


Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?


Singkat kata, kenapa harus peaceful jihad? Karena jihad yang sedemikianlah yang harus kita lakukan untuk menjaga harkat dan martabat agama Islam itu sendiri. Jihad dengan kekerasan lebih besar dampaknya pada perusakan citra Islam itu sendiri, sehingga dicap sebagai agama yang pro-kekerasan, pro-anarkisme dan lain sebagainya, yang tentunya tidak enak didengar telinga. Jihad dengan jalan damai akan lebih berpeluang untuk menciptakan umat Islam yang cinta akan kedamaian, keharmonisan dan persaudaraan.


Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull? Saya tidak terlalu yakin dengan hal ini ketika menjawab 'ya' atau 'tidak'. Namun, gagasan untuk mengedepankan jihad yang damai (peaceful), mungkin saja berkaitan, tetapi dalam ranah kajian dan pembahasan, mungkin juga berbeda. Setidaknya, buku saya membawa perbedaan tersendiri, yang bagi saya ini sangat penting untuk kita pahami bersama, karena Peaceful Jihad for Teens saya tulis dengan semangat remaja dan untuk remaja agar terhindar dari aksi terorisme di Indonesia.


Hidup remaja! Mari berjihad a la "Peaceful Jihad for Teens"

0 komentar: