(Kamu baru bisa ayah katakan sukses jika kamu bisa menggapai lebih tinggi dari apa yang ayah capai) Sehabis maghrib sebelum isya', saya secara tidak sengaja, membuka-buka kembali catatan-catatan lama yang tertuang dalam sebuah buku tulis. Itu buku tulis saya ketika masih mengenyam pendidikan di pesantren ar-Raudhatul Hasanah, Medan. Sudah sembilan bahkan sepuluh tahun, mungkin, umur tulisan itu, karena tertulis di buku itu bahwa itu adalah catatan saya untuk kelas satu dan dua kulliyatul mu'allimin al-islamiyah. Kabar gembiranya: tulisan itu dapat dibaca! Di catatan itu, saya memulai curahan hati ketika dikunjungi ayah sehabis maghrib. Kunjungan ayah ke pesantren, selalu membawa arti tersendiri bagi saya. Maklum, ayah yang dulunya juga menempuh pendidikan di pesantren, sangat menginginkan agar saya konsentrasi belajar tanpa memikirkan apakah ayah datang hari itu atau tidak. Ayah selalu datang secara tiba-tiba dengan memberi kejutan. Terkadang membelikan saya sepatu baru, buku baru, baju baru dan banyak lagi. Kamu baru bisa ayah katakan sukses jika kamu bisa menggapai lebih tinggi dari apa yang ayah capai, itu pesan yang paling menggetarkan hati saya saat itu. Saya pun menuliskannya dengan huruf kapital. Seakan-akan itu adalah cambuk bagi saya untuk terus bisa meningkatkan pencapaian keluarga kami. Saya harus bisa lebih baik dari ayah, itu tekad yang ada dalam hati saya, meski sampai saat ini, saya pun tidak pernah yakin akan bisa melampaui apa yang beliau capai. Ayah adalah seorang yang mandiri. Itu poin pertama yang saya tuliskan. Maka saya pun berniat, mulai malam itu, harus mandiri. Sejak lulus SD, ayah telah meninggalkan kampung halaman kami untuk mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren al-Musthafawiyah, Purba Baru -- pondok pesantren yang berjarak sekitar lima jam dari kampung halaman kami dengan mengendarai bus--. Ayah tidak pernah dikunjungi sekalipun saat itu, maka saya tidak boleh terus berharap bahwa ayah akan terus mengunjungiku di pesantren. Saya harus terus belajar meski ayah tidak berkunjung. Mandiri-mandiri-mandiri! Ayah kuliah S1 dengan keringatnya sendiri, saya pun harus begitu. Itu poin kedua. Saya sempat tsayat ketika akhirnya, di kelas dua saat belajar di pesantren, ayah meninggalkanku untuk selamanya. Tidak pernah terpikirkan olehku bagaimana saya harus mencapai apa yang dicapai ayah dahulu, dengan sebuah nilai plus agar menjadi lebih baik. Bahkan ketika kakak perempuanku menyuruhku untuk keluar dari pesantren karena kekurangan biaya, saya semakin tersudutkan. Saya seolah-olah menjadi seorang anak yang durhaka karena menjadi generasi penerus yang lebih lemah dari generasi terdahulu. Singkat cerita, kemauan kuatku untuk terus belajar di pesantren tidak terhalang. Saya belajar, kakak perempuanku bekerja. Ada 'tangan-tangan Tuhan' yang mulia membantu perjalananku hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan enam tahun lamanya. Saya selalu merasakan besarnya kasih sayang orang-orang sekelilingku saat mengingat keberhasilanku menyelesaikan pendidikan di pesantren yang kini, sudah berumur lebih dari seperempat abad itu. Saya pun kuliah. Saya mendapatkan beasiswa untuk kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kupacu diri untuk terus mencapai apa yang dicapai ayah, tetap, dengan niat memberikan nilai plus dalam setiap perjalanannya. Ayah lulus setelah 6 tahun kuliah, saya berniat cukup hanya 4 tahun saja. Ayah fokus pada organisasi kependidikan, saya menjalani kegiatan menulis sebagai upaya mendidik banyak orang. Apa yang saya capai, sepertinya sudah mendekati apa yang ayah capai. Namun, pesan ayah di atas terus memacu saya supaya mendapatkan hal yang lebih baik. Saya hanya ingin menghadiahkan pahala untuk ayah karena ia telah meninggalkanku dalam keadaan yang kuat, sehingga beliau benar-benar telah mengamalkan apa yang difirmankan oleh Allah swt: dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar. (QS. Annisa 4:9) Akhir kata, ukuran kesuksesan ayah, mungkin saja mudah untuk kita capai. Namun, semangat yang ditawarkan oleh ukuran kesuksesan itulah yang lebih besar dari ukuran kesuksesan itu sendiri. Tidak ada ayah yang menginginkan anaknya merasakan kesusahan yang ia rasakan. Lantas, apa yang menjadi ukuran kesuksesan ayah Anda? Semoga menjadi renungan kita bersama. follow me @radinal_emha
Ukuran Sukses dari (alm) Ayah
Friday
Label:
motivasi
Diposkan oleh
Radinal Mukhtar Harahap
di
6/24/2011 08:44:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 komentar:
Post a Comment