Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Tuesday

Selasa ini, sebagian besar umat muslim memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Ada banyak bentuk acara yang diselenggarakan di berbagai daerah. Tidak hanya satu macam acara saja, melainkan bermacam-macam sesuai kebiasaan yang berlaku. Namun demikian, keberagaman acara tersebut bertujuan pada satu arah: memperingati hari kelahiran Nabi besar Muhammad saw.


Sebagaimana redaksi yang tertera, Maulid Nabi Muhammad saw bukanlah dirayakan tetapi diperingati. Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa, acara tersebut bukan bermaksud kecuali agar umat muslim dapat mengingat saat-saat Nabi Muhammad saw lahir hingga akhirnya membawa risalah dan menuntun umatnya menuju cahaya iman dan islam. Begitu banyak buku yang menceritakan sejarah panjang keemasan umat Islam saat beliau hidup. Pada acara maulid Nabi seperti hari Selasa ini-lah, jika ingatan kita sedikit lupa di-refresh kembali. Memperingati: mengadakan suatu kegiatan untuk mengenangkan atau memuliakan suatu peristiwa (Kamus Besar Bahasa Indonesia)


Ironisnya, di tengah peringatan tersebut, terdengar kabar tidak mengenakkan mengenai penyerangan Ponpes Al Ma'hadul Islam yang terletak di Desa Kenep, Kecamatan Beji, Pasuruan oleh ratusan orang bersarung, yang berlangsung sekitar pukul 14.00 WIB. Penyerangan yang terjadi 5-10 menit tersebut menambah deretan brutal yang mengatasnamakan Agama (detik.com)


Cendikiawan Muslim KH Jalaluddin Rakhmat, usai Diskusi 'Tebarkan Senyum Sang Nabi' di Pusdai, Jalan Diponegoro, Bandung, mengatakan bahwa seharusnya momen peringatan maulid Nabi Muhammad saw, dapat dijadikan titik awal untuk semakin meneladani perilaku Nabi, terutama dalam mengatasi konflik antar umat beragama yang sedang memanas di Indonesia. (detikBandung.com)


Ketika Rasulullah saw masih hidup misalnya, saat itu penduduk Thaif adalah salah satu penduduk yang paling menentang dakwah yang dilakukan umat Islam. Rasul diperlakukan seperti seorang pencopet yang dikejar-kejar dan dilempari batu, hingga kaki beliau berdarah-darah. Melihat itu, malaikat Jibril menawarkan 'jasa' untuk membalikkan gunung agar seluruh penduduk Thaif tertimpa. Namun Rasulullah menolak tawaran tersebut seraya berdoa: “Ya Allah, berilah hidayah atau petunjuk kepada kaumku. Karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui.” (Arya Noor Amarsyah)


Hal demikian menunjukkan bahwa, sesungguhnya Nabi Muhammad saw, mengajarkan kita bahwa janganlah terburu-buru menyalahkan orang lain sehingga melupakan diri untuk melihat kekurangan pribadi sendiri. Bisa jadi, apa yang terjadi di Indonesia, saat ini, disebabkan oleh dakwah Islam yang belum maksimal, teladan umat muslim yang belum terlihat atau hal yang lainnya.


Semangat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw itu jugalah, yang sebenarnya, mendorong saya untuk menuliskan buku Peaceful Jihad for Teens yang baru saja diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Sebagai remaja muslim, jihad yang mesti dilakukan bukanlah dengan menjadi seorang teroris dengan menghalalkan bom bunuh diri untuk menghancurkan beberapa tempat, yang bisa jadi ada orang muslim juga di dalamnya. Remaja muslim, selayaknya, menjadi pioneer dalam jihad damai dengan terus meneladani apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw: memaksimalkan kebaikan yang ada dalam diri sendiri, agar dapat ditularkan pada orang banyak. Sehingga, dengan demikian, keyakinan orang banyak akan risalah kedamaian yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad saw, dapat terus diperlihatkan, untuk selanjutnya diteladani.


Kembali ke pokok pembahasan, memperingati maulid Nabi Muhammad saw bertujuan agar umat muslim benar-benar ingat akan dampak lahirnya Nabi Muhammad saw, yang tak lain adalah risalah untuk segenap manusia. Nabi Muhammad diutus bukan hanya untuk sekelompok orang saja, melainkan untuk segenap manusia. Jika demikian adanya, nilai-nilai yang dibawa oleh Nabi Muhammad pun, harus dipegang teguh oleh umat muslim sedunia. Kedamaian dan mendamaikan. Bukan perpecahan, apalagi memecah belah.


wallahu a'lam..


0 komentar: