Saat Aksi Bom Bunuh Diri Kembali Marak

Saturday

”Bom bunuh diri di Cirebon adalah perbuatan biadab. Semua bom dengan tujuan membunuh atau melukai manusia itu dilarang Islam, apalagi di masjid saat shalat Jumat.” –Said Agil Siradj

Aksi bom bunuh diri kembali terjadi. Tidak tanggung-tanggung, kali ini pelakunya meledakkan bom di mesjid Mapolresta Cirebon: daerah yang menjadi markas kepolisian Kota Cirebon. 1 orang tewas dan 27 orang luka-luka akibat kejadian yang terjadi saat khatib turun mimbar ini. Peristiwa ini menambah daftar panjang bom bunuh diri di Indonesia.

Kita tentu berharap bahwa pihak kepolisian segera bertindak. Apalagi Kepala Bagian Perencanaan Polres Kota Cirebon Komisaris Sutisna, saat ditemui di RS Umum Pertamina Cirebon, mengatakan, bahwa wajah orang itu bisa diidentifikasi karena wajahnya tidak mengalami luka. Orang itu luka di bagian perut, hampir bolong. Bahkan bukan cuma mengidentifikasi wajah pelaku saja. Kita berharap bahwa pihak kepolisian dan tentunya dibantu oleh segenap elemen masyarakat mampu untuk mengikis bahkan menghilangkan aksi-aksi terorisme di Indonesia.

Kita tentu masih ingat dengan aksi-aksi bom bunuh diri sebelumnya, yang hampir menjadi agenda tahunan: 12 Oktober 2002 terjadi di Paddy’s Cafe dan Sari Club, Bali. 202 orang tewas 123 luka-luka. Setahun kemudian, 5 Agustus 2003, bom meledak di Hotel JW Marriot Jakarta dan menewaskan 11 orang serta melukai 152 orang lainnya. 9 September 2004, giliran Kedubes Australia yang menjadi sasaran dengan jumlah korban 9 tewas, 161 luka-luka. 1 Oktober 2005, aksi bom bunuh diri kembali ke Bali dengan sasaran Raja’s Bar and Restaurant, Menega’s Cafe dan Nyoman Cafe. Diberitakan 25 tewas dan 102 orang luka-luka.

Empat tahun kemudian, Hotel JW Marriot Jakarta kembali menjadi sasaran. Yakni ketika 9 orang tewas dan 55 luka-luka pada aksi yang dilakukan pada 17 Juli 2009. Dan terakhir adalah apa yang terjadi di Mesjid Mapolresta Cirebon dengan dugaan bahwa pelaku menyembunyikan bom di balik bajunya.

Bagi saya pribadi, apa yang terjadi seakan bertolak belakang pada apa yang saya dengar dari para berbagai peserta Bedah Buku Peaceful Jihad for Teens. Begitu pula ketika dalam pelatihan kepenulisan saya menyinggung soal terorisme yang, salah satu caranya, dengan menggunakan buku yang berselipkan bom. Bahkan, saat seminar Internasional di IAIN Sumatera Utara pun, dihadapan mahasiswa-mahasiswi yang berasal dari Indonesia dan Malaysia, mereka pun tidak ada yang berminat menjadi pelaku terorisme. Lantas, kenapa aksi terorisme masih terjadi?

Ada satu ungkapan menarik yang, barangkali bisa kita cermati bersama, tentang bagaimana aksi-aksi terorisme tidak pernah menghilang dari Indonesia, yang diungkapkan oleh Kepala Bagian Penerangan Umum Kepolisian RI Komisaris Besar Boy Rafli dalam diskusi dan peluncuran buku berjudul Panduan Jurnalis Meliput Terorisme yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Jakarta, Kamis (14/4). Ia mengungkapkan bahwa peran pers dinilai sangat penting untuk ikut melakukan upaya deradikalisasi dan mengurangi ideologi terorisme berkembang. Pers diharapkan dapat membangun kesadaran dan kemampuan masyarakat di segala lapisan untuk menyadari bahaya terorisme sehingga terorisme tidak berkembang. (Kompas, 16/04/2011)

Hal ini tentunya perlu untuk didiskusikan, mengingat (1) telah banyak teroris yang berhasil ditangkap, begitu pula dengan para ‘pencari bakat’ teroris, namun aksi terorisme belum juga hilang. (2) Pemberitaan yang terkadang, lupa, membahas tentang ’siapa-siapa’ saja korban terorisme. Hal ini perlu dilakukan mengingat banyaknya para rekrutmen ‘calon pengantin’ yang menggunakan berbagai alasan, bahkan agama untuk membenarkan aksi mereka. Sebagai contoh kecil, Prof (Ris) Hermawan Sulistiyo, Ketua Tim Investigasi Bom Bali I, mengungkapkan dalam Kata Pengantar buku saya, Peaceful Jihad for Teens, bahwa dalam kasus Bom Marriot I, ada pimpinan mesjid yang menjadi korban pengeboman.

(3) Buku-buku yang membahas tentang terorisme, ataupun yang mengaitkannya dengan jihad, masih kurang akrab dengan para remaja atau pun pemuda. Apakah karena ‘isinya yang berat’ atau karena penyampaian yang masih terkesan hanya untuk kalangan akademisi–karena banyak menggunakan istilah-istilah ilmiah yang cenderung kurang dipahami oleh para remaja– hal ini tentu menjadi PR kita bersama. Dalam Road Show Bedah Buku Peaceful Jihad for Teens, saya selalu bertanya apa kesan para remaja ketika membaca buku-buku tentang jihad, jawabannya berkisar pada (i) terkesan ‘angker’, (ii) tebal, (iii) susah dipahami dan (iv) menakutkan.

Tiga hal tersebut tentunya harus kita pikirkan bersama. Kita tentu tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja, yang masih berkelumit pada banyak permasalahan. Kita juga tidak bisa mengandalkan polisi saja karena markas mereka pun telah menjadi sasaran. Kita semua yang harus bertindak. Tidak menunggu waktu, saat ini juga!

0 komentar: