<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123</id><updated>2012-01-16T02:44:17.406-08:00</updated><category term='motivasi'/><category term='artikel lepas'/><category term='puisi'/><category term='cerpen'/><category term='NLP For Writer'/><category term='Buku Pertama'/><category term='filsafat'/><category term='makalah'/><category term='resensi'/><category term='Tips'/><category term='laporan'/><category term='buku kedua'/><category term='Di balik layar'/><category term='Tadarus'/><category term='Mujahid Muda Berkarya'/><category term='esai'/><title type='text'>RADINAL MUKHTAR HARAHAP</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>188</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-8657905283262301761</id><published>2011-06-24T08:44:00.000-07:00</published><updated>2011-06-24T08:46:25.980-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Ukuran Sukses dari (alm) Ayah</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; "&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;(Kamu baru bisa ayah katakan sukses jika kamu bisa menggapai lebih tinggi dari apa yang ayah capai)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;Sehabis maghrib sebelum isya', saya secara tidak sengaja, membuka-buka kembali catatan-catatan lama yang tertuang dalam sebuah buku tulis. Itu buku tulis saya ketika masih mengenyam pendidikan di pesantren ar-Raudhatul Hasanah, Medan. Sudah sembilan bahkan sepuluh tahun, mungkin, umur tulisan itu, karena tertulis di buku itu bahwa itu adalah catatan saya untuk kelas satu dan dua &lt;em&gt;kulliyatul mu'allimin al-islamiyah&lt;/em&gt;. Kabar gembiranya: tulisan itu dapat dibaca!&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;Di catatan itu, saya memulai curahan hati ketika dikunjungi ayah sehabis maghrib. Kunjungan ayah ke pesantren, selalu membawa arti tersendiri bagi saya. Maklum, ayah yang dulunya juga menempuh pendidikan di pesantren, sangat menginginkan agar saya konsentrasi belajar tanpa memikirkan apakah ayah datang hari itu atau tidak. Ayah selalu datang secara tiba-tiba dengan memberi kejutan. Terkadang membelikan saya sepatu baru, buku baru, baju baru dan banyak lagi.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;Kamu baru bisa ayah katakan sukses jika kamu bisa menggapai lebih tinggi dari apa yang ayah capai, &lt;/strong&gt;itu pesan yang paling menggetarkan hati saya saat itu. Saya pun menuliskannya dengan huruf kapital. Seakan-akan itu adalah cambuk bagi saya untuk terus bisa meningkatkan pencapaian keluarga kami. Saya harus bisa lebih baik dari ayah, itu tekad yang ada dalam hati saya, meski sampai saat ini, saya pun tidak pernah yakin akan bisa melampaui apa yang beliau capai.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;Ayah adalah seorang yang mandiri. Itu poin pertama yang saya tuliskan. Maka saya pun berniat, mulai malam itu, harus mandiri. Sejak lulus SD, ayah telah meninggalkan kampung halaman kami untuk mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren al-Musthafawiyah, Purba Baru -- pondok pesantren yang berjarak sekitar lima jam dari kampung halaman kami dengan mengendarai bus--. Ayah tidak pernah dikunjungi sekalipun saat itu, maka saya tidak boleh terus berharap bahwa ayah akan terus mengunjungiku di pesantren. Saya harus terus belajar meski ayah tidak berkunjung. Mandiri-mandiri-mandiri!&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;Ayah kuliah S1 dengan keringatnya sendiri, saya pun harus begitu. Itu poin kedua. Saya sempat tsayat ketika akhirnya, di kelas dua saat belajar di pesantren, ayah meninggalkanku untuk selamanya. Tidak pernah terpikirkan olehku bagaimana saya harus mencapai apa yang dicapai ayah dahulu, dengan sebuah nilai plus agar menjadi lebih baik. Bahkan ketika kakak perempuanku menyuruhku untuk keluar dari pesantren karena kekurangan biaya, saya semakin tersudutkan. Saya seolah-olah menjadi seorang anak yang durhaka karena menjadi generasi penerus yang lebih lemah dari generasi terdahulu.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;Singkat cerita, kemauan kuatku untuk terus belajar di pesantren tidak terhalang. Saya belajar, kakak perempuanku bekerja. Ada 'tangan-tangan Tuhan' yang mulia membantu perjalananku hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan enam tahun lamanya. Saya selalu merasakan besarnya kasih sayang orang-orang sekelilingku saat mengingat keberhasilanku menyelesaikan pendidikan di pesantren yang kini, sudah berumur lebih dari seperempat abad itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;Saya pun kuliah. Saya mendapatkan beasiswa untuk kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kupacu diri untuk terus mencapai apa yang dicapai ayah, tetap, dengan niat memberikan nilai plus dalam setiap perjalanannya. Ayah lulus setelah 6 tahun kuliah, saya berniat cukup hanya 4 tahun saja. Ayah fokus pada organisasi kependidikan, saya menjalani kegiatan menulis sebagai upaya mendidik banyak orang.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;Apa yang saya capai, sepertinya sudah mendekati apa yang ayah capai. Namun, pesan ayah di atas terus memacu saya supaya mendapatkan hal yang lebih baik. Saya hanya ingin menghadiahkan pahala untuk ayah karena ia telah meninggalkanku dalam keadaan yang kuat, sehingga beliau benar-benar telah mengamalkan apa yang difirmankan oleh Allah swt: &lt;em&gt;dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar. &lt;/em&gt;(QS. Annisa 4:9)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;Akhir kata, ukuran kesuksesan ayah, mungkin saja mudah untuk kita capai. Namun, semangat yang ditawarkan oleh ukuran kesuksesan itulah yang lebih besar dari ukuran kesuksesan itu sendiri. Tidak ada ayah yang menginginkan anaknya merasakan kesusahan yang ia rasakan. Lantas, apa yang menjadi ukuran kesuksesan ayah Anda? Semoga menjadi renungan kita bersama.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font-size: 11px; line-height: 1.5em; "&gt;follow me @radinal_emha &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-8657905283262301761?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/8657905283262301761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/06/ukuran-sukses-dari-alm-ayah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/8657905283262301761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/8657905283262301761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/06/ukuran-sukses-dari-alm-ayah.html' title='Ukuran Sukses dari (alm) Ayah'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-4021847700247742901</id><published>2011-06-20T12:16:00.000-07:00</published><updated>2011-06-20T12:23:08.730-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Bagaimana Agar Tulisan Anda Dapat Diakui Pembaca?</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; " &gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pengakuan adalah tujuan utama ketika Anda menulis. Hal itu lebih bernilai daripada uang. Itulah cita-cita utama seorang penulis: tulisannya bernilai! &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-- William Kennedy--&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="photo photo_left" style="padding-top: 2px; padding-right: 10px; padding-bottom: 5px; padding-left: 0px; clear: left; float: left; width: 180px; "&gt;&lt;div class="photo_img" style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;img class="img" src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/264673_1749814985034_1228629244_31458881_120564_a.jpg" alt="" style="border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; " /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam buku &lt;em&gt;Self-Publishing Manual&lt;/em&gt;, Dan Poynter mengutip ungkapan menarik dari Sam Horn dalam bukunya Tongue Fu! mengenai seorang penulis. &lt;strong&gt;Sam Horn mengatakan bahwa ia tidak pernah menemukan seorang penulis yang menyesal telah menulis sebuah karya. Yang banyak ia temukan adalah penulis yang menyesal karena tidak menuliskan karya itu lebih cepat dari apa yang telah dilakukannya.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Ungkapan tersebut, seakan-akan, menyindir apa yang telah dituliskan oleh Joe Vitale, guru &lt;em&gt;The Secret &lt;/em&gt;Rhonda Byrne, dalam bukunya &lt;em&gt;Hypnotic Writing&lt;/em&gt; bahwasanya &lt;strong&gt;ia pernah berkali-kali mulai menulis, menilai tulisan itu jelek dan berhenti. Berminggu-minggu atau berbulan-bulan kemudian, ia tak sengaja menemukan tulisan yang belum selesai ini dan membacanya lagi. Tulisan itu bagus! Dibacanya enak dan tujuannya jelas. Mengapa ia tidak menyelesaikannya? Sudah terlambat untuk memulainya lagi karena saya sudah kehilangan momentum awal. Kemudian saya akan marah-marah karena tidak menyelesaikannya!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Lantas, Gregory Poirier, dalam buku &lt;em&gt;Chicken Soup for Writer's Soul&lt;/em&gt; menyarankan agar &lt;strong&gt;&lt;em&gt;jika ada hal lain yang bisa kalian lakukan dalam hidup kalian, maka silahkan pergi dan lakukan saja hal itu. Jalan ini--&lt;/em&gt;menjadi seorang penulis.red--&lt;em&gt; tidak cocok untuk kalian jika kalian ragu-ragu. Tapi jika inilah satu-satunya pekerjaan yang cocok untuk kalian, jika inilah pekerjaan yang menghidupkan jiwa kalian, maka terjunlah dan bekerja keraslah. Berjuang, mengangis, dan gigihlah menulis. Dan jangan lupa untuk mencintai pekerjaan ini, bahkan ketika tulisanmu telah menghasilkan!&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Membaca deretan kata yang diungkapkan oleh para penulis luar negeri di atas, saya berpikir dan bertanya: Apakah ini penyebab munculnya pernyataan &lt;strong&gt;menulis itu mudah? &lt;/strong&gt;Dengan pernyataan itu, muncullah rumus klasik &lt;strong&gt;cara mudah untuk menulis: menulislah, menulislah dan menulislah&lt;/strong&gt;. Rumus itu, akhirnya, didengungkan berkali-kali sehingga menjadikan banyak peserta pelatihan penulisan dapat menebak isi dari pelatihan tersebut: disuruh untuk menulis.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Benarkah untuk menjadi penulis yang kita butuhkan hanya kegiatan menulis? Ketika tulisan itu selesai, apa yang dilakukan setelah itu? Bagaimana menjadikan tulisan itu benar-benar bagus? Apakah dengan menulis saja kita dapat menghasilkan tulisan yang bagus? Bagaimana jika tulisan kita masih mempunyai kekurangan di berbagai sisi? Bagaimana caranya menambahkan hal-hal baru yang bisa menambah keindahan tulisan?  Banyak pertanyaan yang akan lahir. Puncaknya, Bagaimana agar tulisan dapat dibaca oleh banyak orang?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="photo photo_right" style="padding-top: 2px; padding-right: 0px; padding-bottom: 5px; padding-left: 10px; clear: right; float: right; width: 180px; "&gt;&lt;div class="photo_img" style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;img class="img" src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/251273_1749810704927_1228629244_31458877_5026749_a.jpg" alt="" style="border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; " /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku &lt;em&gt;Chicken Soup for Writer's Soul&lt;/em&gt; karya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen, edisi bahasa Indonesianya berjudul sangat jauh dari isinya. Judulnya adalah Harga Sebuah Impian, padahal, isinya pengalaman &lt;em&gt;jatuh-bangun&lt;/em&gt; seorang penulis untuk menulis. Mengapa harus "Harga Sebuah Impian"? Apakah semua orang mempunyai impian untuk menulis atau menjadi penulis? Saya rasa tidak! Coba saja kita bertanya ke beberapa anak sekolah, baik tingkat dasar, menengah atau atas bahkan mahasiswa, &lt;strong&gt;berapa banyak yang bercita-cita menjadi penulis?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Lama saya berpikir tentang itu. Hingga akhirnya bertemu dengan tulisan M. Arief Hakim yang berbunyi: &lt;strong&gt;“Betapa indahnya jika tulisan kita dibaca, diperbincangkan, dan diapresiasi oleh banyak orang, bahkan kadang-kadang ditanggapi dan diperdebatkan oleh beberapa penulis lainnya!”&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Aha.. itulah mimpi semua penulis. Mimpi yang begitu berharga mahal. Mimpi yang harus diperjuangkan meski harus mengorbankan banyak hal. Mimpi yang lebih berharga dari tumpukan uang-- seberapa pun itu. Mimpi yang berupa pengakuan pembaca. Mimpi agar tulisan sampai ke tangan banyak orang dan dibaca. Itulah mimpi penulis.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Itulah mimpi yang tidak bisa diraih hanya dengan menulis saja! Ada banyak tahapan lain yang perlu dilakukan agar tulisan sampai ke tangan pembaca. Tulisan harus melalui proses &lt;em&gt;editing&lt;/em&gt; untuk menemukan beberapa kekurangan untuk selanjunya direvisi agar tampil lebih baik. Tulisan yang sudah melalui proses editing dan revising itulah yang akhirnya di-&lt;em&gt;publish&lt;/em&gt;. Proses editing, revising dan publishing itulah proses yang tidak akan dapat dijalankan hanya dengan kegiatan menulis. Proses itu lebih mengedepankan kemampuan membaca: membaca kesalahan, membaca tempat meletakkan tambahan &lt;em&gt;value&lt;/em&gt; atau nilai sebuah tulisan, hingga akhirnya membaca kebutuhan pembaca sehingga tulisan menemukan pembacanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Bahkan, bukan hanya kegiatan membaca saja yang dibutuhkan dalam tiga proses di atas. Ada proses diskusi untuk mencari masukan dari orang-orang terdekat. Ada proses membandingkan tulisan itu dengan tulisan lainnya agar mempunyai 'nilai tambah'. Ada proses lay-out untuk menciptakan bentuk atau model tulisan yang menarik. Dan proses-proses lainnya yang tidak mungkin saya bahas satu per satu dalam tulisan ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Lantas, Bagaimana agar tulisan dapat dibaca banyak orang?&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Satu hal yang pasti untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah &lt;strong&gt;jangan pernah menulis dan menyimpan tulisan itu, baik di bawah bantal, kasur bahkan peti yang dikunci rapat dan ditimbun di kedalaman yang tidak dapat dijangkau orang lain.&lt;/strong&gt; Tunjukkanlah tulisan itu pada orang lain. Biarkan pembaca menilai tulisan itu. Semakin banyak yang membaca, semakin banyak masukan yang akan diterima untuk menjadikan tulisan itu lebih baik. Jadikan kritik sebagai motivasi tersendiri untuk melahirkan karya lebih baik. Dengan itu, tulisan akan dapat dinikmati banyak orang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="photo photo_left" style="padding-top: 2px; padding-right: 10px; padding-bottom: 5px; padding-left: 0px; clear: left; float: left; width: 180px; "&gt;&lt;div class="photo_img" style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;img class="img" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/249307_1713414195037_1228629244_31412723_680852_a.jpg" alt="" style="border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; " /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itulah kira-kira yang telah kami lakukan sebagai alumni pelatihan Cara Taktis Menulis Buku (CTMB). Setelah dilatih oleh 'komporis buku Indonesia' Pak Bambang Trim dan editor berpengalaman Mbak Triani Retno, kami bersepakat untuk bersama-sama menyumbangkan tulisan dengan tajuk "Chicken Soup for the Writepreneur's Soul: Curhat Seru Writers Wannabe". Buku yang berisikan pengalaman-pengalaman seru kami, para alumni pelatihan tersebut, dalam menulis dan memperjuangkan tulisan itu agar dapat dibaca banyak orang. Kang Dani Ardiansyah, Owner indie-publishing.com, yang juga menjadi fasilitator kami saat pelatihan tersebut, menyambut baik keinginan tersebut. Akhirnya, terbitlah buku "Chicken Soup for the Writepreneur's Soul: Curhat Seru Writers Wannabe" itu, bulan ini.&lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Buku itu dicetak terbatas. Membacanya akan memberi gambaran kepada kita untuk menjawab pertanyaan yang saya jadikan judul tulisan ini. Joe Vitale mengatakan bahwa mempelajari jalan panjang penulis lain adalah cara yang bijaksana untuk mengetahui cara mereka menulis. Anda tidak harus bahkan tidak boleh meniru mereka karena setiap orang pasti punya &lt;em&gt;style&lt;/em&gt; masing-masing. Pelajari pengalaman mereka dan menulislah dengan gaya apa pun yang Anda rasa pas!&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Jika Anda berminat, bisa langsung memesan langsung ke saya dengan harga Rp40.000. Sekali lagi, buku ini dicetak terbatas. Jika berminat segeralah. Saya takut jika kelak buku ini terjual habis dan saya akan mengungkapkan apa yang diungkapkan oleh Sam Horn di atas, dengan konteks membahas buku ini. "Saya tidak pernah menemukan orang yang menyesal membaca buku ini. Saya hanya menemukan orang yang menyesal karena tidak segera memiliki buku ini dan membacanya". &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-4021847700247742901?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/4021847700247742901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/06/bagaimana-agar-tulisan-anda-dapat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4021847700247742901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4021847700247742901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/06/bagaimana-agar-tulisan-anda-dapat.html' title='Bagaimana Agar Tulisan Anda Dapat Diakui Pembaca?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-6762852065106454593</id><published>2011-04-25T20:31:00.000-07:00</published><updated>2011-04-25T20:33:07.691-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di balik layar'/><title type='text'>[Resensi Peaceful Jihad for Teens] Agar Terorisme Tidak Mengancam Remaja</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Agar Terorisme Tidak Mengancam Remaja&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Abd. Basid (&lt;em&gt;Kontributor buku “Islam dan Terorisme”, Grafindo Litera Media -2010)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Judul: Peaceful Jihad For Teens&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Penulis: Radinal Mukhtar Harahap&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Cetakan: I, 2011&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Tebal: 202 halaman&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;ISBN: 978-979-22-6678-8&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah   satu kejadian besar dan merobek citra negeri ini di mata publik selain   praktik korupsi adalah praktik jihad yang kerapkali disalahtafsirkan   dengan kekerasan oleh kalangan tetentu di negeri ini—yang tidak jarang   sampai merengkut jiwa tak berdosa. Lihat saja, seperti teror Bom Bali,   Bom Marriott I, Bom Marriot II dan lainnya, berapa banyak saudara kita   yang menjadi korban teror bom tersebut, yang juga terdiri dari anak di   bawah umur yang tidak tahu apa-apa. Ironisnya, tragedi tersebut   diatasnamakan agama (Islam), padahal Islam itu adalah agama damai dan   kasih sayang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenapa semua itu terjadi? Semua itu terjadi  tidak  lain karena adanya salah tafsir akan makna jihad yang mereka  pahami.  Mereka beranggapan bahwa aksi teror merupakan bentuk dari  praktik jihad  yang dibenarkan oleh agama (Islam). Padahal makna jihad  tidaklah  sesempit yang mereka pahami. Karena sejatinya, jihad itu ada  tiga  tingkatan; melawan hawa nafsu, melawan setan, dan melawan musuh.   Tingkatan ketiga inilah yang seringkali disalahfahami oleh mereka. Untuk   itu, perlu ditegaskan bahwa terorisme itu bukanlah jihad dan teroris   bukanlah mujahid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Teroris  tidak bisa dikatakan mujahid,  setidaknya bisa ditemukan pada tiga titik  perbedaan mendasar, sesuai  dengan praktik yang terjadi dan kita  ketahui. Pertama, mujahid itu akan  melindungi agama Allah dengan cara  melakukan perbaikan atau islah,  sedangkan teroris lebih pada sifat  merusak fasilitas yang telah ada.  Kedua, mujahid akan melindungi hak-hak  yang lemah dan terdzalimi,  sedangkan teroris menimbulkan ketakutan dan  kehancuran pada pihak lain  yang sebagian besar tidak berdosa. Ketiga,  mujahid melakukan jihad  dengan aturan yang telah ditentukan oleh syariat  Islam dengan sasaran  musuh yang jelas dan nyata, sedangkan teroris  melakukan aksinya tanpa  melihat aturan dan sasaran musuhnya tidak jelas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain   itu, hal di atas semakin jelas titik terangnya kalau kita padukan   dengan definisi teror yang telah disepakati seluruh warga dunia bahwa   suatu tindak kejahatan akan disebut teror jika memenuhi unsur-unsur   berikut; a) suatu tindak kejahatan yang dilakukan dengan sangat jahat,   b) kejahatan yang dilakukan dalam kondisi negara damai (tidak sedang   berperang), c) kejahatan yang dilakukan terhadap penduduk sipil, d)   kejahatan yang dilakukan tanpa memandang dan memilih korban, dan d)   tindak kejahatan yang menimbulkan efek atau dampak ketakutan yang meluas   di masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari tiga perbedaan mendasar dan pemaduan  dengan  definisi umum teror di atas tidak dielakkan lagi bahwa aksi  teror itu  adalah perbuatan amoral yang tak terpuji.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penjatuhan  hukuman mati  bagi tersangka pelaku teror di negeri ini pun sampai saat  ini belum  menimbulkan efek jera. Coba kita lihat eksekusi hukum mati  pelaku Bom  Bali (Amrozi cs), yang dieksekusi akhir tahun kemarin.  Hukuman mati yang  dijatuhkan pada pelaku Bom Bali tersebut ternyata  tidak membuat aksi  teror di negeri ini lenyap. Aksi teror terus terjadi  pasca eksekusi  Amrozi cs., bahkan dengan langkah pastinya mereka  mengkader bawahannya  untuk tetap dalam lingkaran ideologi terorismenya.  Salah satu kader yang  ditargetkan para pelaku terorisme tersebut  adalah bagaimana sekiranya  mereka bisa menggaet para remaja untuk  dipengaruhi dan bisa melanjutkan  ideologi amoralnya di atas. Seperti  kalau kita melihat pada tragedi  ledakan bom di JW Marriot dan Hotel  Ritz-Carlton 17 Juli 2009 lalu, yang  ternyata salah satu pelakunya  adalah remaja berusia 18 tahun yang baru  saja lulus SMU.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekarang,  bagaimana agar remaja kita tidak  terpengaruh dan terjebak oleh  ideologi terorisme mereka? Ada beberapa  tips agar remaja kita tidak  terpengaruh rayuan para teroris. Yaitu,  remaja kita harus memperdalam  ilmu agamanya, bersikap lebih terbuka,  berpikir lebih matang, tidak  mudah terpengaruh, dan menemukan jati  dirinya. Selain itu, perlu  diingat bahwa makna jihad itu lebih luas dari  pada sekedar berperang.  Ada juga beberapa perbuatan yang bernilai jihad  tanpa harus merugikan  orang lain sama sekali, yang mana hal itu memang  selayaknya dilakukan  para remaja, yaitu dengan cara menjadi remaja  muslim haus ilmu,  berbakti kepada kedua orangtua, bersedekah, dan selalu  meningkatkan  (kwalitas) dirinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa gambaran dan penawaran  di  atas, terbabat habis dalam buku “Feaceful Jihad for Teens”, yang   ditulis oleh Radinal Mukhtar Harahap. Buku dengan tebal  202 halaman ini   bisa menjadi jawaban atas semua permasalahan teror yang ada di negeri   ini, khususnya teror yang mengancam remaja, agar terorisme tidak   mengancam remaja (lagi).&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buku ini sangat penting dibaca  khususnya  oleh para remaja dan para orangtua. Penting dibaca remaja  agar tidak  kehilangan masa depannya dan bagi para orangtua agar lebih  memahami  peran penting putra-putrinya di masa depan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan  bahasa yang  ringan, tanpa harus mengernyitkan dahi—meski tema  pembahasannya berat,  menegaskan bahwa penulis buku ini sangat lihai  dalam meracik dan membaca  kebutuhan pembaca.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun,  layaknya tidak ada sesuatu yang  sempurna, dalam buku ini saya menemukan  dua kelemahan yang keduanya  mengarah pada kesan mempertebal halaman.  Pertama, dalam buku ini tidak  jarang ada kutipan tidak terlalu penting  dari sumber tertentu yang  banyak memakan halaman. Lihat saja halaman  105-110, yang mana kutipannya  sampai memakan 6 halaman. Kedua, 59  halaman terakhir buku ini dipenuhi  dengan lampiran fatwa dan  undang-undang teroris. Hemat saya hal itu  tidak perlu ada pada sebuah  buku nonformal, seperti buku ini. Lampiran  fatwa dan undang-undang itu  wajarnya ada pada sebuah buku mata pelajaran  atau mata kuliyah, yang  bentuknya formal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;*telah dimuat di NU Online (25/4/2011)&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-6762852065106454593?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/6762852065106454593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/04/resensi-peaceful-jihad-for-teens-agar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6762852065106454593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6762852065106454593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/04/resensi-peaceful-jihad-for-teens-agar.html' title='[Resensi Peaceful Jihad for Teens] Agar Terorisme Tidak Mengancam Remaja'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-3485198095323156685</id><published>2011-04-16T07:56:00.000-07:00</published><updated>2011-04-16T07:57:21.192-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di balik layar'/><title type='text'>Saat Aksi Bom Bunuh Diri Kembali Marak</title><content type='html'>&lt;div class="isi_artikel"&gt;                         &lt;p&gt;&lt;em&gt;”Bom bunuh diri di Cirebon adalah  perbuatan biadab. Semua bom  dengan  tujuan membunuh atau melukai  manusia itu dilarang Islam, apalagi  di  masjid saat shalat Jumat.” &lt;/em&gt;–Said Agil Siradj&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Aksi  bom bunuh diri kembali terjadi. Tidak tanggung-tanggung, kali ini   pelakunya meledakkan bom di mesjid Mapolresta Cirebon: daerah yang   menjadi markas kepolisian Kota Cirebon. 1 orang tewas dan 27 orang   luka-luka akibat kejadian yang terjadi saat khatib turun mimbar ini.   Peristiwa ini menambah daftar panjang bom bunuh diri di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kita  tentu berharap bahwa pihak kepolisian segera bertindak. Apalagi  Kepala  Bagian Perencanaan Polres Kota Cirebon Komisaris Sutisna, saat  ditemui   di RS Umum Pertamina Cirebon, mengatakan, bahwa wajah orang  itu bisa   diidentifikasi karena wajahnya tidak mengalami luka. Orang  itu luka di   bagian perut, hampir bolong. Bahkan bukan cuma  mengidentifikasi wajah  pelaku saja. Kita berharap bahwa pihak  kepolisian dan tentunya dibantu  oleh segenap elemen masyarakat mampu  untuk mengikis bahkan menghilangkan  aksi-aksi terorisme di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kita tentu masih ingat  dengan aksi-aksi bom bunuh diri sebelumnya, yang  hampir menjadi agenda  tahunan: 12 Oktober 2002 terjadi di Paddy’s Cafe  dan Sari Club, Bali.  202 orang tewas 123 luka-luka. Setahun kemudian, 5  Agustus 2003, bom  meledak di Hotel JW Marriot Jakarta dan menewaskan  11 orang serta  melukai 152 orang lainnya. 9 September 2004, giliran  Kedubes Australia  yang menjadi sasaran dengan jumlah korban 9 tewas,  161 luka-luka. 1  Oktober 2005, aksi bom bunuh diri kembali ke Bali  dengan sasaran Raja’s  Bar and Restaurant, Menega’s Cafe dan Nyoman  Cafe. Diberitakan 25 tewas  dan 102 orang luka-luka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Empat tahun kemudian, Hotel JW  Marriot Jakarta kembali menjadi sasaran.  Yakni ketika 9 orang tewas dan  55 luka-luka pada aksi yang dilakukan  pada 17 Juli 2009.  Dan terakhir  adalah apa yang terjadi di Mesjid  Mapolresta Cirebon dengan dugaan bahwa  pelaku menyembunyikan bom di  balik bajunya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Bagi saya pribadi, apa yang terjadi seakan bertolak belakang pada apa yang saya dengar dari para berbagai peserta Bedah Buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;.   Begitu pula ketika dalam pelatihan kepenulisan saya menyinggung soal   terorisme yang, salah satu caranya, dengan menggunakan buku yang   berselipkan bom. Bahkan, saat seminar Internasional di IAIN Sumatera   Utara &lt;em&gt;pun&lt;/em&gt;, dihadapan mahasiswa-mahasiswi yang berasal dari   Indonesia dan Malaysia, mereka pun tidak ada yang berminat menjadi   pelaku terorisme. Lantas, kenapa aksi terorisme masih terjadi?&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ada  satu ungkapan menarik yang, barangkali bisa kita cermati bersama,   tentang bagaimana aksi-aksi terorisme tidak pernah menghilang dari   Indonesia, yang diungkapkan oleh Kepala Bagian Penerangan Umum   Kepolisian RI Komisaris Besar Boy Rafli dalam diskusi dan peluncuran   buku berjudul Panduan Jurnalis Meliput Terorisme yang diselenggarakan   Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Jakarta, Kamis (14/4). Ia   mengungkapkan bahwa peran pers dinilai sangat penting untuk ikut   melakukan upaya  deradikalisasi dan mengurangi ideologi terorisme   berkembang. Pers  diharapkan dapat membangun kesadaran dan kemampuan   masyarakat di segala  lapisan untuk menyadari bahaya terorisme sehingga   terorisme tidak  berkembang. (Kompas, 16/04/2011)&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Hal ini  tentunya perlu untuk didiskusikan, mengingat (1) telah banyak  teroris  yang berhasil ditangkap, begitu pula dengan para ‘pencari  bakat’  teroris, namun aksi terorisme belum juga hilang. (2) Pemberitaan  yang  terkadang, lupa, membahas tentang ’siapa-siapa’ saja korban  terorisme.  Hal ini perlu dilakukan mengingat banyaknya para rekrutmen  ‘calon  pengantin’ yang menggunakan berbagai alasan, bahkan agama untuk   membenarkan aksi mereka. Sebagai contoh kecil, Prof (Ris) Hermawan   Sulistiyo, Ketua Tim Investigasi Bom Bali I, mengungkapkan dalam Kata   Pengantar buku saya, &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;, bahwa dalam kasus Bom Marriot I, ada pimpinan mesjid yang menjadi korban pengeboman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; (3)  Buku-buku yang membahas tentang terorisme, ataupun yang  mengaitkannya  dengan jihad, masih kurang akrab dengan para remaja atau  pun pemuda.  Apakah karena ‘isinya yang berat’ atau karena penyampaian  yang masih  terkesan hanya untuk kalangan akademisi–karena banyak  menggunakan  istilah-istilah ilmiah yang cenderung kurang dipahami oleh  para remaja–  hal ini tentu menjadi PR kita bersama. Dalam Road Show  Bedah Buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;,  saya selalu bertanya apa  kesan para remaja ketika membaca buku-buku  tentang jihad, jawabannya  berkisar pada (i) terkesan ‘angker’, (ii)  tebal, (iii) susah dipahami  dan (iv) menakutkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tiga hal  tersebut tentunya harus kita pikirkan bersama. Kita tentu  tidak bisa  hanya mengandalkan pemerintah saja, yang masih berkelumit  pada banyak  permasalahan. Kita juga tidak bisa mengandalkan polisi saja  karena  markas mereka pun telah menjadi sasaran. Kita semua yang harus   bertindak. Tidak menunggu waktu, saat ini juga!&lt;/p&gt;                    &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-3485198095323156685?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/3485198095323156685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/04/saat-aksi-bom-bunuh-diri-kembali-marak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3485198095323156685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3485198095323156685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/04/saat-aksi-bom-bunuh-diri-kembali-marak.html' title='Saat Aksi Bom Bunuh Diri Kembali Marak'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-6500190641393307052</id><published>2011-03-28T06:38:00.000-07:00</published><updated>2011-03-28T06:39:26.928-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di balik layar'/><title type='text'>Belajar dari Abu Bakar Ruben tentang pandangan "Islam = Teroris?"</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu  adalah  untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya  (tidak  memerlukan sesuatu) dari semesta alam.&lt;/em&gt; (Q.S al-Ankabut: 6)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam  buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;, salah satu bab yang saya  sampaikan adalah bagaimana akhirnya ajaran terorisme, yang memakai term  jihad, telah mengakibatkan agama Islam semakin terpojok, tertuduh dan  akhirnya berwajah garang. Menyerang para teroris sepertinya telah  berubah arah menjadi penyerangan terhadap agama Islam itu sendiri.  'Jihad' itu kembali pada dirinya sendiri. Kekerasan yang mengatasnamakan  Islam akhirnya kembali pada Islam itu sendiri. Sesuai dengan apa yang  difirmankan Allah pada ayat yang saya tampilkan di atas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal,  jika ditanya, tentunya kita tidak ingin Islam dikatakan seperti itu.  Islam adalah agama yang mengajarkan nilai-nilai moral yang amat tinggi.  Bahkan Rasulullah pernah mencontohkan dengan menjadi penjenguk pertama  bagi seorang non-muslim yang sakit, yang setiap harinya selalu meludahi  beliau yang ingin pergi ke mesjid. Begitu pula dengan seorang buta yang  selalu disuapi oleh Rasulullah sambil ia--si buta itu--  menjelek-jelekkan Rasulullah dan ajaran Islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada  sebuah kisah menarik dari kehidupan seorang muallaf yang dibesarkan di  Melbourne bernama Abu Bakar Ruben. Saat kuliah, ia ditimpa banyak  masalah. Salah seorang teman terdekatnya, meninggal karena narkoba.  Orang tuanya bercerai dan ia kesulitan dalam finansial. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masalah  yang datang beruntun membuat ia berpikir mengenai apa sebenarnya tujuan  hidup. Proses berpikir itu mengantarkannya untuk belajar agama. Agama  yang pertama dipelajarinya adalah kristen. Kemudian berturut-turut pada  Katholik, Hindu, Budha, Yahudi, Anglikan tapi tak ada yang bisa  menarik  hatinya. Hingga suatu saat, seorang temannya mengatakan, &lt;strong&gt;kenapa  tidak mempelajari Islam?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang menjadi  jawaban dari Abu Bakar Ruben, sangat, menghentakkan saya: &lt;strong&gt;Apa?  Agama Islam? Buat apa saya mempelajari Agama Terorisme itu?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Singkat  cerita, di suatu hari tiba-tiba Ruben pergi ke mesjid. Bertemu dengan  seorang pria Timur Tengah berperawakan besar dengan cambang tebal yang  mendekatinya. Ia bernama Abu Hamzah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya tidak tahu  mengapa dan apa yang menggerakan saya, yang jelas saya  mengenakan  sepatu, berpakaian rapi dan pergi ke masjid. Saya tak punya  petunjuk,  bagaimana saya melakukan itu," tutur Ruben. Ketika pertama kali bertemu  dengan Abu Hamzah, saya berpikir berkata dalam hati, "'Aduh saya bakal  mati di sini, saya satu-satunya kulit putih yang  terlihat". Namun,  perlakuan Abu Hamzah yang menerimanya dengan baik membuat dia kemudian  mengaku bahwa ""Tak pernah saya bayangkan bakal mendapat perlakuan  seperti itu".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Dan barangsiapa yang berjihad, maka  sesungguhnya jihadnya itu  adalah  untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya  Allah benar-benar Maha Kaya  (tidak  memerlukan sesuatu) dari semesta  alam.&lt;/em&gt; (Q.S al-Ankabut: 6)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salam jihad, muda berkarya!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;bogor, 28  maret 2011&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-6500190641393307052?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/6500190641393307052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/03/belajar-dari-abu-bakar-ruben-tentang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6500190641393307052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6500190641393307052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/03/belajar-dari-abu-bakar-ruben-tentang.html' title='Belajar dari Abu Bakar Ruben tentang pandangan &quot;Islam = Teroris?&quot;'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-2484721300300861232</id><published>2011-03-26T00:14:00.000-07:00</published><updated>2011-03-26T00:37:49.757-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di balik layar'/><title type='text'>[Di Balik Layar Peaceful Jihad for Teens] Apa yang saya dapatkan dari buku Peaceful Jihad for Teens?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dalam perjalanan menuju bogor, untuk menghadiri acara Pelatihan Jurnalistik bersama mahasiswa IPB yang tergabung dalam &lt;em&gt;Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs&lt;/em&gt;,  saya menerima sebuah email dari seorang pembaca buku Peaceful Jihad for  Teens, yang sedang menempuh pendidikan di ISID GONTOR. Namanya Irwan  Haryono, yang juga adik kelas saya ketika dahulu &lt;em&gt;nyantri &lt;/em&gt;di  Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan. Membaca tulisannya, saya  merasakan aura tersendiri dan berkeinginan untuk segera ketemu kembali.  Namun, untuk beberapa waktu ke depan, sepertinya tidak bisa karena saya  harus kembali ke kota tempat saya di besarkan, Medan!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Apa yang saya dapatkan dari buku Peaceful Jihad for Teens?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya merasakan bahwa Irwan Haryono telah sukses untuk menjawab apa yang saya tanyakan di atas. Dengan &lt;em&gt;gamblang&lt;/em&gt; ia mengulas lembar demi lembar buku saya itu. Saya berharap, ada banyak pembaca buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt; yang mengikuti Irwan Haryono untuk segera membahas buku itu setelah selesai membacanya. Semoga bermanfaat!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;‘MELURUSKAN KEMBALI ARAH PENDIDIKAN JIHAD BAGI REMAJA’&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Irwan Haryono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semula  saya merasa tidak pantas dan belum terlalu piawai dalam menulis sebuah  makalah mengenai Jihad, terlebih memaparkan apa-apa yang berkenaan  tentang Jihad itu sendiri. Tetapi berkat suntikan motivasi dari &lt;strong&gt;Radinal Mukhtar Harahap&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;(penulis buku Peaceful Jihad For Teens)&lt;/em&gt;,  timbul sedikit keberanian untuk mengangkat materi tersebut dalam forum  kajian fakultas di kampus ISID GONTOR Siman, yang bertepatan pada hari;  kamis, 24/03 setelah shalat subuh di Serambi Mesjid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suasana tidak begitu ramai, sehingga tidak begitu menyulitkan saya,  tapi entah mengapa, pagi itu saya tidak bisa memberikan penjelasan yang  lebih memuaskan. Saya merasa masih kurang dan kurang sekali, khususnya  kemampuan saya untuk menjelaskan materi tersebut secara menyeluruh.  Banyaknya materi dan sub-sub bagian tidak sebanding dengan kesempatan  dan waktu kami untuk mengkaji lebih dalam, tapi di penghujung pertemuan  itu saya mengikrarkan diri dan  menyatakan kesiapan untuk  mendiskusikannya lagi di luar dari pada forum tersebut, kapan saja dan  dimana saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya tinggal di kampus ISID GONTOR yang  bertempat di Ponorogo─Kota Reog. Karena keterbatasan toko buku yang  dapat menyediakan buku-buku keluaran terbaru, Saya yakinkan diri untuk  berangkat ke Gramedia Madiun pada hari senin, 21/03 sendirian, hanya  untuk membeli buku &lt;em&gt;“Peaceful Jihad For teens”&lt;/em&gt; dengan harapan  dapat memaparkan isi buku tersebut kepada teman-teman, sebagai bahan  diskusi kami khususnya, dan untuk keluarga kami nantinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam waktu singkat, saya telah membaca habis buku itu, hanya  membutuhkan waktu beberapa jam, karena sungguh benar, buku dengan  kuantitas berat, jika disajikan dengan bahasa yang ringan dan ilustrasi  yang mudah di pahami, maka cendrung enteng,  dan begitu mudah di serap  daya nalar kita. Dari sana saya menyerap beberapa kasus, fakta serta   simpang-siur realita yang terjadi. Saya merasa terhentak, tak jarang  membuat jiwa ini tertawa miris, akan kebodohan dan ketidaktahuan kita.  yang ternyata kita telah di ‘&lt;em&gt;adu domba&lt;/em&gt;’ dan  diperangi  habis-habisan dalam hal media masa, cetak dan pemikiran. Sehingga jika  hal ini terus berkelanjutan tanpa ada sosok mujahid yang bersedia dan  siap membendungnya. Tunggu saja, &lt;em&gt;“Suatu sejarah kelam kehancuran umat muslim akan tertorehkan”.&lt;/em&gt; Na’uzubillah.....Tsumma Na’uzubillahi Min Dzalik.........&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika boleh jujur, berawal dari buku &lt;em&gt;“Peaceful Jihad For Teens”&lt;/em&gt;  yang dikarang oleh Radinal Mukhtar ini, benar-benar telah membuka  khazanah berfikir luas saya, yang dahulu beranggapan masih terlalu muda  untuk terjun dan mengetahui beragam hal dan macam tentang Jihad;  ternyata salah; karena tanpa disadari. Remaja seperti kitalah yang  ternyata menjadi sasaran empuk oleh &lt;em&gt;‘Pencari Bakat’&lt;/em&gt; teroris, untuk di jadikan &lt;em&gt;‘calon pengantin’&lt;/em&gt; alias bomber bunuh diri tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya tidak bisa memaksa teman-teman untuk membeli buku  ini, tapi kalau boleh memberi saran, bacalah buku ini; entah itu  memimjamnya lewat teman, adik kelas, kakak kelas, atau bahkan pada dosen  sekalipun, atau bisa juga berdiskusi langsung dengan sang penulis.  Karena menurut saya tidak ada ruginya jika buku berkualitas tinggi ini  menjadi salah satu, dari pada koleksian buku favorit kita, sebab buku  ini bukan membahas tentang siapa-siapa, yang notabene berada jauh dari  diri remaja,  akan tetapi begitu dekat dan erat dengan diri kita, bahkan  membahas masalah intern yang bergejolak pada masa kita sekarang ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selanjutnya selamat memiliki buku ini dan selamat membaca.......&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-2484721300300861232?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/2484721300300861232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/03/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens_26.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2484721300300861232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2484721300300861232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/03/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens_26.html' title='[Di Balik Layar Peaceful Jihad for Teens] Apa yang saya dapatkan dari buku Peaceful Jihad for Teens?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-1792055557686420323</id><published>2011-03-18T10:22:00.000-07:00</published><updated>2011-03-18T10:23:15.078-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mujahid Muda Berkarya'/><title type='text'>Jihad Seperti Apakah yang Dibutuhkan Saat Ini?</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0cm;  mso-para-margin-right:0cm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Arial;  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p&gt;Malam ini, menjelang tidur, saya mendapatkan sebuah catatan menarik dari seorang peserta bedah buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt; yang diadakan oleh Ikatan Qori'-Qori'ah Mahasiswa kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya. Peserta tersebut adalah teman saya. Kuliah di Universitas Airlangga tak menghalanginya untuk hadir. Semangat untuk mencari ilmu seperti inilah yang, sebenarnya, saya impikan akan dilakukan oleh para Mujahid (termasuk mujahidah tentunya bagi wanita) Muda Berkarya. Bahasanya bukan selagi muda buat apa berkarya, tetapi kalau bisa di waktu muda untuk berkarya-kenapa tidak? Maka, simaklah deretan kata menarik dari teman saya berikut ini tentang apa yang didapatkannya ketika acara bedah buku Peaceful Jihad for Teens.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;"Jihad yang dibutuhkan di negeri ini saat ini bukanlah jihad dengan cara kekerasan, namun jihad dengan akal yang salah satunya bisa dilakukan dengan bersungguh-sungguh mencari ilmu. Dengan ini, negara kita yang mayoritas penduduknya beragama islam akan bisa maju. Insyaalah, Amin."&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;-- Ata Nurainun&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;                                                                                           *****&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;photo&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Buah Tangan dari Kampus Seberang :D&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;oleh: Ata Nurainun&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hidup adalah pilihan. Tak jarang kita dihadapkan oleh dua atau lebih piliihan yang menurut kita sama-sama penting untuk dilakukan. Mau tidak mau kita harus memilih. Hal itu tidak mudah dilakukan. Perlu pertimbangan-pertimbangan yang akurat dan presisi untuk akhirnya menjatuhkan pada satu pilihan yang tepat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hari ini, saya mengalami hal di atas. Yang harus saya pilih adalah antara mengkuti acara bedah buku yang berjudul Peaceful Jihad for Teens (yang kebetulan ditulis oleh teman kami, Radinal Mukhtar Harahap) dan kuliah+ngeLab. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya mengambil jalan tengah. Saya berniat mengikuti acara bedah buku dan berharap juga bisa mengikuti kuliah setelahnya dengan meninggalkan acara bedah buku sebelum acaranya selesai. Namun, ternyata saya tidak dapat meninggalkan acara tersebut sebelum moderator menutup acaranya secara resmi. Dengan demikian, saya punya satu tekad harus ada sesuatu yang lebih yang saya dapatkan karena telah memilih mengikuti acara ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apa yang membuat saya tidak bisa meninggalkan tempat tersebut?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ya. Dengan rasa sakit hati yang masih tesisa setelah mendengar berita di media cetak dan media elektronik mengenai bom yang meledak beberapa hari yang lalu di Jakarta, saya semakin penasran menyimak materi dari kedua nara sumber pada acara tersebut. Maklum saya masih muda, kawan, tentu saya terusik jika agama yang saya yakini ini dianggap sebagai agama teroris. Begitu juga dengan kau, bukan? Belum-belum kasus bom tersebut di selidiki, saya bisa memastikan bahwa sebagian orang yang mendengar berita tersebut beranggapan bahwa islamlah yang menjadi dalang atas aksi ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ah, sepertinya saya belum cukup ilmu untuk membahas tuntas permasalahan di atas. Tapi di sini saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya peroleh dari acara bedah buku tadi siang. Yang paling menarik menurut saya adalah ketika penulis menyampaikan motivasi apa yang mendorongnya untuk menuliskan buku Peaceful Jihad for Teens tersebut. Ia mengatakan bahwa jihad tidak hanya bisa dilakukan dengan berperang melainkan bisa juga dilakukan dengan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kebaikan. Ia juga mengatakan bahwa jihad bisa dilakukan dengan menjadi pemuda berprestasi dan penuh dengan karya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saya sangat setuju dengan pendapat tersebut  dan menurut saya, memang, jihad yang dibutuhkan di negeri ini saat ini bukanlah jihad dengan cara kekerasan, namun jihad dengan akal yang salah satunya bisa dilakukan dengan bersungguh-sungguh mencari ilmu. Dengan ini, negara kita yang mayoritas penduduknya beragama islam akan bisa maju. Insyaalah, Amin.          &lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oiya, ada lagi yang dapatkan di acara bedah buku kemarin yang lumayan bisa membangkitkan semangat saya sebagai pemuda untuk mencoba berkarya. Ini adalah jargon yang sengaja dibuat oleh penulis untuk menyemangati para peserta pada acara bedah buku tersebut. (dibaca keras-keras, ya! Sambil tangan mengepal di depan)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;SALAM JIHAD...PEMUDA BERKARYA!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;SALAM MUDA...JIHAD MELALUI KARYA!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;SALAM KARYA...JIHAD DI WAKTU MUDA!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nah, kau juga ikut semangat kan kawan setelah membaca jargon tersebut??? Ah, jika hatimu tak terusik untuk menyegerakan melakukan jihad, setelah menggaungkan jargon di atas, you just need to anwer this question:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1.      Mungkin kau sedang mengantuk ketika membaca tulisan ini? (peace ^^) atau&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;2.      Kau bukan pemuda? hehehe&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ayoo, semangat muda! semangat berjihad dengan karya!!! &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;17-03-2011&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-1792055557686420323?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/1792055557686420323/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/03/jihad-seperti-apakah-yang-dibutuhkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1792055557686420323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1792055557686420323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/03/jihad-seperti-apakah-yang-dibutuhkan.html' title='Jihad Seperti Apakah yang Dibutuhkan Saat Ini?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-7188889389660848559</id><published>2011-03-17T10:06:00.000-07:00</published><updated>2011-03-17T10:10:18.696-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>[Catatan Perjalanan] Radio Sham FM - Bedah Buku Peaceful Jihad for Teens - Geger Bom Buku</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;Dua hari ini, Rabu dan  Kamis, saya berkesempatan untuk hadir di dua acara berbeda. Rabu di  Radio Sham FM, saya berkesempatan untuk membicarakan perihal &lt;em&gt;dakwah bil qolam&lt;/em&gt;, sedangkan hari ini, kamis, saya bersama peserta dan tamu undangan acara bedah buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;  berkesempatan berdiskusi mengenai masa depan remaja yang 'terancam'  oleh modus teroris yang banyak merekrut para remaja untuk dijadikan  pelaksana akhir aksi mereka. Selang dua acara tersebut, geger bom yang  berada di paket kiriman buku menjadi berita terhangat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya  mencoba merenungkan tiga hal tersebut untuk akhirnya mengambil hikmah  untuk dijadikan refleksi diri. Teringat saya pada apa yang ditulis dalam  sabili edisi Sabili, No. 17 TH. XVII, 18 Maret 2010/Rabiul Akhir 1431  dan saya jadikan pembuka tulisan saya dalam antologi &lt;em&gt;Menulis Tradisi Intelektual Muslim&lt;/em&gt; terbitan Youth Publisher Yogyakarta: &lt;em&gt;Jadilah  mujahid pena. Pertarungan ideologi terus berlangsung. Buku dijadikan  alat propaganda anti-Islam. Ummat jangan jadi pecundang.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BUKU&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu kata bijak mengenai ke-ampuh-an sebuah tulisan adalah &lt;strong&gt;tulisan itu lebih tajam daripada hunusan pedang.&lt;/strong&gt;  Bagaikan lisan, tulisan pun dapat menembus apa yang tak tertembus oleh  tajamnya pedang. Dampak tulisan dapat melebihi apa yang menjadi dampak  dari pedang. Maka tak salah jika tulisan pun ampuh untuk menjadi alat  propaganda dan pemecah belah. Kabar baiknya, tulisan juga ampuh untuk  menjadi penyatu!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;em&gt;Tak  ada banyak waktu untuk bercanda. Sekarang, gerakkanlah penamu dan  ubahlah dunia melalui kata. Ingatlah, negara Yahudi Raya, berdiri hanya  karena sebuah buku tipis dan satu novel menggugah. Ditulis oleh Theodore  Herzl, dua buku itu mengharu biru manusia-manusia Yahudi sehingga  mereka menyatukan langkah dalam meraih cita-cita yang sama : sebuah  negara Yahudi yang kelak bernama Israel. Hari ini mimpi yang bermula  dari buku tipis itu telah terwujud. Lalu apakah yang sudah kita lakukan  untuk menggerakkan jiwa manusia kepada sebuah cita-cita besar ? &lt;/em&gt;Begitulah penulis sekaliber Fauzil Adhim berkata. Tulisan mempunyai pengaruh yang amat kuat.&lt;p&gt; &lt;/p&gt;Maka, tak salah jika dalam dialog mengenai &lt;em&gt;Dakwah bil Qolam&lt;/em&gt;  di radio Sham FM, saya mengatakan bahwa dakwah melalui tulisan  mempunyai, setidaknya dua dampak yang melebihi dampak dakwah bil lisan. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;:  cakupan tulisan akan lebih luas ketimbang lisan. Seorang muballigh  hanya akan mampu berbicara dengan jama'ahnya di tempat ia berada. Jika  ia berada di Jakarta misalnya, maka dakwahnya hanya berada di Jakarta.  Beruntung jika telah masuk media elektronik seperti televisi. Namun,  kendalanya tetap pada sedikitnya jam tayang yang disediakan oleh  televisi untuk dakwah lisan seperti itu. Berbeda dengan tulisan yang  dapat menjangkau apa yang belum terjangkau si penulis. Jika penulisnya  di Surabaya, tulisannya sudah bisa mencapai kota lain bahkan negeri  lain. Cakupan dakwah semakin luas seiring semakin luasnya distributor  tulisan.&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;: Dampak tulisan pun sering melebihi  dampak dakwah bil lisan. Banyak di antara pendengar yang lebih merekam &lt;em&gt;hal-hal lucu&lt;/em&gt;  dalam dakwah bil lisan sehingga melupakan hal inti dari dakwah  tersebut. Bahkan, seminggu setelah dakwah bil lisan itu dilakukan,  banyak yang akan melupakan, siapa yang berdakwah minggu lalu. Lain  halnya dengan tulisan yang dapat diulang kapan saja dan di mana saja.  Dakwah bil Qolam dapat menemani jama'ah kapan saja si jama'ah mau  ditemani.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BUKU&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adalah  sarana yang dapat dijadikan sebagai lahan jihad bagi para pemuda. Jihad,  dalam bahasa maupun syari'at, sama sekali tidak dibatasi oleh makna  peperangan saja. Makna peperangan, terkait jihad, dapat digunakan dengan  syarat menjadi jalan terakhir dan mematuhi rambu-rambu yang ada: jangan  membunuh anak-anak dan perempuan, jangan berbohong, jangan didasari  pada rasa benci dan lain sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;Itulah salah satu kesimpulan yang dapat saya ketengahkan dalam acara bedah buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens. &lt;/em&gt;Usia  remaja yang sangat rentan dengan pengaruh, hendaknya, dipengaruhi oleh  hal-hal yang berbau positif lagi bermanfaat bagi masyarakat sekitar.&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Positif  dan manfaat harus beriring berjalan. Saya ingin menekankan hal ini  mengingat apa yang dilakukan oleh Dani, pelaku bom Mariot yang masih  berumur 17 tahun, sebelum melakukan aksinya adalah mengaji-menimba ilmu  pada Saifuddin Zuhri: perekrut teroris dari kalangan remaja. Mengaji dan  menimba ilmu adalah hal yang positif. Namun ketika hal tersebut tidak  beriring berjalan pada apa yang terjadi kemudia, pengeboman hotel  Marriot, maka dampaknya kembali pada pencitraan Islam yang keras lagi  menyeramkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BUKU&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Geger bom buku sepertinya kembali mengingatkan banyak orang pada kasus terorisme. &lt;em&gt;Sial&lt;/em&gt; jika saya kembali teringat tulisan saya mengenai &lt;em&gt;Lahan Jihad yang Telah Pindah&lt;/em&gt;  dalam antologi yang saya sebutkan di atas. Dalam tulisan tersebut, saya  mengeluhkan akan terikatnya 3 kata: Terorisme, Jihad, Muslim. Tak tahu  siapa yang menjadi dalang dari 3 kata tersebut, intinya, ketika kasus  terorisme terjadi, banyak yang memandang muslim menjadi pelakunya dan  jihad sebagai ajarannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam acara bedah buku hari ini pun, seorang peserta bertanya mengenai bagaimana saya menyandingkan kata &lt;em&gt;peaceful&lt;/em&gt; yang bermakna kedamaian dengan kata &lt;em&gt;jihad&lt;/em&gt; yang, akhir-akhir ini, berkonotasikan merupakan lawan dari kedamaian tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siapa  pun yang menjadi aktor di belakang geger bom buku tersebut, hendaklah  kita pahami bersama bahwa mengedepankan kekerasan tidaklah baik. &lt;em&gt;“Maka  disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap  mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah  mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu maafkanlah mereka,  mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam  urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka  bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang  yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imran, 3:159)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-7188889389660848559?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/7188889389660848559/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/03/catatan-perjalanan-radio-sham-fm-bedah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7188889389660848559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7188889389660848559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/03/catatan-perjalanan-radio-sham-fm-bedah.html' title='[Catatan Perjalanan] Radio Sham FM - Bedah Buku Peaceful Jihad for Teens - Geger Bom Buku'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-9039390998939624122</id><published>2011-03-08T21:11:00.001-08:00</published><updated>2011-03-08T21:11:43.983-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di balik layar'/><title type='text'>[Di Balik Layar Peaceful Jihad for Teens] Betapa Berharganya Umur Seorang Remaja Untuk Terkait Kasus Terorisme</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;Hari ini, saya  mendapatkan sebuah berita menyedihkan. Seorang remaja berumur 17 Tahun  harus duduk dalam sidang perkara terorisme karena didakwa dengan pasal  berlapis: Pasal 15 juncto Pasal 9 UU No 15/2003 subsider Pasal 15 jo  Pasal 7 UU  No 15/2003 atau Pasal 1 Ayat (1) UU No 12/1951 dengan  ancaman hukuman  mati, seumur hidup, atau 20 tahun. Namun demikian,  dengan memerhatikan bahwa terdakwa masih anak-anak --menurut hukum--  maka ancaman maksimal 10 Tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih menyedihkan lagi, bahwa, dalam ungkapan penasihat hukum terdakwa, remaja yang berinisial AW tersebut &lt;strong&gt;hanya korban karena diajak teman-temannya. Ia masih labil.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang saya baca tersebut, memutar kembali ingatan saya pada apa yang telah saya tulis dalam buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;, yaitu, ketika saya memaparkan bahwa salah satu dari alasan para perekrut teroris mengincar remaja adalah&lt;strong&gt; kondisi mereka yang masih labil sehingga mudah terpengaruh.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;"&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Masa  remaja benar-benar penuh rayuan. Siapa yang tidak mengikuti akan  menyandang julukan nggak gaul, nggak ngetren dan jadul. Tanpa di  sangka-sangka, perilaku mudah terpengaruh tersebut selalu terbawa-bawa  dalam kehidupan sehari-hari. Memang sih, kita tidak bisa lepas dari  pengaruh. Namun celakanya, pengaruh yang sering kita ikuti bukan  pengaruh positif, melainkan pengaruh negatif yang kadang-kadang akan  membahayakan diri kita sendiri.'"&lt;/em&gt; (Peaceful Jihad for Teens: 10)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;                                                                                          *****&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;(Kompas Rabu, 09 Maret 2011) KASUS TERORISME&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Usia Terdakwa Baru  17 Tahun, Sidang Tertutup&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Klaten,  Kompas  - Sidang  kasus terorisme dengan terdakwa AW (17) berlangsung  tertutup di  Pengadilan Negeri Klaten, Jawa Tengah, Selasa (8/3). AW  yang masih duduk  di bangku sebuah SMK negeri di Kabupaten Klaten,  menurut Undang-Undang  Perlindungan Anak, masih tergolong anak-anak  karena belum genap berusia  18 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam sidang yang  dipimpin ketua majelis hakim Achmad  Setyo Pudjoharsoyo ini, jaksa  penuntut umum Muji Martopo, Hanung  Widyatmaka, dan Tafiv Hermuda  menjerat AW dengan pasal berlapis.  Terdakwa yang didampingi penasihat  hukumnya, Nurlan, didakwa melanggar  Pasal 15 juncto Pasal 9 UU No  15/2003 subsider Pasal 15 jo Pasal 7 UU No  15/2003 atau Pasal 1 Ayat  (1) UU No 12/1951 dengan ancaman hukuman  mati, seumur hidup, atau 20  tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Namun, karena terdakwa anak-anak, ancaman hukuman maksimal hanya 10 tahun,” kata Muji seusai sidang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terdakwa   dinilai berperan merakit bom dan meletakkannya di sejumlah lokasi di   Klaten, Solo, Sukoharjo, dan Yogyakarta. Ini dilakukannya bersama enam   tersangka lain yang akan disidangkan terpisah, yakni Yuda Anggoro, Joko   Lelono, Agung Jati Santoso, Nugroho Budi Santoso, Tri Budi Santoso, dan    Roki  Aprisdianto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Atas dakwaan tersebut, penasihat   hukum terdakwa tidak mengajukan eksepsi sehingga sidang dilanjutkan   dengan menghadirkan empat saksi oleh jaksa. Keempat saksi itu terdiri   dari petugas kepolisian dan warga di sekitar tempat penangkapan AW di   Desa Buntalan, Kecamatan Klaten Tengah. Total saksi yang akan dihadirkan   42 orang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kami tidak mau buang waktu karena masa sidang  untuk  anak dibatasi. Belum lagi klien kami harus konsentrasi  menghadapi ujian  akhir. Nanti saja kami mengajukan pleidoi. Kita  buktikan saja di  persidangan. Klien kami hanya korban karena diajak  teman-temannya. Ia  masih labil,” kata Nurlan.  (eki)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;                                                                                             *****&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mari  kita selamatkan remaja dari tindakan teror. Umur seorang remaja,  sungguh sangat berharga jika bisa kita arahkan pada hal-hal yang  positif. Pembangunan bangsa ini pun akan menjadi tanggung jawab mereka  kelak. Kamis, 17 Maret 2011, saya dan teman-teman yang tergabung dalam  acara bedah buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;-- dilaksanakan di  IAIN Sunan Ampel Surabaya (08.00 Wib)-- akan berdiskusi tentang hal  tersebut. Semoga kita mendapatkan manfaatnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salam jihad... pemuda berkarya!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salam muda.. jihad melalui karya!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salam karya.. jihad di waktu muda!&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-9039390998939624122?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/9039390998939624122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/03/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/9039390998939624122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/9039390998939624122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/03/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens.html' title='[Di Balik Layar Peaceful Jihad for Teens] Betapa Berharganya Umur Seorang Remaja Untuk Terkait Kasus Terorisme'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-3461384991514594265</id><published>2011-02-22T10:21:00.001-08:00</published><updated>2011-02-22T10:21:57.219-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di balik layar'/><title type='text'>[Di balik layar "Peaceful Jihad for Teens"] Bermimpi Akan Lahirnya 'Mujahid Muda Berkarya'</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dalam catatan saya sebelumnya, yang saya tulis sebelum keberangkatan  menuju Bali dalam pertemuan nasional seluruh mahasiswa--saya lebih suka  menyebutnya mahasantri-- penerima beasiswa PBSB Kementerian Agama  Republik Indonesia, yang berjudul &lt;em&gt;"Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda" &lt;/em&gt;(http://on.fb.me/f8RFhF),  saya sempat menceritakan sedikit bagaimana keterkaitan seluruh tulisan  saya yang, saat ini, telah terdapat dalam empat buku. Dua buku saya  bertindak sebagai penulis tunggal, dua buku yang lainnya bersama penulis  yang lain. Dua yang pertama adalah &lt;em&gt;Menulis Itu Asyik Lho &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens. &lt;/em&gt;Sedangkan dua yang terakhir adalah &lt;em&gt;Menulis, Tradisi Intelektual Muslim &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Be Positive&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melalui  catatan ini, saya ingin membahas lebih dalam satu di antara dua buku di  dua kategori di atas. Pada kategori pertama saya akan membahas buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;, sedangkan pada kategori kedua, saya ingin mendalami apa yang saya tulis di buku &lt;em&gt;Menulis, Tradisi Intelektual Muslim&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mengapa  saya memilih buku Peaceful Jihad for Teens dan antologi Menulis,  Tradisi Intelektual Muslim untuk di bahas? Karena, sebagaimana judul  catatan ini, saya bermimpi akan lahirnya "Mujahid Muda Berkarya"&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mari memulai pembahasan sederhana ini dari apa yang saya tuliskan dalam buku &lt;em&gt;Menulis, Tradisi Intelektual Muslim&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Jadilah  mujahid pena. Pertarungan ideologi terus berlangsung. Buku dijadikan  alat propaganda anti-Islam. Ummat jangan jadi pecundang.&lt;/em&gt; (Sabili, No. 17 TH. XVII, 18 Maret 2010/Rabiul Akhir 1431)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itulah kata-kata yang saya tulis untuk mengawali tulisan saya yang berjudul &lt;em&gt;Lahan Jihad yang Telah Berpindah&lt;/em&gt;. Deretan kata yang membuat saya tersentak. &lt;em&gt;Bagaikan  pukulan telak, saya benar-benar terpojok oleh kata-kata itu, hingga  akhirnya saya benar-benar tersadar bahwa lahan jihad yang harus  dilakukan oleh umat muslim saat ini telah berpindah, dari medan  perperangan fisik sebagaimana terjadi pada masa Rasulullah SAW menuju  lembaran-lembaran buku yang tersebar dimana-mana, &lt;/em&gt;begitu saya tulis selanjutnya mengomentari apa yang ada di majalah Sabili tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selanjutnya, dalam tulisan tersebut, saya mengajak pembaca untuk menyapa Dr. Syamsuddin Arif dalam bukunya &lt;em&gt;Orientalis dan Diabolisme Pemikiran &lt;/em&gt;yang  menyuguhkan beberapa buku dari orientalis barat yang mencoba membuat  keragu-raguan dalam diri umat islam seperti Alphonse Mingana, seorang  pendeta kristen asal Irak dan mantan guru besar di Universitas  Birmingham, Inggris, mengajak para ilmuwan barat untuk melakukan studi  kritis terhadap teks al-Qur’an sebagaimana telah dilakukan pada kitab  suci orang yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci kristen  yang berbahasa Yunani, dalam bukunya &lt;em&gt;Bulletin of the John Rylands Library. &lt;/em&gt;Begitu  pula dengan Gustav Fluegel, seorang orientalis asal Jerman pada tahun  1834, yang menerbitkan ‘mushaf’ hasil kajian filologi-nya. Naskah yang  dibuatnya itu ia namakan &lt;em&gt;Corani Textus Arabicus&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melihat  kenyataan tersebut, saya merasa apa yang saya tuliskan dalam antologi  tersebut harus saya lanjutkan kembali. Saya merasa bahwa tidak cukup  untuk &lt;em&gt;menggembor-gemborkan&lt;/em&gt; jihad melalui pena--yang juga  berarti jihad melalui karya-- hanya dalam beberapa lembar buku saja.  Saya harus menulis sebuah buku yang khusus membahas hal tersebut. Dari  sana, akhirnya muncul gagasan untuk menulis buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;  dengan arah pengembangan diri dan inspirasional. Tentunya dengan tetap  berpijak pada nilai-nilai jihad yang terdapat dalam al-Quran dan hadis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bermimpi Akan Lahirnya 'Mujahid Muda Berkarya'&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagaimana  yang lazim kita dengar, pemuda adalah generasi penerus yang memegang  peran sangat vital untuk menentukan arah kehidupan di masa yang akan  datang. Pemuda, dengan begitu, haruslah benar-benar dipersiapkan dengan  baik agar masa depan yang akan datang tersebut baik juga kenyataannya.  Jika yang dipersiapkan adalah pemuda yang lemah (&lt;em&gt;Dzurriyatan dhi'afa&lt;/em&gt;)--  dalam hal apa pun-- maka akan tergambar jelas masa depan yang akan  terjadi: Suram. Akan muncul pemuda yang hanya bisa menikmati perjuangan  tanpa ada niat untuk melanjutkannya. Akan muncul pemuda yang hanya  bertindak sebagai konsumen belaka tanpa ada usaha untuk berlaku layaknya  produsen. Menghabiskan bukan menciptakan. Menghancurkan tidak menyusun  kembali.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melalui buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;,  saya bermimpi akan lahirnya 'Mujahid Muda Berkarya', layaknya Ali bin  Abi Tholib yang sejak masih muda telah dikenal sebagai pintunya ilmu  pengetahuan (&lt;em&gt;bab al-Ilmi&lt;/em&gt;) atau Usamah bin Zaid yang menjadi  pemimpin tegas dan berwibawa dalam usianya yang baru menginjak 18 tahun.  Di Indonesia, contoh yang demikian dapat dengan mudah kita temukan.  Sebut saja salah satunya Elang Gumilang, seorang mahasiswa IPB berusia  22 tahun yang meraih penghargaan Wirausaha Mandiri karena prestasinya  membangun rumah untuk rakyat miskin di kota Bogor. Atau, yang paling  hangat dibicarakan masyarakat saat ini adalah prestasi Muhammad Yahya  Harlan yang menciptakan situs &lt;em&gt;a la &lt;/em&gt;facebook yaitu salingsapa[dot]com, padahal masih berumur 13 tahun dan duduk di bangku SMP!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya  bermimpi, dengan terbitnya buku tersebut, saya berjumpa dengan 'Mujahid  Muda Berkarya' yang--mungkin--saat ini berada di SMP, SMA, MTs, MA,  Pesantren, Kampus, dan lembaga-lembaga lain yang sederajat dengan itu  semua, untuk kemudian menguatkan tekad bersama untuk berkarya bagi  keluarga, masyarakat, ummat bahkan bangsa dan dunia. Dari kebersamaan  tersebut, kita ciptakan terobosan-terobosan baru dalam karya yang  bermanfaat untuk semua. Kita tunjukkan bahwa pemuda bukanlah sosok yang  bisa dipandang sebelah mata bahkan diremehkan atau di&lt;em&gt;cap&lt;/em&gt; sebagai sampah buangan. Kita adalah pemuda yang berjihad dengan karya. Untuk itulah, mari menjadi "Mujahid Muda Berkarya"!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salam Pemuda... Jihad Melalui Karya!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-3461384991514594265?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/3461384991514594265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens_22.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3461384991514594265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3461384991514594265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens_22.html' title='[Di balik layar &quot;Peaceful Jihad for Teens&quot;] Bermimpi Akan Lahirnya &apos;Mujahid Muda Berkarya&apos;'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-4087678766696568555</id><published>2011-02-17T07:36:00.000-08:00</published><updated>2011-02-17T07:37:14.229-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di balik layar'/><title type='text'>[Di balik layar "Peaceful Jihad for Teens"] Untuk Siapakah Buku “Peaceful Jihad for Teens” Saya Tulis?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Isu  terorisme, selain telah memasuki  wilayah agama, juga telah    mengancam  keberadaan remaja sebagai generasi  penerus. Buku ini   sangat  penting  untuk dibaca para remaja dan para  orangtua. Untuk   remaja agar  tidak  kehilangan masa depan mereka, dan bagi  orangtua   agar lebih  memahami  peran penting putra-putrinya di masa  depan.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;(Kak Seto–Komnas Perlindungan Anak-Sampul belakang buku Peaceful Jihad for Teens)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Untuk Siapakah Buku "Peaceful Jihad for Teens" Saya Tulis?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Awalnya,  saya tertegun membaca apa yang dituliskan oleh Kak Seto dalam  menanggapi buku itu. Saya tidak pernah membayangkan bahwa buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;  akan direkomendasikan oleh Kak Seto, sebagai bahan bacaan penting,  bukan hanya untuk remaja saja tetapi juga untuk orang tua. Apa yang  dituliskan oleh Kak Seto tersebut menyadarkan pada saya akan satu hal  tentang tulisan: &lt;em&gt;bisa jadi seorang penulis hanya bermaksud A. Tetapi  jangan heran jika kelak dampaknya bisa mencapai Z. Tidak hanya berada  pada A saja! &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Untuk Siapakah Buku "Peaceful Jihad for Teens" Saya Tulis?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagaimana yang dituliskan oleh Kak Seto tersebut, saat ini, dengan yakin saya akan menjawab pertanyaan tentang &lt;em&gt;untuk siapakah buku peaceful jihad for teens saya tulis&lt;/em&gt; dengan jawaban untuk remaja dan orang tua.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Remaja&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak  asing lagi di telinga kita, karena memang telah berulang kali hal ini  diulang-ulang, bahwa remaja adalah sosok masa depan. Apa yang terjadi di  masa depan akan sangat bergantung pada apa yang akan dilakukan oleh  remaja saat ini. Jika remaja saat ini berhasil menciptakan masa depannya  dengan baik, maka besar kemungkinan masa depannya dan orang-orang di  sekitarnya juga baik. Begitu pula sebaliknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bagaimana dengan remaja saat ini&lt;/em&gt;?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada  banyak berita baik tentang remaja. Namun berita buruk tentang remaja  juga tak kalah banyak. Salah satu contoh berita buruk yang sangat tidak  enak didengar adalah ketika Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana  Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief mengungkapkan kepada sejumlah  media  dalam Grand Final Kontes Rap dalam memperingati  Hari AIDS sedunia  di  lapangan parkir IRTI Monas, Minggu (28/11/2010), bahwa dari 100 remaja,  51 remaja  perempuannya sudah tidak lagi perawan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal itu  melengkapi apa yang ditemukan oleh BKKBN dua tahun sebelumnya, 2008,  tentang data yang menyatakan bahwa 63% siswa SMP-SMA di Indonesia sudah  terjerumus dalam pergaulan bebas sebagai pelaku hubungan suami-istri di  luar nikah. Ini artinya, remaja yang masih perjaka/gadis hanya sekitar  37%, tidak mencapai setengahnya. Lebih radikal lagi, kita dapat  menyimpulkan bahwa remaja “jahat” lebih banyak daripada remaja “baik”.  (Radinal Mukhtar Harahap: Surabaya Pagi 02/05/2009)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ternyata,  bukan hanya dalam segi pergaulan bebas saja remaja mendapatkan nama  buruk, dalam hal terorisme pun, mereka mulai terpengaruh untuk terlibat.  Terakhir kali, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri berhasil  meringkus 7 orang  terduga teroris dalam penggerebekan di Klaten dan  Sukoharjo, Jawa  Tengah, Selasa (25/1/2011). Ketujuh terduga teroris  tersebut masih  remaja.  Mereka adalah Agung, Joko Lelono, Nugroho,  Argo, Tribudi, Sigit  Purnomo dan Yudo Anggoro. (Kompas, 25/01/2011)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah, persoalan terakhir tersebutlah yang menjadi akar permasalahan kenapa buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens &lt;/em&gt;saya  tulis. Saya, dan tentunya Anda, tentunya tidak ingin apa yang pernah  dilakukan oleh Dani: pengebom hotel Marriot yang masih berumur 18 tahun,  terulang kembali. Bukankah begitu?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Orang Tua&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika menuliskan buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;,  terkhusus tentang persoalan 'kenapa seorang Dani sampai tergoda untuk  melakukan aksi teror?", saya mendapatkan fakta bahwa salah satu yang  menjadi alasannya adalah keluarga Dani yang kurang harmonis. Ayahnya di  penjara sementara ibunya meninggalkan dirinya menuju Kalimantan. Dani  kehilangan sosok pengayom, pengasuh dan pengarah. Hingga akhirnya ia  terlibat kasus pengeboman hotel Marriot (&lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;: halaman 12-14)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari  fakta tersebut, terlihat bahwa peran orang tua, sungguh, sangat  dibutuhkan dalam memantau apa yang dilakukan oleh anaknya. Orang tua  tidak dapat lepas begitu saja dari tanggung jawab ketika anaknya telah  beranjak dewasa. Bahkan, ketika si anak sendiri menginginkan agar ia  dilatih untuk mandiri dalam segala urusannya, orang tua pun tidak layak  untuk melepaskannya begitu saja. Tetap ada tanggung jawab untuk  mengontrol, menasehati dan tentunya mengarahkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sering kita mendengar bahwa seorang ayah atau ibu, misalnya, terkejut ketika anaknya terlibat dalam kejahatan. Orang tua, &lt;em&gt;seakan-akan&lt;/em&gt;,  tidak percaya bahwa anaknya yang melakukan hal tersebut. Namun  faktanya, anaknya adalah pelakunya. Walhasil, hanya penyesalan yang  muncul. Si anak menyesal telah mengecewakan orang tuanya. Orang tua pun  menyesali kelakukan anaknya. Sesal di akhir, tentulah, tiada guna jika  tidak ditindaklanjuti dengan perubahan menuju lebih baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Untuk Siapakah Buku "Peaceful Jihad for Teens" Saya Tulis?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk diri saya sendiri, untuk remaja, untuk orang tua dan semoga bermanfaat untuk semuanya... &lt;em&gt;salam peaceful jihad...&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-4087678766696568555?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/4087678766696568555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens_17.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4087678766696568555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4087678766696568555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens_17.html' title='[Di balik layar &quot;Peaceful Jihad for Teens&quot;] Untuk Siapakah Buku “Peaceful Jihad for Teens” Saya Tulis?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-6761764958840512536</id><published>2011-02-15T09:51:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T09:54:03.473-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel lepas'/><title type='text'>Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW</title><content type='html'>&lt;p&gt;Selasa ini, sebagian besar umat muslim memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Ada banyak bentuk acara yang diselenggarakan di berbagai daerah. Tidak hanya satu macam acara saja, melainkan bermacam-macam sesuai kebiasaan yang berlaku. Namun demikian, keberagaman acara tersebut bertujuan pada satu arah: memperingati hari kelahiran Nabi besar Muhammad saw.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagaimana redaksi yang tertera, Maulid Nabi Muhammad saw bukanlah dirayakan tetapi diperingati. Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa, acara tersebut bukan bermaksud kecuali agar umat muslim dapat mengingat saat-saat Nabi Muhammad saw lahir hingga akhirnya membawa risalah dan menuntun umatnya menuju cahaya iman dan islam. Begitu banyak buku yang menceritakan sejarah panjang keemasan umat Islam saat beliau hidup. Pada acara maulid Nabi seperti hari Selasa ini-lah, jika ingatan kita sedikit lupa di-&lt;em&gt;refresh&lt;/em&gt; kembali. Memperingati: mengadakan suatu kegiatan untuk mengenangkan atau memuliakan suatu peristiwa (Kamus Besar Bahasa Indonesia)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ironisnya, di tengah peringatan tersebut, terdengar kabar tidak mengenakkan mengenai penyerangan Ponpes Al Ma'hadul Islam yang terletak di Desa Kenep, Kecamatan Beji, Pasuruan oleh ratusan orang bersarung, yang berlangsung sekitar pukul 14.00 WIB. Penyerangan yang terjadi 5-10 menit tersebut menambah deretan brutal yang mengatasnamakan Agama (detik.com)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cendikiawan Muslim KH Jalaluddin Rakhmat, usai Diskusi 'Tebarkan Senyum Sang Nabi' di Pusdai, Jalan Diponegoro, Bandung, mengatakan bahwa seharusnya momen peringatan maulid Nabi Muhammad saw, dapat dijadikan titik awal untuk semakin meneladani perilaku Nabi, terutama dalam mengatasi konflik antar umat beragama yang sedang memanas di Indonesia. (detikBandung.com)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika Rasulullah saw masih hidup misalnya, saat itu penduduk Thaif adalah salah satu penduduk yang paling menentang dakwah yang dilakukan umat Islam. Rasul diperlakukan seperti seorang pencopet yang dikejar-kejar dan dilempari batu, hingga kaki beliau berdarah-darah. Melihat itu, malaikat Jibril menawarkan 'jasa' untuk membalikkan gunung agar seluruh penduduk Thaif tertimpa. Namun Rasulullah menolak tawaran tersebut seraya berdoa: “Ya Allah, berilah hidayah atau petunjuk kepada kaumku. Karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui.” (Arya Noor Amarsyah)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal demikian menunjukkan bahwa, sesungguhnya Nabi Muhammad saw, mengajarkan kita bahwa janganlah terburu-buru menyalahkan orang lain sehingga melupakan diri untuk melihat kekurangan pribadi sendiri. Bisa jadi, apa yang terjadi di Indonesia, saat ini, disebabkan oleh dakwah Islam yang belum maksimal, teladan umat muslim yang belum terlihat atau hal yang lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semangat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw itu jugalah, yang sebenarnya, mendorong saya untuk menuliskan buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt; yang baru saja diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Sebagai remaja muslim, jihad yang mesti dilakukan bukanlah dengan menjadi seorang teroris dengan menghalalkan bom bunuh diri untuk menghancurkan beberapa tempat, yang bisa jadi ada orang muslim juga di dalamnya. Remaja muslim, selayaknya, menjadi &lt;em&gt;pioneer &lt;/em&gt;dalam jihad damai dengan terus meneladani apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw: memaksimalkan kebaikan yang ada dalam diri sendiri, agar dapat ditularkan pada orang banyak. Sehingga, dengan demikian, keyakinan orang banyak akan &lt;em&gt;risalah &lt;/em&gt;kedamaian yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad saw, dapat terus diperlihatkan, untuk selanjutnya diteladani.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kembali ke pokok pembahasan, memperingati maulid Nabi Muhammad saw bertujuan agar umat muslim &lt;em&gt;benar-benar &lt;/em&gt;ingat akan dampak lahirnya Nabi Muhammad saw, yang tak lain adalah risalah untuk segenap manusia. Nabi Muhammad diutus bukan hanya untuk sekelompok orang saja, melainkan untuk segenap manusia. Jika demikian adanya, nilai-nilai yang dibawa oleh Nabi Muhammad pun, harus dipegang teguh oleh umat muslim sedunia. Kedamaian dan mendamaikan. Bukan perpecahan, apalagi memecah belah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;wallahu a'lam..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-6761764958840512536?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/6761764958840512536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/memperingati-maulid-nabi-muhammad-saw.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6761764958840512536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6761764958840512536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/memperingati-maulid-nabi-muhammad-saw.html' title='Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-7714086809512215409</id><published>2011-02-14T11:19:00.000-08:00</published><updated>2011-02-14T11:21:28.762-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di balik layar'/><title type='text'>[Di balik layar "Peaceful Jihad for Teens"] Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahun 2005, Dr. Ronald Lukens-Bull, antropolog berasal dari University of  North Florida, Amerika Serikat, menerbitkan sebuah karya menarik, yang mengkaji tentang dunia pesantren di Jawa Timur dalam hal negoisasi identitas dan modernitas dalam Islam, yang berjudul &lt;em&gt;Peaceful Jihad&lt;/em&gt;. Buku terbitan Palgrave Macmillan yang ditulis dengan berbahasa Inggris tersebut menitikberatkan pembahasan pada bagaimana sebenarnya proses modernitas dalam tubuh umat muslim, khususnya di Jawa Timur, untuk kemudian menjadikan mereka mempunyai keunikan tersendiri dalam berbagai hal. Lebih lanjut, Dr. Lukens-Bull menyatakan bahwa apa yang pernah diteliti oleh Cliffort Geertz, masih terlalu terbatas pada sebuah perjuangan santri modernis perkotaan (santri) versus tradisionalis pedesaan (priyayi) atau populer beriman (abangan). Maka,menambah penelitian antropologi dengan berfokus pada dinamika yang terjadi pada sekolah-sekolah Islam di Jawa Timur dikenal sebagai pesantren. Ia melakukan penelitian mendalam pada 1990-an tentang bagaimana para guru Islam dan pemimpin dalam pesantren itu menggabungkan politik dan simbolik-budaya matriks ke dalam kurikulum. (http://murtaufiq.blogspot.com/2008/09/peaceful-jihad-negotiating-identity-and.html)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada tahun ini, 2011, saya menuliskan buku dengan judul yang sama dengan tambahan kata &lt;em&gt;for teens&lt;/em&gt; di belakangnya. Saya sendiri, belum membaca secara langsung apa yang dituliskan oleh Dr. Ronald Lukens-Bull. Namun, secara garis besar, dengan mengacu pada beberapa pembahasan tentang buku karangan beliau di internet, saya dapat memastikan bahwa apa yang saya tulis dan beliau tulis adalah sesuatu yang berbeda. Perbedaan yang paling mencolok adalah ketika beliau melandaskan penulisan buku tersebut pada ilmu antropologi yang beliau miliki, maka apa yang saya tulis adalah murni dari apa yang saya ketahui dari ilmu al-qur'an, al-hadis, dan fikih yang membahas tentang jihad untuk kemudian menyandingkannya dengan situasi remaja pada saat ini. Hal ini saya kira penting mengingat remaja saat ini cenderung menyukai hal yang &lt;em&gt;instan&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;to the point&lt;/em&gt;: tidak terlalu banyak penjelasan, langsung pada pokok permasalahan. Singkat, padat, mudah dipahami.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum saya mendapatkan judul &lt;em&gt;peaceful jihad for teens&lt;/em&gt;, naskah mentah itu saya beri judul &lt;em&gt;Ayo Jihad!&lt;/em&gt;. Saya merasa judul &lt;em&gt;Ayo Jihad &lt;/em&gt;tersebut sudah cukup menarik bagi remaja mengingat unsur provokatif yang ada di dalamnya. Namun, di saat saya sedang menuliskan naskah tersebut, saya sempat bercerita banyak dengan Pak Ruchman Basori, pendamping mahasiswa penerima beasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama, tentang aksi-aksi terorisme di Indonesia yang mengatasnamakan agama. Pembicaraan tersebutlah yang akhirnya memunculkan istilah &lt;em&gt;peaceful jihad&lt;/em&gt;. Saya sendiri tidak mengingat pasti apakah istilah itu ada kaitannya dengan buku Dr. Ronald Lukens-Bull atau tidak. Namun, istilah itu muncul begitu saja ketika saya dan Pak Ruchman berdiskusi, saat itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Gagasan untuk 'meluruskan' pemahaman jihad menuju hal-hal yang damai sudah lumrah di dengar di Indonesia. Apalagi pasca pengeboman di Bali dan Hotel Mariot. Banyak orang yang mengutuk aksi terorisme yang mengedepankan kekerasan, walaupun dengan alasan agama. Hal ini, menurut saya, bukan berarti mereka tidak ingin membela agama mereka sendiri, melainkan untuk menjaga marwah agama yang mereka yakini. Menarik untuk menyimak apa yang dikatakan oleh M. Ikhlas Tamrin yang saya tuliskan dalam pembukaan pembahasan mengenai "Jihad Penghancur" di buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;"Gerakan koalisi dunia melawan terorisme yang diprakarsai oleh Amerika Serikat ternyata memiliki akibat lain karena ternyata perang melawan terorisme lambat laun berubah menjadi perang melawan Islam. Hal inilah yang menimbulkan stigma bahwa terorisme sama dengan Islam. Pernyataan di atas dapat dilihat dari banyaknya organisasi Islam dan Tokoh Islam yang dicap teroris"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pernyataan itu jugalah yang akhirnya mendorong saya untuk juga ikut serta mendukung jihad damai di Indonesia, khususnya untuk para remaja. Artinya, menurut saya, remaja jangan sampai terjebak oleh rayuan para pencari &lt;em&gt;'calon pengantin&lt;/em&gt;' agar mau menjadi pelaku terorisme seperti Dani, remaja berusia 18 tahun yang menjadi pembawa bom dan akhirnya meledakkan diri sendiri di Hotel Mariot, 17 Juli 2009.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Singkat kata, kenapa harus peaceful jihad? Karena jihad yang sedemikianlah yang harus kita lakukan untuk menjaga harkat dan martabat agama Islam itu sendiri. Jihad dengan kekerasan lebih besar dampaknya pada perusakan citra Islam itu sendiri, sehingga dicap sebagai agama yang pro-kekerasan, pro-anarkisme dan lain sebagainya, yang tentunya tidak enak didengar telinga. Jihad dengan jalan damai akan lebih berpeluang untuk menciptakan umat Islam yang cinta akan kedamaian, keharmonisan dan persaudaraan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull? Saya tidak terlalu yakin dengan hal ini ketika menjawab 'ya' atau 'tidak'. Namun, gagasan untuk mengedepankan jihad yang damai (peaceful), mungkin saja berkaitan, tetapi dalam ranah kajian dan pembahasan, mungkin juga berbeda. Setidaknya, buku saya membawa perbedaan tersendiri, yang bagi saya ini sangat penting untuk kita pahami bersama, karena &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt; saya tulis dengan semangat remaja dan untuk remaja agar terhindar dari aksi terorisme di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hidup remaja! Mari berjihad &lt;em&gt;a la "Peaceful Jihad for Teens"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-7714086809512215409?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/7714086809512215409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens_14.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7714086809512215409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7714086809512215409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens_14.html' title='[Di balik layar &quot;Peaceful Jihad for Teens&quot;] Kenapa harus peaceful jihad? Berkaitankah dengan karya Dr. Ronald Lukens-Bull?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-4960197833512982230</id><published>2011-02-13T00:35:00.000-08:00</published><updated>2011-02-13T00:36:46.563-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di balik layar'/><title type='text'>[Di balik layar "Peaceful Jihad for Teens"] Mengapa “Peaceful Jihad for Teens” Saya Tulis?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mengapa “Peaceful Jihad for Teens” Saya Tulis?&lt;/strong&gt; &lt;p&gt; Sungguh, bagi saya buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt; adalah buku  yang amat teristimewa. Inilah kali pertama saya melihat  buku saya  berada di banyak toko buku. Buku pertama dan dua antologi yang  saya  tulis sebelumnya, muncul hanya di beberapa toko buku saja, tidak   sebanyak toko tempat &lt;em&gt;nongkrong-&lt;/em&gt;nya &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;.   Dua hari ini saja, sabtu-minggu (12-13 Februari 2011), buku itu telah   saya lihat di dua tiga toko buku terdekat kampus: Gramedia Royal Plaza,   Togamas Diponegoro dan Togamas Margorejo Indah. Teman saya yang berada   di Jakarta, Bandung, Semarang dan Yogyakarta pun mengabarkan bahwa &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;  sudah mulai mengambil tempat di beberapa toko buku. Sungguh, inilah   kebahagiaan seorang penulis yang sesungguhnya, sebagaimana pernah   dikatakan oleh M. Arief Hakim yang juga seorang penulis buku, bahwa &lt;strong&gt;kebahagiaan seorang penulis adalah ketika tulisannya dibaca oleh banyak orang, dibicarakan, didiskusikan bahkan diperdebatkan &lt;/strong&gt;karena hal itu membuktikan bahwa pesan yang dikirim oleh seorang penulis melalui tulisannya tersalurkan kepada pembaca.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Alasan kedua kenapa buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens &lt;/em&gt;begitu   istimewa bagi saya pribadi dikarenakan inilah buku pertama saya yang   langsung bersentuhan dengan apa yang saya pelajari di kampus. Sebagai   mahasiswa yang sedang kuliah di kampus IAIN Sunan Ampel, apalagi lulusan   dari sebuah pondok pesantren, buku ini menjadi bukti bahwa apa yang   diajarkan oleh para ustadz dan dosen pada saya tidak sia-sia. Sungguh,   saya harus berterima kasih pada mereka semua sebagaimana saya tuliskan   dalam buku ini. Tanpa ajaran dan bimbingan mereka, saya tidak akan bisa   seperti saat ini. Hal ini juga menjadi jawaban terhadap beberapa  masukan  dari teman-teman saya yang bertanya: lulusan pesantren dan  kuliah di  jurusan syari’ah [hukum Islam] kenapa menulis buku tentang  pengalaman  menulis atau motivasi? kurang &lt;em&gt;pas&lt;/em&gt; dengan latar belakang pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;Mengapa “Peaceful Jihad for Teens” Saya Tulis?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tentu  banyak alasan lain kenapa buku itu begitu istimewa bagi saya.  Namun,  dua alasan di atas, menurut saya, bisa dijadikan alasan utama  mengapa  buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt; begitu istimewa.  Apalagi, selang  beberapa hari sejak buku tersebut resmi meluncur, (8/9  Februari 2011,  saya kurang tahu pasti karena paket buku dari penerbit  untuk saya, yang  menjadi pertanda buku itu telah resmi terbit, sampai  di kamar saya saat  saya berada di luar kota) saya mendapat penghargaan  dari Kementerian  Agama Republik Indonesia sebagai &lt;em&gt;penulis produktif&lt;/em&gt; dikalangan &lt;em&gt;Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs&lt;/em&gt;  (CSS MoRA)-komunitas penerima beasiswa Program Beasiswa Santri   Berprestasi PBSB), yang beranggotakan sekitar 2000 orang santri yang   berprestasi di masing-masing pesantrennya, tepatnya 10 Februari 2011.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;Mengapa “Peaceful Jihad for Teens” Saya Tulis?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Awal  mula kenapa saya menulis buku tersebut adalah ketika Mbak Triani  Retno,  yang akhirnya menjadi editor buku tersebut, bertanya pada saya  tentang  arti dan makna jihad. Saya pun menjawab apa adanya, sesuai  dengan apa  yang saya pelajari di pesantren dan di kampus. Mbak Retno  akhirnya  menyarankan -lebih tepatnya menawarkan- pada saya untuk  menulis buku  tentang itu. Bedanya, saya di’harus’kan untuk menulis buku  bertemakan  ‘berat’ tersebut dengan bahasa yang ringan dan bersahabat  dengan remaja.  Tidak seperti buku-buku bertemakan jihad pada umumnya,  yang berbahasa  akademik dan cenderung susah dipahami oleh remaja,  bahkan saya pun  demikian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;Mengapa “Peaceful Jihad for Teens” Saya Tulis?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ide  bersambut. Pencarian data mengenai jihad mengantarkan saya pada   peristiwa pengeboman yang dilakukan oleh Dani Dwi Permana, seorang   remaja berumur 18 tahun, di Hotel JW Mariot pada tanggal 17 Juli 2009.   Saya juga akhirnya bertemu dengan pemikiran dari seorang pengamat   terorisme Al-Haidar yang mengatakan bahwa &lt;em&gt;saat ini, teroris memakai modus baru. Mereka merekrut anak-anak muda!&lt;/em&gt;.   Pertemuan dengan data memilukan dan mencengangkan tersebut akhirnya   terus mendorong saya untuk segera menyelesaikan buku tersebut.   Alhamdulillah, naskah &lt;em&gt;kasar&lt;/em&gt; yang saya tulis untuk pertama kalinya pada tanggal 5 Mei 2010 tersebut  selesai dalam 16 hari, 21 Mei 2010.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;Mengapa “Peaceful Jihad for Teens” Saya Tulis?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;em&gt;Secepat itukah?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Itu hanyalah naskah kasarnya, bukan sebagaimana yang ada di buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens. &lt;/em&gt;Proses   naskah hingga akhirnya terbit masih harus melalui tahap editing,   revising, cetak dan lain sebagainya. Belum lagi proses tersebut harus   saya lakukan di sela-sela kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah   desa yang mengharuskan saya untuk berjalan &lt;em&gt;agak&lt;/em&gt; jauh untuk   dapat berkomunikasi melalui dunia maya dengan pihak-pihak yang terkait   dengan buku tersebut. Menghubungi Prof. (Ris) Dr. Hermawan Sulistiyo,   Ketua Tim Investigasi Bom Bali I, yang akhirnya memberikan kata   pengantar untuk buku 216 halaman ini. Begitu pula dengan Kak Seto dari   Komnas Perlindungan Anak dan juga Oki Setiana Dewi yang bermain dalam   film &lt;em&gt;Ketika Cinta Bertasbih &lt;/em&gt;sebagai Anna Althofunnisa. Mereka berdualah yang akhirnya memberikan endorsment untuk buku tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;em&gt;“Buku  karya Radinal Mukhtar Harahap ini telah mengisi kekosongan  literatur  tentang bagaimana kaum remaja memandang terorisme, serta  bagaimana  menghindarinya. Meskipun topik dan isinya berat, penulis  mampu  menyampaikannya dengan ringan sehingga pas untuk remaja.”&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(Prof. (Ris) Dr. Hermawan Sulistiyo–Ketua Tim Investigasi Bom Bali I)&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;em&gt;“Isu  terorisme, selain telah memasuki  wilayah agama, juga telah  mengancam  keberadaan remaja sebagai generasi  penerus. Buku ini sangat  penting  untuk dibaca para remaja dan para  orangtua. Untuk remaja agar  tidak  kehilangan masa depan mereka, dan bagi  orangtua agar lebih  memahami  peran penting putra-putrinya di masa  depan.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;(Kak Seto–Komnas Perlindungan Anak)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;em&gt;“Buku  yang  lahir karena keprihatinan pada para remaja yang salah  arah ini  WAJIB  dibaca untuk membuat hidup lebih berarti dan benar  dalam  berkontribusi.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;(Oki Setiana Dewi–Pemain Film Ketika Cinta Bertasbih)&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Mengapa “Peaceful Jihad for Teens” Saya Tulis?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kini, buku itu telah terbit. Telah berada di toko buku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dan,  sebagaimana saya tuliskan dalam ucapan terima kasih buku tersebut,  saya  niatkan buku tersebut untuk cerminan diri sendiri dan semoga  bermanfaat  bagi orang banyak. Semoga buku tersebut menjadi panduan bagi  saya untuk  mengarungi hidup ini. Amin…&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-4960197833512982230?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/4960197833512982230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4960197833512982230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4960197833512982230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/di-balik-layar-peaceful-jihad-for-teens.html' title='[Di balik layar &quot;Peaceful Jihad for Teens&quot;] Mengapa “Peaceful Jihad for Teens” Saya Tulis?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-7732926583910919817</id><published>2011-02-12T08:49:00.000-08:00</published><updated>2011-02-12T08:54:59.116-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jum'at  pagi, saya kembali menginjakkan kaki di Surabaya setelah 5 hari berada  di bumi dewata, Bali, dalam rangka Pembinaan dan Temu Nasional Peserta  Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Republik  Indonesia. Tidak banyak yang berhasil saya serap dari pertemuan itu  kecuali mencuatnya dalam diri saya pertanyaan yang saya jadikan judul  catatan ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi  seluruh mahasiswa PBSB, pertanyaan itu begitu penting. Bagaimana tidak,  program yang dikhususkan bagi para santri yang mengenyam pendidikan  pesantren ini diadakan memang atas dasar kepedulian pada dunia  pesantren. Tak heran jika, dalam salah satu poin penting surat  perjanjian penerimaan beasiswa ini, santri &lt;strong&gt;diharuskan &lt;/strong&gt;untuk  mengabdikan dirinya pada pesantren setelah mengenyam pendidikan di  berbagai universitas dan institut di Indonesia dan lulus sebagai seorang  sarjana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pak Ruchman Basori, sebagai pendamping Mahasiswa PBSB, dalam majalah Santri menuliskan hal ini dengan sangat jelas bahwa &lt;em&gt;mahasiswa  peserta PBSB yang tersebar di ITB, IPB, UIN Syarif Hidayatullah, IAIN  Walisongo, UIN Sunan Kalijaga, UGM, ITS, UNAIR, IAIN Sunan Ampel, UIN  Maliki Malang dan Universitas Mataram pada hakikatnya mempunyai tanggung  jawab sebagai duta pesantren dan masyarakat serta menjadi pioneer  pengembangan dan pemberdayaan pesantren dan masyarakat!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai  terapan dari apa yang 'diharuskan' oleh Kementerian Agama tersebut,  beberapa mahasiswa peserta program tersebut berkumpul dan akhirnya  merumuskan konsep pengabdian yang akan mereka gagas dan praktekkan  nantinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Walau berbeda dalam gagasan, hal yang sangat terlihat jelas dari berbagai usulan ketika itu adalah &lt;strong&gt;penerapan nilai-nilai kepesantrenan di Masyarakat &lt;/strong&gt;[dan  juga pesantren]. Hal ini harus diakui mengingat kehidupan santri tentu  saja tidak berada di pesantren saja, tetapi juga pada masyarakat. Kelak,  harapan Menteri Agama Republik Indonesia, Suryadharma Ali, yang hadir  di forum tersebut, santri-lah yang akan muncul sebagai pemimpin-pemimpin  di masyarakat bahkan negara!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa  yang saya dapatkan di Bali tersebut, mengingatkan saya pada apa yang  pernah saya terima di pesantren. Sejak duduk di kelas 1 Pesantren  Ar-Raudhatul Hasanah, kami memang selalu diajarkan agar tetap memegang  nilai-nilai kepesantrenan dan akhirnya menyebarkannya di lingkungan  sekitar ketika kembali ke daerah masing-masing. &lt;strong&gt;Di mana pun kalian berada, nama pesantren ada di jidat kalian masing-masing&lt;/strong&gt;, begitu kata-kata yang selalu kami dengar. Kata-kata tersebut akhirnya bersatu dengan diri kami masing-masing dan akhirnya&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi saya pribadi, butuh waktu lama untuk menjadi seorang &lt;em&gt;pioneer&lt;/em&gt;  pengembangan dan pemberdayaan pesantren dan masyarakat. Apalagi, saat  ini, saya sendiri masih harus kuliah dan belum terjun secara langsung  pada dua objek tersebut. Namun demikian, apa yang dilakukan oleh seorang  trainer lulusan pesantren Darussalam, Gontor Ponorogo, telah  menginspirasi saya. Nama beliau adalah Akbar Zainuddin. Penulis buku &lt;em&gt;Man Jadda Wajada&lt;/em&gt;, yang merupakan penjelasan dari pelajaran &lt;em&gt;mahfudzot &lt;/em&gt;yang berisikan kata-kata mutiara yang dapat menjadikan kehidupan lebih bermakna.&lt;/p&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;Melalui buku tersebut, beliau berusaha untuk menjadikan nilai-nilai kepesantrenan akrab di telinga masyarakat. Semboyan &lt;em&gt;Man Jadda Wajada&lt;/em&gt;  (Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan apa yang  diingininya)yang begitu akrab di telinga santri, apalagi untuk  memotivasi belajar, diperluas arti dan substansinya: bukan hanya untuk  santri saja &lt;em&gt;Man Jadda Wajada &lt;/em&gt;berlaku, tetapi untuk setiap orang, begitu kira-kira pemahaman saya dari apa yang beliau maksud.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah,  di sela-sela perkuliahan yang saya jalani dengan Beasiswa PBSB  tersebutlah, saya ingin mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Akbar  Zainuddin lewat bukunya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cerita awalnya adalah ketika Mbak Triani Retno, yang kelak menjadi editor buku &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt;  bertanya tentang jihad karena melihat latar belakang pendidikanku yang  dari pondok pesantren. Saya pun menjawab dengan apa yang saya ketahui.  Dialog singkat tersebut, akhirnya berujung pada ide untuk menulis buku  bertemakan jihad. Bedanya, jika buku-buku jihad pada umumnya ditulis  dengan kata-kata ilmiah nan bersifat akademik, buku yang saya tulis  tersebut, tentunya dengan mengikuti arahan dari editor, saya tulis  dengan bahasa yang meremaja dan &lt;em&gt;ringan-ringan &lt;/em&gt;saja. Toh, buku  ini memang diperuntukkan untuk remaja agar terhindar dari kasus teror  yang mulai mengincar para remaja sebagai dalangnya. Hal ini terbukti  dengan apa yang dilakukan oleh Dani, remaja yang baru lulus SMA,  pengebom hotel Mariot, dan juga 8 remaja yang masih duduk di bangku SMP  dan SMA yang diduga anggota terorisme dan baru saja tertangkap di Jawa  Tengah, baru-baru ini. (Suara Karya, 23/01/2011)&lt;/p&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;img style="width: 493px;" class="img" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/182634_1549294732153_1228629244_31170346_106635_n.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-style: italic;" class="caption"&gt;Buku 'Peaceful Jihad for Teens' nongkrong di Togamas Morgorejo Indah, Surabaya&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Nilai apa yang saya terapkan dalam buku itu?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu nilai kepesantrenan yang selalu ditanamkan dalam diri saya ketika di pesantren adalah &lt;em&gt;al-ma'hadu fauqol jami' wa li jami' at-Towaif&lt;/em&gt;, pesantren berada di atas dan untuk semua golongan&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;Dengan  nilai itu, santri diharapkan menjadi pelopor kedamaian bagi masyarakat  sekitar. Berlomba hanya untuk kebaikan saja tanpa saling menjatuhkan  antara satu dan lainnya. Tidak ada saling dengki apalagi iri. Berpacu  dalam satu kesatuan demi kemajuan bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka buku itu  pun saya tulis dengan penekanan bahwa remaja muslim harus mampu untuk  menunjukkan kualitasnya demi menegakkan nilai-nilai ke-Islam-an di  Indonesia. Bukan dengan mengebom atau menjadi teroris, tetapi dengan  karya-karya yang diakui dan diapresiasi oleh banyak orang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai  penutup, apa yang saya telah lakukan ini barangkali belum mencukupi  untuk menjawab pertanyaan besar judul catatan ini. Namun, setidaknya,  melakukan sesuatu yang telah berwujud nyata tentunya lebih baik  ketimbang hanya konsep dan wacana saja. Mari menerapkan apa yang telah  kita terima di pesantren untuk pengembangan pesantren dan juga tentunya  masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-7732926583910919817?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/7732926583910919817/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/bagaimana-menerapkan-nilai-nilai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7732926583910919817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7732926583910919817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/bagaimana-menerapkan-nilai-nilai.html' title='Bagaimana Menerapkan Nilai-Nilai Kepesantrenan di Masyarakat?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-37692129768070182</id><published>2011-02-05T18:11:00.000-08:00</published><updated>2011-02-05T18:13:02.801-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0cm;  mso-para-margin-right:0cm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Arial;  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="1026"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan itu tiba-tiba selalu muncul dalam diri saya beberapa hari menjelang keberangkatan ke Bali dalam rangka pertemuan seluruh anggota CSS MoRA se-Indonesia. Apalagi bagi saya, dan juga teman-teman semester akhir yang akan mengerjakan tugas akhir hingga wisuda, pertanyaan itu begitu sering mengemuka bahkan terkadang menjadi momok. Demikian pula dengan mereka yang telah menjadi wisudawan, mereka tetap saja mendengar pertanyaan itu. Tak soal di mana mereka berada sekarang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan itu bisa beragam modelnya. Ada yang berbunyi, "Mau menjadi apa setelah wisuda?", "Apakah akan kembali ke pesantren asal?", "Jika kembali ke pesantren awal, mau menjadi apa?" dan lain sebagainya. Tentunya saya tidak akan menuliskan semua pertanyaan itu karena akan menjadikan tulisan ini sangat panjang, bahkan membosankan. Namun setidaknya, beberapa pertanyaan yang telah saya tuliskan di atas, adalah pertanyaan awal yang memunculkan pertanyaan utama yang saya jadikan judul tulisan ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya pribadi, sampai saat ini, belum dapat membayangkan konsep pengabdian seperti apa yang akan diterapkan oleh mayoritas teman-teman di CSS MoRA. Sebagaimana yang pernah saya tulis dalam catatan sebelumnya yang berjudul &lt;strong&gt;Pengabdian CSS MoRA pasca wisuda: Institusi ataukah Individu? &lt;/strong&gt;(http://on.fb.me/h5YPRR), diri saya pribadi masih memilih untuk menciptakan pengabdian secara individu. Yang dimaksud individu di sini bukan berarti sendiri-sendiri karena bisa jadi sekelompok anggota CSS MoRA 4-5 orang atau berapa pun jumlahnya. Maksud saya adalah setiap individu 'dibebaskan' untuk mengabdikan diri ke pesantren dengan cara apa pun, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai CSS MoRA yang ada, begitu pula kepada Kementerian Agama Republik Indonesia. Hal itu bisa saja dilakukan, salah satunya, dengan adanya keharusan untuk melaporkan tentang &lt;strong&gt;apa yang telah diabdikan pada pesantren?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika pertanyaan itu diajukan pada saya pribadi, saya tergerak untuk menindaklanjuti apa yang pernah ditulis oleh teman saya, yang juga anggota CSS MoRA, Hibatun Wafiroh dalam catatan &lt;em&gt;fesbuk&lt;/em&gt;nya yang berjudul &lt;strong&gt;SANTRI JADI PENULIS? WHY NOT? &lt;/strong&gt;(http://on.fb.me/hFWu9x). Dengan sangat menarik, Hibah menuliskan buah pikirannya untuk menjadikan santri sebagai &lt;em&gt;out put&lt;/em&gt; pesantren yang mempunyai daya saing dan nilai yang tinggi di mata masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Untuk meningkatkan kualitas output pesantren ada beberapa hal yang harus dicanangkan sejak dini, antara lain baca dan tulis. Minat baca harus terus ditumbuhkembangkan dalam diri setiap santri agar wawasan agama mereka semakin kaya. Kitab dan buku hendaknya menjadi makanan pokok yang wajib dikonsumsi tiap hari. Book is window of knowledge. Nampaknya statement ini sangat tepat sebab realitanya dengan banyak membaca seseorang akan memperoleh pengetahuan yang lebih. Kualitas keilmuan seseorang biasanya bisa dilihat dari seberapa banyak buku yang ia baca dan pahami.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Februari 2010 adalah bulan awal saya membangun mimpi. Sebagai tahap pembelajaran, saya menuliskan bagaimana saya akhirnya menyenangi dunia literasi dalam buku pertama saya. Buku tersebut berjudul &lt;em&gt;Menulis Itu Asyik Lho!&lt;/em&gt; karena memang demikianlah yang saya rasakan: Saya keasyikan menulis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan buku itu, saya berkesempatan mengunjungi beberapa pesantren di Indonesia seperti pesantren Nurus Sholah di daerah Pamekasan, Madura. Kunjungan tersebut menyadarkan saya bahwa &lt;strong&gt;ada banyak santri yang mencintai dunia literasi tetapi belum mendapatkan akses yang cukup mumpuni untuk mengembangkannya.&lt;/strong&gt; Di pesantren asal saya, Ar-Raudhatul Hasanah Medan, sendiri, saya pun mendapatkan hal demikian sehingga saya mulai bermimpi untuk mencari cara menghantarkan para santri pada mimpinya tersebut: berkecimpung di dunia literasi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Benar apa yang dikatakan oleh Arai dalam salah satu dialog yang terpapar dalam buku Sang Pemimpi karya Andrea Hirata: &lt;strong&gt;Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi itu!&lt;/strong&gt;. Mimpi untuk mencari cara menghantarkan para santri untuk berkecimpung di dunia literasi mempertemukan saya dengan 24 penulis se-Indonesia dalam buku &lt;em&gt;Menulis, Tradisi Intelektual Muslim&lt;/em&gt;. Dalam buku tersebut, saya tidak lagi 'bermain' pada dunia pengalaman menulis, melainkan &lt;strong&gt;bagaimana membangkitkan citra Islam dengan menulis&lt;/strong&gt;. Maklum saja, saat ini citra Islam sedang menurun menyusul adanya tiga kata yang saya pun tidak tahu menahu siapa penyebab kata tersebut selalu bergandeng: Teroris, Jihad dan Muslim. Asal ada kasus teroris di Indonesia, selalu saja dikaitkan dengan ajaran jihad yang terdapat dalam agama Islam. Buku tersebut terbit di bulan oktober tahun 2010 juga.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya harus bisa mengubah pandangan orang terhadap Islam. Islam bukan agama barbar yang suka akan kekerasan. Juga bukan agama yang &lt;em&gt;kolot&lt;/em&gt; yang tertinggal akan kemajuan zaman. Islam mengajarkan pada ummatnya agar selalu menjadi yang terbaik dalam segala hal. &lt;em&gt;Kuntum khaira ummatin&lt;/em&gt;, kamu (ummat muslim) adalah ummat yang terbaik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Niat itulah yang saya tuangkan dalam buku ketiga yang saya tulis bersama 9 penulis terbaik &lt;em&gt;weeklynotes&lt;/em&gt; Leutika Publisher, Yogyakarta. Buku yang terbit pada bulan Desember 2010 itu berjudul &lt;em&gt;Be Positive&lt;/em&gt;!&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;Saya menuliskan, dalam buku itu, bagaimana saya mengubah pandangan pribadi saya pada kampus Islam, yang bagi sebagian orang menjadi tempat pelabuhan kehausan akademik setelah gagal dalam ujian seleksi masuk universitas umum. Hal itu dikarenakan inspirasi  &lt;em&gt;statemen &lt;/em&gt;Ibunya Ahmad Fuadi ketika memaksa anaknya untuk masuk pesantren: &lt;strong&gt;Bagaimana bisa unggul para pejuang agama jika yang masuk sekolah agama adalah orang-orang yang gagal ujian di sekolah umum?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tiga buku yang terbit di tahun 2010 itu saya tulis dengan maksud &lt;strong&gt;memotivasi pribadi saya sendiri.&lt;/strong&gt; Saya hanyalah orang yang terinspirasi atas apa yang tertulis di batu nisan seorang pelukis terkemuka di Kerajaan Inggris, Wesminser abbey.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.# Maka, cita-cita itu pun agak kupersempit. Lalu kuputuskan hanya mengubah negeriku. Namun, tampaknya hasrat itu pun tiada hasilnya. # Ketika usiaku tela semakin senja, dengan semangatku yang tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku. Tetapi celakanya, merekapun tak mau diubah. #  Dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari : andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku akan bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi akupun mampu memperbaiki negeriku. Kemudian, siapa tahu aku bahkan bisa mengubah dunia.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Alhamdulillah, petualangan menggapai mimpi terus berlanjut --saya selalu berdoa agar tidak terhenti sampai di sini saja. Lagi-lagi bulan Februari. Bedanya, buku ke-empat ini terbit di tahun ini, 2011, dan akan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Buku yang saya beri judul &lt;em&gt;Peaceful Jihad for Teens&lt;/em&gt; ini lahir, juga karena mimpi saya telah dipeluk oleh Tuhan (http://bit.ly/ifM1D1). Pertemuan di dunia maya dengan Mbak Triani Retno yang menjadi editor buku ini mendorong saya untuk mengisi kekosongan literasi jihad untuk remaja. Hal ini terasa penting mengingat, sebagaimana Nasir Abbas mengatakan, para perekrut teroris telah mengalihkan sasarannya pada remaja yang notabene adalah harapan bangsa ini. Hal ini terlihat dari apa yang baru saja terjadi di Sukoharjo dan Klaten, Jawa Tengah, Rabu,  26 Januari 2011, saat Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menangkap 8 orang yang diduga anggota jaringan teroris. Kepala Divisi Humas Mabes Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam mengungkapkan bahwa mereka yang diduga teroris itu masih berusia remaja. "Masih ada yang baru tamat SMA dan SMP," kata dia. (Suara Karya 26/01/2011)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Singkat cerita, saya bermimpi untuk mengabdikan diri ke pesantren melalui pengembangan dunia literasi. Kembali ke pesantren untuk mengajar, itu adalah kewajiban saya. Mengabdikan diri pada pesantren melalui dunia literasi, itu adalah impian pengabdian saya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana dengan Anda teman-temanku di CSS MoRA? Mari melanjutkan perbincangan di Bali..:D&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-37692129768070182?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/37692129768070182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/apa-jawaban-anda-jika-ada-yang-bertanya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/37692129768070182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/37692129768070182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/02/apa-jawaban-anda-jika-ada-yang-bertanya.html' title='Apa Jawaban Anda Jika Ada yang Bertanya Tentang Pengabdian Setelah Wisuda?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-2584585524389158607</id><published>2011-01-04T16:39:00.000-08:00</published><updated>2011-01-04T16:40:40.205-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Ilmu Yang Tak Habis</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi  tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya,  niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&lt;/em&gt;--Q.S Luqman, 31: 27--&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tadi  pagi, sekitar pukul 10.00, proposal penelitian yang kelak akan saya  ajukan sebagai skripsi untuk memenuhi tugas akhir perkuliahan diuji.  Secara umum, saya diperkenankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut  untuk menyelesaikan skripsi itu. Namun, secara khusus, tetap saja ada  bagian-bagian yang harus diperbaiki dan diperiksa ulang untuk kemudian  dikuasai secara matang sehingga, apa yang saya tuliskan lebih berarti  dan bermakna daripada sekedar formalitas. Banyak usulan yang diberikan  para penguji proposal saya tersebut, dan saya merasa tidak ada alasan  untuk menimbang-nimbang usulan itu kembali kecuali langsung melengkapi  apa yang telah saya kerjakan dengan usulan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tema besar penelitian yang akan saya lakukan adalah mengenai hukum waris Islam yang dikenal pula dengan istilah &lt;em&gt;ilmu faraidh. &lt;/em&gt;Dari  tema besar tersebut, saya merincikannya menjadi beberapa tema kecil  hingga akhirnya mendapatkan permasalahan khusus yang dapat diteliti  secara mendalam: waris anak angkat. Mengacu pada beberapa ulama sohor,  dalam Islam tidak dikenal yang namanya anak angkat kecuali dengan  pengertian mengasuh, mendidik atau membantu biaya saja. Tidak dalam  perwalian, hubungan darah bahkan kewarisan. Hal ini dapat kita lihat  dalam buku &lt;em&gt;halal wal haram&lt;/em&gt; Muhammad Yusuf Qardhawi atau buku &lt;em&gt;Hikmatut Tasyri' wa Falsafatuhu &lt;/em&gt;Ali Ahmad Al-Jurjawi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berkaitan  dengan hal di atas, fakta yang terjadi di lapangan penelitian saya  ternyata bertentangan dengan teori yang mengemuka. Ketika nilai-nilai  ajaran Islam membatasi pengangkatan anak (&lt;em&gt;tabanny&lt;/em&gt;) hanya dalam  hal mengasuh, mendidik dan membantu pembiayaan hidup saja, ternyata  dalam masyarakat Batak pengangkatan anak memiliki arti putusnya hubungan  perwalian, marga bahkan waris dari keluarga kandung dan beralih pada  keluarga angkat. Hal ini, jika mengacu pada apa yang diutarakan oleh  Ratno Lukito dalam buku &lt;em&gt;Pergumulan Hukum Islam dan Hukum Adat di Indonesia&lt;/em&gt;, berpotensi akan menjadi sumber perpecahan pemahaman.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tentu  tidak layak bagi saya untuk menceritakan semua isi proposal tersebut.  Butuh banyak perbaikan. Namun apa yang terjadi pada saat ujian tadi  mengajarkan saya bahwa dalam mengkaji suatu permasalahan, kita tidak  dapat hanya berpangku tangan pada satu ilmu saja. Ilmu, ketika saya  mengkaji permasalahan ini, bagaikan cabang yang bersambung pada cabang  lainnya. Cabang-cabang itu begitu banyak. Semakin banyak cabang yang  kita ketahui, semakin rimbunlah pohon ilmu yang akan melindungi kita  dalam kehidupan ini. Sebaliknya, semakin sedikit, semakin gersanglah  kehidupan kita.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di awal tadi, saya mengatakan bahwa  permasalahan yang saya angkat adalah masalah waris dalam hukum Islam.  Ternyata eh ternyata, mempelajari waris saja tidak cukup bagi saya untuk  menyelesaikan permasalahan yang ada; pertentangan antara teori dan  fakta lapangan. Butuh ilmu lain untuk mendekati permasalahan tersebut.  Butuh ilmu &lt;em&gt;usul fiqh, tafsir, hadis, &lt;/em&gt;dan cabang-cabangnya.  Butuh pula ilmu komunikasi untuk wawancara, ilmu statistika untuk  mengkalkulasi data, dan yang lainnya. Sekali lagi, menyadari apa yang  diujikan tadi, saya merasa saat ini saya masih gersang. Belum banyak  cabang pohon ilmu yang melindungi saya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Benar sungguh jika:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dan  seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi  tinta),  ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya,  niscaya  tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.  Sesungguhnya  Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&lt;/em&gt;--Q.S Luqman, 31: 27--&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-2584585524389158607?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/2584585524389158607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/01/ilmu-yang-tak-habis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2584585524389158607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2584585524389158607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/01/ilmu-yang-tak-habis.html' title='Ilmu Yang Tak Habis'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-3913341387768827725</id><published>2011-01-01T20:12:00.000-08:00</published><updated>2011-01-01T20:15:33.931-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Pernahkah Kita Benar-Benar Merasakan Kebahagiaan?</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Musik ada di sekitar kita. Yang perlu dilakukan hanyalah... mendengarkannya! &lt;/em&gt;(Evan Taylor/August Rush)&lt;/p&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;Barangkali  saya harus mengakui bahwa saya terkadang terlambat dalam menikmati  sajian film-film bagus. Tak tahu apakah permasalahannya. Namun, untuk  film &lt;em&gt;August Rush&lt;/em&gt; yang dirilis pada tahun 2007 saja, saya baru bisa menikmatinya pagi ini, empat tahun setelah film itu dirilis. &lt;em&gt;August Rush &lt;/em&gt;adalah film yang disutradarai oleh Kirsten Sheridan dan menjadi nominasi &lt;em&gt;Academy Award &lt;/em&gt;2007.  Diperankan oleh Freddie Highmore (Evan/August Rush), Keri Russell (Lyla  Novacek), Jonathan Rhys Meyers (Louis Connelly) dan Robin Williams  (Maxwell "Wizard" Wallace), film ini diawali dengan ucapan menarik dari  Evan:&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Listen, can you hear it?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;The music, I can hear it every where&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;In the wind, in the air, in the light, it's all around us&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; All you have to do is to open yourself up, all you have to do is listen &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Where I've grown up, they tried to stop me from hearing the music&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;But when I'm alone, it builds up from inside me&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;And I think if I could learn how to play it&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; They might hear me, they would know I was theirs and find me &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Sometimes the world tries to knock it out of you&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;But, I believe in music the way that some people believe in fairy tales&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;I like to imagine that what I hear came from my mother and father&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Maybe the notes I hear are the same ones they heard the night they met&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Maybe that's how they'll find me&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;I believe that once upon the time long ago&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;heard the music and followed it…&lt;/em&gt;&lt;p&gt;Ya,  akhirnya film ini menyadarkan saya bahwa ada begitu banyak suara yang  kita dengar setiap harinya. Suara-suara yang berasal dari segala sesuatu  itu, jika benar-benar kita nikmati, akan menjadi instrumen musik yang  sangat memukau. Dalam film karangan Paul Castro, Nick Castle, dan James  V. Hart ini dibuktikan bahwa musik dapat saja lahir dari dentuman suara  bola basket, suara klakson mobil, gemerincing koin, kepakan sayap  burung, desir angin, putaran roda kereta api dan lain sebagainya. Dapat  pula dari kantong plastik yang berterbangan, suara pintu yang dibuka  atau hal-hal lain yang tentunya kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Evan,  sebagaimana dalam salah satu dialog yang dikatakannya bahwa ia  mencintai musik lebih daripada ia menyukai makanan, tumbuh dalam  kebahagiaan menikmati musik. Bukan musik yang berasal dari alat musik,  melainkan dari perpaduan bunyi yang berasal dari benda di sekelilingnya.  Hidup baginya adalah musik, dan ia benar-benar hidup di dalamnya.  Kuncinya hanya satu: &lt;em&gt;Musik ada di sekitar kita. Yang perlu dilakukan hanyalah... mendengarkannya!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lantas,  saya mencoba untuk merenungkan sejenak apa yang berhasil saya petik.  Renungan itu membawa saya pada apa yang pernah saya dengar di beberapa  ceramah agama tentang konsep penggandaan nikmat ketika seseorang  menyukurinya dan azab yang pedih ketika mengabaikannya. Apakah benar  ketika bersyukur kenikmatan akan bertambah? Bagaimana kenikmatan itu  bertambah? Jumlahnya?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya lalu berusaha untuk  mendatangkan saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidup. Apa pun  itu dan sekecil apa pun bentuknya. Saya ingat saat-saat saya berkumpul  bersama dengan keluarga, dengan teman-teman di pesantren, dengan sesama  mahasiswa di kampus dan yang lainnya. Saya putar memori otak saya agar  mampu menunjukkan kembali apa yang pernah terjadi ketika saya  benar-benar bahagia. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasilnya, apa yang saya lihat dalam  perjalanan hidup membangkitkan kembali apa gairah dan motivasi untuk  menjadi lebih baik. Jika saya melihat saat-saat di mana saya begitu  bahagia ketika tulisan saya dimuat di surat kabar atau diterbitkan dalam  bentuk buku oleh penerbit, maka semangat menulis saya pun semakin  menggebu-gebu. Aliran ide untuk menulis semakin deras mengalir  menelusuri setiap hormon. Dari pikiran, turun ke aliran yang berada di  tangan dan akhirnya menggerakkan jemari untuk menekan &lt;em&gt;tuts&lt;/em&gt;  laptop. Huruf demi huruf tercetak dan menyapa mata saya untuk kemudian  diteruskan kembali menuju otak untuk dipikirkan. Bagaikan sebuah  sirkulasi, yang masuk akan keluar dan yang keluar akan mendatangkan  pemasukan. Begitu seterusnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbeda halnya ketika saya  mencoba untuk mengingat-ingat beberapa tulisan yang dikembalikan oleh  redaksi media massa dan penerbit. Saya merasakan bahwa saya adalah salah  satu dari sekian banyak orang 'bodoh' yang menghabiskan banyak waktu  untuk menuliskan lembaran-lembaran yang akan dikembalikan. Atau bukan  hanya dikembalikan, tetapi dilupakan dan tidak dilihat sama sekali.  Tulisan yang tidak jelas kabar beritanya, tulisan yang hanya dibaca oleh  saya sendiri atau minimal redaksi yang bingung dalam memahami tulisan  tersebut. Begitu banyak waktu yang terbuang, begitu banyak uang yang  terpakai, begitu banyak kegiatan yang ditinggalkan, hanya demi perbuatan  yang sia-sia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semakin dalam saya mengembalikan ingatan  saya pada suatu hal yang membahagiakan, saya merasakan semangat yang  semakin besar untuk menjadi lebih baik. Begitu pula ketika saya semakin  dalam untuk berusaha mengembalikan ingatan saya pada hal-hal yang  menyedihkan, kesedihan itu semakin tampak dan semakin menyeramkan  terlihat. Sampai di sana, saya mempunyai keyakinan bahwa penggandaan  nikmat yang dimaksudkan dalam ceramah agama yang berasal dari firman  Allah tersebut adalah ketika kita tidak berhenti pada satu titik  kesuksesan karena terus didorong oleh semangat menjadi lebih baik. Dan  azab yang pedih adalah ketika kita begitu takut untuk menghadapi  kehidupan yang terus berjalan tanpa memedulikan apakah kita berjalan  atau hanya duduk saja, bahkan tertidur!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Musik ada di sekitar kita. Yang perlu dilakukan hanyalah... mendengarkannya!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itu  perkataan Evan yang sangat memukau. Saya ingin mengganti kata musik  dengan kebahagiaan dan kata mendengar dengan kata merasakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kebahagiaan ada di sekitar kita. Yang perlu dilakukan hanyalah... merasakannya!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-3913341387768827725?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/3913341387768827725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/01/pernahkah-kita-benar-benar-merasakan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3913341387768827725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3913341387768827725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2011/01/pernahkah-kita-benar-benar-merasakan.html' title='Pernahkah Kita Benar-Benar Merasakan Kebahagiaan?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-5347689557668916484</id><published>2010-12-20T17:03:00.000-08:00</published><updated>2010-12-20T17:16:17.055-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Bosan dengan Slogan: Mau Jadi Penulis? Menulis-Menulis-Menulis!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ada tiga cara ampuh untuk menjadi penulis: menulislah, menulislah, menulislah!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;﻿Saya  tidak tahu siapakah yang pertama kali mengatakan tiga cara ampuh untuk  menjadi penulis di atas. Namun, saya merasa bahwa tiga cara ampuh itu  memang benar-benar ampuh untuk melahirkan penulis, yaitu penulis yang  diartikan sebagai orang yang menulis. Toh, Scoot Edelstein, penulis buku  &lt;em&gt;30 Steps to Becoming a writer and getting published&lt;/em&gt;, dalam bukunya &lt;em&gt;100 Things Every Writer Needs to Know &lt;/em&gt;mengatakan bahwa &lt;strong&gt;&lt;em&gt;anyone who writes is a writer&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: siapa pun yang menulis dapat disebut penulis. Bahkan, dengan tegas ia mengatakan bahwa jika ada yang mengatakan bahwa &lt;em&gt;'you only become a real writer after you've published three books' &lt;/em&gt;atau '&lt;em&gt;after you've written your first million words, then you can call yourself a writer, &lt;/em&gt;bahkan, '&lt;em&gt;Oh, so you have a day job and write at night? you're really a hobbyist not a writer"&lt;/em&gt; , mereka itu adalah komentator ulung yang hanya bisa mengomentari. Ia mengatakan bahwa &lt;em&gt;these sorts of pronouncements and judgments are all nonsense-and arrogant nonsense, at that!&lt;/em&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;p&gt;Namun demikian, pernyataan tersebut ternyata melahirkan beberapa pertanyaan:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Apa yang harus ditulis?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana cara menuliskannya?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau sudah lahir pertanyaan tersebut, yang paling sering saya dengar jawabannya adalah&lt;strong&gt; tulislah apa saja dan bagaimana pun caranya. &lt;/strong&gt;Lebih lanjut, saya pernah mendengarkan jawaban yang amat bijak berbunyi: &lt;strong&gt;tulislah apa yang sedang kamu pikirkan, jangan pikirkan apa yang sedang kamu tulis!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah,  jika telah mendengar kata-kata tersebut, dua pertanyaan utama yang  lahir dari pernyataan tiga cara ampuh untuk menjadi penulis di atas,  seakan-akan terjawab sudah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Benarkah demikian?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selama  ini, saya harus berterus terang bahwa saya mengiyakan hal tersebut.  Apalagi setelah saya menyadari bahwa saya dapat menulis lebih lancar  dari biasanya. Jika sebelum mendengarkan kata-kata itu, saya hanya dapat  menulis selembar dua lembar bahkan sebaris hingga dua baris saja,  setelah mendengar kata itu saya dapat menulis lebih banyak dari  biasanya. Saya semakin bergairah dan termotivasi untuk terus menulis dan  menulis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tetapi, sepertinya, ada saja yang menghambat  dalam diri saya. Tak jelas apa hambatan itu. Yang jelas, saya mulai  bertanya-tanya kembali:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Apakah tulisan saya sudah benar-benar berkualitas?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Adakah orang yang ingin membaca tulisan saya?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jika  ada yang memuji tulisan saya, apakah karena benar-benar bagus atau  hanya sekedar membangkitkan gairah saya saja agar terus menulis?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertanyaan-pertanyaan itu terus menemani saya ketika menulis selama ini.&lt;/p&gt;Bersyukur, hari sabtu yang lalu (18/12/2010) saya berkesempatan untuk mengikuti &lt;strong&gt;Workshop "Cara Taktis Menulis Buku" &lt;/strong&gt;yang  langsung dihadiri oleh Pak Bambang Trim, di Jakarta. Perjalanan jauh  yang harus saya tempuh dari Surabaya menuju Jakarta, seakan-akan menjadi  jarak tempuh yang harus ditempuh seorang pelari hingga dapat mencapai  garis &lt;em&gt;finish. &lt;/em&gt;Di garis itulah seorang pelari akan merasakan kepuasan tersendiri. Di workshop itu pula saya merasakan kepuasan saya sendiri!&lt;p&gt;Mengapa?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena Pak Bambang membocorkan rahasia &lt;strong&gt;taktis &lt;/strong&gt;menulis,  bukan hanya memotivasi saja! Rahasia taktis benar-benar mengantarkan  saya untuk menempuh tahap demi tahap dalam menulis dan menjadi seorang  penulis, bukan cuma menulis-menulis-menulis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Simak 5 proses standar menulis yang dipaparkan oleh Pak Bambang dalam workshop tersebut:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Prewriting: Think and Plan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Drafting: Write and Draw&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Revising: Making your writing better&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Editing: Fix your mistakes&lt;/p&gt;&lt;p&gt;5. Publishing: Share your writing&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diakui  atau tidak, tiga cara ampuh yang berbunyi menulis-menulis-menulis itu  belum mampu mengakomodir 5 proses di atas. Tiga cara ampuh untuk menjadi  penulis itu belum dapat menjawab untuk apa kita menulis, untuk siapa,  bagaimana kelak tulisan tersebut jika telah jadi dan pertanyaan &lt;em&gt;prewriting&lt;/em&gt;. Menulis-menulis-menulis juga belum memasuki tahap &lt;em&gt;making your writing better&lt;/em&gt; melalui proses revising. Begitu pula dengan proses editing apalagi publisihg.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah, 5 proses tersebut akhirnya melahirkan proses-proses lainnya yang terdapat dalam setiap proses. Dalam &lt;em&gt;prewriting&lt;/em&gt;  ada proses mengikat ide, mempertanyakan diri sendiri, hingga  pemanfaatan dunia maya untuk memantapkan tahap perencanaan menulis  tersebut. Toh, diakui atau tidak, lancar atau tidaknya seorang menulis  sangat terkait erat dengan penguasaannya pada apa yang hendak ia tulis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selanjutnya,  secara berurutan proses drafting, revising, editing dan publishing.  Proses drafting harus diawali dengan mempertanyakan diri sendiri tentang  apa yang sudah dihasilkan dalam proses prewriting untuk kemudian  memulai draft dengan fakta menarik tentang subjek yang akan dibahas,  memperkenalkan salah satu poin dari poin utama, bertanya tentang  sesuatu, mengutip perkataan seorang tokoh atau dengan cerita singkat.  Apa yang telah dimulai tersebut selanjutnya dijelaskan dengan  informasi-informasi yang mendukung, didefinisikan dengan ungkapan yang  lebih akrab, dipertahankan dengan fakta-fakta yang terjadi, digambarkan  dengan spesifik hingga dibandingkan dan dikontraskan dengan  contoh-contoh yang memiliki persamaan atau perbedaan. Akhirnya, proses  drafting itu pun ditutup dengan mengingatkan kembali para pembaca akan  ide pokok tulisan, ringkasan akan poin-poin penting, penjagaan titik  fokus pembaca dan seterusnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu, jika proses drafting  tersebut telah selesai, maka seorang penulis akan melanjutkan ke proses  revising, editing dan publishing. Merevisi agar tulisan tampak lebih  baik dan mengedit agar tulisan terlepas dari beberapa kesalahan dan  kekurangan. Setelah itu semua, pikirkanlah untuk menerbitkan dan  mempublikasikan apa yang telah ditulis. Meminjam kelakar Pak Bambang  dalam modulnya, &lt;strong&gt;Jangan berpikir menyimpan tulisan Anda di bawah kasur!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Apakah tulisan saya sudah benar-benar berkualitas?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Adakah orang yang ingin membaca tulisan saya?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jika   ada yang memuji tulisan saya, apakah karena benar-benar bagus atau   hanya sekedar membangkitkan gairah saya saja agar terus menulis?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertanyaan itu masih menemani saya ketika menulis, namun saya sudah dapat menjawabnya dengan 5 proses menulis di atas!&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-5347689557668916484?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/5347689557668916484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/12/bosan-dengan-slogan-mau-jadi-penulis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/5347689557668916484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/5347689557668916484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/12/bosan-dengan-slogan-mau-jadi-penulis.html' title='Bosan dengan Slogan: Mau Jadi Penulis? Menulis-Menulis-Menulis!'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-5563724099907909933</id><published>2010-11-29T14:24:00.001-08:00</published><updated>2010-11-29T14:28:26.207-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Empat Hari, Dua Acara, Satu Kabupaten, Beribu Rasa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;p&gt;Jika Anda telah membaca catatan saya sebelumnya, yang berjudul &lt;em&gt;Tiga Hari Penuh Kejutan&lt;/em&gt; (&lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=459994013044" target="_blank" rel="nofollow"&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=459994013044&lt;/a&gt;),  Anda tentu memahami, kenapa saya menuliskan catatan ini. Catatan  tentang kegiatan sehari-hari, apalagi yang membuat suasana hati  bergembira, selalu membuat saya terus terpancing untuk lebih  meningkatkan diri. Terus belajar, terus menambah pengalaman, dan  tentunya menambah teman. Nah, kali ini, ingin rasanya, saya menceritakan  empat hari penuh kegiatan, dalam dua acara penuh pembelajaran, di satu  kabupaten yang bernama jombang, dengan beribu rasa yang memenuhi jiwa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Membahas sejenak tentang karya ilmiah yang telah saya ceritakan pada catatan &lt;em&gt;Tiga Hari Penuh Kejutan itu&lt;/em&gt;,  saya menuliskan bahwa dengan menulis, terutama tentang hal yang kita  lakukan sehari-hari dan menyerap maknanya, istilah Hernowo &lt;em&gt;Mengikat Makna&lt;/em&gt;, adalah salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengekspresikan diri.&lt;/p&gt;﻿Win Winger, Pakar Psikologi Pendidikan yang menulis buku &lt;em&gt;Beyond Teaching and Learning&lt;/em&gt;  menuliskan bahwa pengekspresian diri, dalam pendidikan, sangat  bermanfaat dalam upaya peningkatan konsep diri, atau yang lebih dikenal  dengan sebutan &lt;em&gt;self efficacy&lt;/em&gt;. Nah, dengan &lt;em&gt;self efficacy&lt;/em&gt;  tersebutlah, menurut penelitian dari Bandura, psikolog, seseorang akan  terbantu dalam menentukan pilihan, usahanya untuk maju, kegigihan dan  ketekunan dalam menghadapi kesulitan, dan derajat kecemasan atau  ketenangan dalam menghadapi tugas-tugas kehidupan mereka. Semoga, itulah  alasan kenapa saya menulis seperti ini.&lt;p&gt;Baiklah, kita mulai dari hari kamis, 25 Nopember 2010.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi  saya, hari kamis adalah hari untuk kuliah. Alasannya, pada hari itu,  saya harus mengikuti tiga mata kuliah. Berbeda dengan hari-hari lainnya,  yang hanya satu mata kuliah atau dua, bahkan tidak ada sama sekali  alias libur, pada hari kamis, saya harus mengikuti tiga mata kuliah  yaitu &lt;em&gt;Teknik Penulisan Karya Ilmiah, Hukum Acara Pidana Umum dan Militer, &lt;/em&gt;dan terakhir adalah&lt;em&gt; Manajemen Peradilan Agama&lt;/em&gt;. Ketiga mata kuliah itu selesai, tepat, pada pukul 16.00 Wib.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selepas itulah, pengalaman &lt;em&gt;empat hari, dua acara, satu kabupaten, beribu rasa&lt;/em&gt;  dimulai. Saya berangkat ke Jombang untuk bersama-sama belajar menulis  dengan sekitar 100 santriwati Pondok Pesantren Putri Al-Fatimiyyah Barul  Ulum Tambak Beras.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiba di kawasan pondok, 19.00 wib,  saya diingatkan pada suasana menjadi santri. Bangunannya, suasana  belajarnya, hiruk pikuk kegiatannya. Semua hal itu menjadikan saya  seperti bernostalgia dengan teman-teman lama, sesama santri. Bedanya,  jika di Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, saya belajar bersama para  santri, di pesantren ini, saya belajar bersama santriwati. Butuh  persiapan matang untuk hal ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Acara pun dimulai tepat pukul 20.30. Rasa letih setelah seharian kuliah &lt;em&gt;plus&lt;/em&gt;  berdiri di bus selama perjalanan yang memakan waktu dua jam, hilang  seketika, melihat semangat yang ditunjukkan para peserta. Bagaimana  tidak, saya sangat memahami bagaimana kegiatan di pesantren berlangsung.  Dimulai sejak pukul 03.00, kegiatan pesantren telah terjadwal  sedemikian rupa, sehingga, untuk mengistirahatkan badan saja, santri dan  santriwati bukan dengan bermalas-malasan, tetapi, dengan beralih dari  satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Hal ini adalah perwujudan dari firman  Allah yang tertuang dalam surat &lt;em&gt;Al-Insyirah&lt;/em&gt; ayat 7: 'jika telah melakukan sesuatu, maka lakukanlah hal lainnya'&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selesai  pukul 23.00, saya pun mengistirahatkan diri untuk mempersiapkan sesi  selanjutnya, keesokan harinya dari pukul 08.00 pagi hingga menjelang  shalat jum'at. Ajaib! Saya benar-benar terpengaruh oleh semangat seluruh  santriwati yang mengikuti acara. Mereka tertawa, tersenyum, bersemangat  dalam mengikuti acara, walaupun, tidak dapat dipungkiri, tetap ada rasa  ngantuk yang menjadi akibat dari padatnya jadwal kegiatan yang mereka  lakukan. Saat itulah dibutuhkan kejelian untuk mengajak &lt;em&gt;bermain sambil belajar&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk  dua hari dalam satu acara ini saja, saya telah merasakan beribu rasa,  terutama rasa ingin kembali belajar bersama santriwati yang penuh dengan  semangat belajar seperti mereka. Namun, waktu yang telah dijadwal  sebelumnya, membuat kami harus berpisah. Saya harus meninggalkan mereka  dan berangkat menuju bumi perkemahan &lt;em&gt;Sumberboto&lt;/em&gt; di daerah Mojoagung, yang masih berada di kabupaten Jombang. Saya harus mengikuti &lt;em&gt;Rihlah Ta'abbudiyah&lt;/em&gt; para Qori'-Qori'ah Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Surabaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah,  karena ketidaktahuan saya akan tempat acara dilangsungkan, saya  memutuskan untuk menunggu jemputan di terminal. Sembari mengistirahatkan  badan, saya menikmati kegiatan menunggu, yang ternyata menghabiskan  waktu 4 jam lamanya, dengan menuliskan cerpen untuk diikutsertakan dalam  sebuah perlombaan. &lt;em&gt;Alhamdulillah&lt;/em&gt;, kegiatan menunggu, yang  cukup menjenuhkan itu, berhasil saya isi dengan kegiatan bermanfaat,  walaupun harus ditemani oleh 3 gelas kopi untuk menghilangkan kantuk!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sampai  di bumi perkemahan, seluruh peserta belum menampakkan diri. Mereka  ternyata masih di perjalanan. Saat itulah saya merasakan kenikmatan &lt;em&gt;istirahat&lt;/em&gt;.  Tidur selama dua jam, peserta datang dan dilanjutkan dengan acara  pembukaan plus merancang kegiatan esok harinya. Celakanya, pada malam  itu, saya kebagian tugas untuk &lt;em&gt;ronda malam&lt;/em&gt;. Anda tentu dapat  membayangkan apa yang saya rasakan saat itu: letih dan jenuh bergabung  menjadi satu, mengisi setiap aliran darah!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, tidaklah  mengapa. Esok aku akan beristirahat penuh saat peserta menjalani  kegiatan, begitu pikirku. Namun, apa yang ada dalam pikiran, tidak  selalu serupa dengan apa yang ada dalam keadaan nyata. Terkadang jauh  lebih membahagiakan, namun tidak jarang jauh lebih menyiksa. Keesokan  harinya, aku tidak bisa mengistirahatkan badan secara total, karena  kembali dilibatkan dalam kegiatan &lt;em&gt;out bond&lt;/em&gt;. Aku menjalaninya begitu saja, semoga dapat menjadi pembelajaran yang bermakna.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kegiatan  pun berlangsung. Malam tiba. Lagi-lagi harus ronda. Membangunkan  peserta yang lelap dengan tidurnya dan bahagia dengan mimpi-mimpinya.&lt;/p&gt;Pagi  hari setelah tidur dua jam lamanya, pukul 05.00-07.00 wib, aku  dikejutkan oleh panggilan panitia. Salah satu narasumber tidak dapat  mengisi materi ke-organisasi-an dan &lt;em&gt;leadership&lt;/em&gt;. Panitia membutuhkan pemateri pengganti. Mata semua panitia menuju padaku. Aku terjebak, tak mampu menolak.&lt;p&gt;&lt;em&gt;Alhamdulillah&lt;/em&gt;,  aku tidak harus berlama-lama menjadi pemateri. Hanya 30 menit saja.  Singkat, padat. Lebih bahagianya lagi, aku hanya perlu bercerita tentang  pengalaman berorganisasi. Itu saja, tidak lebih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;                                                                           *****&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya tidak tahu pasti apakah ini adalah teori atau tidak. Namun yang saya rasakan adalah &lt;strong&gt;apa yang ada dalam pikiran tidak selalu sama dengan apa yang ada dalam kehidupan nyata&lt;/strong&gt;.  Jika suatu saat, kita mengira akan mampu melaksanakan sesuatu, tidak  menutup kemungkinan, ketika kita mengerjakan sesuatu itu, perkiraan kita  meleset. Kita gagal!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebaliknya, ketika kita berpikir  bahwa melakukan suatu hal itu sulit dan tidak memungkinkan, seringkali,  menjadi mudah dan sangat memungkinkan bahkan berhasil, ketika kita telah  melakukannya. Kata-kata bijak mengatakan bahwa&lt;strong&gt; penakut adalah  orang yang selalu berpikir sempit saat ada peluang lapang, sedangkan  pemberani adalah orang yang selalu berpikir lapang saat sempit.&lt;/strong&gt; Itu bisa-bisa saja terjadi!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; : Catatan Radinal Mukhtar Harahap.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-5563724099907909933?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/5563724099907909933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/11/empat-hari-dua-acara-satu-kabupaten.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/5563724099907909933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/5563724099907909933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/11/empat-hari-dua-acara-satu-kabupaten.html' title='Empat Hari, Dua Acara, Satu Kabupaten, Beribu Rasa'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-2495005754642594401</id><published>2010-11-23T07:15:00.000-08:00</published><updated>2010-11-23T07:23:10.836-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Tiga Hari Penuh Kejutan</title><content type='html'>Sebuah &lt;em&gt;sms &lt;/em&gt;singkat  masuk ke nomor ponselku. Dari seorang  teman lama, teman SD dahulu,  ketika aku masih berdomisili di Pekan Baru,  10 tahun yang lalu. Betapa  bahagianya berjumpa kawan lama dan menjalin  hubungan lagi. Kami banyak  cerita dan ternyata, ia pernah mengikuti  acara yang aku menjadi  pembicaranya. Saat itu, ia ragu-ragu untuk  bertemu langsung denganku,  karena takut salah orang. Tetapi, ketika  mencari-cari informasi, baik  lewat bukuku atau pun lewat blog dan juga  fb, ia yakin dan langsung  menghubungiku.&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;Baiklah, aku  tidak akan berlama-lama untuk  bernostalgia. Aku hanya ingin berbagi  mengenai apa yang ia tanyakan  padaku. Ditulisnya pesan singkat ini:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Nal, waktu aku ikut pelatihan menulis denganmu, aku ko' semangat ya? tapi setelah pelatihan, semangatku itu hilang. Ada tips?"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kubalas dengan canda: &lt;em&gt;"Undang aku lagi, biar semangatmu kembali he he he..."&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku   sadar bahwa jawaban itu bukanlah jawaban yang tepat untuk   pertanyaannya. Oleh karena itu, kucoba untuk menjawabnya dengan lebih   bijak, walaupun aku tidak tahu pasti jawabanku ini termasuk bijak atau   tidak, karena penilaian tetap pada orang lain, bukan pada diriku   sendiri. Begitu, kan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Bayangkan secara mendalam   saat-saat dalam hidupmu penuh dengan semangat. Bayangkan secara mendalam   seakan-akan saat-saat itu hadir kembali dan kamu rasakan saat ini.   Rasakan-rasakan dan rasakanlah. Insya Allah, semangatmu akan kembali"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;                                                                                           *****&lt;/p&gt;Arvan Pradiansyah, dalam bukunya &lt;em&gt;The 7 Laws of Happines &lt;/em&gt;menuliskan bahwa &lt;strong&gt;kita adalah apa yang kita pikirkan berulang-ulang&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  Artinya, ketika yang ada dalam pikiran kita adalah masa-masa kesuksesan   dan keindahan, maka pikiran kita akan memerintahkan pada semua sistem   saraf kita untuk merasakan apa yang kita pikirkan itu. Sistem saraf itu   akan bekerja sesuai yang diperintahkan, lantas semangat, saat meraih   kesuksesan itulah, yang akan kita rasakan. Begitu ujarnya.&lt;p&gt;Cobalah   perhatikan mereka yang larut akan keterpurukan. Mereka memenuhi  pikiran  mereka saat gagal dan jatuh dalam perjuangan. Tidak ada ruang  untuk  mengenang saat-saat mereka sukses. Hasilnya, mereka berputus asa  dan  tidak ingin kembali bangkit dan berjuang. Hilang semangat, &lt;em&gt;down&lt;/em&gt;, tidak tahu apa yang mau dikerjakan, bingung, semuanya menjadi satu. Syukur-syukur tidak stress.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbeda   jika kita mencoba untuk memikirkan hal-hal baik dalam diri kita.   Kepercayaan diri akan kembali hadir. Keterpurukan akan dihadapi dengan   kebangkitan. Perjuangan untuk bangun adalah pilihan, sampai saatnya,   kesuksesan kembali datang. Itulah kenapa, dalam ajaran agama   menganjurkan kita untuk selalu berpikir positif dalam segala hal, bukan   berpikir negatif! Tambah Arvan lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;                                                                                             *****&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam   catatan ini, aku ingin mengabadikan tiga hari penuh kejutan yang baru   saja kualami. Aku berharap, catatan ini akan bermanfaat di kemudian   hari, jika tiba-tiba semangatku turun. Toh, siapa pun dia, hal itu bisa   saja terjadi. Prie GS, seorang budayawan dan motivator nasional pernah   berkelakar dalam salah satu siarannya di Smart FM seperti ini:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Semangat   itu ibarat hembusan angin. Jangan pernah berharap bahwa angin akan   terus berhembus kepada Anda karena itu akan menyebabkan Anda masuk   angin. Masuk angin itu menyakitkan! Apalagi kalau terpaksa membuang   angin di depan umum: selain menyakitkan itu juga sangat-sangat   memalukan!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tapi, jangan pula Anda  merasa  senang jika angin tidak berhembus. Suasana akan gerah dan panas.  Itu  juga berbahaya, karena, Anda akan memilih untuk menghidupkan kipas   angin atau AC yang bisa mengakibatkan Anda masuk angin seperti di atas.   Nah, Anda sudah tahu bukan betapa menyakitkannya itu?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Maka, tidaklah mengapa sesekali, semangat Anda turun. Tetapi berusahalah untuk bangkit lagi!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;                                                                                               *****&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam   catatan sebelumnya, saya sudah berkisah singkat tentang bagaimana saya   harus mengikuti dua acara, yang ternyata, sungguh sangat-sangat luar   biasa. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt; acara yang berlangsung di Wisma Haji Kementerian   Agama Jawa Timur. Acaranya berjudul Workshop Penelitian dan Penulisan   Karya Ilmiah. Ada banyak hal yang bisa saya dapatkan pada acara itu,   yang tentunya tidak bisa saya ungkap satu persatu di sini. Tetapi   kesimpulan yang pasti adalah saya benar-benar &lt;strong&gt;puas&lt;/strong&gt; mengikuti acara itu!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;  adalah acara presentasi 7 nominasi karya ilmiah tentang psikologi  pendidikan di Universitas Negeri Surabaya. Ini adalah acara yang sangat  mengejutkanku. Persoalannya, dari 7 karya ilmiah itu, 3 karya ilmiah  ditulis oleh mahasiswa psikologi, 3 karya lain ditulis oleh mahasiswa  jurusan pendidikan dan hanya satu karya ilmiah yang ditulis oleh  mahasiswa yang bukan dari jurusan psikologi dan bukan pula jurusan  pendidikan, tetapi mahasiswa hukum Islam yaitu diriku sendiri. Tak  heran, jikalau akhirnya, aku tidak mendapatkan juara dalam lomba ini.  Tetapi, tampilnya aku sebagai salah satu nominasi, sangat membuatku  bangga; apalagi ketika aku mengetahui bahwa ada sekitar 23 karya yang  tidak masuk nominasi tetapi dituliskan oleh mahasiswa psikologi dan  pendidikan. Tak jelas, apakah ini keberuntungan atau kebetulan!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itu  dua hari pertama. Hari ketiga adalah hari ini. Aku berniat untuk  mengajukan calon judul penelitianku untuk disusun menjadi skripsi.  Hasilnya, &lt;em&gt;alhamdulillah&lt;/em&gt;, diterima. Saat ini, saat aku  menuliskan catatan ini, perasaan yang kurasakan tadi masih bersemayam  dalam setiap jengkal tubuhku. Begitu bahagianya!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sepulangnya  dari kampus, setelah menyelesaikan pengajuan judul itu, aku mampir ke  ruang rektorat. Hari kamis, sebelum keberangkatan ke Wisma Haji pada  jum'atnya, aku mendapatkan &lt;em&gt;sms&lt;/em&gt; bahwa buku terbaruku telah  dikirim dari Jogja ke Surabaya, ke alamatku tentunya. Aku berharap, hari  ini sampai. Faktanya, benar-benar sampai. Sampai di sini, aku belum  dapat menggambarkan betapa bahagianya aku. Terpenting adalah, &lt;strong&gt;aku benar-benar merasa bahagia sekali, sangat-sangat bahagia!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;                                                                                               *****&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/TOvcM6WM3hI/AAAAAAAAAVs/akSzNZ_r0xo/s1600/37132_1651310964916_1301251401_31745766_5564753_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 144px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/TOvcM6WM3hI/AAAAAAAAAVs/akSzNZ_r0xo/s200/37132_1651310964916_1301251401_31745766_5564753_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542765880788442642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku tidak pernah membayangkan apalagi kejutan selanjutnya. Namun, aku menyakini bahwa &lt;strong&gt;setiap kejutan akan menghasilkan perasaan yang selalu berbeda, walaupun kejutan itu pernah dirasakan sebelumnya. &lt;/strong&gt;Aku  pernah mengalami saat-saat pertama melihat tulisanku dijadikan buku,  buku pertamaku berjudul "Menulis Itu Asyik Lho", tetapi melihat  tulisanku dijadikan buku kedua dengan judul "Menulis, Tradisi  Intelektual Muslim", ada rasa berbeda yang kurasakan. Kedua-duanya  bagaikan kejutan untuk diriku, dan itu sungguh membahagiakan!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; : Catatan penutup malam indah.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-2495005754642594401?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/2495005754642594401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/11/tiga-hari-penuh-kejutan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2495005754642594401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2495005754642594401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/11/tiga-hari-penuh-kejutan.html' title='Tiga Hari Penuh Kejutan'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/TOvcM6WM3hI/AAAAAAAAAVs/akSzNZ_r0xo/s72-c/37132_1651310964916_1301251401_31745766_5564753_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-6210724600180465122</id><published>2010-11-17T02:53:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T02:58:33.289-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Kata Orang Aku Mirip Nabi Ibrahim</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Beberapa Bulan Yang Lalu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Dek!”  ujarku dihadapan istriku. “Idul Adha tahun ini abang ingin berkurban 1  ekor kambing kalau kambing kita jadi melahirkan besok.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Terserah abang aja,” ujar istriku sambil menghidangkan kopi dihadapanku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Itulah pembicaraanku dengan istriku tercinta malam hari sebelum  melahirkannya kambingku. Dengan lahirnya kambingku, nazarku untuk  berkurban Idul Adha ini harus kupenuhi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;Sebulan Menjelang Idul Adha&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Sekuat apapun manusia, sekaya apapun pengusaha, tak akan mampu  menghalangi datangnya musibah. Musibah terkadang adalah awal dari  kenikmatan bila kita sabar dalam menghadapinya. Tetapi, manusia sering  tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi segala musibah. Sehari  setelah kematian dua kambingku, anak kambing yang baru dilahirkan dan  ibu dari kambing tersebut karena keracunan, istriku menyusul menghadap  keharibaan Allah SWT. Istriku meninggal akibat penyakit tipus yang  dideritanya. Peristiwa ini membuat kesendirian dalam diriku ditemani  oleh kambing jantanku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“tok…tok…tok!” suara ketukan pintu rumahku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Kubuka pintu dan seorang lelaki setengah baya berdiri dihadapanku.  Diucapkannya salam dan aku membalasnya seraya mempersilahkannya untuk  masuk. Akan tetapi ia menolak dengan alasan masih banyak rumah yang  harus disinggahinya. Lelaki itu memperkenalkan dirinya. Namanya Yanto,  salah seorang panitia penyelenggara kurban pada hari raya Idul Adha.  Kedatangannya itu mengingatkanku pada nazar yang telah kuniatkan  beberapa bulan yang lalu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Bagaimanakah  hidupku bila kambing satu-satunya yang kumiliki kukurbankan? Apakah  harta yang menopang kehidupanku? Hartaku satu-satunya hanyalah kambing  itu, dan aku telah menazarkannya beberapa bulan yang lalu. Bolehkah aku  membatalkan nazarku dengan alasan tidak adanya hartaku selain kambingku  itu?” pertanyaan demi pertanyaan itu berkelabat hebat dalam pikiranku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Ditengah kesendirianku itu, aku akhirnya membulatkan tekad untuk tetap  mengorbankan kambingku satu-satunya itu. Aku yakin Allah akan  menggantinya dengan ganti yang lebih besar dan lebih mulia. Bukankah  Allah telah menjanjikan bahwa barang siapa yang mengorbankan hartanya  dijalan-Nya akan mendapatkan ganti yang lebih banyak dan lebih mulia  dari apa yang diberikannya? Bukankah barang siapa yang “menolong” Allah  akan ditolong oleh Allah? Itulah yang menjadi tekadku dalam hati.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Akhirnya, aku membawa kambingku menuju Mesjid Raya, sekretariat panitia  kurban wilayahku. Dijalan, aku bertemu dengan Pak Bram, salah satu  tetangga yang kurang berkecukupan, sama seperti diriku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Assalamu’alaikum, Pak Ibrahim!” sapanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Wa’alaikum Salam” sapaku seraya bersalaman dengannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Mau kemana ni, Pak!” ujarnya lanjut, “Singgah dulu”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Akupun singgah sebentar. Kuceritakan padanya niatku tentang  pengorbanan kambingku. Kurasa ia kurang setuju. Ia berdalih bahwa  berkorban itu hanya bagi orang yang mampu. Orang-orang seperti kami  berhak untuk menerima hewan kurban bukan mengkurbankan hewan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Allah pasti tau mana yang miskin dan mana yang kaya. Walaupun Pak  Ibrahim itu telah bernazar untuk mengorbankan kambing, Allah pasti tau  toh, bahwa Pak Ibrahim masih membutuhkan kambing itu. Karena memang  kambing itulah kambing satu-satunya yang merupakan harta pak Ibrahim.  Bagaimana pak Ibrahim akan hidup kalau kambing satu-satunya dikorbankan.  Pakai doa dan tawakkal? Tidak mungkin pak! Lebih baik dipikirkan lagi  tentang rencana itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Aku hanya menjawab dengan  senyuman. Orang seperti Pak Bram kalau dilawan akan bertambah semangat  menantang. Maklum, orang miskin biasanya emosian kalau diajak berbicara.  Akupun pamit setelah beberapa menit berbincang dengannnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Beberapa meter sebelum sampai ke Mesjid, kulihat Pak Rudi baru keluar  dari pagar mesjid. Kusapa dia dan berbincang sebentar dengannya. Ia  mengetahui niatku tetapi, sama seperti Pak Bram, sepertinya Pak Rudi  kasihan terhadap nasibku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Lho? Bukankah pak  Ibrahim masih membutuhkan kambingnya? Dengan apa pak Ibrahim hidup tanpa  kambing? Apa tidak ditunda dulu hingga tahun depan?”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Ya saya percaya saja pada Allah, Pak! Saya hanya ingin menunaikan nazar saya.” Begitu jawabku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “atau saya beli. 700 ribu. Bapakkan bisa membeli kambing yang berharga  500 ribu dan 200 ribunya bisa bapak jadikan modal?” Pak Rudi menawarkan  solusi&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Hatiku sempat goyah. 200 ribu bagiku  adalah modal yang cukup besar dan berharga. Bila aku membelikan kambing  yang berharga 500 ribu, bukankah aku telah menunaikan nazarku? Walaupun  tidak dengan kambingku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Tapi untunglah pikiran  seperti itu hanya tersimpan dalam relung hatiku tanpa sempat terucap.  Sekali lagi aku hanya berterima kasih kepada Pak Rudi dan aku tetapi  bertekad untuk mengkurbankan kambingku tanpa menjualnya terlebih dahulu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “mau dibantu ko’ nolak?!” begitu ujar pak Rudi berbisik sebelum meninggalkanku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;Idul Adha&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Allahu Akbar…..Allahu Akbar….Allahu Akbar…” sayup-sayup takbir  bergemuruh dimenara-menara mesjid disekitar wilayahku. Idul Adha telah  tiba. Aku melaksanakan shalat idul adha di mesjid raya sekalian  menyaksikan pengorbanan kambingku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;                                                                                               *****&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Darah bersih keluar dari leher kambingku diiringi takbirku yang keluar  dari kedua bibirku. Mataku berkaca pertanda kebahagiaan Allah masih  memberi kesempatan untuk berkurban kepadaku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Pak Ibrahim. Assalamu’alaikum…”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Suara itu milik Ustadz Imron, salah seorang pimpinan Pondok Pesantren  yang ada diwilayahku. Beliau mengajakku berbincang-bincang. Rupanya  beliau punya rencana untuk membuat peternakan kambing diwilayahku dan  belum mendapatkan penggembalanya. Ia menawarkan pekerjaan ini kepadaku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; “Gimana Pak Ibrahim?”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Mataku berkaca. Aku teringat tatkala Nabi Ibrahim mendapatkan anaknya  kembali setelah “menyembelihnya”. Kusujudkan tubuhku. Ustadz Imron  tersenyum.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-6210724600180465122?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/6210724600180465122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/11/kata-orang-aku-mirip-nabi-ibrahim.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6210724600180465122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6210724600180465122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/11/kata-orang-aku-mirip-nabi-ibrahim.html' title='Kata Orang Aku Mirip Nabi Ibrahim'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-2041725406247255668</id><published>2010-10-14T09:23:00.000-07:00</published><updated>2010-10-14T09:26:11.194-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku kedua'/><title type='text'>Berbincang Mengenai "Kesempatan"</title><content type='html'>&lt;p&gt;Saya masih ingat, saat itu kami sedang latihan pramuka. Seorang kakak  pembina memerintahkan kami untuk mengambil selembar kertas dan  membentuknya seperti bola. Masing-masing kami akhirnya mempunyai sebuah  bola kertas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu, kakak pembina tersebut mengambil papan  kecil dan menggambar bulatan kecil. Lantas ia berseru, "Ayo! Lemparkan  bola kertas kalian!"&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka serempak kami, yang berjumlah  160 orang melempar bola kertas tersebut ke arah bulatan kecil itu. Tidak  ada yang tepat, karena kami melempar bola tersebut dari jarak yang  jauh. Padahal, tidak ada yang melarang kami untuk maju mendekati bulatan  itu dan melemparnya sehingga tepat!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mari  berbincang mengenai kesempatan. Layaknya, proses melempar bola tadi,  begitulah kesempatan. Hakikatnya dapat diraih. Namun karena kita tidak  memperhatikan kesempatan tersebut dengan seksama, kita cenderung  menyianyiakannya. Layaknya saya dan teman-teman lainnya, saya melempar  bola jauh-jauh karena ingin cepat mengenai bulatan kecil, padahal ada  cara yang lebih mudah untuk melakukannya.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;*********&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1403927658067&amp;amp;set=o.439382508044"&gt;&lt;img class="img" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs907.snc4/72038_1403927658067_1228629244_30897767_2542538_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="caption"&gt;Sampul depan buku "Menulis, Tradisi Intelektual Muslim"&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah,  saya tidak ingin berlama-lama menyampaikan maksud dan tujuan berbincang  mengenai 'kesempatan' ini. Beberapa bulan lalu, saya mendapatkan info  perlombaan menulis dengan tema "Islam Mengajarkan Tradisi Menulis".  Penyelenggaranya Youth Publisher.&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka saya pun ikut dan  mengambil kesempatan ini. Saya tertarik mengikutinya karena tulisan yang  lolos seleksi akan dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul "&lt;strong&gt;Menulis, Tradisi Intelektual Muslim&lt;/strong&gt;".  Alhamdulillah, tulisan saya akhirnya lolos seleksi dan bergabung dengan  24 penulis lainnya, yang sebagian besarnya, telah menulis banyak buku.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mbak Triani Retno misalnya, penulis produktif yang telah menulis banyak novel seperti &lt;em&gt;Bukan Jilbab Semusim, Please Don't Go, Menjemput Risalah-Mu &lt;/em&gt;dan  lain sebagainya. Ada juga Mas Dwi Suwikno yang menyadarkan para  mahasiswa untuk tidak hanya bergantung pada 'uang jajan' pemberian orang  tua melalui buku &lt;em&gt;3 Kunci Lepas Subsidi Ortu. &lt;/em&gt;Mbak Ifa Avianty yang berkisah tentang cinta lewat &lt;em&gt;Facebook on Love. &lt;/em&gt;Atau  pun Bang Akhi Dirman Al-Amin, Mas Edo Segara dan penulis lainnya.  (Untuk lebih jelasnya tentang siapa saja yang menulis di buku tersebut,  klik &lt;a href="http://on.fb.me/9Mbr9D" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this)," rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://on.fb.me/9Mbr9D&lt;/a&gt;)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kabar gembiranya, buku tersebut telah dapat dipesan secara &lt;em&gt;inden &lt;/em&gt;melalui inbox Mas Edo Segara (yang belum berteman dapat add di &lt;a href="http://on.fb.me/9ieS8H" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this)," rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://on.fb.me/9ieS8H&lt;/a&gt;).  Harganya, karena masih dalam proses cetak dan belum dijual secara luas  Rp. 45.000,- disc. 20% = Rp. 36.000,- (bebas ongkir), itu pun hanya  untuk 100 pemesan pertama saja! Setelah itu, harga kembali normal dan  ditambah ongkos kirim.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kabar gembira selanjutnya, yang telah memesan buku ini jumlahnya 25 orang. Ada 75 orang lagi yang berkesempatan mendapatkan &lt;em&gt;harga special &lt;/em&gt;ini plus diikutsertakan dalam pengundian secara acak 10 orang peraih kaos keren dari panitia. Menarik bukan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, pergunakan kesempatan ini dengan&lt;em&gt; mengirim pesan melalui inbox &lt;/em&gt;Mas Edo Segara&lt;em&gt; dan transfer uang pembeliannya&lt;/em&gt;  melalui Bank Mandiri no. rek 137-00-0459124-0 a.n Edo Segara Gustanto.  Setelah uang masuk konfirm sms ke 0274-6844177 / 081392078303 serta  kirim alamat pengiriman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;**********&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kembali ke permasalahan awal, berbincang mengenai 'kesempatan', adalah Anda yang dapat menentukan. &lt;strong&gt;Kesempatan tetaplah kesempatan. Tidak mengetahui, anda sempat atau tidak sempat. &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-2041725406247255668?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/2041725406247255668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/10/berbincang-mengenai-kesempatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2041725406247255668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2041725406247255668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/10/berbincang-mengenai-kesempatan.html' title='Berbincang Mengenai &quot;Kesempatan&quot;'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-3550529819463308624</id><published>2010-08-19T20:32:00.000-07:00</published><updated>2010-08-19T20:33:05.097-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tadarus'/><title type='text'>Berawal dari Membaca</title><content type='html'>Sejak menemukan "Kisah Seorang Muslim Tua" yang telah saya bahas pada  catatan sebelum ini, saya semakin penasaran dengan kekuatan membaca. Ya,  membaca! Karena pada kisah seorang muslim tua itu dijelaskan bahwa,  bahkan ketika kita tidak memahami apa yang kita baca sekalipun  (Al-Qur'an), kita tetap memperoleh manfaat!&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya menjadi  teringat dengan beberapa kasus muallaf yang mendapatkan hidayah karena  'iseng-iseng' mempelajari Al-Qur'an. Irene Handono misalnya, mantan  biarawati yang menjadi muallaf pada tahun 1983. Ia memeluk Agama Allah  berawal ketika membaca Al-Qur'an dengan tujuan mencari kelemahannya.  Namun, ternyata, Al-Qur'an tersebutlah yang menguak kelemahan apa yang  ia percayai sebelumnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada juga seorang profesor asal  Prancis yang bernama Prof. Jackues Yves Costeau yang dikenal sebagai  pakar kelautan. Suatu kali, ia menyelam ke dalam lautan dan menemukan  beberapa mata air tawar di tengah lautan tersebut. Mata air tersebut  berbeda kadar kimia, warna dan rasanya serta tidak bercampur dengan air  laut yang Lainnya. Bertahun-tahun ia bertanya-tanya dan berusaha  mengadakan penelitian untuk mencari jawaban misteri tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hingga  akhirnya, ia bertemu dengan seorang profesor muslim yang memberikan  jawaban yang berasal dari al-Qur'an surat al-Furqon 53:&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Dan  Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan, yang ini tawar  lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan&lt;/em&gt;&lt;em&gt;antar-keduanya  dinding dan batas yang menghalang."&lt;/em&gt; (QS Al-Furqon: 53).&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terpesonalah  ia dan akhirnya masuk islam!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Berawal dari Membaca&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kisah-kisah  para muallaf yang memeluk islam dengan permulaan membaca sungguh sangat  banyak sekali. Dan, menurut perkiraan saya, itu pula alasan kenapa ayat  pertama yang diturunkan oleh Allah SWT adalah 5 ayat dari surat  al-Alaq!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang  menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,  dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan  perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak  diketahuinya. &lt;/em&gt;(QS Al-Alaq: 1-5)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Iqra!  Bacalah!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang harus dibaca?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aha...  itulah percakapan antara Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril ketika wahyu  tersebut turun. Nabi Muhammad yang notabene adalah seorang &lt;em&gt;ummi&lt;/em&gt;  (yang tidak pandai membaca dan menulis), diperintahkan membaca dan  tidak diterangkan membaca apa! Mengapa demikian?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Iqra!  Bacalah!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena kata Iqra' ternyata terambil  dari akar kata yang berarti "menghimpun". Dari "menghimpun" lahir aneka  ragam makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti,  mengetahui ciri sesuatu dan membaca! sehingga, sebenarnya, kata Iqra'  tidak harus diartikan sebagai membaca sebuah teks tertulis dengan aksara  tertentu! Tetapi membaca segala sesuatu, teks tertulis atau pun tidak!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Iqra!  Bacalah!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena membaca adalah syarat pertama  dan utama pengembangan ilmu dan teknologi serta syarat utama dalam  membangun peradaban. Semua beradaban yang berhasil bertahan lama,  dimulai dari suatu bacaan. Peradaban Yunani di mulai dengan &lt;em&gt;Iliad&lt;/em&gt;  karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya  Kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa pun demikian dengan adanya karya  Newton dan berakhir dengan filsafat Hegel. Begitulah apa yang dijelaskan  oleh Prof. Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Qur'an-nya!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Iqra!  Bacalah!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena betapa pun kita mengulang-ulang  sebuah bacaan, pastilah akan menimbulkan penafsiran baru, pemahaman  baru, pengembangan gagasan, pengembangan pemahaman dan seterusnya.  Dengan membaca al-Qur'an berulang-ulang, akan menyucikan jiwa dan  menyejahterakan batin. Membaca alam raya juga akan membuka tabir  rahasianya dan memperluas wawasan serta menambah kesejahteraan lahir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa  yang kita baca saat ini, adalah al-Qur'an yang telah dibaca oleh Rasul  dan generasi terdahulu. Alam pun demikian. Namun pemahaman, penemuan  rahasia, serta limpahan ilmu yang kita peting semakin berkembang dan  terus berkembang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Iqra! Bacalah!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak  mempunyai objek karena kita memang diperintahkan untuk membaca  segala-galanya namun dengan satu pedoman: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;bismi rabbik&lt;/em&gt;,  dengan nama Tuhan-mu!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Membaca sesuatu yang baik,  bacalah dengan &lt;em&gt;bismi rabbik!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Membaca sesuatu  yang 'buruk' pun, bacalah dengan &lt;em&gt;bismi rabbik!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena  memang, Allah mengajarkan bagaimana kita menyeimbangkan pembacaan kita  terhadap segala sesuatu! Membaca yang baik, agar kita dapat  mencontohnya. Membaca yang buruk, agar kita dapat menghindar dan  menjauhinya!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Al-Qur'an mengajarkan hal ini dengan  menyandingkan beberapa kata yang berlawanan arti dalam jumlah yang sama  dan seimbang!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kata &lt;em&gt;hayat&lt;/em&gt; terulang  sebanyak antonimnya yaitu kata &lt;em&gt;maut&lt;/em&gt;: 145 kali!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Akhirat  &lt;/em&gt;terulang sebanyak 115 kali sebanyak kata &lt;em&gt;dunia&lt;/em&gt;!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu  pula kata &lt;em&gt;malaikat&lt;/em&gt; yang terulang dalam jumlah yang sama dengan  kata &lt;em&gt;syetan&lt;/em&gt; yaitu 88 kali!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Iqra!  Bacalah!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-3550529819463308624?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/3550529819463308624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/08/berawal-dari-membaca.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3550529819463308624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3550529819463308624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/08/berawal-dari-membaca.html' title='Berawal dari Membaca'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-270265492583725777</id><published>2010-08-19T20:29:00.000-07:00</published><updated>2010-08-19T20:31:58.563-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tadarus'/><title type='text'>Belajar Dari Kisah Seorang Muslim Tua</title><content type='html'>&lt;em&gt;Dikisahkan bahwa seorang Muslim tua Amerika  hidup di suatu  perkebunan di pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan  cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Muslim tua itu bangun lebih  awal dan membaca Al Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya  ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dengan  cara apapun semampunya. &lt;/em&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Suatu hari sang cucu  bertanya, "Kakek! Aku mencoba untuk membaca Al Qur'an seperti yang kamu  lakukan tetapi aku tidak juga dapat memahaminya, dan sedikit dari apa  yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup Al-Qur'an itu. Apa sih  kebaikan dari membaca Al Qur'an?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Muslim tua itu  diam. Kemudian dengan tenang ia mengambil batu bara dan meletakkannya di  dalam dasar sebuah keranjang, memutar sambil melobangi keranjang hingga  keranjang itu tampak sangat kotor sekali. Sejurus kemudian ia berkata,  "Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi  dengan air." Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan  kakeknya, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Muslim  tua itu tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih  cepat lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan  keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat,  tetapi tetap, lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan  rumah. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Dengan terengah-engah, ia berkata kepada  kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang  sudah dibolongi. Sang cucu ingin mengambil ember sebagai gantinya.  Muslim tua itu menolak seraya berkata, "Aku tidak mau ember itu; aku  hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup!" &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Maka  sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya  itu. Cucunya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin  menunjukkan kepada kakeknya, bagaimana pun ia berlari secepat-cepatnya,  air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Sekali  lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga  menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah  kosong lagi. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Sambil terengah-engah ia berkata, "  Lihat Kek, percuma!" &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Jadi kamu pikir percuma?"  Jawab kakeknya dan kemudian berkata, "Lihatlah keranjangnya sekali  lagi!"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; Sang cucu menurut, melihat ke dalam  keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu  sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara  yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. "Cucuku, hal itulah yang  terjadi ketika kamu membaca Al Qur'an. Kamu tidak bisa memahami atau  ingat segalanya, tetapi ketika kamu membacanya lagi, kamu akan berubah,  luar dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita."﻿&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Apa  yang Anda rasakan ketika membaca kisah singkat di atas?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya  pribadi, sungguh, merasa malu. Selama ini rasanya saya lebih suka untuk  menghabiskan waktu demi pekerjaan lain ketimbang membaca al-Qur'an.  Bahkan, jika dibandingkan dengan prosentase membaca buku, maka saya  dapat meyakinkan diri saya bahwa saya lebih banyak membaca buku  ketimbang membaca al-Qur'an. Logika yang saya pakai terkadang sama  dengan yang dipakai oleh cucu Muslim tua tersebut. Saya membaca  Al-Qur'an tanpa pemahaman: dan walau pun paham, saya cepat lupa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun  setelah membaca kisah di atas, yang saya dapatkan secara kebetulan di  dunia maya, saya menjadi sadar bahwa &lt;strong&gt;tidak ada yang sia-sia  dalam mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat, bahkan ketika banyak orang  menilai bahwa pekerjaan yang kita lakukan tersebut gagal! &lt;/strong&gt;Membaca  Al-Qur'an, betapa pun kita tidak paham akan makna dan juga artinya,  bukan berarti kita tidak mendapatkan apa-apa dari pembacaan tersebut.&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Thomas  Alfa Edison pernah ditanya oleh seseorang "Apakah anda tidak malu telah  gagal 999 kali dalam membuat lampu?"&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beliau dengan  tersenyum menjawab "Saya tidak gagal! Bahkan saya baru saja berhasil  menemukan 999 cara untuk tidak membuat lampu!"&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah!  Allah menjelaskan dalam salah satu firmannya yang tertuang indah dalam  al-Qur'an surat Al-Baqoroh 286:&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Allah tidak membebani  seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala  (dari kebajikan) yang diusahakannya&lt;/em&gt;&lt;em&gt;dan ia mendapat siksa (dari  kejahatan) yang dikerjakannya."&lt;/em&gt; (QS. Al-Baqarah: 286)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi,  &lt;strong&gt;berbuatlah... karena apa yang kita perbuat akan kembali pada  diri kita masing-masing...&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-270265492583725777?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/270265492583725777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/08/belajar-dari-kisah-seorang-muslim-tua.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/270265492583725777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/270265492583725777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/08/belajar-dari-kisah-seorang-muslim-tua.html' title='Belajar Dari Kisah Seorang Muslim Tua'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-6510376930797450301</id><published>2010-08-11T02:24:00.001-07:00</published><updated>2010-08-11T02:36:12.501-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tadarus'/><title type='text'>Tadarus Ramadhan 01 # Memantapkan Niat</title><content type='html'>&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman! Telah diwajibkan atasmu berpuasa  sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu  bertakwa" (Q.S Al-baqoroh 2: 183)&lt;/em&gt;&lt;p&gt;Marhaban ya  Ramadhan, Marhaban ya Sayyidus Syuhur...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya, akhirya,  dengan izin Allah kita kembali berjumpa dengan bulan yang penuh dengan  berkah ini. Bulan yang mempunyai banyak keutamaan dan keagungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan  saat inilah hari pertama bulan Ramadhan yang selalu dinantikan  tersebut. Apa yang kita rasakan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sejenak, mari kita  memantapkan niat untuk menjalani bulan penuh berkah ini!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Benarkah  kita bahagia akan datangnya bulan Ramadhan?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Benarkah  kita menikmati hari-hari dimana kita diuji dengan lapar dan haus?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Benarkah  kita telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang berbeda dengan  bulan-bulan lainnya?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentunya masih banyak pertanyaan  lainnya yang menguji akan kemantapan niat kita. Tidak hanya tiga  pertanyaan sebagaimana yang saya tulis di atas. Menariknya, pertanyaan  itu ada pada diri kita masing-masing dan bisa saja berbeda dan juga  sama. Namun setidaknya mari kembali kita memantapkan niat untuk  menjalani bulan penuh berkah ini dengan sepenuh hati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kenapa  harus niat?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika kita menyadari, salah satu  perbedaan antara manusia dan hewan adalah manusia diberikan akal pikiran  untuk dapat memikirkan apa yang akan ia kerjakan. Berbeda dengan hewan  yang hanya menggunakan insting ke-hewan-annya. Oleh karena itu, manusia,  dalam melakukan setiap pekerjaannya, selalu didorong oleh berbagai  macam motivasi dan alasan. Nah, motivasi dan alasan tersebutlah yang  pada hakikatnya disebut dengan niat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seorang supir angkot  misalnya, ketika akan mengemudikan angkotnya, ia akan dihadapkan pada  beberapa persoalan berikut ini:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Apakah saya harus  mengendarainya dengan cepat sehingga saya tidak didahului oleh angkot  lain dalam mengangkut calon penumpang yang sedang menunggu kedatangan  angkot?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Atau saya harus pelan-pelan saja agar  kenyamanan penumpang yang berada di angkot saya tetap terjaga?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Hmm..  apakah di depan sana benar-benar ada calon penumpang yang menunggu  kedatangan angkot saya sehingga saya harus mengendarai dengan cepat?  jika tidak, berarti saya hanya akan membuang-buang uang saja untuk  membeli bensin tanpa ada pemasukan yang jelas.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Lah,  bagaimana pula dengan penumpang yang berada di angkot saya kini? apakah  mereka benar-benar nyaman ketika saya mengendarai angkot dengan pelan?  bagaimana jika di antara mereka ada yang hampir terlambat?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekali  lagi, begitu banyak alasan seseorang dalam menjalankan suatu aktivitas  dan alasan itu sangat penting untuk ditetapkan di dalam hati agar apa  yang kita jalankan semakin &lt;em&gt;mantap.&lt;/em&gt; Begitu pula dengan niat,  ketika niatnya bagus, maka kemungkinan besar akan bagus pula hasilnya.  Jika tidak, maka besar kemungkinan akan tidak bagus hasilnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rasulullah  SAW pernah bersabda:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh,  Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku mendengar  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Segala amal itu  tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.  Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka  hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya  itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan  dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya". (muttafaq  alaih)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah arti penting sebuah niat dalam  melakukan segala aktivitas. Tak terkecuali segala aktivitas di bulan  Ramadhan. Dari mulai puasa di siang hari, tarawih di malam hari, sahur  menjelang subuh, berbuka di saat maghrib dan lain sebagainya. Segalanya  harus disertai oleh niat yang kuat lagi kokoh!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Berniat  setengah-setengah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemarin, beberapa jam sebelum  pemerintah memutuskan bahwa hari ini adalah hari pertama bulan Ramadhan,  di sebuah stasiun televisi, seorang artis diwawancarai mengenai  bagaimana ia akan menjalani bulan puasa. Dengan tersenyum, artis yang  kebetulan bertubuh besar tersebut mengeluarkan jawaban sebagaimana  berikut:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Saya sangat ingin puasa. Tetapi yang paling  saya tidak kuat adalah bagaimana cara menahan haus. Saya bisa tidak  makan satu harian penuh walau pun tubuh saya gemuk. Tetapi menahan haus,  hmm.. saya sering tidak kuat karena biasanya, dalam satu hari, saya  bisa menghabiskan 5 botol aqua 1500 ml. Setelah wawancara ini, paling  saya langsung minum.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Saya sangat ingin puasa&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Niat  si Artis begitu mempesona..&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Tetapi... bla.. bla..  bla..&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hilang seketika..&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bingung? Mari  kita kembali pada hadis tentang niat yang telah kita bahas sebelumnya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Dari  Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia  berkata: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda: "Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya  mendapatkan sesuai niatnya. Maka &lt;strong&gt;barang siapa yang hijrahnya  kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan  Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau  karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada  apa yang ditujunya&lt;/strong&gt;". (muttafaq alaih)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perhatikan  kalimat yang saya tebalkan sekali lagi. Apa yang Anda dapatkan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemarin  sore, saya mendapatkan hadiah Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan  Islam &lt;em&gt;TSAQOFAH &lt;/em&gt;volume 3, nomor 1, jumadal ula 1428 H. Dalam  jurnal yang dikeluarkan oleh Institut Studi Islam Darussalam (ISID)  Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut saya menemukan satu buah  artikel menarik tentang hijrah, yang sangat erat kaitannya dengan hadis  di atas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dituliskan bahwa, pada dasarnya, hijrah-nya Nabi  Muhammad dari Mekkah menuju Yastrib (yang akhirnya diubah menjadi  Madinah) bukanlah berarti bahwa Nabi Muhammad terdesak hingga harus  melarikan diri. Hal ini sering dituduhkan oleh para orientalis  sebagaimana terjemahan bahasa inggris untuk hijrah yang sering  menggunakan kata &lt;em&gt;flight&lt;/em&gt; bukan &lt;em&gt;emigration&lt;/em&gt;. Padahal &lt;em&gt;flight&lt;/em&gt;  itu mengandung arti negatif yang akan menggambarkan bahwa umat muslim  saat itu ketakutan sehingga harus melarikan diri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hijrah  Nabi Muhammad adalah mutlak karena seruan Allah SWT, bukan karena  disakiti atau pun alasan lainnya. Oleh karena itulah dalam hadis  tersebut diungkapkan barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan  Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena, jika  yang menjadi alasan adalah karena tersakiti, lantas kenapa sahabat Umar,  sahabat yang tidak hanya disegani oleh kafir Quraisy tetapi juga  ditakuti, tetap hijrah? Bukankah, tanpa hijrah pun, Umar tetap dapat  hidup di Mekkah karena kafir Quraisy takut padanya?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah,  begitulah hakikatnya niat. Tidak ada kata-kata &lt;em&gt;tetapi&lt;/em&gt; yang akan  menghalangi kita dalam menjalani niat tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejenak  mari kita merenungkan beberapa hal berikut ini:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kenapa Nabi  Muhammad bersama pasukannya dapat mengalahkan kaum Kafir Quraisy pada  saat perang Badar? padahal jumlah kaum Kafir Quraisy pada saat itu lebih  banyak daripada umat islam? Bahkan pada saat itu umat islam sedang  berpuasa sedangkan kaum Kafir Quraisy tidak?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kenapa para  pahlawan Indonesia dapat mengalahkan penjajah yang mempunyai senjata  lengkap dan juga ilmu pengetahuan tentang perang? adakah teori  peperangan yang bisa menjawab hal ini?&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Kekuatan niat memang &lt;strong&gt;tidak  ada duanya&lt;/strong&gt;. Artinya, ketika niat telah benar-benar mantap,  maka apa pun yang menghalang, pasti ada jalan keluar. Karena niat akan  memantapkan hati. Hati yang mantap akan melahirkan kemauan yang kuat.  Kemauan yang kuat akan menghasilkan sikap pantang menyerah!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Semangat  di awal, Ambruk di akhir&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah, ini juga sebenarnya  dampak dari niat yang tidak mantap alias setengah-setengah. Begitu  banyak yang mengalaminya, tidak terkecuali diri saya sendiri. Sering  sekali kita bersemangat di awal tetapi ambruk di akhir. Rajin di  hari-hari pertama, malas di hari-hari terakhir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita  kembali sejenak kepada apa yang kita rasakan ketika memulai pekerjaan  baru. Sekolah baru misalnya, kantor baru, rumah baru, kampus baru, dan  lainnya. Bagaimana semangat kita saat itu?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Coba bandingkan  dengan apa yang kita rasakan ketika kita telah memasuki sekolah  berbulan-bulan, memasuki kantor bertahun-tahun dan seterusnya. Adakah  perbedaannya?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sering sekali terjadi bahwa, saya ulangi  lagi, kita bersemangat di awal tetapi ambruk di akhir. Rajin di  hari-hari pertama, malas di hari-hari terakhir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka apa  yang harus kita lakukan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mantapkan kembali niat tersebut (&lt;em&gt;tajdid  an-niyah&lt;/em&gt;). Layaknya kampus yang memiliki ospek, layaknya pekerja  kantor yang memiliki pembaharuan target dan seterusnya, kita pun, dalam  menjalani puasa harus memiliki kemantapan kembali niat-niat yang telah  pudar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhirnya, izinkan saya menutup tadarus Ramadhan 01  ini dengan sebuah kisah:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Alkisah, seorang 'abid yang saleh  dan telah beribadah dalam waktu yang sangat lama didatangi oleh suatu  kaum. Salah satu dari mereka berkata kepadanya, "Hai 'abid, saya  mendengar di daerah ini ada suatu kaum yang ibadahnya menyembah pohon,  tidak menyembah Allah." Mendengar kabar yang diucapkan orang itu, sang  'abid menjadi marah, lalu pergi dengan membawa sebuah kampak untuk  menghancurkan pohon itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seorang iblis yang merubah dirinya  menjadi seorang syekh, menyambut kedatangan 'abid di dekat pohon itu.  Iblis bertanya kepadanya, "Ke manakah Anda hendak pergi wahai saudaraku,  mudah-mudahan Allah merahmatimu." 'Abid menjawab," Aku hendak memotong  pohon ini." Iblis itu balik bertanya, "Apa yang menyebabkan engkau ingin  memotong pohon ini, sehingga kamu telah meninggalkan ibadahmu serta  menyibukkan kegiatan yang tidak bermanfaat bagimu." 'Abid menjawab,  "Sesungguhnya apa yang akan aku lakukan ini adalah sebagian dari  ibadahku." Iblis berkata, "Aku tidak akan membiarkan kamu untuk memotong  pohon ini."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Iblis bergerak dengan garang menyerang sang  'abid, tetapi tidak berhasil menaklukannya. Bahkan Iblislah yang  berhasil dikalahkan oleh 'abid dan ia berhasil ditawan dalam pengawasan  'abid. Iblis itu berkata, "Lepaskan aku, dan aku akan berbicara  kepadamu." Sang 'abid melepaskannya. Ia berkata, "Sesungguhnya Allah swt  telah menggugurkan perintah untuk memotong pohon ini dan Dia tidak  mewajibkannya lagi kepadamu. Allah tidak menyuruh kamu untuk melakukan  hal ini. Jika Allah berkehendak, mungkin Allah sudah memerintahkan  pekerjaan ini kepada para Nabi-Nya dan mengutusnya untuk menghancurkan  pohon ini." Abid itu menjawab, "Akulah yang harus memotong pohon ini."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang  'abid mendekati iblis dan melawannya kembali. Ia berhasil mengalahkan  kembali Iblis itu dan segera mengurungnya. Iblis itu berkata kepada sang  'abid, "Apakah kamu mempunyai keputusan tentang masalah kita ini agar  semuanya menjadi lebih baik dan berguna bagiku dan bagimu?" Abid itu  terdiam. Lalu berkata, "Apakah kau bisa memutuskan dan menyebutkan hal  itu?" "Ya," Iblis menjawab, "tetapi lepaskan dulu aku dari  pengawasanmu."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah dilepaskan iblis itu berkata, "Wahai  'abid, kamu adalah orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Engkau  telah menjadi beban bagi orang lain yang menanggungmu. Engkau yang dalam  kesendirian terus berusaha ingin menjadi yang terbaik dari tetanggamu,  dan kenyang dalam keheninganmu tanpa memerlukan manusia yang lain.  Bukankah yang aku katakan ini benar?" Abid terdiam. Ia menjawab pelan,  "Benar." Iblis balik berkata, "Urungkanlah niatmu untuk memotong pohon  ini dan aku akan berikan kepadamu dua dinar yang akan aku simpan di  dekat kepalamu setiap pagi. Dengan uang itu kamu akan membelanjakannya  untukmu, keluargamu, dan sisanya untuk sedekahmu kepada  saudara-saudaramu. Dan hal ini lebih baik bagimu dan kaum muslim yang  lain daripada memotong pohon yang tidak mendatangkan manfaat bagimu dan  saudara-saudaramu."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;'Abid terdiam. Ia mulai berpikir dan  merenungkan ucapan iblis itu. Lalu ia berkata, "Engkau benar, wahai  syekh, aku bukan seorang nabi dan mengharuskan aku untuk memotong pohon  ini dan Allah tidak menyuruhku untuk memotongnya, serta menetapkan aku  sebagai orang yang durhaka karena tidak memotong pohon ini. Apa yang  engkau sebutkan ternyata lebih baik dan banyak manfaatnya." Iblis pun  berjanji akan memberikan uang dua dinar setiap hari karena nasihatnya  diikuti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah kejadian itu 'abid kembali ke tempatnya.  Ketika waktu pagi datang, ia menemukan di dekat kepalanya uang senilai  dua dinar dan ia menyimpannya untuk dibelanjakan. Kejadian serupa  terjadi terus menerus, sampai pada suatu pagi, ia tidak menemukan lagi  uang senilai dua dinar itu. Ia marah. Lalu pergi membawa kampak dengan  maksud menghancurkan pohon itu kembali.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Iblis yang berwujud  syekh menyambut kedatangannya seraya berkata, "Apa yang hendak kau  lakukan dengan pohon ini?" "Aku akan memotongnya." jawab 'abid. Iblis  berkata, "Demi Allah, kamu tidak akan mampu memotongnya dan tidak ada  jalan bagimu untuk melakukannya." 'Abid itu menyerang Iblis dengan  gencar, tetapi ia tidak berhasil mengalahkan Iblis itu seperti ketika  dulu ia mengalahkannya. Bahkan ia berhasil dikalahkan oleh Iblis. Iblis  mengekang sang 'abid dan mengancam kepadanya dengan tekanan yang keras  agar ia tidak melakukan apa yang ia inginkan. 'Abid berkata kepada  Iblis, "Kabarkan kepadaku apakah  yang menyebabkan engkau bisa  mengalahkan aku, padahal dahulu aku bisa mengalahkanmu." Iblis menjawab,  "Sesungguhnya ketika engkau mengalahkan aku, engkau berangkat dari  marah karena Allah dan akhiratmu. Kali ini engkau tidak bisa mengalahkan  aku, karena marahmu berangkat bukan dari marah karena Allah, tetapi  marah karena diri dan duniamu. Allah menundukanku karenanya, dan aku  menundukanmu karena rasa ikhlas karena Allah telah hilang darimu."&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-6510376930797450301?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/6510376930797450301/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/08/tadarus-ramadhan-01-memantapkan-niat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6510376930797450301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6510376930797450301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/08/tadarus-ramadhan-01-memantapkan-niat.html' title='Tadarus Ramadhan 01 # Memantapkan Niat'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-7852779600361034939</id><published>2010-06-26T07:54:00.000-07:00</published><updated>2010-06-26T07:55:32.730-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NLP For Writer'/><title type='text'>Apa Jadinya Jika Saya Tidak Menulis?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt; &lt;i&gt;Alkisah, seorang peserta training menulis begitu bahagia dengan  keikutsertaannya pada acara yang dipandu langsung oleh seorang penulis  terkenal. Ia merasa telah menemukan apa yang selama ini ia harapkan. Hal  ini terjadi ketika si penulis terkenal tersebut mengatakan padanya  bahwa ia akan dibimbing langsung untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"Saya harus menulis. Saya harus menulis. Saya harus menulis. Saya  tidak mau mengecewakan bimbingan langsung ini."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, berkali-kali ia menulis. Tetapi muncul dalam perasaannya,  kenapa sepertinya saya tidak enjoy ketika menulis. Sepertinya ada yang  mengganjal dalam diri ini. Padahal, sudah banyak tulisan yang  dihasilkannya. Ada apa gerangan?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca kembali ungkapan peserta training tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Anda rasakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dengan ketika dahulu, saya menempuh pendidikan di SDN 011  Pekan Baru. Saat itu, di kelas, ibu guru selalu mengatakan bahwa agar  saya pintar, saya &lt;b&gt;harus&lt;/b&gt; rajin belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, harus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus rajin belajar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun belajar. I'tikad yang mengharuskan saya rajin belajar tersebut  akhirnya menghantarkan saya pada beberapa prestasi yang saya raih  dahulu. Namun, entah mengapa, ketika liburan datang, saya tidak lagi  belajar. Saya benar-benar berlibur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya tersadar saat saya menempuh pendidikan di pesantren  Ar-Raudhatul Hasanah. Kegiatan yang berjalan 24 jam non-stop  mengharuskan saya mampu untuk membagi-bagi waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'tikad &lt;b&gt;harus&lt;/b&gt; rajin belajar, akhirnya, tergantikan dengan  mempertanyakan diri sendiri, &lt;b&gt;jika saya tidak belajar&lt;/b&gt; saya akan  bla.. bla.. bla...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, semua teratasi. Hasilnya sama: prestasi. Tapi perasaan  yang saya rasakan berbeda. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kajian NLP dikenal sebuah istilah yang disebut &lt;b&gt;modal operators&lt;/b&gt;.  Modal operators ini strukturnya mirip dengan arti dari modus operandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pernah mendengar modus operandi bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara singkat, modal operator yang strukturnya mirip dengan arti dari  modus operandi tersebut adalah cara kita beroperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihannya ada dua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah secara &lt;b&gt;terpaksa&lt;/b&gt; atau secara &lt;b&gt;kesadaran diri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang telah saya sampaikan di atas mungkin dapat dijadikan  ilustrasi modal operators ini. Saat SD, saya mengharuskan diri untuk  belajar. Motivasi belajar akhirnya datang dari luar. Dalam dunia NLP  dikenal &lt;b&gt;External Behavior&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda ketika saya di pesantren dan saya mengubah i'tikad belajar  dengan mempertanyakan diri saya sendiri. Jika saya tidak belajar, saya  akan bla.. bla.. bla.... Maka motivasi belajar yang datang, berasal dari  dalam diri saya sendiri, bukan dari luar. Dalam dunia NLP dikenal &lt;b&gt;Internal  State&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ketika Anda merasa terpaksa melakukan sesuatu, Anda tidak  akan terlalu nyaman melakukannya bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan ketika Anda benar-benar sadar dalam melakukan hal  tersebut. Ada kenyamanan di dalamnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Lama peserta training tersebut memikirkan, kenapa ia merasa ada  sesuatu yang janggal. Dalam pikirannya selalu ada sesuatu yang  menyeramkan yang memaksanya untuk duduk di depan komputer dan menulis.  Ia berhasil menulis, tetapi ia tidak begitu menikmati hasil tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, ada sebuah peristiwa yang menyadarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, ia diajak temannya untuk bermain-main ke sebuah desa.  Sekitar tiga minggu ia berada di sana. Namun waktu tiga minggu itu telah  mengajarkannya sesuatu yang selama ini menjadi permasalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nak, saya boleh minta tolong?" Ibu tua yang dekat dengannya di desa  tersebut berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, Bu? Kalau memang saya bisa menolongnya, saya akan menolong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini, Nak! Saya punya anak. Sekarang ia sedang merantau. 2 hari yang  lalu ia mengirim sebuah surat. Saya tidak bisa membaca. Tolong bacakan  ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya bu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun akhirnya membaca surat tersebut. Ada tangis dalam diri ibu yang  mendengarkan bacaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah, Bu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih, Nak. Ibu bisa minta tolong lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa, Bu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong tuliskan surat balasannya ya? Ibu yang berbicara, kamu yang  menulis!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I ya, Bu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menuliskan semua yang diungkapkan si Ibu. Ada perasaan bahagia saat  ia menulis surat balasan tersebut. Perasaan yang tidak ia rasakan selama  ia menulis berbagai macam tulisan selama ini, di bawah bimbingan  seorang penulis terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bisa demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut punya usut, ketika si Ibu memintanya untuk menuliskan surat  balasan, sebenarnya ia sungkan karena tulisan tangannya tidaklah cantik.  Namun hati kecilnya bertanya, kalau saya tidak menuliskan surat balasan  si ibu, apa yang akan terjadi pada si ibu? Lalu apakah pantas aku  menolaknya? Apakah penolakan permintaan tolong itu tidak akan  menunjukkan keangkuhanku? Aku akan menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang ia hasilkan saat ini sangat bertenaga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ia sangat menikmati kegiatan menulisnya!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini memang hanya membahas tentang 2 model operasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya &lt;b&gt;menulis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ataukah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya &lt;b&gt; tidak menulis, saya akan bla... bla... bla...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi cobalah rasakan apa dampaknya dalam pikiran Anda jika saya  mengatakan dua hal berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anda harus menuliskan komentar setelah membaca tulisan ini!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bandingkan jika yang saya katakan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Komentar Anda akan membantu saya untuk terus dapat menulis.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-7852779600361034939?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/7852779600361034939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/apa-jadinya-jika-saya-tidak-menulis.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7852779600361034939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7852779600361034939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/apa-jadinya-jika-saya-tidak-menulis.html' title='Apa Jadinya Jika Saya Tidak Menulis?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-6043991507297497408</id><published>2010-06-25T09:20:00.000-07:00</published><updated>2010-06-25T09:22:40.102-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NLP For Writer'/><title type='text'>Mengapa Semangat Menulis, Turun dan Naik?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah Anda bertanya sebagaimana judul tulisan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Apa yang Anda terima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bayangkan saat ini Anda sedang jatuh cinta pada seseorang. Anda  merasakan bahwa cinta yang sedang Anda pendam selama ini padanya, tidak  akan bertepuk tangan. Maka Anda pun mempersiapkan cara jadul untuk  menyatakan cinta: &lt;b&gt;MENULIS SURAT CINTA PADANYA&lt;/b&gt;.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30678188&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=401998543044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=401998543044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img style="width: 460px;" class="  img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs090.snc4/35859_1308264746554_1228629244_30678188_7536343_n.jpg" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img);  });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda dapat menuliskan surat cinta itu dengan lancar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak teman saya yang mengatakan bahwa menulis surat cinta saat  perasaaan cinta adalah saat paling semangat dalam menulis. Ide menulis  sepertinya mengalir sangat deras dan tanpa batas. Semuanya tertuang  tanpa ada kendala. Sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda mengalami hal seperti itu juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bayangkan di depan Anda saat ini ada sebuah pengumuman lomba menulis!  Bunyi pengumuman tersebut, singkatnya adalah sebagai berikut:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;b&gt;"Buatlah surat cinta untuk pemerintahan"&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30678240&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=401998543044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=401998543044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img style="width: 460px;" class="  img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs047.snc3/13436_1308283467022_1228629244_30678240_4117779_n.jpg" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img);  });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mengalami hal di atas? Akhirnya membuang kertas-kertas yang telah  Anda tulis? Bahkan berhenti menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha! teman-teman saya yang awalnya mengaku bahwa menulis surat cinta  adalah sesuatu yang amat menyenangkan, menjadi bingung harus menulis apa  di surat cinta untuk pemerintahan tersebut. Tidak jelas apakah mereka  memang tidak cinta pada pemerintahan ini, atau saking cintanya, cinta  tersebut tidak dapat dituangkan dengan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama menulis surat cinta, tetapi kenapa respon yang diberikan  berbeda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa permasalahannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saat menulis &lt;b&gt;surat cinta&lt;/b&gt; untuk seseorang yang kita cintai,  kesannya, lebih mengasyikkan ketimbang menulis &lt;b&gt;surat cinta&lt;/b&gt; untuk  pemerintah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, keduanya sama-sama surat cinta, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, mari kita tinggalkan sejenak permasalahan surat cinta, dan  memasuki pembelajaran NLP yang sedang kita bahas dalam tulisan ini dan &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401998543044&amp;amp;h=f242cf4d48e7e7305c355a8d811b4aab&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2F9siwP7" target="_blank" title="http://bit.ly/9siwP7"&gt;beberapa&lt;/a&gt; tulisan  sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bagaimana cara berpikir orang NLP?&lt;/i&gt; Itulah yang akan kita bahas  pada tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teddi menjelaskan bahwa cara berpikir pertama yang diajarkan oleh NLP  adalah fokus terhadap &lt;b&gt;bagaimana&lt;/b&gt; sebuah proses bekerja dan juga  alasan-alasan yang melatarbelakangi munculnya suatu proses. Hal ini  berbeda dengan cara berpikir orang-orang psikologi yang cenderung  bertanya &lt;b&gt;mengapa&lt;/b&gt; sesuatu itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak contoh berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mahasiswa yang sedang putus cinta, mengeluh karena ia baru saja  ditolak oleh kekasih pujaan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika yang dihadapinya orang yang mendalami ilmu psikologi, orang  tersebut akan bertaya: &lt;b&gt;mengapa&lt;/b&gt; ia sampai ditolak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja ia akan menjawab, saya ditolak karena perbedaan status.  Atau karena si kekasih ingin menyelesaikan pendidikannya terlebih  dahulu. Atau, yang paling menyedihkan, kekasihnya telah mempunyai orang  lain yang lebih dicintainya, dan itu tidak pernah ia ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda jika yang dihadapinya adalah orang yang mendalami NLP, orang  tersebut akan bertanya:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;bagaimana&lt;/b&gt; ia bisa ditolak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja ia menjawab dengan jawaban yang sama. Tetapi penekanannya  adalah perasaan si penanya tersebut. Dengan bertanya bagaimana, penanya  akan memahami &lt;b&gt;proses&lt;/b&gt; dirinya sampai ditolak dan akhirnya  mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih mudahnya, jika saya tanya, kenapa Anda marah saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda menjawab bahwa saya marah karena ada seorang tetangga yang sedang  membangun rumah dan membuat keributan di malam hari. Ketika diingatkan,  ia tidak terima dan mengacuhkan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Anda bisa marah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka yang menjadi jawaban Anda adalah proses pikiran Anda yang terpecah  karena adanya keributan hingga pikiran yang pecah tersebut mendorong  Anda untuk mengingatkan si pembuat keributan. Hingga akhirnya si pembuat  keributan tersebut mengacuhkan Anda, maka pecahan tersebut semakin  tampak dan akhirnya memecahkan kemarahan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa memahaminya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak, teruslah membaca tulisan ini dan kita akan kembali ke  permasalahan surat cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menulis surat cinta pertama, yang ada dalam pikiran Anda hanya  terfokus pada satu bagian. Bagaimana membuat tulisan Anda begitu indah  hingga akhirnya cinta Anda tidak bertepuk sebelah tangan. Walhasil,  keluarlah kata-kata indah dengan bait-bait yang teratur lagi merdu jika  dibaca. Proses mengeluarkan kata-kata yang indah tersebut didorong oleh  pikiran yang senang dan nikmat. Anda begitu menikmatinya dan tanpa  terasa menggerakkan tangan Anda walau pun tanpa harus melihat. Mata Anda  membayangkan wajah kekasih tersebut, sedangkan tangan Anda menggoreskan  kalimat indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitukah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan surat cinta kedua, yaitu ketika Anda harus memikirkan  satu sudut pandang yang harus Anda tuju. Apakah memuji pemerintah  ataukah mengeritik. Jika memuji apa yang harus dipuji. Jika mengeritik,  apa pula yang harus dikiritik. Pantaskah hal itu dipuji dan pantaskah  hal itu dikritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang lebih penting adalah, Anda menuliskan surat itu tidak  berdasarkan proses ketika Anda menuliskan surat cinta pertama. Proses  tersebutlah yang akhirnya membuat kata-kata Anda susah untuk keluar dan  ditungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitannya dengan cara berpikir NLP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm.. rupa-rupanya menarik untuk mengkaji kenapa Teddi memberi judul  bukunya &lt;i&gt;Neuro-Linguistic Programming: The Art of Enjoying Life&lt;/i&gt;.  NLP sebagai seni agar hidup menjadi bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bisa demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena  dengan terus bertanya bagaimana agar diri kita senang dan bahagia, kita  akan dapat mengulangi setiap moment tersebut. Walau pun hanya ada dalam  pikiran saja, tetapi tetap akan mengekspresikan diri kita. Coba  pelajari kembali tulisan yang &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401998543044&amp;amp;h=19afd6d9ee14ae953e0f9cdee79d94d5&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2F9hiZhM" target="_blank" title="http://bit.ly/9hiZhM"&gt;ini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan perasaan sedih dan duka. Karena mereka mampu untuk  merasakannya kembali, tentunya mereka selalu berpikir bagaimana agar  perasaan itu tidak terwujud kembali dalam kehidupan nyata. Walhasil,  yang menjadi titik &lt;b&gt;fokus&lt;/b&gt; mereka adalah melakukan hal-hal yang  akan membuat mereka bahagia dan senang, bukan sedih apalagi berduka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika Anda ingin merasakan keasyikan menulis segala sesuatu,  layaknya, keasyikan Anda menulis surat cinta, rasakanlah apa yang pernah  Anda rasakan ketika menuliskan surat cinta tersebut. Pindahkan perasaan  itu pada tulisan yang sedang Anda tulis. Nikmati segala prosesnya, Anda  tentu akan selalu bersemangat dalam menulis segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain jika yang ada dalam pikiran Anda hanya gambaran proses kesusahan  Anda ketika menulis. Maka hanya akan ada ketakutan dan keraguan dalam  mengeluarkan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Bayangkanlah proses-proses ketika Anda benar-benar bersemangat  menuliskan sesuatu. Rasakan dengan seksama. Dan munculkan dalam  ekspresi tulisan yang sedang Anda buat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-6043991507297497408?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/6043991507297497408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/mengapa-semangat-menulis-turun-dan-naik.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6043991507297497408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6043991507297497408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/mengapa-semangat-menulis-turun-dan-naik.html' title='Mengapa Semangat Menulis, Turun dan Naik?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-3681285748605845223</id><published>2010-06-24T11:05:00.000-07:00</published><updated>2010-06-24T11:06:44.315-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NLP For Writer'/><title type='text'>Kapan Saya Harus Membaca, dan Kapan Saya Harus Menulis?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang instruktur dalam training kepenulisan yang saya ikuti  mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Untuk menjadi seorang penulis yang baik, Anda harus terus latihan  menulis. Menulislah setiap hari. Jangan menunggu saat adanya ide, atau  pun saat adanya kemauan &lt;mood&gt;. Yang harus kamu lakukan adalah  menulis, menulis dan menulis.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Selain itu, Anda harus juga membaca buku-buku yang bergizi yang akan  mendukung kualitas tulisan Anda. Karena, bagaimana pun, membaca dan  menulis itu ibarat dua sisi mata uang yang tidak akan dapat dipisahkan  sama sekali. Mereka yang menulis tanpa membaca akan mengalami kesusahan.  Sedangkan yang terus membaca tetapi tidak menulis, bacaannya akan  terlupakan begitu saja. Maka membacalah, menulislah, membaca lagi,  menulis lagi, membaca terus, dan terus menulis!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang peserta tampak mengangguk. Ia memahami sesuatu. Namun selang  beberapa menit, ia menaikkan alis mata kanannya lebih tinggi dari alis  mata kirinya. Seperti ada keraguan dalam dirinya yang hendak  diungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada sesi pertanyaan, ia bertanya demikian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Seorang penulis diharuskan terus menulis dan membaca. Jadi kapan kita  harus membaca dan kapan kita harus menulis? bukankah dengan membaca,  otomatis kita tidak bisa menulis. Dengan menulis, kita tidak sedang  membaca. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Kalau Anda, sebagai seorang penulis yang telah menulis beberapa buku dan  artikel sendiri, bagaimana? Berapa lama Anda membaca? dan Berapa lama  Anda menulis?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Great!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keluhan di atas mungkin saja terjadi pada diri Anda. Saya pun  demikian. Lantas apa yang menjadi jawaban Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda mengembalikan pertanyaan tersebut pada saya, maka saya akan  mengajak Anda untuk menemani saya mengembara dalam dunia NLP yang sedang  saya pelajari dalam empat hari ini melalui tulisan-tulisan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Bagi yang belum membaca silahkan berkunjung ke blog saya di sini... &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401713813044&amp;amp;h=b7f58f89d830d02b324a0034442a27f8&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2F9siwP7" target="_blank" title="http://bit.ly/9siwP7"&gt;klik&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, mari kita mulai dengan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;People Respond According to Their Internal "Maps"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di atas adalan presuposisi ke-2 yang diusung oleh Bob G.  Bodenhamer yang dikenal dalam dunia NLP. Sebagai seorang master NLP, Bob  sangat memahami bahwa tidak ada seorang pun yang bertindak kecuali  berawal dari peta pemikirannya. Oleh karena itulah, ia mengatakan bahwa  setiap orang akan merespon sesuatu melalui apa yang ada dalam peta  pemikiran internalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku &lt;i&gt;Neuro-Linguistic Programming: The Art of Enjoying Life&lt;/i&gt;  yang saya bahas untuk ke empat kalinya ini, Teddi menjelaskan  pengertian pesuposisi tersebut dengan kalimat berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Saya hanya menemukan bahwa jika memang benar kita tidak pernah  memiliki wilayah yang sebenarnya dan hanya petanya saja, maka peta  itulah hakikatnya yang menjadi acuan kita untuk mengambil tindakan.  Degan kata lain, kita merespon dunia di luar kita tidak sebagai dunia  aslinya, melainkan sebagai dunia yang ada dalam peta yang kita miliki,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari sejenak kita bermain-main dengan pikiran terlebih dahulu. Setuju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejamkan mata Anda dan ikuti apa yang saya instruksikan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bayangkan Anda sedang berada di depan sesuatu yang selama ini Anda  inginkan. Usahakan benda itu tampak jelas dalam pikiran Anda. Mobil?  Buku? Surat Keputusan kenaikan jabatan? Ijazah dengan nilai yang amat  memuaskan? Buku karya Anda sendiri? Atau apa pun itu. Bayangkan  sedalam-dalamnya seolah-olah sesuatu itu benar-benar ada di hadapan Anda  saat ini.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Sudah?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Tiba-tiba, seseorang yang Anda tidak melihat wajahnya dengan jelas  mengambil sesuatu itu dengan paksa dari Anda. Anda tidak dapat  mempertahankannya. Ia membawa lari itu semua ke tempat yang Anda tidak  ketahui.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Apa yang Anda rasakan? Sedihkah? Murungkah?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Bayangkan dengan mendalam dan mintalah teman Anda untuk memotret reaksi  wajah Anda saat bayangan kehilangan sesuatu itu benar-benar tampak jelas  di alam pikiran Anda.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Sudah?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Bayangkan terus! dan lihatlah hasilnya...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30676737&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=401713813044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=401713813044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img class="  img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs049.ash2/35815_1307571169215_1228629244_30676737_1347036_n.jpg" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img);  });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;People Respond According to Their Internal "Maps"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pejamkan sekali lagi mata Anda, dan ikuti permainan  berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Saat ini Anda berada di sebuah rumah tanpa penghuni yang banyak  dihiasi oleh jejaring laba-laba. Anda tak pernah tahu kenapa Anda berada  di tempat menyeramkan seperti itu. Namun setelah lama mencari, Anda  tidak juga menemukan jalan untuk keluar dari tempat tersebut. Hingga  malam menjelang, Anda kelelahan. Anda tertidur.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Belum sempurna tidur Anda, tiba-tiba terdengar jelas di telinga Anda  bunyi sesuatu yang terjatuh.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Prang....&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Anda terbangun. Anda mulai ragu akan melihat sesuatu yang jatuh tersebut  atau tetap pada tempat yang sedang Anda tempati saat itu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Tiba-tiba sebuah bayangan hitam tampak di dinding sebelah kiri Anda..&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Apa yang menjadi reaksi Anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; sekali lagi, cobalah minta teman Anda memotret wajah Anda ketika  bayangan situasi tersebut benar-benar tampak dalam pikiran Anda..&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Bagaimanakan hasilnya?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30676738&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=401713813044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=401713813044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img class="  img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs104.snc4/35559_1307574529299_1228629244_30676738_185765_n.jpg" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img);  });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;People Respond According to Their Internal "Maps"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda ketakutan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenang, permainan ketiga akan membuat Anda sedikit terhibur. Walau pun  hanya dalam alam pikiran saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapkan kembali pikiran Anda dengan memejamkan mata...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tanpa Anda sangka sebelumnya, hari ini Anda menerima telepon dari  seseorang yang tidak Anda kenal. Ia memperkenalkan diri bahwa ia berasal  dari sebuah penerbit besar dan tertarik pada tulisan-tulisan Anda yang  berada di blog pribadi Anda. Ia menawarkan jasa untuk menerbitkan buku  itu dan akan membayar Anda atas persetujuan tersebut.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Apa yang Anda rasakan?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Buku itu telah ada di hadapan Anda dan di samping buku tersebut, ada  undangan untuk mengadakan bedah buku di berbagai kota di seluruh  Indonesia. Bahkan, salah satu tempat yang akan Anda kunjungi adalah  tempat yang selama ini Anda impikan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Anda rasakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30676745&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=401713813044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=401713813044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img class="  img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs047.ash2/35697_1307578689403_1228629244_30676745_3938116_n.jpg" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img);  });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;People Respond According to Their Internal "Maps"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kita sudahi permainan ini, dan saya tentunya tidak ingin Anda  hanya tertarik pada foto-foto bayi yang saya tampilkan...:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda sudah memahami maksud perkataan Bob di atas? Jika sudah, maka  izinkan saya menjawab keluhan peserta training di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Seorang penulis diharuskan terus menulis dan membaca. Jadi kapan kita  harus membaca dan kapan kita harus menulis? bukankah dengan membaca,  otomatis kita tidak bisa menulis. Dengan menulis, kita tidak sedang  membaca. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Kalau Anda, sebagai seorang penulis yang telah menulis beberapa buku dan  artikel sendiri, bagaimana? Berapa lama Anda membaca? dan Berapa lama  Anda menulis?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukanlah seorang penulis yang telah melahirkan berbagai buku. Saya  hanyalah seorang yang masih belajar untuk menulis buku. Artikel di  berbagai koran pun belum terlalu banyak. Namun setidaknya, pelajaran  dari NLP yang kini sedang saya pelajari membawa pemahaman baru bagi saya  mengenai kapan saya harus membaca, dan kapan saya harus menulis. Berapa  banyak waktu yang harus saya habiskan untuk membaca dan berapa lama  pula saya harus menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saya membaca saat menulis, saya pun menulis saat membaca&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa? bukankah itu hal yang mustahil? mengerjakan dua  pekerjaan dalam satu waktu [Multi-tasking] akan membuat hasil pekerjaan  itu tidak maksimal! Bagaimana mungkin Anda mengerjakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Ketahuilah bahwa, meminjam bahasa Tony Buzan dalam bukunya &lt;i&gt;Head  Strong&lt;/i&gt; bahwa Anda adalah keajaiban yang berjalan. Semua yang Anda  lakukan adalah perintah dari otak yang menghasilkan sebuah pikiran. Dari  pikiran-pikiran tersebutlah, tindakan Anda akan terlihat dalam dunia  nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda membaca sebuah buku misalnya, dalam pikiran Anda akan  tertulis buah pikiran yang Anda serap tersebut. Silahkan Anda memilih  mana buah pikiran yang akan Anda lanjutkan untuk diwujudkan dalam dunia  nyata. Dan endapkanlah tulisan-tulisan lain yang belum waktunya Anda  wujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya menuliskan sebuah opini di koran misalnya, bacaan-bacaan saya  akan sebuah berita di koran atau pun bacaan saya pada realita yang  tampak dan tertulis dalam pikiran saya akan saya pilah-pilah untuk  kemudian saya tuliskan terlebih dahulu dalam pikiran saya. Sama seperti  ketika permainan yang telah kita mainkan sebelumnya. Opini tersebut  masih tampak dalam pikiran saya saja. Bukan dalam keadaan yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saya akhirnya duduk di depan laptop dan menggerakkan jari saya,  maka tulisan yang ada dalam pikiran tersebut saya tuangkan di alam  nyata. Ibarat &lt;i&gt;copy-paste&lt;/i&gt; sebuah tulisan, maka tentunya hal  tersebut sangat mudah sekali, bukan? Saya membaca buku, saya menulis di  alam pikiran. Saya mengerjakan dua pekerjaan tersebut sekaligus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mau mencoba? Atau Anda sudah mengalaminya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan menulis? Apakah bisa sambil membaca?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa sama halnya dengan apa yang saya jelaskan di atas. Bisa saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda mengeluh ketika sedang menuangkan ide tentang A misalnya,  tiba-tiba saja dalam kegiatan menulis tersebut, muncul ide B, C dan  seterusnya. Hal tersebut menjadikan Anda tidak fokus dan akhirnya  tulisan Anda pun demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hendak menuliskan sebuah novel, saya paling sering mengalami hal  tersebut. Mungkin itu pula yang menyebabkan naskah novel saya tidak  pernah jadi secara maksimal...:(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika saya menuliskan tulisan ini. Ide-ide lainnya  bermunculan untuk tulisan kelima esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kemunculan ide tersebut, tentulah tidak terlepas dari kegiatan Anda  ketika membaca apa yang sedang Anda tulis. Bukankah Anda membaca apa  yang sedang Anda tulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, hal itu membuktikan bahwa kegiatan menulis yang sedang Anda  lakukan, dan saya saat ini, adalah kegiatan membaca kembali tulisan yang  sedang kita tulis sehingga memunculkan hal-hal baru yang akan kita  tulis selanjutnya. Maka membaca saat menulis pun, bisa dilakukan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, itu jawaban saya. Bagaimana jawaban Anda?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-3681285748605845223?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/3681285748605845223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/kapan-saya-harus-membaca-dan-kapan-saya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3681285748605845223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3681285748605845223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/kapan-saya-harus-membaca-dan-kapan-saya.html' title='Kapan Saya Harus Membaca, dan Kapan Saya Harus Menulis?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-5545850430595257996</id><published>2010-06-23T07:55:00.001-07:00</published><updated>2010-06-23T07:56:43.531-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NLP For Writer'/><title type='text'>Salahkah Jika Kita Menulis Tentang Diri Kita Sendiri?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ini adalah tulisan ketiga dari pembelajaran saya pada konsep NLP  dalam buku Neuro-Linguistic Programming: The Art of Enjoying Life karya  Teddi Prasetya Yuliawan. Jika Anda belum membaca yang pertama, silahkan  klik &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401402093044&amp;amp;h=89d4236ad4f3bc385e0bfbfe531ac6b3&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2FcFyX8d" target="_blank" title="http://bit.ly/cFyX8d"&gt;di sini&lt;/a&gt;. Ada pun  tulisan kedua, bisa dinikmati &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401402093044&amp;amp;h=16f53303bb3f34415ee6bd93087b3e5f&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2F9lpyWD" target="_blank" title="http://bit.ly/9lpyWD"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendefinisikan NLP secara harfiah, Teddi Prasetya mengatakan bahwa  NLP dapat diterjemahkan sebagai perlakuan pemrograman neuro (saraf)  menggunakan keahlian berbahasa (linguistik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Coba pejamkan mata Anda dan bayangkanlah Anda mendapatkan apa yang  paling Anda inginkan saat ini!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; sudah?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Perdalam lagi bayangan tersebut sampai-sampai Anda benar-benar  merasakannya!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; sudah?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Apa yang Anda rasakan? bahagia?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Lalu bayangkan Anda saat ini memakan makanan yang paling Anda sukai!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; sudah? &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Bayangkan lagi, sehingga Anda benar-benar seperti memakannya pada alam  yang nyata!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Sekali lagi!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Perdalam lagi! Lagi! Lagi!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; sudah? Apa yang Anda rasakan?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30674645&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=401402093044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=401402093044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img style="width: 460px;" class="  img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs017.ash2/34193_1306778549400_1228629244_30674645_130108_n.jpg" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img);  });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf jika nafsu Anda untuk membeli makanan tersebut bertambah  besar. Karena itulah NLP! Dengan bahasa yang telah saya gunakan tadi,  saya memrogram apa yang ada dalam saraf-saraf Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah Anda buka beberapa catatan saya yang menerangkan tentang  bagaimana mencari ide dengan cara yang sederhana berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401402093044&amp;amp;h=e7e727d4344d92a25dd0f6e0297b6474&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2F8ZEkVb" target="_blank" title="http://bit.ly/8ZEkVb"&gt;Tiga Penulis Besar Dunia  Membocorkan Rahasia Untuk Dapat Menulis Setiap Hari&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401402093044&amp;amp;h=ba9a1717f5c55d427f3d794a22e160c4&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2Fa9wRBb" target="_blank" title="http://bit.ly/a9wRBb"&gt;Tahukah Anda Bahwa Penulis  Dunia Memperoleh Ide dengan Cara Sesederhana Ini?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401402093044&amp;amp;h=7b1545fd88ba269719a319f5e0149c46&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2F98WalS" target="_blank" title="http://bit.ly/98WalS"&gt;Apakah Berguna  Tulisan-Tulisan yang Berasal dari Hal Sederhana?&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Anda dapatkan? Apakah Anda terpengaruh dengan ajakan saya agar  menulis dari hal-hal yang sederhana? Dari apa yang kita lakukan, kita  rasakan, kita alami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa hari yang lalu, saya mendapatkan tulisan yang mengkritik ajaran  tersebut. Ia mengatakan bahwa untuk menulis, hendaknya seseorang  tersebut mengedepankan sisi objektivitas, bukan subjektivitas. Artinya,  kita tidaklah layak untuk menuliskan tentang diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, salahkah jika kita menulis tentang diri kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia NLP, ada 6 hal yang disebut dengan pilar-pilar NLP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Praktikkan pada diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bangun keakraban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tetapkan hasil secara spesifik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kepekaan yang tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Cek ekologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Fleksibilitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang pertama -praktikkan pada diri sendiri-, sebelum menyarankan  sesuatu kepada orang lain sarankanlah pada diri Anda sendiri terlebih  dahulu. Mengapa? Karena, bagaimana mungkin kita dapat menyelamatkan  orang jika kita sendiri belum selamat. Semakin kita memahami diri  sendiri, semakin mudah bagi kita untuk menolong orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua -Bangun keakraban-, tentunya adalah sesuatu yang wajib jika  kita ingin menolong orang lain, kita harus paham betul karakter, jalan  pikiran dan kebiasaannya. Ketika seorang kakak kelas misalnya, ingin  menolong adik kelasnya dalam memahami pelajaran, tentunya ia harus  mengetahui terlebih dahulu bagaimana pemahaman adik kelasnya tersebut  terhadap pelajarannya. Keakraban dari kedua orang tersebut, akan semakin  mempermudah komunikasi antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga -Tetapkan hasil secara spesifik-, setelah membangun  keakraban dan terjalin komunikasi yang baik, maka tetapkanlah apa yang  ingin kita tolong. Jangan mengambang sehingga tidak jelas apa yang ingin  ditolong. Jika kakak kelas tadi ingin membantu pemahaman adik kelasnya,  sedangkan ia tidak tahu apa yang akan dipahamkan secara spesifik,  tentulah akan terjadi kesalahpahaman antara mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang keempat -Kepekaan yang tinggi-, inilah yang menjadi keharusan agar  kita bisa menetapkan hasil secara spesifik tersebut. Jika kepekaan si  kakak tidak ada, maka ia tidak akan dapat menangkap poin-poin yang akan  membantu pemahaman si adik tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kelima -Cek ekologis- keseimbangan. Hal ini menyangkut sesuatu yang  akan kita berikan. Si kakak, walau pun mengetahui permasalahan si adik,  jika ia memberikan sesuatu yang tidak sesuai dan seimbang dengan si  adik, padahal itu akan membantunya, tentulah itu akan mengganggu dan  memunculkan akibat buruk pada pemahaman si adik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang keenam -Fleksibilitas-, adalah sebuah sikap jika satu cara tidak  bekerja dengan baik, maka gunakan cara yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke permasalahan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahkan jika kita menulis tentang diri kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menanyakan perasaan  Anda ketika membaca tulisan Pak Jamil Azzaini berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401402093044&amp;amp;h=0ddd66222de39c35595a505d7cfcdf34&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2FbxJzrT" target="_blank" title="http://bit.ly/bxJzrT"&gt;Meninggalkan Tanda di Alam  Semesta&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Saya sangat mensyukuri pekerjaan yang saya jalani saat ini, seorang  inspirator. Saya merasa beruntung karena sering bertemu dengan  orang-orang yang menarik.  Saya bertemu dengan mahasiswa yang cerdas,  pengusaha yang visioner, CEO yang handal, guru hebat,  karyawan terbaik,  artis, serta komisaris yang terus ingin perusahaannya tumbuh dan  beranak pinak. Dalam setiap pertemuan dengan mereka, selalu ada sesuatu  yang bisa dipelajari dan membentuk pola berpikir saya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Diantara orang-orang yang saya temui ada yang tampak sukses dan hebat  namun sebenarnya kehidupannya rapuh.  Ia seorang General Manajer (GM) di  sebuah perusahaan ternama.  Ia merasa hidupnya hampa.  Rasa hormat yang  ia peroleh hanya formalitas belaka.  Kehidupan berkeluarganyapun  monoton dan gersang.  Ia merasa hidup sendiri dalam keramaian.  Jabatan  yang lumayan tinggi dan depositonya di berbagai bank tidak cukup  membuatnya bahagia. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Sampai suatu ketika, saya mengajak orang ini bertemu dengan para  pengusaha kecil yang saya bina dan orang-orang miskin yang saya bimbing  untuk berusaha mentas dari jurang kemiskinan. Saya ajak ia menginap di  gubuk mereka, makan dan beraktifitas bersama mereka. Awalnya saya  menduga dia akan menolak. Tapi ternyata dia berkenan menginap bahkan  saya merasa ia sangat menikmati kunjungan itu. Keesokan harinya kami  berpisah.  Sebelum berpisah dengan saya ia mengatakan “mas sekarang saya  sudah mulai menemukan kunci kebahagiaan dan tunggu enam bulan dari  sekarang saya akan datang menemui mas Jamil dengan kehidupan yang lebih  bahagia.” Tanpa menjelaskan apa makna pernyataannya itu, ia pergi  meninggalkan saya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Enam bulan kemudian, ia menepati janjinya.  Dengan wajah yang sumringah  dan pancaran mata yang bersinar ia menyodorkan sebuah kertas yang berisi  tulisan: Oprah Winfrey melakukan ekspirimen kepada pemirsanya pada  tahun 1997. Dia meminta permisanya tersebut untuk menggunakan uang  sebesar $1000 yang seharusnya mereka akan gunakan untuk liburan. Sebagai  gantinya uang itu digunakan untuk meringankan beban orang lain, apapun  itu. Bisa untuk menyekolahkan anak yang tidak mampu, membelikan obat,  memberi makan, apapun boleh selama bisa memberikan manfaat kepada  penerimanya. Hal ini dilakukan ketika masa liburan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Dan setelah masa liburan berakhir, Oprah mengundang mereka untuk tampil  pada acaranya dan menceritakan pengalaman yang mereka peroleh pada masa  liburannya. Ternyata semua mengatakan bahwa mereka belum pernah merasa  lebih bahagia, lebih bermakna, dan apa yang diperoleh dengan $1000 yang  mereka berikan pada orang lain itu jauh melebihi kebahagiaan yang  mungkin akan diperoleh apabila mereka habiskan untuk berlibur.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Usai membaca tulisan itu saya bertanya, “apa ini maknanya buat Anda dan  saya?” Dengan penuh gairah ia menjelaskan, “ternyata kunci kebahagiaan  itu bukan hanya melipahnya harta yang kita miliki, bukan pula tingginya  kekuasaan yang bisa kita gunakan.  Namun, seberapa jauh harta dan  kekuasaan yang kita miliki itu memberi makna dan manfaat untuk  orang-orang di sekitar kita.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Dari obrolan selanjutnya dengan lelaki cerdas itu, saya memperoleh  pelajaran bahwa kebahagiaan terwujud ketika Anda memulai sesuatu yang  tidak akan berakhir meskipun hidup Anda telah berakhir.  Itu semua bisa  terjadi tatkala keberadaan Anda memberi makna untuk orang-orang di  sekitar Anda. Hidup bukanlah hanya tentang diri dan keluarga Anda  semata.  Hidup juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain.  Berilah perhatian pada orang lain. Renungkanlah kontribusi apa yang akan  Anda berikan hari ini untuk orang-orang di sekitar Anda? Kebaikan apa  yang akan Anda tawarkan hari ini? Penyakit sosial apa yang akan Anda  sembuhkan?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Orang-orang besar dunia yang tercatat dalam sejarah, ternyata mereka  meninggalkan tanda di alam semesta. Hidupnya bukan hanya untuk  kepentingan dirinya sendiri.  Mereka berpikir bagaimana agar kehidupan  di dunia ini jauh lebih mudah, lebih cepat, lebih sehat, lebih  sejahtera, lebih damai, dan lebih bermartabat. Itulah tanda yang mereka  tinggalkan.  Mereka telah tiada, namun namanya tetap ada di alam  semesta.  Saya jadi teringat ucapan Mel Gibson dalam film Braveheart:  “Setiap orang akan mati.  Tapi hanya sedikit dari kita yang akan terus  hidup.” Mereka yang tetap hidup adalah mereka yang meninggalkan tanda di  alam semesta. Semoga Anda termasuk di dalamnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Salam SuksesMulia, Jamil Azzaini.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Anda rasakan? Apakah Anda ingin mengikuti cara Pak Jamil?  mengapa? Toh, Pak Jamil bukannya bercerita tentang Anda, tetapi tentang  dirinya dan temannya. Sama sekali tidak tentang Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Jamil benar-benar telah menerapkan enam prinsip NLP dalam menulis  dan ternyata, mampu memrogram saraf-sarat Anda dengan bahasanya. Ia  telah menerapkan dalam dirinya sendiri, sehingga dengan mudah membangun  komunikasi dan keakraban. Ia menunjukkan kepekaannya pada seluruh  pembacanya sehingga target spesifik tercapai. Ia sampaikan dengan penuh  keseimbangan dan hasilnya, terserah Anda, jalani atau tinggalkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika Anda tinggalkan, ia tidak berhenti untuk terus menginspirasi  Anda dengan setiap kisahnya. Coba saja ikuti blog pribadinya, Anda akan  terus mendapatkan jalan lain untuk dapat mengikuti setiap inspirasinya.  Klik &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401402093044&amp;amp;h=92cdfcb82a68ef8db7d8783b80302f2b&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2F9yJ0Yd" target="_blank" title="http://bit.ly/9yJ0Yd"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah,  catatan ini juga merupakan pembelajaran saya pada NLP. Adakah manfaat  yang bisa Anda petik? Jika ada, maka proses pembelajaran saya 'cukup'  berhasil dan akan saya tingkatkan. Jika tidak, hmm.. saya akan terus  belajar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-5545850430595257996?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/5545850430595257996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/salahkah-jika-kita-menulis-tentang-diri.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/5545850430595257996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/5545850430595257996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/salahkah-jika-kita-menulis-tentang-diri.html' title='Salahkah Jika Kita Menulis Tentang Diri Kita Sendiri?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-6621255228611154032</id><published>2010-06-23T04:35:00.001-07:00</published><updated>2010-06-23T04:36:24.659-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laporan'/><title type='text'>Dua Jam Bersama Hakim Agung MA RI Prof. DR. H. Rifyal Ka'bah, MA.</title><content type='html'>Setelah menempuh dua ujian hari ini, Ujian Hukum Tata Negara dan Ujian  Perwakafan di Indonesia, saya mengikuti &lt;i&gt;Studium General&lt;/i&gt; bersama &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401381703044&amp;amp;h=1267c94fadf100e04f42c252bbad4fa4&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2F9Z3Rje" target="_blank" title="http://bit.ly/9Z3Rje"&gt;Prof. DR. H. Rifyal  Ka'bah, MA.&lt;/a&gt;, seorang Hakim Agung pada Mahkamah Agung Republik  Indonesia. Saya tertarik karena, bagi saya, bertemu dengan seorang guru  besar apalagi seorang hakim agung adalah momen untuk mencari ilmu baru,  yang mungkin saja, tidak saya dapatkan di bangku kuliah: walau pun saya  berada di fakultas syari'ah yang juga membahas tentang hukum, baik  konvensional maupun islam, dan juga peradilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini hanya sekedar  rangkuman dari apa yang saya dapatkan selama dua jam tadi. Mungkin tidak  banyak tetapi saya ingin mengoptimalkan apa yang ada. Minimal untuk  saya pribadi, syukur-syukur jika bermanfaat bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema yang diangkat dalam pertemuan ini adalah &lt;i&gt;Peran Syariat Islam dan  Sarjana Syariah Dalam Pembangunan Hukum Nasional&lt;/i&gt;. Tetapi, dalam  perjalanan pertemuan ini, yang saya rasa, pembicaraan entah kenapa  terfokus pada hendak menjadi apa sarjana syariah kelak. Apakah di  Indonesia ini mereka mendapatkan tempat? kasarnya, apakah ada lembaga  yang akan menampung mereka, dan memperkerjakan mereka? Jika ada, lembaga  apa saja? jika tidak, lalu kemana para sarjana syari'ah tersebut harus  mengadu nasib kehidupan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm.. sebelum memasuki inti pertemuan, saya ingin mengajak Anda terlebih  dahulu pada sebuah kisah "imajiner" berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Seorang santri yang telah menguasai beberapa ilmu keislaman tiba-tiba  memutuskan merantau ke tanah jawa untuk kuliah. Suatu hari, seorang  sahabatnya, yang tidak mengetahui ia kuliah dimana berdialog dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu kuliah dimana sekarang?" Tanya sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmmm... kuliah di Surabaya." Jawab santri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fakultas apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"HI"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hubungan Internasional? Unair, Ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah.. ga'.. saya kuliah di IAIN" Kali ini entah kenapa suaranya agak  pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"HI? Emang ada HI di IAIN?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya adalah.. Hukum Islam he he he..." Tawanya tak jelas, apakah karena  ia bangga akan jurusan HUKUM ISLAM tersebut atau ia malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari lain, seorang sahabat lainnya mengajaknya kembali berdialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kuliah dimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di Surabaya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jurusan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teknik!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ITS ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan.. IAIN... Teknik Perkawinan alias Hukum Perkawinan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain hari lagi, setelah mengetahui bahwa santri tersebut kuliah di  IAIN, seorang sahabat lainnya juga mengajaknya dialog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho? dan nyantri ko' kuliah di IAIN? Apa ga' bosan mendalami ilmu agama  terus? Memang nantinya mau jadi apa? Apa masuk IAIN-nya karena ga'  lulus SPMB di kampus lain ya?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Ha!... saya ingin menekankan kepada Anda bahwa itu hanyalah kisah  "imajiner". Sengaja saya menaruh kata imajiner tersebut dalam tanda  kutip agar Anda menafsirkan sendiri. Apakah kisah itu benar-benar  imajiner ataukah tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pertemuan dua jam bersama hakim agung yang baru saja saya lakukan,  sebelum menuliskan tulisan ini, telah membuka mata saya akan realita  apa yang sebenarnya berada di benak mahasiswa fakultas syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah 4 mahasiswa yang bertanya tersebut dapat menjadi  perwakilan semua peserta ataukah tidak. Tapi dari ke empat pertanyaan  tersebut, 3 pertanyaan mengerucut pada satu hal: Alumnus fakultas  syariah akan kerja dimana agar dapat berperan dalam membangun hukum  nasional!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa  pertama bertanya: "Ada anekdot yang mengatakan bahwa sebelum SMA kita  wajib terlebih dahulu untuk duduk di bangku SMP. Bangku kuliah juga  mengharuskan untuk duduk di bangku kuliah. Apakah bangku yang ada dalam  dunia kerja itu mengharuskan kita duduk di bangku kuliah, atau  pengangguran terlebih dahulu? Toh, banyak sekali yang mengatakan bahwa  bagi mahasiswa, acara wisuda bermakna ganda: senang karena telah  membuktikan bahwa dirinya telah berhasil menempuh mata kuliah yang  diberikan dan diujikan. sedih, karena saat itulah awal dari masa  pengangguran! kemana mahasiwa syari'ah akan berlabuh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa kedua bertanya: "Salah satu proses peradilan yang wajib  dilakukan di pengadilan agama adalah proses mediasi. Yaitu mendamaikan  dua orang yang berperkara. Terutama kasus perceraian. Apakah kami,  sarjana syariah, dapat mengisi tempat itu? bagaimana caranya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa ketiga bertanya: "Apa kontribusi Mahkamah Agung dalam dunia  pendidikan? Adakah langkah taktis untuk dapat terjun dalam dunia  kehakiman?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, ada 7 dosen yang bertanya. Pertanyaan mereka tentunya lebih  berfokus pada konten pembicaran mengenai peradilan dan dunia kehakiman.  Namun ternyata, ada satu usulan menarik yang saya tangkap, dan  sama-sama mengerucut pada pertanyaan mahasiswa itu: dunia kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika di dunia pengadilan umum, pelamar mendapatkan syarat sebagai  seorang sarjana yang mengetahui hukum, Namun kenapa di dunia pengadilan  islam, syaratnya adalah seorang sarjana syariah atau sarjana hukum yang  mengetahui syariah. Hal ini tentunya tidak seimbang. Mahasiswa hukum  konvensional yang mengetahui syariah mempunyai dua pilihan, masuk ke  dunia pengadilan umum atau pengadilan islam. Tetapi mahasiswa syariah  hanya punya satu pilihan, pengadilan islam. Karena, pengetahuan tentang  hukum konvensional, di IAIN khususnya, hanya sebagai pelajaran pengantar  saja. Apakah tidak selayaknya diseimbangkan dengan penghapusan  mahasiswa yang mengetahui syariah dapat memasuki dunia pengadilan  islam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mahasiswa islam di Indonesia memang kesusahan mencari kerja?  Hmm.. ada ketakutan dalam diri saya memikirkannya, mengingat setahun  lagi, saya sudah diharuskan untuk menyelesaikan perkuliahan ini. Jika  tidak, maka alamat saya akan didenda karena tidak memanfaatkan beasiswa  dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan tersebut akhirnya sirna ketika Prof. DR. H. Rifyal Ka'bah, MA  menyuntikkan sikap optimisme pada mahasiswa yang mengikuti pertemuan  tersebut. Berikut beberapa poin yang berhasil saya tangkap dari apa yang  beliau sampaikan:&lt;br /&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30674529&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=401381703044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=401381703044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img style="width: 460px;" class="  img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs107.snc4/35717_1306698547400_1228629244_30674529_2236325_n.jpg" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img);  });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; *Syariat islam sangat berperan dalam pembangunan hukum di Indonesia.  Indonesia, yang katanya memakai hukum gado-gado, percampuran antara  hukum adat, hukum barat warisan belanda, hukum Indonesia sendiri, tetap  menempatkan hukum islam sebagai sumber hukum di Indonesia. Peran  tersebut sangat besar ketika saat ini kita melihat adanya perda  syari'ah, adanya bank-bank syari'ah, bisnis syari'ah, dan juga peradilan  islam (Penegasannya terdapat di Aceh yang menggunakan nama Mahkamah  Syari'ah). --&gt; saya menjadi teringat pada makalahnya Yusril Ihza  Mahendra ini.. klik &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401381703044&amp;amp;h=049075c4a4fd6706f10acdeb4ed14529&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2Fa8p3ZH" target="_blank" title="http://bit.ly/a8p3ZH"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Dengan peran syariat yang begitu besar dalam kehidupan hukum  khususnya, maka hal itu telah menjadi jaminan bahwa mahasiswa syari'ah  juga tidak perlu khawatir untuk mendapatkan lapangan kerja. Saat ini,  profesi notaris syari'ah sangat kurang dan itu perlu diisi oleh  mahasiswa syari'ah untuk menyelesaikan konflik-konflk kenotariatan yang  berbasis syariah. Begitu juga dengan advokat syariah, hakim syariah,  pebisnis syari'ah, mediator syariah. Pegawai asuransi syariah, badan  pengawas syari'ah, dan lebih-lebih Majelis Ulama Indonesia juga adalah  lowongan kerja nyata, jika yang dituju adalah lapangan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***Walau pun dasar hukum negara ini adalah pancasila, namun apa yang ada  di Indonesia saat ini tidak pernah lepas dari peran syariat. Maka andil  mahasiswa syari'ah akan sangat ditunggu. Bayangkan jika yang ada di  dunia hukum adalah orang-orang yang mengetahui syari'ah, yang membuat  draft undang-undang adalah orang-orang yang mengetahui syari'ah, yang  membuat kebijakan juga demikian, tentunya peran tersebut semakin tampak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, tulisan ini saya maksudkan untuk rangkuman pada apa yang  telah saya alami beberapa waktu yang lalu. Poin yang disampaikan Prof.  DR. Rifyal Ka'bah, MA., juga hanya segelintir dari apa yang saya  dapatkan. Namun besar harapan saya, dengan tulisan ini saya tidak  menemukan kisah imajiner di atas.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-6621255228611154032?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/6621255228611154032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/dua-jam-bersama-hakim-agung-ma-ri-prof.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6621255228611154032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6621255228611154032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/dua-jam-bersama-hakim-agung-ma-ri-prof.html' title='Dua Jam Bersama Hakim Agung MA RI Prof. DR. H. Rifyal Ka&apos;bah, MA.'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-7187427156963356377</id><published>2010-06-22T00:47:00.000-07:00</published><updated>2010-06-22T00:49:20.925-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NLP For Writer'/><title type='text'>Apa yang Ada dalam Pikiran Anda Tentang Menulis?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wah, ternyata mempelajari NLP membuat saya ketagihan. Sejak membaca buku  NLP untuk pertama kalinya, yang telah saya jelaskan dalam tulisan &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401047468044&amp;amp;h=ea73ce0de2d557ae1f5fd74d1719ea35&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fnote.php%3Fnote_id%3D400834223044" target="_blank" title="http://www.facebook.com/note.php?note_id=400834223044"&gt;sebelumnya  &lt;/a&gt;, saya tidak bisa menahan gagasan-gagasan dalam pikiran untuk  segera dituangkan. Walhasil, selepas ujian hari ini yang cukup menguras  tenaga, gagasan itu pun saya goreskan dalam catatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat saya, sekaligus guru saya dalam  menulis, yang bernama Fauzan Ar-Rasyid telah berhasil menarik perhatian  redaksi &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=401047468044&amp;amp;h=69f5c5698dc251d79d92e602a8f7a9c2&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fanalisadaily.com%2Findex.php%3Foption%3Dcom_content%26view%3Darticle%26id%3D58573" target="_blank" title="http://analisadaily.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=58573"&gt;  harian analisa&lt;/a&gt; untuk memuat tulisannya tentang menulis, terkhusus  untuk para penulis pemula, seperti saya. Ia menjelaskan bahwa peluang  penulis pemula untuk dapat memublikasikan tulisannya dalam berbagai  media sangat terbuka, sama seperti dirinya yang telah berhasil melakukan  itu. Padahal, ia baru duduk di bangku kuliah semester 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling menarik perhatian saya pada tulisan tersebut adalah  ketika Fauzan menceritakan beberapa keluhan yang dimiliki oleh para  penulis pemula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Media mana yang mau menerima naskah dari seorang penulis pemula  sepertiku?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Penulis pemula pasti sangat susah menerbitkan tulisannya di media,  semua media lebih mementingkan tulisan penulis hebat dan terkenal!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Saya masih sangat pemula, sangat tidak mungkin dapat bersaing dengan  penulis senior!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kata depan disambung apa ya..? Mengakhiri kalimat langsung, titik  dulu atau Anda kutip dulu ya..? Yang benar berbagai atau pelbagai?..."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah memang demikian keadaannya? Lantas apa pula yang ada dalam  pikiran Anda tentang menulis? Apakah sama dengan keluhan di atas?  ataukah ada yang lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena di awal tulisan ini saya sudah menjelaskan bahwa tulisan ini  adalah rangkaian pembelajaran NLP yang saya lakukan dalam pembacaan saya  pada buku &lt;i&gt;Neuro-Linguistic Programming: The Art of Enjoying Life&lt;/i&gt;,  maka saya pun akan membahas keluhan-keluhan tersebut dalam kacamata NLP  itu sendiri. Tentunya dengan rujukan buku yang ditulis oleh Teddi  Prasetya Yuliawan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembuka, simaklah kata-kata menakjubkan tentang asumsi NLP  tentang pikiran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;NLP berasumsi bahwa pikiran adalah induk dari kondisi yang kita  alami. Karenanya, &lt;b&gt;proses berpikir&lt;/b&gt; menempati peran sentral dalam  setiap prosesnya. Peta yang kita ciptakan dalam pikiran akan menjadi  dunia yang kita alami&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca sekali lagi, lalu apa yang Anda rasakan? Apakah Anda menyetujui  asumsi tersebut? Apakah Anda merasa apa yang Anda alami selama ini  adalah hasil dari pikiran Anda sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr.  Ibrahim Elfiki dalam bukunya &lt;i&gt;Terapi Berpikir Positif&lt;/i&gt; pernah  menukil salah satu filsafat India Kuno yang tertulis dalam kitab &lt;i&gt;Quwwat  at-Tahakkum fi al-Dzat&lt;/i&gt; berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hari ini, Anda tergantung pada pikiran yang datang saat ini. Besok,  Anda ditentukan oleh ke mana pikiran membawa Anda!" Begitulah  kenyataannya. Pirasaan dan perbuatan pasti dimulai dari pikiran.  Pikiranlah yang mendorong setiap perbuatan dan dampaknya. Pikiranlan  yang menentukan kondisi jiwa, tubuh, kepribadian dan rasa percaya diri.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah Anda memahami maksud saya? Bahwa pikiran-pikiran Anda selama  ini tentang menulis akan membawa Anda pada suasana yang Anda pikirkan?  Jika saat ini Anda merasakan bahwa menulis itu memang sangat susah dan  lebih-lebih menjengkelkan, maka itulah suasana yang akan Anda rasakan.  Sebaliknya, jika yang Anda pikirkan adalah hal-hal yang baik seperti  dengan menulis Anda mampu mengekspresikan diri, mengetahui jati diri  sendiri dan lain sebagainya, maka  bersiaplah untuk menerima imbalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika Anda benar-benar menginginkan kegiatan menulis yang  mengasyikkan lagi tidak menjemuhkan apalagi membosankan, bongkarlah  segera pikiran-pikiran jelek yang ada dalam diri Anda dan segeralah &lt;i&gt;install&lt;/i&gt;  dengan pikiran-pikiran yang lebih baik lagi bijaksana. Untuk caranya,  izinkan saya membahasnya pada tulisan-tulisan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba Anda bayangkan diri Anda sebuah rumah dan pikiran-pikiran jelek itu  adalah pintu setiap jendela rumah Anda. Sedangkan pikiran-pikiran baik  adalah kunci untuk membuka bahkan membongkar pintu-pintu itu. Sudah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bayangkan pula kegiatan menulis yang mengasyikkan itu sebuah cahaya  yang akan menerangi seisi rumah. Apakah cahaya tersebut dapat masuk  jika masih ada pintu-pintu yang menutupi rumah? Tentu tidak bukan? Jika  rumah tidak mendapatkan cahaya, apa yang akan terjadi? tentunya akan  semakin gelap.. gelap... gelap.. dan akan terlihat angker!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita buruknya, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh fakultas  kedokteran di San Fransisco pada tahun 1986 disebutkan bahwa dari 60.000  pikiran yang dihadapi oleh manusia setiap harinya, 80% bersifat negatif  dan hanya 20% yang bersifat positif. Hitung-hitungan sederhananya,  setiap harinya kita disusupi oleh 48.000 pikiran negatif dan hanya  12.000 saja pikiran positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ambillah kunci yang dapat membuka pintu-pintu itu. Buka dan  singkirkan pintu itu dalam diri Anda. Biarkan cahaya masuk dan menerangi  seisi rumah. Isilah pikiran Anda dengan hal-hal yang positif, sehingga  akan menuai yang positif pula. Semoga!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-7187427156963356377?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/7187427156963356377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/apa-yang-ada-dalam-pikiran-anda-tentang.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7187427156963356377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7187427156963356377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/apa-yang-ada-dalam-pikiran-anda-tentang.html' title='Apa yang Ada dalam Pikiran Anda Tentang Menulis?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-8965579306730582378</id><published>2010-06-21T12:21:00.000-07:00</published><updated>2010-06-21T12:23:59.918-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NLP For Writer'/><title type='text'>Mengapa Banyak Orang Mengatakan Menulis Itu Mudah, Sementara yang Saya Alami Sebaliknya?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sela-sela menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) pada semester ini,  saya menyempatkan diri untuk membaca buku &lt;i&gt;Neuro-Linguistic  Programming: The Art of Enjoying Life&lt;/i&gt; karya Teddi Prasetya Yuliawan,  Founder Indonesia NLP Society. Saya tidak tahu apakah saya sudah  benar-benar mengenal NLP atau tidak, padahal BAB yang sudah selesai saya  baca adalah BAB I: Mengenal &lt;i&gt;Neuro-Linguistic Programming&lt;/i&gt;. Hal  ini dikarenakan, inilah perjumpaan pertama saya dengan bacaan yang  secara khusus membahas tentang NLP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, saya hanya ingin mengikuti apa yang diyakini penulis  sebagai sesuatu kebingungan akan makna NLP itu sendiri. Ia mengatakan  bahwa biarlah sementara kebingungan ini menjadi milik saya sendiri,  karena ia mengingatkan saya untuk tidak pernah merasa puas diri dalam  mengarungi kedalaman makna NLP. Misi saya -Teddi Prasetya Yuliawan-  untuk menjadikan NLP milik saya dan Anda -Teddi menyapa saya- semua  justru akan menjadi semakin menantang dengan adanya hambatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu paragraf yang paling saya suka dalam buku ini dan itulah yang  mendorong saya untuk menuliskan tulisan ini, walau pun esok, saya akan  menghadapi ujian hari pertama di semester 6 ini. Saya menandai kalimat  ini pada buku saya. Kalimat ini menyadarkan saya akan pentingnya  mempelajari NLP yang akan saya baca pada halaman-halaman berikutnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Mendalami  seluk beluk NLP akan membuat kita sadar betul mengapa kita menjadi  seperti sekarang dan bagaimana kita bisa menjadi seperti apa yang kita  inginkan. Telusurilah kata-kata yang pernah di-install ke dalam  pikiran-perasaan Anda, dan dengan mudah ia akan membukakan fakta  blueprint dari model dunia Anda saat ini. Sementara itu, menjadi lebih  mudah bagi Anda dan saya untuk menjadi tuan bagi diri sendiri, yakni  dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan respon yang kita inginkan.  Maka berhati-hatilah dengan berkata-kata, sebab ia akan menjadi program  dalam pikiran-perasaan Anda."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, beberapa halaman sebelum paragraf di atas, tepatnya pada  PRAKATA, saya mendapatkan bagaimana penulis buku ini menyelesaikan  bukunya. Ia mengaku bahwa ia baru bisa menyelesaikan buku ini jika semua  yang ia tulis ini telah terjadi dalam kehidupan sehari-harinya. Saya  memahami hal ini bahwa untuk mendalami NLP itu sendiri, seseorang,  selain mendalami NLP secara teoritis, ia harus juga memeraktekkannya  dalam kesehari-hariannya. Saya masih kurang tahu apakah ini yang disebut  oleh Krishnamurti, seorang Mindset Motivator dan Penulis buku &lt;i&gt;Share  the Key&lt;/i&gt; dalam salah satu endorsment buku ini: &lt;b&gt;Edan! Satu buku  yang bisa membuat Anda jadi Practitioner &lt;/b&gt;(dalam pemahaman saya  praktisi)&lt;b&gt; dan Master Practitioner&lt;/b&gt;(Yang mendalami teori dan bisa  menebarkannya ke orang lain) Sekaligus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, untuk kali ini saya mencukupkan pembahasan NLP sampai itu.  Kemudian, saya ingin mengajak Anda pada kegelisahan yang saya tampilkan  pada judul tulisan ini yang, saya rasa, masih sangat berkaitan erat  dengan pembahasan NLP di atas. Paling tidak, ada kaitannya walau pun  sedikit. Toh, saya sudah mengakui bahwa saya juga orang baru di NLP dan  ini adalah pembacaan baru saya pada NLP itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mengapa Banyak Orang Mengatakan Menulis Itu Mudah, Sementara yang  Saya Alami Sebaliknya?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm..  mungkin itu yang banyak saya keluhkan ketika setiap kali menghadiri  pelatihan-pelatihan menulis dan mendengarkan bagaimana narasumber  menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan tentang menulis. Saya sangat  percaya -saat berada di tempat pelatihan itu- bahwa menulis itu mudah  karena memang saya belum memeraktekkannya. Tetapi sesampainya di depan  komputer atau laptop, permasalahan demi permasalahan pun datang sehingga  kesimpulan bahwa menulis itu mudah lenyap seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  pun kembali bertanya, "&lt;i&gt;Mengapa Banyak Orang Mengatakan Menulis Itu  Mudah, Sementara yang Saya Alami Sebaliknya?&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun berkenalan dengan NLP dan mulai mengetahui jawabannya. Saya  petikkan kalimat dari paragraf dari Teddi yang membuat saya tersadar  itu. &lt;b&gt;Mendalami seluk beluk NLP akan membuat kita sadar betul mengapa  kita menjadi seperti sekarang dan bagaimana kita bisa menjadi seperti  apa yang kita inginkan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saya sadar!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang diajarkan dalam NLP di buku ini adalah bahwasanya  kita apa yang terjadi dalam kepala kita hakikatnya adalah persepsi yang  kita miliki terhadap suatu peristiwa. Teddi mencontohkan dengan sebuah  peta daerah yang tidak bisa menunjukkan daerah yang sesungguhnya. Jika  saya menunjukkan kota medan misalnya, tempat tinggal saya, hal itu belum  tentu benar-benar menunjukkan tempat saya tinggal. Tetapi hanyalah peta  yang akan mengarahkan saya pada tempat tinggal saya. Maka ketika saya  akan menuju medan, saya akan terbawa oleh peta 'perkiraan' saya tentang  medan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan pikiran awal saya yang memahami menulis itu harus  begini dan begitu. Jika begini saya lakukan dengan begitu maka saya  menyalahi aturan yang ada. Sebaliknya, hal-hal yang begitu, tidak boleh  dilakukan dengan begini. Akhirnya, yang ada dalam pikiran saya adalah  bahwa menulis itu sangatlah susah karena harus terikat pada aturan dan  kaidah yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda jika yang saya pikirkan adalah hal-hal yang memudahkan saya  untuk menulis. Misalnya saja, saya menuliskan tentang NLP ini hanya  untuk media pembelajaran dan praktek saya saja. Tidak lebih dari itu.  Syukur-syukur jika apa yang saya tuliskan ini sejalan dengan apa yang  dipahami oleh para pakar NLP di Indonesia seperti Pak Teddi, Pak  Krishnamurti, Pak Ikhwan Shopa, Pak Arvan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun sadar, bahwa jika yang saya pikirkan adalah kesulitan menulis,  yang akan hadir adalah kesulitan juta. Seperti cerita yang ada dalam  buku ini tentang seorang menantu yang membenci mertuanya. Kebenciannya  menariknya pada perlakuan-perlakuan yang dibencinya saja. Tidak ada sama  sekali perlakuan yang disukainya dari mertuanya tersebut. Sama sekali  tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari, ia meminta racun paling mematikan pada seorang  penjual obat. Untungnya si penjual obat bijaksana. Ia mengambil obat  peningkat kesehatan tetapi mengatakan bahwa obat itu adalah racun  mematikan. Selanjutnya, ia menyarankan kepada menantu tadi untuk  berbaikan dulu pada ibunya sebelum memberikan racun itu. Hal ini harus  dilakukan agar, ibunya tidak curiga bahwa ia ingin diracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si menantu pun mengikuti saran penjual obat. Ia berubah total ketika  itu. Ia berpura-pura menyayangi mertuanya ibarat ibunya sendiri.  Keberpuraannya tersebut menjadi kesungguhan. Ia mulai menyenangi sang  ibu dan ternyata selanjutnya, tidak ada kebencian yang dilihatnya dari  si ibu mertua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka analoginya adalah, ketika saya memasukkan kesulitan-kesulitan  menulis dalam pikiran saya, maka yang saya dapatkan adalah kesulitan  dalam menulis. Sebaliknya, jika yang saya pikirkan adalah kemudahan,  maka yang saya dapatkan adalah kemudahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mendapatkan Apa yang Diinginkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  telah sadar. Pikiran saya akan sangat berdampak pada perilaku saya.  Pikiran saya meyakini bahwa menulis itu sulit, maka perilaku saya akan  merasakan bahwa menulis itu benar-benar sulit. Begitu pula kiranya  sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, saya pun harus mengubah  cara berpikir saya agar dapat mengubah perilaku saya selama ini. Banyak  orang yang mengatakan menulis itu mudah, saya pun harus mengalami hal  tersebut dengan terus berlatih. Sampai saat ini, saya telah menghasilkan  tulisan -yang bagi saya- lumayan panjang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Saya sudahi dulu. Insya Allah besok disambung lagi. Saya mau belajar  dulu ya.. Spanyol dah main tuh he he he.. belajar atau nonton bola sih?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-8965579306730582378?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/8965579306730582378/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/mengapa-banyak-orang-mengatakan-menulis.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/8965579306730582378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/8965579306730582378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/mengapa-banyak-orang-mengatakan-menulis.html' title='Mengapa Banyak Orang Mengatakan Menulis Itu Mudah, Sementara yang Saya Alami Sebaliknya?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-2001444832359602678</id><published>2010-06-19T03:53:00.000-07:00</published><updated>2010-06-19T03:55:04.526-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Kalimat Dahsyat Dari Joan Didion Untuk Anda Yang Mau Lancar Menulis</title><content type='html'>Sudah lama saya tidak membuka aplikasi catatan &lt;i&gt;fesbuk&lt;/i&gt; hanya untuk  mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran ini. Ada banyak alasan dan  tentunya jika dibahas satu per satu akan menyebabkan tulisan ini semakin  panjang. Saya kira tidak perlu untuk membahasnya. Namun salah satu  kegiatan yang saya lakukan adalah membaca salah satu buku yang  direkomendasikan oleh &lt;i&gt;Kick Andy&lt;/i&gt; berjudul Jalan Panjang Memupus  Kedukaan. Dari buku itu tulisan ini bermula, dan akhirnya bisa saya  hidangkan ke hadapan para pembaca sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya  Joan Didion. Lahir 5 Desember 1934 di Sacramento, California, dari  pasangan  Frank Reese dan Eduene (Jerrett) Didion. Ayahnya terlibat  Perang Dunia II dalam Army Air Corps, dan karena itu pula sejak kecil,  ia tidak pernah masuk taman kanak-kanak dan sekolah dasar dengan  teratur. Namun dia mengakui bahwa hal itu tidak memiliki pengaruh besar  pada dirinya untuk menjadi gagal. Melainkan, dengan pengalaman itu, ia  dapat menuliskan novel berdasarkan kisah nyata yang sedang saya baca  saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjudul asli &lt;i&gt;Where I Was From&lt;/i&gt;, buku yang mendapatkan penghargaan  sebagai The Prix Medicis Award pada tahun 2008 ini kemudian  diterjemahkan oleh Leinovar dan diterbitkan oleh Ramala Books dengan  judul &lt;i&gt;Jalan Panjang Memupus Kedukaan&lt;/i&gt;. Berkisah tentang bagaimana  Didion dapat keluar dari kedukaannya, buku ini sungguh dapat memompa api  semangat dalam diri pembaca agar terus berkobar walau pun tertiup angin  kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan menggambarkan bagaimana isi buku ini secara ringkas,  karena tulisan ini bukanlah resensi. Namun saya hanya ingin memuji  bagaimana Didion mengalirkan ide-idenya sehingga dapat memengaruhi  pembaca. Bahkan &lt;i&gt;Time Magazine&lt;/i&gt; memuji dengan mengatakan bahwa  tindakan Didion dalam menulis buku ini adalah sebuah tindakan berani  yang sempurna. Didion telah berhasil memberikan penjelasan bagi para  pembaca untuk tahu apa yang ada dalam pikiran seseorang yang sedang  diselimuti oleh kedukaan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadikan Didion mampu melakukan hal itu? Pada halaman pembuka  buku terjemahan ini Didion menjelaskan dengan sangat indah. Penjelasan  yang akan membuat setiap pembaca terpukau sehingga mengetahui bagaimana  agar penulis dapan menuangkan idenya dengan sangat lancar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hentikan terlebih dahulu membicarakan Didion. Saya ingin mengajak  Anda untuk bersama-sama mengingat sebuah pertanyaan yang paling banyak  diutarakan oleh mereka yang ingin menjadi penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari dulu saya ingin menjadi seorang penulis. Tetapi entah mengapa,  sampai saat ini, saya belum juga menulis. Ide yang ada di kepala saya  saat ini sungguh sangat banyak. Tetapi saya bingung akan mulai dari mana  menuliskannya. Ada saran?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan di atas mungkin sangat sering kita dengar. Bahkan tidak  menutup kemungkinan, kita yang bertanya demikian. Ada banyak jawaban  akan pertanyaan tersebut, dan jawaban itu tentu bisa saja berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering mendengarkan bahwa jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah  sebagai berikut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Untuk langkah awal, tulislah dahulu segala-galanya. Tumpahkan semua  yang ada. Jangan ada yang tersisa. Bahkan tulislah hingga Anda  benar-benar tidak tahu akan menulis apalagi. Jangan hiraukan apakah  tulisan yang sedang Anda tulis itu dapat dipahami ataukah tidak, karena  hal itu akan Anda lakukan pada tahap berikutnya, yaitu editing. Maka  menulislah, menulislah, menulislah!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah si penanya puas dengan jawaban seperti itu atau  tidak. Namun, sepanjang pengamatan saya, penanya sering &lt;i&gt;memuas-muaskan&lt;/i&gt;  diri untuk menerima jawaban ini. Faktanya, tidak ada tindak lanjut dari  saran tersebut. Si penanya masih tetap bingung pada permasalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Menulis itu sih memang menulis. Tetapi ya tetap ada kesusahan. Entah  mengapa, permasalahan untuk memulainya dari mana selalu ada. Hmmm...."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah. Tidak perlu berlama-lama lagi untuk mengetahui perkataan Joan  Didion dalam menjawab pertanyaan ini. Perkataan Didion ini sangat  singkat tetapi mempunyai arti yang mendalam. Saya tidak akan membahasnya  agar kita dapat merenung bersama. Simaklah, renungilah, dan selamat  mencoba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Yang menyebabkan kalimat pertama begitu sulit adalah karena kamu  terpaku padanya. Semua yang lain akan mengalir dari kalimat itu."&lt;/i&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-2001444832359602678?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/2001444832359602678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/kalimat-dahsyat-dari-joan-didion-untuk.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2001444832359602678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2001444832359602678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/06/kalimat-dahsyat-dari-joan-didion-untuk.html' title='Kalimat Dahsyat Dari Joan Didion Untuk Anda Yang Mau Lancar Menulis'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-6438813705132150691</id><published>2010-04-20T00:27:00.000-07:00</published><updated>2010-04-20T01:05:37.471-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Inovasi Hukum, Antara Indonesia dan Belanda</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=381985398044&amp;amp;h=42d40dc6439fd20ca435c2661d412466&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fkompetiblog2010.studidibelanda.com%2F" target="_blank" title="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=a110eda3772977d9bbbfe82ea5ed476a&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fkompetiblog2010.studidibelanda.com%2Fbanner%2Fkompetiblog2010.png" class="ext_img" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=381985398044&amp;amp;h=fa4787b9aeb3935f48a9ef763b342116&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fbit.ly%2FcgTPr4%2F" target="_blank" title="http://bit.ly/cgTPr4/"&gt;Setelah berbicara panjang lebar mengenai ke-tepatan jurusan tempatku kuliah dengan Belanda sebagai negara hukum&lt;/a&gt;, izinkanlah diriku untuk menceritakan inovasi hukum yang terdapat di Indonesia dan juga Belanda dalam tulisan ke dua ini. Hal ini penting kiranya, selain karena tema &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=381985398044&amp;amp;h=42d40dc6439fd20ca435c2661d412466&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fkompetiblog2010.studidibelanda.com%2F" target="_blank" title="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/"&gt;kompetiblog&lt;/a&gt;  &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=381985398044&amp;amp;h=42d40dc6439fd20ca435c2661d412466&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fkompetiblog2010.studidibelanda.com%2F" target="_blank" title="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/"&gt;Studi di Belanda&lt;/a&gt; adalah &lt;i&gt;"Dutch innovation, in my opinion"&lt;/i&gt;, karena Indonesia dan Belanda mempunyai kesamaan inovasi, walau pun berbeda hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mulai dengan penjelasan menjelasan sejarah hukum di Belanda terlebih dahulu, karena tidak dapat dipungkiri bahwa hukum di Indonesia sangat terpengaruh oleh hukum Belanda. Hukum belanda, pada awalnya, adalah hukum hasil pengadopsian dari hukum Perancis. Sebagaimana yang kita ketahui, Perancis adalah negara yang pernah menjajah Indonesia. Bahkan, ada juga yang berpendapat karena Perancis pernah menjajah Belanda, maka Perancis juga pernah menjajah Indonesia. Berikut akan saya kutip verbatim pendapat Osa Kurniawan Ilham, blogger kompasiana asal Balikpapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Gara-gara dulu pelajaran sejarah diajarkan oleh guru dengan cara dan gaya yang tidak mengenakkan (soalnya masa kecil ada di Masa Orde Baru yang pelajaran sejarah-nya agak dibelok-belokkan seturut dengan keinginan penguasa), saat sekolah saya tidak terlalu suka dengan sejarah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Tapi ketika umur semakin bertambah, sejarah menjadi hobi saya saat ini. Sudah sekian puluh buku sejarah yang saya beli dan saya baca, beberapa di antaranya didapat dengan harga murah dan dari pasar buku loak. Dan ternyata banyak fakta-fakta sejarah yang tidak pernah diungkap dengan terang dan jelas sehingga banyak orang yang tidak tahu fakta sebenarnya. Saya yakin Anda juga sama dengan saya. Nah, percayakah Anda bahwa kita sebenarnya pernah dijajah oleh Perancis lho. Tidak percaya ?! Ceritanya seperti ini.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Ketika VOC menuju pada kebangkrutannya di tahun 1799, di Eropa terjadi pergolakan yang turut menentukan nasib Nusantara (sayang raja-raja Nusantara saat itu begitu angkuh, egois dan bodoh, mereka tidak mampu memanfaatkan situasi ini untuk memerdekakan diri hik…hik…). Negeri Belanda telah dicaplok oleh Perancis dan menjadi bagian dari Kerajaan Perancis dengan Napoleon Bonaparte sebagai kaisarnya. Raja Belanda, Willem V, akhirnya melarikan diri ke Inggris. Sebagai raja Belanda sekaligus komisaris utama VOC, dia membuat tindakan agar jajahan VOC tidak jatuh ke tangan Perancis. Karena itu dia membuat perjanjian dengan Inggris, bahwa selama perang dengan Perancis, semua jajahan VOC atau Belanda akan berada di bawah pemerintahan Inggris. Dan bila perang usai akan dikembalikan ke Belanda.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Sementara itu di tahun 1806, Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte menginginkan agar Belanda lebih dekat ke Perancis. Karena itu ia membuat kerjaan di Belanda dengan nama De Bataafse Republik, dan mengangkat kakaknya sendiri, Lodewijk sebagai raja. Raja Lodewijk yang berkuasa di Holland, tentu saja juga berkuasa di jajahannya di Nusantara. Karena itulah sebenarnya kita pernah dijajah Perancis dalam era Napoleon Bonaparte ini.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Merujuk pada fakta sejarah, VOC di Nusantara ada dalam keadaan lemah dan bingung pada masa-masa itu. Karena mereka bingung mau berkiblat ke mana. Kepada raja yang sudah kehilangan negara atau kepada De Bataafse Republik. Sayang kesempatan emas ini tidak dimanfaatkan oleh kerajaan-kerajaan kuat Nusantara untuk mengambil alih Nusantara. Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta adem ayem saja, terus berperang sendiri memperebutkan kekuasaan antar saudara. Demikian pula kerajaan di Sumatera, di kalimantan, Sulawesi, maluku, Bali yang saling bertikai antar mereka sendiri. Apes deh, punya nenek moyang seperti ini he…he…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Kekuasaan Perancis atas Belanda akhirnya berbuah keputusan untuk mengirimkan seorang marsekal dalam pasukan Napoleon yang bernama Daendles untuk menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda. Saya akan ceritakan tentang Daendels ini di tulisan berikutnya ya, harap bersabar he..he…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Pengaruh budaya Perancis sangat kentara sekali di Indonesia sampai saat ini, bahkan tanpa kita sadari. Konon, pakaian sultan Yogya dan Surakarta yang kita lihat sekarang adalah diinspirasi oleh kekaguman sang sultan kala itu terhadap pakaian kebesaran Gubernur Jenderal Daendels. Parade prajurit kraton Yogya atau Jawa juga sangat mirip dengan parade militer Perancis di Arch de Triumph setiap tahunnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Konon, ada orang kuat berdarah Spanyol yang diberi gelar bangsawan di Paris, namanya Don Lopez comte de Paris. Kata prajurit-prajurit Perancis, orang kuat Spanyol tersebut mampu menggotong sendiri batang-batang pohon yang besar dengan mudah. Karena itulah saat pembangunan Jalan Daendles Anyer Panarukan, para penjaga Perancis memerintahkan para pekerja rodi untuk selalu menyerukan nama orang kuat tersebut saat bekerja untuk mendapatkan kekuatannya. Tapi dasar lidah Jawa, karena repot melafal nama asing tersebut, terucaplah Ho Lopis Kuntul Baris he..he…Bung Karno kemudian memanfaatkan kalimat ini untuk menggambarkan semangat gotong royong.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Banyak kata-kata Perancis yang kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia gara-gara penjajahan Perancis saat itu. Kerja Rodi (dari kata ordre – perintah, atau ordure -sampah/kotoran). Maling (dari kata malin – jahat). Caping (dari kata chapeau – topi). Mas Galak (dari kata Maarschalk). Sado (dari kata dos a dos, duduk saling memunggungi). Zaman Meleset (dari kata malaise - sulit).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Contoh-contoh lainnya adalah gerilya, bivak, restoran, desertir, ajudan, sabotase, intrik, karoseri, sopir, semuanya berasal dari Bahasa Perancis.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Jadi percayakah Anda sekarang kalau kita pernah dijajah Perancis ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, aku tidak akan mengajakmu untuk berbincang mengenai apakah fakta Indonesia pernah dijajah Perancis apa tidak. Namun aku hanya ingin, dengan tulisan ini, kita dapat memahami bahwa hukum di Belanda adalah hukum yang diadopsi dari hukum Perancis, dan hukum tersebutlah yang kini kita kenal dengan hukum pidana dan perdata. Khusus perdata, kompilasi hukum tersebut telah terkumpul dalam &lt;i&gt;Burgelick Wetbook Voor Indonesian&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, masyarakat pun semakin maju. Sebagaimana dikhawatirkan banyak orang tentang konsep yang dipakai negara-negara yang menganut sistem &lt;i&gt;civil law&lt;/i&gt; bahwa ada banyak permasalahan yang akan datang dan tidak dapat ditampung oleh, hanya undang-undang. Maka dari sanalah, pemikiran untuk menginovasi Undang-Undang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah apa yang dilakukan oleh Indonesia terhadap maraknya perdagangan yang terjadi di Indonesia. Melalui Undang-Undang nomor 32 tahun 1997 tentang perdagangan. Bedanya dengan belanda, dan ini yang saya maksud dengan inovasi hukum yang sama-sama terjadi walau pun hasilnya berbeda, Belanda bukannya menambah hukum dagang sebagaimana di Indonesia sehingga berlaku asas lex specialis derogat lex generalis. Namun Belanda melakukan inovasi hukumnya dengan menerbitkan &lt;i&gt;nieuw burgelick wetbook&lt;/i&gt; yang menyatukan antara hukum dagang dengan perdata, mengingat sebelumnya Belanda juga membedakannya sebagaimana di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bagi saya, perbedaan pandangan mengenai hukum seperti di atas menarik untuk dikaji lebih dalam, apalagi jika di dapatkan melalui program kompetiblog. Kamu tidak mau ikutan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-6438813705132150691?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/6438813705132150691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/04/inovasi-hukum-antara-indonesia-dan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6438813705132150691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6438813705132150691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/04/inovasi-hukum-antara-indonesia-dan.html' title='Inovasi Hukum, Antara Indonesia dan Belanda'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-6236711556621285759</id><published>2010-04-08T13:37:00.001-07:00</published><updated>2010-04-08T13:44:29.652-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Saat ini, Aku pun Mulai Memikirkan Untuk Studi di Belanda!</title><content type='html'>&lt;a href="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img title="Kompetiblog 2010" src="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/banner/kompetiblog2010.png" width="215" height="215" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;Ini adalah tulisan pertamaku dari tiga rangkaian tulisan yang ingin kuikutsertakan dalam &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=378622213044&amp;amp;h=f6e8c4d74f2e9e1114ece7620536986a&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fkompetiblog2010.studidibelanda.com%2F" target="_blank" title="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/"&gt;kompetiblog&lt;/a&gt;  agar aku dapat merasakan indahnya &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=378622213044&amp;amp;h=f6e8c4d74f2e9e1114ece7620536986a&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fkompetiblog2010.studidibelanda.com%2F" target="_blank" title="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/"&gt;Studi di Belanda&lt;/a&gt;. Dalam tulisan pertama ini aku ingin berkisah mengenai pengalaman nyata diriku sendiri yang akhirnya mengantarkanku pada kompetisi ini. Kisah pribadi ini sangat erat kaitannya dengan Law of Attraction [Hukum Tarik-Menarik] yang akhir-akhir ini sering dibincangkan oleh orang banyak, apalagi setelah DVD dan buku &lt;i&gt;The Secret&lt;/i&gt; karya Rhonda Byrne terbit dan memiliki angka penjualan yang fantastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini bermula ketika aku mendapat kesempatan untuk memberikan pelatihan kepenulisan di pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, pesantren tempatku menuntut ilmu tiga tahun yang lalu. Aku diberi kesempatan untuk memberikan pelatihan kepenulisan di hadapan santri dan santriwati menyusul terbitnya buku pertamaku yang berjudul &lt;i&gt;Menulis Itu Asyik Lho!&lt;/i&gt;. Dan itu adalah salah satu anugerah yang terindah bagiku, mengingat selama masa studiku di Surabaya, aku menahan rindu pada kampung halamanku di Medan sana. Ongkos yang mahal dan juga jarak yang jauh menjadi kendalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba disana, hatiku mulai canggung. Teringat akan &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; pesantren yang mewajibkan setiap santri dan santriwati untuk berbahasa Arab dan Inggris di setiap komunikasi sehari-harinya. Bahkan para ustadz dan tenaga pengajar di Pesantren pun, diwajibkan untuk memberikan mata pelajaran dengan menggunakan dua bahasa tersebut. Hatiku canggung mengingat selama tiga tahun ini, penggunaan bahasa Arab dan Inggris telah tergantikan dengan bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Jawa. Aku takut jika nantinya mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketakutan itu benar-benar terjadi. Salah seorang ustadz yang telah mengajariku berbahasa asing berkata, "&lt;i&gt;Why do you speak Indonesian? Do you know that arabic and english are our crown? Practice your language!&lt;/i&gt;". Kata-kata tersebutlah yang akhirnya berdiam dalam otakku. Mengalir dalam setiap jaringan neuron di setiap belahan otak, membentuk pikiran dan akhirnya menciptakan respon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Aku harus bisa berbahasa Arab dan Inggris! Aku harus bisa berbahasa Arab dan Inggris. Aku harus bisa berbahasa Arab dan Inggris&lt;/i&gt;." Teriakku dalam hati menyugesti pikiranku. Aku tak mau menjadi seorang pecundang. Enam tahun waktu yang kugunakan untuk dapat berbicara dengan dua bahasa asing tersebut tidak akan dikalahkan dengan tiga tahun di tanah Jawa, hanya karena tidak memiliki teman praktek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setibanya aku di Surabaya setelah seminggu berada di Medan dan mendapatkan nasehat berharga dari ustadzku, aku pun menyusun siasat agar aku mampu mempelajari dua bahasa asing itu kembali. Kuotak-atik beberapa situs di dunia maya yang menggunakan bahasa Asing demi mendapatkan kosa kata yang bisa meningkatkan kemampuan bahasaku. &lt;i&gt;Aku harus bisa, aku harus bisa, aku harus bisa&lt;/i&gt; sugesti itu terus aku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terbuktilah apa yang dikatakan oleh para tokoh yang diwawancarai oleh Rhonda Byrne dalam DVD dan buku &lt;i&gt;The Secret&lt;/i&gt;-nya. "Pikiran manusia itu ibarat magnet, akan selalu menarik hal-hal yang dipikirkan. Tak menjadi persoalan apakah seseorang itu berpikir baik atau buruk. Jika ia berpikir baik, maka hal-hal baik jugalah yang akan ditariknya sehingga seseorang itu akan bernasib baik. Jika buruk pikirannya, maka buruk juga hasilnya dan tentu nasibnya. Maka cermatilah hukum tarik menarik (Law of Attraction) ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhari-hari sugesti itu kulakukan terus menerus, maka hasilnya pun semakin nyata. Bermula ketika seorang pimpinan majalah islami menawariku untuk menerjemahkan berita-berita timur tengah hingga akhirnya seorang dosen yang selalu menginspirasiku berkisah tentang indahnya perjalanan di berbagai negara jika kita bisa menguasai bahasa asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka segera kuambil tindakan (Take Action). Kuterima tawaran dari pimpinan majalah itu dan kudekati dosen inspirasiku tersebut. Gayung bersambut. Pimpinan majalah menerimaku dengan senang hati, dan dosenku mau membantuku dengan tangan yang terbuka. Bahkan ketika aku minta diajari agar dapat berbahasa inggris kepada dosenku tersebut, ia memberiku video-video berisikan cara-cara belajar bahasa inggris yang langsung ditangani oleh orang-orang dari negara bagian barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehatnya berikut ini sampai sekarang, dan kelak tidak akan pernah aku lupakan. Ini adalah nasehat yang ingin kupraktekkan setiap harinya untuk mencapai apa yang aku inginkan. Aku ingin bisa berbahasa Inggris dan Arab dengan baik. Aku tidak ingin kata-kata ustadzku di pesantren terulang kembali. "&lt;i&gt;Why do you speak Indonesian? Do you know that arabic and english are our crown? Practice your language!&lt;/i&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keajaiban pikiran terus berlanjut hingga hari ini, tepatnya ketika aku membaca pengumuman mengenai kompetisi blog studi di Belanda, yaitu kompetisi yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia yang berhadiahkan perjalanan untuk belajar di salah satu universitas terkemuka di Belanda melalui program Summer Course in Utrecht.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku pun mulai memikirkan untuk dapat meraih kesempatan ini. Aku berharap keajaiban pikiran terus terjadi dalam pikiranku. Aku mulai menyugesti diriku sendiri dengan studi di Belanda. Aku ingin mengunjungi Utrecht. Aku ingin bisa kesana melalui program ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kebetulan Ataukah Skenario Tuhan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, aku tidak pernah berpikir untuk mulai memikirkan studi di Belanda. Namun dosen yang selalu menginspirasiku tersebut terus &lt;i&gt;memanas-manasiku&lt;/i&gt; melalui kisah-kisah indahnya. Hingga beberapa hari yang lalu, ia mengatakan bahwa sebagai seorang dosen yang mendalami ilmu hukum, saya berniat untuk melanjutkan studi di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak aku terkaget-kaget. Merenungku sejenak mengenai siapakah diriku saat ini. Aku adalah mahasiswa IAIN Sunan Ampel yang menempuh pendidikan di fakultas &lt;i&gt;Syari'ah&lt;/i&gt; alias hukum islam dengan konsentrasi &lt;i&gt;al-Ahwal al-Syakhsiyah&lt;/i&gt; yaitu hukum perdata keluarga. Walau pun fakultasku bukan fakultas hukum &lt;i&gt;pure&lt;/i&gt; namun kurikulum yang diberikan dalam setiap mata kuliah tidak terlepas dari hukum-hukum konvensional yang terdapat di dalam kitab-kitab perundang-undangan hukum pidana (KUHP), hukum perdata (KUHPer) dan hukum adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah engkau memahami maksudku? Ya, perkuliahanku yang berkutat dengan masalah hukum sangat terikat dengan sebuah negara yang berjuluk kincir angin tersebut. Bagaimana tidak, hukum pidana, perdata dan adat yang berlaku saat ini di Indonesia sangat erat kaitannya dengan Belanda. Nama-nama seperti Van Hammel, Algra-Janssen, dan Van Apeldoorn adalah nama-nama ilmuwan hukum yang berasal dari belanda. Kitab hukum perdata di Indonesia saat ini adalah &lt;i&gt;burgerlijk wetboek&lt;/i&gt; yang merupakan warisan Belanda. Bahkan sejarah ditemukannya hukum adat di Indonesia tidak akan bisa terlepas dari sosok seorang ilmuwan belanda yang bernama C. Snouck Hurgronje melalui bukunya De Atjehers yang terbit pada tahun 1892.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi istilah-istilah Belanda yang sangat erat kaitannya dengan (pendidikan) hukum di Indonesia. Saya mengenal istilah &lt;i&gt;legal theory and practice&lt;/i&gt; berupa &lt;i&gt;lex specialis derogat lex generalis, lex superior derogat legi inferiori,&lt;/i&gt; dan, &lt;i&gt;lex posteriori derogat legi priori&lt;/i&gt; yang semuanya berasal dari belanda. Ada juga istilah &lt;i&gt;gedocumenteerch&lt;/i&gt; yang berarti didokumentasikan atau &lt;i&gt;Adatrechtkringen&lt;/i&gt; yang artinya lingkaran adat. Dua istilah terakhir tersebut dikenal dalam hukum adat di Indonesia yang di populerkan oleh Cornelis van Vollenhoven pasca dikemukakan pertama kalinya oleh C. Snouck Hurgronje, sebagaimana diterangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mahasiswa hukum. Kiranya tidak lengkap jika tidak pergi ke Belanda untuk mendalami pengetahuan tentang ini. [Permasalahan hukum di Indonesia dalam kaitannya dengan Belanda akan saya bahas di tulisan ke dua]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jelas bukan &lt;s&gt;kebetulan&lt;/s&gt;. Ini adalah skenario Tuhan untuk menunjukkan kebesarannya kepada setiap hambanya, tak terkecuali dengan diriku. Dengan tulisan ini besar harapan sugesti yang kutanam dalam pikiranku dapat menarik apa yang ingin kutarik. Tidak banyak kesempatan untuk belajar di Belanda, dan kompetisi blog ini tepat datang pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radinal Mukhtar Harahap&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-6236711556621285759?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/6236711556621285759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/04/saat-ini-aku-pun-mulai-memikirkan-untuk.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6236711556621285759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6236711556621285759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/04/saat-ini-aku-pun-mulai-memikirkan-untuk.html' title='Saat ini, Aku pun Mulai Memikirkan Untuk Studi di Belanda!'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-2260681399143665476</id><published>2010-02-28T09:28:00.000-08:00</published><updated>2010-02-28T09:29:36.278-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Kenapa Semangat Menulis Tertinggal Di Tempat Pelatihan?</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;"Apakah anda siap untuk menulis?" &lt;/i&gt;ujar seorang motivator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Siap!"&lt;/i&gt; teriak peserta pelatihan kepenulisan sambil mengangkat tangannya melambangkan kesemangatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Apa yang anda alami setelah mengikuti pelatihan ini?"&lt;/i&gt; tanya seseorang kepada mereka yang pernah mengikuti sebuah pelatihan kepenulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Pelatihan ini sungguh dahsyat. Banyak motivasi didalamnya. Kita seakan-akan dibakar oleh motivasi tersebut sehingga mengeluarkan kekuatan untuk terus berlari dan berlari tiada henti. Pikiran dibanjiri oleh ide segar. Sungguh menakjubkan!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Apakah Anda akan menulis setelah mengikuti pelatihan ini?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tentu saja! Kenapa tidak? Ide begitu banyak yang harus dikeluarkan. Tak ada alasan untuk menunda lagi. Saya tidak sabar untuk segera duduk di depan komputer dan menggerakkan jemari di atas tuts-nya&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak komentar seperti itu beberapa saat setelah pelatihan selesai. Tak tahu apakah benar mereka termotivasi atau hanya untuk menghargai usaha para motivator tersebut, mereka dengan &lt;i&gt;pede&lt;/i&gt; mengungkapkan hal-hal diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apakah yang terjadi beberapa saat setelah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya tidak akan mengatakan bahwa semuanya mengalami hal seperti ini. Karena memang, sangat banyak orang yang tidak mengalami seperti ini. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sebagian orang akan mengalami seperti apa yang akan saya ceritakan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Lho? ga' jadi nulis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nantilah.. saya masih terlalu capek habis ikut pelatihan tadi!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, masih pada orang yang sama yaitu yang mengikuti pelatihan kepenulisan tersebut, seseorang bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dah gimana perkembangan menulisnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm.. Insya Allah besok..."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah selanjutnya, hingga ia tak jua memulai menulis. Tak tahu kenapa, sepertinya semangat yang ada pada pelatihan itu hilang begitu saja. Apakah semangat itu tertiup angin, atau tinggal di gedung-gedung bertingkat, tak ada yang tahu. Permasalahannya hanya satu, kemana semangat ketika pelatihan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak kejadian seperti diatas terjadi pasca pelatihan. Tak peduli apakah pelatihan itu dilaksanakan satu hari, tiga hari, satu minggu, bahkan hingga enam bulan. Namun hasilnya, tidak terlalu banyak yang memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa permasalahannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Diantara kita, cendrung lebih suka mengambil motivasi yang ada pada pelatihan. Tidak mengambil kunci yang diberikan oleh pelatih itu sendiri. Artinya, kita lebih cendrung mengambil semangat yang ada pada pelatihan tersebu. Kita lupa mengambil kuncinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kuncinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek, praktek, praktek! ya hanya itu. Praktekkanlah apa yang dilatih oleh pelatih. Yang dimotivasi oleh motivator. Yang ditraing oleh trainer. Apa yang kita petik manfaat, segeralah diaplikasikan. Jangan tinggalkan ditempat-tempat pelatihan. Kiranya begitu!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Bermanfaat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-2260681399143665476?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/2260681399143665476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/02/kenapa-semangat-menulis-tertinggal-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2260681399143665476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/2260681399143665476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/02/kenapa-semangat-menulis-tertinggal-di.html' title='Kenapa Semangat Menulis Tertinggal Di Tempat Pelatihan?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-1075782444414543106</id><published>2010-02-28T08:24:00.000-08:00</published><updated>2010-02-28T08:27:24.729-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Bahkan Penulis pun Harus Memiliki Sifat Sabar</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;Beberapa bulan yang lalu, saya mendapatkan telepon dari seorang kakak kelas di Pesantren. Saya sama sekali tidak mengenali beliau, namun entah ada angin apa, tiba-tiba beliau menelepon saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Apa benar ini Radinal?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, ini siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ana xxx, Senior ente di pesantren..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh iya ukhti, ada yang bisa ana bantu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini, katanya ente kan dah jadi penulis? Apa judul buku ente?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha... (Saat itu buku saya belum terbit), buku ana belum terbit. Insya Allah terbitnya di bulan januari akhir. Judulnya &lt;b&gt;Menulis Itu Asyik Lho!&lt;/b&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini, Dek! Kakak punya beberapa cerpen dan ada satu buah novel. Kata teman-teman kakak, novel yang kakak buat itu bagus. Seru mirip laskar pelangi. Kisahnya tentang kehidupan di Pesantren, Dek!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, Kak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Radinal bisa menerbitkan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah.. ane bukan penerbitan, Kak! Ane cuma penulis yang juga mau menerbitkan bukunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya minta tolong lah, Dek!" katanya memelas..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ane ga' bisa nolong kak, kalau menerbitkan. Karena ane aja belum punya penerbitan. Bagaimana mau nerbitin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya kalau kasih masukan gimana?" tawarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm.. ya dah ga' pa-pa Ka', tapi ya ane lagi mau menghadapi ujian akhir. Trus nanti ada kegiatan juga dari Departemen Agama. Jadi mungkin agak lama!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya ga' apa-apa, Dek! yang penting udah kakak kirim!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan telepon tidak sampai disitu saja. Tidak sampai satu hari setelah pembicaraan itu berlangsung, saya kembali ditelepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dek, cerpen dan novelnya dah Kakak kirim. Tolong masukannya ya, Dek?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insya Allah, Kak. Tapi ane akhir-akhir ini lagi ujian. Agak lama!" ulangku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, ga' apa-apa!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata tinggal kata, malam harinya saya kembali ditelepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Gimana, Dek? dah baca cerpen dan novel Kakak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm... Udah ana download, Kak. Tapi belum sempat baca karena lagi ujian!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya kembali lagi ditelepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dek, kira-kira penerbit mau ga' menerbitkan cerpen dan novel Kakak ya? Penerbit mana kira-kira?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, ane ga' tau juga Kak, ane juga belum baca cerpen dan novel Kakak! Insya Allah setelah ujian nanti ane baca."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, Alhamdulillah, tidak ditelepon. Tapi di sms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dek, cerpen dan novelnya dah Kakak kirim ke penerbit. Kakak lihat di website tadi!" ujarnya ketika mengatakan salah satu penerbit."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah kisah yang saya alami beberapa bulan yang lalu. Dan tepat malam ini, setelah saya selesai ujian namun dicoba dengan rusaknya HP sehingga semua nomor yang di save hilang, saya mendapatkan sebuah SMS. Singkat, padat, tak neko-neko. Blak-blakan, khas orang medan asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dek, naskah kakak jangan dikasih tau orang lain ya, walau pun ente ga' mau baca. Sombong kali ente! ga' mau baca tulisan ane!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini memang terkesan curhat. Namun setidaknya, inilah usaha saya untuk menyampaikan sebuah pesan bahwa &lt;b&gt;Penulis pun dituntut untuk sabar!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar menyelesaikan naskah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar menanti kabar naskah setelah dikirimkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar jika naskah ditolak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar ketika naskah menunggu giliran cetak, jika diterima!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar ketika naskah tidak laku dipasaran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar ketika harus melayani penggemar, jika memang laku dipasaran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar ketika naskah dibajak orang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar, sabar, dan sabar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengatakan sekali lagi bahwa, catatan ini memang terkesan curhat. Namun besar harapan ada manfaatnya. Minimal, mengetahui apa yang saya alami malam ini...:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-1075782444414543106?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/1075782444414543106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/02/bahkan-penulis-pun-harus-memiliki-sifat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1075782444414543106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1075782444414543106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/02/bahkan-penulis-pun-harus-memiliki-sifat.html' title='Bahkan Penulis pun Harus Memiliki Sifat Sabar'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-5856649037830221826</id><published>2010-02-09T18:00:00.000-08:00</published><updated>2010-02-09T18:01:13.379-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Saatnya Wanita Yang Membahas Permasalahan Dirinya; Catatanku Atas Buku Seorang Teman</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div&gt;Tanpa bermaksud untuk membahas permasalahan &lt;i&gt;gender&lt;/i&gt; yang sedang hangat-hangatnya, saya hanya ingin menyampaikan suatu pernyataan yang sering saya dengar tentang permasalahan keislaman terutama tentang hal-hal yang berkaitan dengan sosok perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kenapa posisi perempuan dalam islam, akhir-akhir ini, terus dipermasalahkan? Disebut-sebut sebagai makhluk Tuhan yang berposisi di bawah ketiak laki-laki?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu lama bersemayam di otak saya. Dan seorang teman memberikan jawaban yang sangat menggelitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Itu semua karena para ulama kebanyakan adalah para lelaki yang tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi pada seorang wanita.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya tidak ada maksud untuk membahas permasalahan &lt;i&gt;gender&lt;/i&gt; dan antek-anteknya! Yang ingin saya bahas disini adalah mengapa saya begitu tertarik dengan jawaban menggelitik seorang teman tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Itu semua karena para ulama kebanyakan adalah para lelaki yang tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi pada seorang wanita.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukanlah seorang ahli fikih yang mengetahui sebuah permasalahan secara mendalam beserta ayat-ayatnya. Dan bukan pula seorang yang cuek sehingga menjadi bebek terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan. Saya hanya ingin berproses untuk menjadi lebih baik dan saya yakin &lt;i&gt;everything needs proccess&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Dan saya sempat tertarik untuk mendalami sebuah permasalahan keislaman yang menarik, yaitu tentang jilbab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya bukan seorang perempuan, tentu banyak orang yang bertanya mengapa saya ingin membahas tentang hal ini. Dan saya hanya ingin mengatakan bahwa saya dilahirkan dari rahim seorang perempuan agung bernama ibu. Saya juga memiliki dua saudari kandung yang jelas-jelas mereka juga perempuan. Dan saya juga mempunyai dua saudari tiri yang mereka juga perempuan dan mereka juga lahir dari seorang perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak, saya juga akan beristri dan tentunya perempuan. Selanjutnya punya anak dan saya berharap juga ada laki-laki dan perempuan. Karena hidup lelaki tidak akan lepas dari perempuan, karena itulah sebagai seorang lelaki saya berhak untuk mengetahui salah satu permasalahan perempuan yaitu jilbab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke permasalahan awal, ketika menjelajahi dunia referensi tentang jilbab, saya 'sedikit' percaya dengan apa yang menjadi jawaban teman saya diatas. Sungguh, sangat banyak buku yang membahas tentang jilbab. Sejauh ini, saya mengetahui ke empat imam madzhab, yaitu Imam Syafi'i, Imam Hambali, Imam Hanafi dan Imam Maliki, juga membahas tentang jilbab. Saya juga mempunyai buku &lt;i&gt;Fiqh Sunnah&lt;/i&gt;nya Sayyid Sabiq yang juga membahas tentang itu. Bukunya Syaikh Mutawalli As-Sya'rawi yang berjudul Fiqh al-Mar'ah al-Muslimah juga membahas tentang itu. Dan satu hal yang saya dapatkan, mereka semua adalah laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga buku &lt;i&gt;Nahw Usul Jadidah li al-Fiqh al-Islami&lt;/i&gt; karya Dr. Ir. Muhammad Shahrur yang berbau kontroversi. Ada juga buku yang membahas Jilbab dari pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer yang berjudul &lt;i&gt;"JILBAB [Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer]"&lt;/i&gt; karya M. Quraish Shihab. Muhammad Muhyidin juga berpendapat tentang jilbab melalui karyanya &lt;i&gt;Membelah Lautan Jilbab&lt;/i&gt;. Benarkah memang hanya laki-laki yang membahas tentang hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30456127&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=292965198044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=292965198044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs139.snc3/18675_1203797654942_1228629244_30456127_4270656_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="caption"&gt;Cover Buku Makin Sehat Dengan Berjilbab&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Saya sangat bergembira sekali ketika seorang sahabat saya, Mukhlidah Hanun Siregar, memberikan sebuah hadiah buku karyanya kepada saya. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt; tentunya saya bangga karena mempunyai seorang teman penulis. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt; saya bangga karena mendapatkan buku gratis. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt; dan ini yang paling membuat saya bangga, karena ia membahas tentang jilbab. Artinya, sebagai seorang perempuan, ia telah membahas tentang apa yang ia kenakan; yaitu jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak main-main, mahasiswi penerima beasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat ini membahas Jilbab dengan tinjauan kesehatan. Cobalah baca apa yang tertulis di sampul depan buku tersebut yang begitu menggebrak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tidak ada satu pun dokter ahli yang menyebut jilbab sebagai penyebab ketombe dan rambut rontok. Berjilbab sesuai syariat justru membuat kepala dan rambut wanita menjadi sehat. Sehat di dunia, selamat di akhirat!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menakjubkan bukan? simaklah kembali apa yang ia tulis di halaman 113 dalam bab &lt;i&gt;makin sehat dengan berjilbab&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidak ada alasan yang tepat bagi kita (kaum perempuan dan tentunya saya tidak termasuk dalam pembicaraan ini he he he) untuk mengatakan jilbab mengakibatkan ketombe dan rambut rontok. Adanya kasus muslimah berjilbab mengalami ketombe dan rambut rontok, persoalannya bukan terletak pada jilbabnya. Disinilah penting dan perlunya bagi para jilbaber untuk memerhatikan perawatan rambut dan pemakaian jilbab yang tepat dan sehat!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, masih banyak yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Namun, tidaklah layak bagi saya untuk memampangkan semua apa yang saya baca dalam buku setebal 128 halaman dan diterbitkan oleh Pro-U Media ini. Setidaknya, catatan ini menjadi gambaran betapa pentingnya berjilbab. Tak heran jika Azar Nafizi, seorang profesor di Jhons Hopkins University rela dikeluarkan dari University of Teheran karena dilarang memakai kerudung. Selamat dengan berjilbab, dan berjilbab agar selamat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul; Makin Sehat Dengan Berjilbab&lt;br /&gt;Penulis: Mh. Hanun Siregar&lt;br /&gt;Penerbit: Pro-U Media&lt;br /&gt;Harga: Rp. 17.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-5856649037830221826?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/5856649037830221826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/02/saatnya-wanita-yang-membahas.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/5856649037830221826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/5856649037830221826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/02/saatnya-wanita-yang-membahas.html' title='Saatnya Wanita Yang Membahas Permasalahan Dirinya; Catatanku Atas Buku Seorang Teman'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-1492885321815823001</id><published>2010-01-27T07:02:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T07:04:08.686-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Saran Menarik dari Gregory Poirier Untuk Yang Mau Menjadi Penulis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;Saya tak tahu banyak mengenai Gregory Poirier kecuali setelah membaca tulisan singkatnya di &lt;i&gt;Chiken Soup for the Writer's Soul&lt;/i&gt;nya Jack Canfield dan kawan-kawan. Dari buku yang diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini, saya akhirnya mengetahui bahwa ia adalah seorang penulis handal asal Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu saran menarik dari Gregory Poirer untuk mereka yang mau jadi penulis. Dalam bahasa yang benar-benar menggerakkan beliau berujar bahwa &lt;i&gt;kalau kurenungkan, ini bukan pengalaman buruk. Kadang rasa frustasi, rasa takut, dan rasa putus asa merupakan satu-satunya wajah yang ada dalam kehidupan seorang penulis. Terimalah mereka. Rangkullah mereka dan belajarlah dari mereka. Kemudian tulislah sesuatu yang baru.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru saran pertama, dan saat saya membaca saran tersebut, saya benar-benar tersentak karena inilah rasa-rasa yang saya alami selama saya memutuskan untuk bergelut di dunia kepenulisan. Rasa frustasi ketika tulisan ditolak oleh media massa bahkan penerbit. Rasa takut ketika kelak tulisan menuai kontroversi hingga datang hinaan dan cercaan. Dan tentunya, semua itu membuahkan rasa putus asa sehingga harus berhenti dari dunia kepenulisan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melanjutkan membaca tulisan beliau, dan saya menemukan satu saran yang benar-benar menakjubkan. Saran yang benar-benar menyadarkan saya pada cita-cita saya sebagai penulis. Saran yang benar-benar menggairahkan sekaligus menggerakkan. Dan inilah saran tersebut!;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;i&gt;Saranku untuk mereka yang bercita-cita menjadi penulis selalu sama. Jika ada hal lain yang bisa kalian lakukan dalam hidup kalian, maka silahkan pergi dan lakukan saja hal itu. Jalan ini [kepenulisan] tidak cocok untuk kalian jika kalian ragu-ragu. Tapi jika inilah satu-satunya pekerjaan yang cocok untuk kalian, jika inilah pekerjaan yang bisa menghidupkan jiwa kalian, maka terjun dan bekerja keraslah. Berjuang, menangis, dan gigihlah menulis. Dan jangan lupa untuk mencintainya, bahkan ketika tulisan kalian mulai menghasilkan [kesuksesan].&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-1492885321815823001?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/1492885321815823001/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/saran-menarik-dari-gregory-poirier.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1492885321815823001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1492885321815823001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/saran-menarik-dari-gregory-poirier.html' title='Saran Menarik dari Gregory Poirier Untuk Yang Mau Menjadi Penulis'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-1082473688847928120</id><published>2010-01-25T09:58:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T09:59:39.656-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Atas Nama Kebersamaan</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;Di kamarnya, Mansur terlihat bimbang memikirkan sesuatu. Ada sekelumit pertentangan di batin dan juga pikirannya. Entah mengapa, semenjak usulan untuk berlibur di Bali disetujui oleh teman-temannya, ia kelihatan lesu. Ada yang mengganjal di rongga-rongga otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sur, jadi ikut kan?" Bambang yang menjadi ketua rombongan perjalanan tersebut menyapanya di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm.. Insya Allah!" ucap Mansur sekenanya. Matanya masih tertuju pada buku yang hanya dilihatnya tak dibacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semangat donk!" ujar Bambang dan berlalu pergi menyapa teman-teman yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, Taqi mau ujian akhir. Doakan ya bang, supaya Taqi dapat hasil yang baik dan bisa kuliah kayak abang. Abang jadi kan menguliahkan Taqi? Taqi mau ambil jurusan kedokteran di UGM bang. Kata guru Taqi, Taqi insya Allah bisa lulus disana. Bisa kan Bang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa dan harus bisa. Taqi ga' boleh kalah. Walaupun sekarang abang belum punya uang, abang akan menguliahkan Taqi nanti di UGM. Tapi dengan syarat Taqi harus benar-benar belajar. Jangan lupa doakan bapak dan mamak setiap selesai shalat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya bang. Taqi akan rajin belajar. Taqi mau jadi dokter spesialis. Taqi mau bantu banyak orang yang ga' mampu berobat. Taqi janji akan rajin, Bang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus. Nanti kalau butuh uang atau buku, &lt;i&gt;misscall&lt;/i&gt; abang lagi ya? biar abang yang menelpon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya bang, Assalamu'alaikum"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wa'alaikum Salam!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo Sur, cuma kamu yang belum bayar. Teman-teman dah pada bayar semua tuh!" Bambang mengingatkan Mansur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa jadinya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"250 ribu aja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti disana ngeluarin uang lagi ga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ga' lagi. Itu udah semua." terang Bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ko' murah?" tanya Mansur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya iyalah. Bambang gitu loch..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari perjalanan pun tiba. Bus melaju kencang melewati jejalanan yang datar berbelok-belok. Ada pepohonan disamping jalan tersebut yang diselingi oleh beberapa rumah dan pertokoan. Pemandangan yang benar-benar menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara zamrud khatulistiwa nan subur lagi permai. Pemandangan yang elok di pandang mata dan menentramkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mansur tidak benar-benar menikmati perjalanannya kali ini sebagaimana teman-temannya yang lain. Dalam pikirannya adalah dosa yang besar yang telah ia lakukan dengan berlibur bersenang-senang di Bali tanpa memikirkan tentang bagaimana caranya kelak mendapatkan uang jika-jika adiknya meminta. Ia tak lagi mempunyai uang berlebih untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Sur? Suntuk banget keliatannya?" Imran bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, masa' sih..? Aku lagi nikmatin pemandangan ko'..." Mansur berkelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya dah. Aku tidur dulu ya? nanti kalau dah sampai ke selat bali dan kita dah naik kapal, bangunin aku ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yup.." jawab Mansur tanpa mengubah pandangan ke deretan pepohonan yang berdiri kokoh di samping jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, Taqi dah selesai ujian. Sekarang lagi bimbingan tuk ujian masuk perguruan tinggi. Kata guru Taqi, setiap orang membayar 500 ribu. Paling lambat bulan depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O iya. Nanti ingatkan abang lagi ya? Abang lagi dengan teman-teman nih, belum sempat ngirimkan uang untuk Taqi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya bang. Guru Taqi pun bilang ke Taqi ga' usah buru-buru di bayar. Kalau abang ada uang aja dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Nanti segera Abang bayar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abang lagi dimana ni bang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm.. ini Taqi. Abang lagi dengan teman abang. Lagi di bus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau kemana, Bang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm.. mau ke rumah kawan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo.. hati-hati ya, Bang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Assalamu'alaikum"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wa'alaikum Salam..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Degup jantung Mansur berdetak kencang setelah ia menutup pembicaraan tadi. Ada rasa bersalah yang sangat besar di dadanya. Tak tahu kenapa, rasanya ia ingin membatalkan semua acara ini. Oh, tidak semua, minimal untuk dirinya saja. Ia ingin menarik uang 250 ribu itu dan kembali ke Surabaya, tak jadi ke Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teman-teman. Ini acara kan acara kita semua. Jadi ayo, kita foto bersama untuk kebersamaan kita!" ujar Bambang mengomando.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman Mansur pun berebut tempat di depan. Sementara Mansur, berfoto tanpa arah. Tak ada semangat. Kalau saja tidak ada kata-kata 'kebersamaan' yang diucapkan oleh Bambang tadi, ia tidak akan mau untuk berfoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cees...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teman-teman. Tolong yang tidur di bangunin. Kita akan sampai di Pantai Kuta lima menit lagi. Saran saya, supaya ga' basah atau apa gitu, barang-barangnya nanti di tinggal aja. Kan kasihan kalau bawa hp dan nanti basah di sana!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sms-an, Bang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngupdate status fb woi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya gpp kalau mau bawa hp atau apa pun. Tapi ya di jaga sendiri. Saya cuma nyaranin." Ucap Bambang menengahi keberatan teman-temannya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai kuta terasa terik. Tak tahu kenapa, panasnya pantai kuta siang itu melebihi panasnya kota Surabaya. Mansur dan teman-temannya memilih untuk duduk-duduk santai terlebih dahulu di bawah pohon. Bola kaki yang telah di persiapkan pun, masih di pegang dan belum ada yang mau memulai untuk menendangnya ke pinggiran pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah.. ga' kayak di tv yo?" Ujar Mansur sedikit bercanda. Ia berusaha untuk melupakan sejenak beban adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Di tv ko' indah gitu ya? Tapi ya biasa-biasa aja tuh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ntah.. tertipu kita jadinya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan tertipu. Sekarang kan lagi musim penghujan. Ya pantainya agak kotor karena daun-daun gugur di hembus angin. Ikan-ikan pun banyak mati!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah.. ngarang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beneran.. Itu lho berita di tv!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ntahlah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hayo woi, main bolaaaa..." Zaki tiba-tiba berteriak membuyarkan diskusi tentang pemandangan pantai kuta. Di tendangnya bola dan ia pun di kejar beramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Allah.. apakah ini yang namanya dosa? Engkau begitu sayang padaku sampai-sampai belum aku bertindak lebih lanjut Engkau telah mengingatkanku. Aku sadar ya Allah. Aku khilaf!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kewajibanku sebagai seorang Abang adalah mengayomi adik. Bukannya membiarkan adik terlantar. Sementara aku, abangnya, asyik berlibur bersama teman-teman semua dengan dalih kebersamaan. Aku khilaf ya Allah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Andai Kau mengizinkanku untuk memutar waktu. Aku akan tolak semua ajakan teman-teman itu. Aku akan menggunakan uang liburanku kali ini untuk membiayai bimbingan ujian masuk perguruan tinggi. Aku tidak akan egois dengan memilih kesenanganku dan merasakan penderitaan adikku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taqi. Andai kau ada di depanku adikku, ingin rasanya aku memelukmu dan meminta maaf atas segala kekhilafan Abang. Abang khilaf dek. Abang khilaf!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Allah. Tak ada dayaku. Aku tak punya siapa-siapa lagi di sini. Aku pun tak punya apa-apa lagi di sini. Semuanya telah pergi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woi, Mansur mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Astaghfirullah.. ga' ada, Mbang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Supir, berhenti!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;i&gt;Misscall&lt;/i&gt; dulu dah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, hp nya di tas ini semua. Dia ga' bawa apa-apa loh woi.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya dah balik-balik..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak supir. Balik Pak, kawan kita tinggal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus berhenti. Bambang sebagai ketua rombongan keluar disusul teman-temannya. Semuanya mencari dimana Mansur di tengah keramaian yang masih saja terjadi di pantai Kuta saat malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba tanya tukang jual nasi itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah.. kamu aja. Ku ga' tau bahasanya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lah itu Mansur!... Sur.. Mansur..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah.. kalian ninggalin aku gitu aja woi..." ujar Mansur. Air di matanya hampir jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ga' sadar kami, Sur. Kecape'an"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untung aja belum jauh. Sempat dah pulang ke Surabaya baru sadar, wah mati aku mungkin disini. Mana hp dan baju semua di bus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wes.. yuk, di bus ceritanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah.. kami minta maaf, Sur! Kami ga' tau kamu ada masalah kayak gini. Kami kira kamu ya senang-senang aja ikutan liburan ke bali. Eh, ternyata..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minta maaf, Mbang! kamu kan yang maksa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan nuduh gitu dong... ini kan untuk kebersamaan kita juga!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya bersama-bersama. Tapi pikirkan jugalah keadaan teman-teman kita. Kita kan tahu selama ini Mansur memang gitu. Dia ga' akan pernah nolak kalau kita mau senang-senang, walaupun ya kita tahu sendiri, dia berjuang mati-matian membiayai sekolah adiknya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mansur masih saja terdiam dan meneteskan air mata. Di palingkannya wajahnya ke arah jalan. Semuanya telah tumpah dan teman-temannya telah tahu. Tak ada lagi yang perlu di tutup-tutupi dan semuanya telah terjadi. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana bisa pulang, itu yang ada dalam pikiran Mansur. Pulang dan memikirkan biaya adiknya, itu tentunya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sur, ku minta maaf, Sur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm..." ujar Mansur tak berpaling sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti aja Mbang. Biar Mansur nenangin diri dulu." Ujar salah seorang temannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, gimana uangnya? Udah ada kan? Udah akhir bulan, Bang. Taqi malu sama guru kalau terlambat terus. Walaupun guru memaklumi ya kita kan harus tetap berusaha kan, Bang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Nanti sore Abang kirim ya? Abang lagi kuliah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bluk..." Mental Mansur pun jatuh mendengar ucapan adiknya melalui telepon tersebut. Ia tak tahu harus melakukan apa untuk dapat mengirim uang kepada adiknya yang berada di Medan. Setidaknya, ada satu cara yang harus di tempuhnya, minjam kepada teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kelas perkuliahan, tanpa di ketahui oleh Mansur, Bambang mengumpulkan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Alhamdulillah kita telah bersama-sama ke Bali. Kita telah memperlihatkan bahwa kebersamaan kita bukan cuma di bangku kuliah saja, tetapi di mana-mana kita tetap bersama dan selalu bersama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ada satu hal yang mungkin kita harus lakukan bersama-sama juga nih, Mbang!" ujar Imran. "Kita kan tahu Mansur sekarang lagi pusing dengan biaya adiknya. Ya atas nama kebersamaan juga, bagaimana kita nyumbang-nyumbanglah. Ya untuk meringankan beban teman kita. Kan ga' enak kalau kita senang aja yang bersama. Tapi sedihnya di tanggung Mansur sendiri!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Usul bagus tuh. Kasihan loh si Mansur!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan senyum dari semua mahasiswa yang berada di kelas tersebut pun merekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain pada waktu yang sama, Mansur kelihatan bingung. Ia bingung mau meminjam uang ke siapa. Toh, teman-teman semua habis liburan di Bali dan hampir dipastikan tidak mempunyai uang lebih lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sur, aku mau bicara sebentar." Sapa Bambang dan mengajak Mansur ke tempat yang agak sepi. "Gimana kabar adikmu? Dah selesai ujiannya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah Mbang. Sekarang lagi bimbingan ujian masuk perguruan tinggi. Doakan aja sebulan lagi dia ujian di UGM tuk ngambil kedokteran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti dah... kita sama-sama mendoakan ko' untuk kebaikan kita semua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makasih, Mbang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang pun mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang selalu melingkar di pinggangnya. "Ini, Sur. Teman-teman sepakat tuk bantu kamu tadi di kelas. Atas nama kebersamaan gitu lah..." Bambang memberikan sambil tersenyum..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mansur tak dapat berkata-kata. Ada keringanan di pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;; Bali 23 Januari 2009 dan selesai di Surabaya, 26 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-1082473688847928120?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/1082473688847928120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/atas-nama-kebersamaan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1082473688847928120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1082473688847928120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/atas-nama-kebersamaan.html' title='Atas Nama Kebersamaan'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-4021293590720383658</id><published>2010-01-24T01:48:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T01:50:16.872-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel lepas'/><title type='text'>[Oleh-Oleh] Saya Menemukan Arti 'Kampung Ilmu' di Bali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt; Ketika saya mencanangkan impian untuk memajukan kampung halaman saya dengan membangun kampung ilmu untuk membangkitkan semangat baca-tulis dan pengembangan diri, saya sering kelabakan ketika ditanya tentang konsep hingga kegunaan 'kampung ilmu' yang saya gagas 2019 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mang mau dibawa kemana kampungnya? sejauh berapa kilometer?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Minat membaca dan menulis di kampung itu susah lho? ga' semudah kamu sekarang!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi, yang intinya adalah mempertanyakan arti penting "kampung ilmu". Dan ketika dihadapkan pada persoalan itu, saya sendiri sering bertanya-tanya pada diri sendiri, &lt;i&gt;apa memang benar saya bisa membangunnya? lah, saya ini siapa ko' mau membangun yang begituan?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, apa pun ceritanya, saya hanya bisa bermimpi dan berharap mimpi itu menjadi kenyataan. Toh, banyak orang yang bilang bahwa dunia pun di bangun atas mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 20 Januari 2010, saya bersama teman-teman kampus sepakat untuk berlibur di bali. Bagi saya sendiri, Bali merupakan tempat yang belum saya singgahi selama ini. Artinya, ini adalah pengalaman pertama saya ke bumi dewata ini, yang menurut apa yang saya lihat di tv dan saya baca di berbagai tempat, bali merupakan daerah yang kaya akan keindahan eksotik; baik daerahnya maupun pengunjungnya yang kebanyakan turis-turis asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun berangkat tepat pada pukul 11.00 siang. Menikmati perjalanan Surabaya-Bali yang di penuhi oleh gedung-gedung bertingkat. Tak salah memang jika ada yang mengatakan bahwa Indonesia itu Indah, ketika saya membuktikannya dengan pemandangan yang terpampang di setiap jengkal perjalanan yang saya alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada malam harinya, kami pun menyebrang laut, setelah berhenti sejenak di Pasuruan. Pemandangan laut di malam hari, tak kalah indah dengan pemandangan laut di siang hari. Lampu-lampu yang berkelap-kelip dan hembusan angin malam menambah kenikmatan perjalanan. Apalagi, karena bersama teman-teman, diselingi dengan gurauan yang menimbulkan senyuman. &lt;i&gt;It's Amazing Journey!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, tepat di pagi harinya, tepatnya pukul 05.13 WITA, saya dan teman-teman telah menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tanah Lot yang berada di bali. Daerah yang sangat jauh dari polusi udara karena terletak di pinggir laut ini begitu indah. Setidaknya menurut saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30436250&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=264570653044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=264570653044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs198.snc3/20575_1192111802803_1228629244_30436250_2494821_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="caption"&gt;Tanah Lot, Bali&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;Daerah ini, menurut penuturan orang bali sendiri, adalah daerah yang hanya bisa dilewati saat air laut surut saja. Ketika air laut pasang, daerah ini akan terendam oleh air. Candi-candi disana tidak akan dikunjungi. Namun anehnya, walau pun yang merendam adalah air laut, tetapi air yang berada di dalam gua di tanah Lot tersebut, tidak menjadi asin. Air yang disana tetap menjadi air tawar yang dapat di minum, dan kata-katanya memudahkan jodoh. [Saya sempat meminum juga he he he...:D]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30436251&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=264570653044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=264570653044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs198.snc3/20575_1192112802828_1228629244_30436251_7440157_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="caption"&gt;Pulau Penyu, Bali&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;Setelah berlama-lama disana, kami pun melanjutkan perjalanan ke Tanjung Benoa yang dilanjutkan dengan perjalanan laut menuju pulau penyu yang melestarikan penyu-penyu raksasa berumur 10-70 tahun lebih. Pemandangan yang sungguh, benar-benar, membuktikan bahwa Indonesia ini benar-benar indah dan menarik pandangan mata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selanjutnya, perjalanan pun kami lanjutkan ke Pantai Kuta, tempat yang selama ini sering saya dengar namun tidak pernah saya lihat. Namun sayang, sebagaimana yang sering di beritakan oleh tv akhir-akhir ini, pulau dewata tampak kotor dengan onggokan sampah yang menumpuk dan bangkai-bangkai ikan yang terdampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30436294&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=264570653044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=264570653044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs178.snc3/20575_1192116042909_1228629244_30436294_7602757_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="caption"&gt;Pantai Kuta, Bali&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;Namun demikian, kami tetap menikmati liburan ini. Setidaknya kami masih dapat bermain bola kaki di pinggir pantai. Terkadang bola yang kami sepak terbang ke tengah laut dan diseret ombak, dan kami pun mengejarnya dengan tawa dan canda. Benar-benar pengalaman yang menarik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bermaksud berlama-lama dalam 'oleh-oleh' kali ini, saya hanya ingin menyampaikan suatu hal yang menarik dan saya dapatkan itu selama keberadaan saya di bali. Bahwa, kebanyakan orang bali dapat dengan lancar berbicara dengan bahwa inggris walau pun hanya seorang pedagang asongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentu menarik bagi saya karena, saya yang mendapatkan pendidikan hingga kini, belum 'cukup' berani untuk bertutur inggris. Walaupun &lt;i&gt;vocab&lt;/i&gt; telah saya kuasai ketika 'mondok' dahulu, namun keberanian untuk &lt;i&gt;practice&lt;/i&gt; belum juga saya temukan. Tak tahu kapan keberanian itu akan muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan kenyataan seperti inilah, saya kini dapat menjawab bahwa kampung ilmu, yang saya ceritakan diatas, saya bangun agar dapat bersama-sama membangun minat baca dan tulis serta pengembangan diri. Karena, sebagaimana tulis Gola Gong dalam bukunya "Jangan Mau Ga' Nulis Seumur Hidup", sebuah komunitas itu sangat penting bagi seseorang. Jika seseorang berada di komunitas yang 'benar' maka benarlah ia, dan sebaliknya jika itu salah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi! Apakah saya bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, saya teringat dengan tulisan yang terukir diatas batu nisan Westminster Abbey, salah seorang arsitek kerajaan Inggris yang sangat terkenal di zamannya. Di atas makam tersebut tertulis beberapa patah kata sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia agar menjadi lebih baik. Lalu, seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tiada pernah menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, cita-cita itu pun agak ku persempit. Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku sendiri. Namun tampaknya hasrat itu tiada membawa hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, lalu kuputuskan untuk hanya mengubah keluargaku sendiri. Yakni orang-orang yang paling dekat denganku. Namun celakanya, mereka pun ternyata tidak mau berubah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari ini sementara aku berbaring untuk menanti datangnya ajalku. Tiba-tiba saja kusadari, seandainya saja dulu aku berpikir bahwa yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri. Dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku akan bisa mengubah keluargaku terlebih dahulu. Lalu, berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku akan mampu memperbaiki negeriku. Kemudian, siapa tahu dengan begitu aku bahkan bisa mengubah potret dunia ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, sebelum 2019, saya harus menempa diri saya terlebih dahulu untuk dapat menempa lingkungan saya. Saya harus mengembangkan kemampuan terlebih dahulu sebelum menyalurkan kemampuan itu kepada orang lain. Dan saya harus belajar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;;Catatan perjalanan ke bali 20-23 Januar 2010&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-4021293590720383658?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/4021293590720383658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/oleh-oleh-saya-menemukan-arti-kampung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4021293590720383658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4021293590720383658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/oleh-oleh-saya-menemukan-arti-kampung.html' title='[Oleh-Oleh] Saya Menemukan Arti &apos;Kampung Ilmu&apos; di Bali'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-4537323533170272227</id><published>2010-01-19T09:24:00.001-08:00</published><updated>2010-01-19T09:31:08.759-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Mengisi Masa Muda Dengan Nasehat Dale Carnegie</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S1XsL2uZVBI/AAAAAAAAAVE/KhRSHxx8NZM/s1600-h/ihwx.f2f8c04f-0661-4024-a311-1763000037c6.171.150.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 150px; height: 171px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S1XsL2uZVBI/AAAAAAAAAVE/KhRSHxx8NZM/s200/ihwx.f2f8c04f-0661-4024-a311-1763000037c6.171.150.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428504614277829650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Buku 50 Success Classics karya Tom Butler-Bowdon&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;Saya beruntung sekali malam ini dapat memulai membaca buku &lt;i&gt;50 Success Classics&lt;/i&gt; karya pakar literatur pengembangan diri dan juga penulis buku laris berjudul &lt;i&gt;50 Self-Help Classics&lt;/i&gt;. Ia adalah Tom Butler-Bowdon, penulis yang meraih &lt;i&gt;Benjamin Franklin Award (US)&lt;/i&gt; pada tahun 2004 untuk kategori psikologi dan pengembangan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa beruntung karena, saat saya menulis tulisan ini, saya telah mendapatkan banyak makanan bergizi yang bisa menjadi nutrisi bagi jejaring otak dan pikiran saya. Saya belum menyelesaikan kata pengantar buku ini, tetapi saya telah mendapatkan satu buah kalimat &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S1Xr3MZ5spI/AAAAAAAAAU8/ThzfapGWqKc/s1600-h/bagaimana_mencari_kawan_%26_mempengaruhi_orang_lain.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S1Xr3MZ5spI/AAAAAAAAAU8/ThzfapGWqKc/s200/bagaimana_mencari_kawan_%26_mempengaruhi_orang_lain.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428504259320197778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;menggerakkan yang dilontarkan oleh Dale Carnegie, penulis buku best seller &lt;i&gt;How to Win Friends and Influence People&lt;/i&gt; yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi &lt;i&gt;Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30429549&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=256938178044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=256938178044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;Deretan kata bergizi tersebut diangkat Tom Butler-Bowdon di kata pengantarnya pada halaman xv buku edisi bahasa Indonesia &lt;i&gt;50 Success Classics&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Orang yang mencari pertumbuhan harus merendam dan menyamak pikirannya terus menerus dalam tong-tong bahan bacaan!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan kalimat Dale Carnegie, Anthony Robbins, masih mengutip dari buku yang sama, mengatakan bahwa &lt;i&gt;kesuksesan meninggalkan petunjuk dan membaca adalah salah satu cara terbaik untuk menyerap petunjuk semacam itu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpengaruh oleh ucapan menggairahkan dari Dale Carnegie tersebut, saya pun mencoba untuk &lt;i&gt;searching&lt;/i&gt; di &lt;i&gt;google&lt;/i&gt; mengenai riwayat hidupnya. Dan saya pun tercengang ketika membaca riwayat hidup Dale Carnegie tersebut di &lt;i&gt;Wikipedia.Org&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30429551&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=256938178044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=256938178044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S1XrqNL3h3I/AAAAAAAAAU0/8Ayb8KLI7a4/s1600-h/dale_carnegie.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 153px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S1XrqNL3h3I/AAAAAAAAAU0/8Ayb8KLI7a4/s200/dale_carnegie.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428504036191471474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Dale Carnegie lahir di tahun 1888 di Maryville, Missouri. Carnegie adalah seorang anak petani yang tidak mampu. Ia adalah putra kedua dari pasangan James William Carnagey (lahir Indiana, Februari 1852) dan Amanda Elizabeth Harbison (lahir Missouri, Februari 1858). Dalam masa remajanya, ia bangun pukul 4 tiap pagi memerah sapi milik orangtuanya dan lalu pergi sekolah di State Teacher's College di Warrensburg. Pekerjaannya setelah selesai sekolah adalah memberikan kursus korespondensi kepada para peternak, lalu menjual bacon, sabun dan lemak babi kepada Armour &amp;amp; Company. Ia sangat sukes melakukan penjualan di wilayah Omaha Selatan di Nebraska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menabung $500, Carnegie berhenti berjualan pada tahun 1911 guna mengejar impiannya untuk menjadi pengajar di Chautauqua. Namun malahan ia masuk ke American Academy of Dramatic Arts di New York, namun karirnya sebagai aktor tidak begitu sukses. Salah satu perannya adalah menjadi Dr. Hartley dalam pertunjukkan Polly of the Circus. Ketika produksi berakhir, ia menjadi pengangguran dan hampir bangkrut. Ia tinggal di the YMCA di 125th Street. Disanalah ia mendapatkan ide untuk mengajarkan public speaking. Ia meyakinkan manajer YMCA tersebut agar mengizinkannya mengajar sebuah kelas dengan pengembalian profit 80%. Dalam sesi pertamanya, ia kehabisan materi; namun ia tidak kehabisan akal, ia meminta murid-murid di kelasnya "menceritakan sesuatu hal yang membuat mereka bisa marah", dan menemukan bahwa teknik itu membuat mereka tidak takut lagi untuk berbicara di depan orang banyak. Dari debut tahun 1912 ini, dibentuklah Dale Carnegie Course. Carnegie telah meningkatkan hasrat orang Amerika untuk memiliki kepercayaan diri, dan pada tahun 1914, ia telah menghasilkan keuntungan $500 - sekitar $10,000 untuk ukuran saat ini- per minggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin salah satu gebrakan marketing Carnegie yang paling fenomenal adalah pengubahan ejaan nama belakangya dari “Carnegey” menjadi Carnegie, dimana pada saat yang sama Andrew Carnegie (tidak ada hubungan darah) menjadi sangat terkenal. Pada tahun 1916, Dale telah mampu untuk menyewa Carnegie Hall untuk memberikan pengajaran dan traininge. Koleksi pertama tulisannya adalah Public Speaking: a Practical Course for Business Men (1926), kemudian judulnya diubah lagi menjadi Public Speaking and Influencing Men in Business (1932). Namun, pencapaiannya yang paling luar biasa saat Penerbit Simon &amp;amp; Schuster menerbitkan buku Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain. Dari debutnya di tahun 1937, dalam beberapa bulan kemudian telah mencapai cetakan yang ke-17. Setelah wafatnya Carnegie pun, buku tersebut telah mencapai penjualan 5 juta kopi dan diterjemahkan ke dalam 31 bahasa. Lalu Dale Carnegie Institute yang didirikannya telah menghasilkan 450.000 orang lulusan. Ia tercatat telah memberikan sebanyak 150 ribu pidato dalam partisipasinya di berbagai program pendidikan. Pada masa perang dunia I, ia bergabung dalam militer AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan pertamanya berakhir dengan perceraian tahun 1931. Pada 5 November 1944, di Tulsa, Oklahoma, ia menikah lagi dengan Dorothy Price Vanderpool, yang juga nantinya bercerai. Vanderpool punya 2 putri; Rosemary, dari pernikahan terdahulu, dan Donna Dale dari Carnegie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carnegie meninggal di Forest Hills, New York, pada tanggal 1 November 1955, dan dimakamkan di Belton, Cass County, Missouri. Biografi resmi dari Dale Carnegie &amp;amp; Associates, Inc. menyebutkan bahwa ia menderita penyakit Dodgkin.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sampai disini, saya harus benar-benar mengakui bahwa saya, yang saat ini telah menginjak usia 21 tahun, telah kalah jauh ketimbang Dale Carnegie remaja. Saat ia telah memikirkan masa depannya di usia belia, saya malah baru memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada permasalahan 'membaca' yang menurut Dale Carnegie adalah sebuah keharusan bagi para pencari pertumbuhan [remaja], saya ingin melihat kembali apa yang dituliskan oleh Hernowo dalam bukunya &lt;i&gt;Mengikat Makna Update&lt;/i&gt; dalam menyikapi pemikiran Muhammad Iqbal berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30429555&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=256938178044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=256938178044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S1XrbkKOJRI/AAAAAAAAAUs/P7ijQbKERjg/s1600-h/13065_173142114796_678704796_2755044_1037982_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S1XrbkKOJRI/AAAAAAAAAUs/P7ijQbKERjg/s200/13065_173142114796_678704796_2755044_1037982_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428503784660542738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Dalam buku saya yang ke-33, Membacalah agar Dirimu Mulia, saya menegaskan betapa bermanfaatnya membaca untuk menaikkan derajat diri kita. Membaca bukan sekedar membuat diri kita kaya akan pengetahuan. Membaca juga bukan sekedar meluaskan wawasan kita. Bahkan membaca tidak harus berhenti hanya untuk keperluan studi, misalnya, membuat skripsi atau karya ilmiah yang lain. Membaca lebih dari itu. Membaca, seperti kata Iqbal, menjadikan diri kita sebagai tenaga kreatif, ruh yang membumbung tinggi, yang dalam bergerak maju, bangkit dari satu keadaan menuju keadaan yang lain. Atau membaca akan membuat diri kita, sebagai manusia, dapat menyelidiki kebenaran.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah pentingnya membaca bagi kehidupan manusia. Tidak salah bila kemudian kita menyimpulkan bahwa Allah, menurunkan surah al-Alaq ayat 1-5 sebagai ayat yang pertama; yang mendahului kewajiban atau perintah-perintah yang lainnya. Toh, disana juga dengan jelas Allah berfirman, &lt;i&gt;"Membacalah dengan nama Tuhan-mu yang telah menciptakan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tulisan ini, saya ingin menuliskan kembali kata-kata provokatif Tom Butler-Bowdon dalam bukunya yang sedang saya baca ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Lihatlah kebiasaan orang sukses, maka Anda akan menemukan bahwa mereka biasanya para pembaca yang hebat. Banyak pemimpin dan penulis yang diliput di buku ini menghubungkan titik balik dalam kehidupan mereka dengan membaca buku-buku tertentu. Bila Anda membaca tentang berbagai prestasi dari orang-orang yang Anda kagumi, mau tak mau wawasan Anda akan meningkat.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membaca, dan berbagilah dengan menuliskannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;; Catatan Membaca 2010&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-4537323533170272227?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/4537323533170272227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/mengisi-masa-muda-dengan-nasehat-dale.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4537323533170272227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4537323533170272227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/mengisi-masa-muda-dengan-nasehat-dale.html' title='Mengisi Masa Muda Dengan Nasehat Dale Carnegie'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S1XsL2uZVBI/AAAAAAAAAVE/KhRSHxx8NZM/s72-c/ihwx.f2f8c04f-0661-4024-a311-1763000037c6.171.150.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-7665934120111657286</id><published>2010-01-18T21:26:00.000-08:00</published><updated>2010-01-18T21:27:16.670-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Saat ini, Saya Sedang Jatuh Cinta!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Jatuh cinta, berjuta indahnya/tak dapat dilukiskan dengan kanvas, tak dapat jua dituliskan dengan deretan kata/ siang ia terbayang hingga terbawa mimpi di malam hari/ The power of Love; The power of live&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa, saya dapat menggambarkan apa yang saya rasakan saat ini dengan untaian puisi di atas. Puisi yang saya tulis langsung dari lubuk hati terdalam ketika merasakan indahnya 'jatuh cinta'. Saya tak memungkiri jika perasaan Anda berbeda dengan perasaan saya. Setidaknya, saya menuliskan apa yang saya rasakan dan saya ingin merasakan lebih dalam, apa yang saya tuliskan tersebut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak kecewa nantinya, kiranya saya perlu untuk menjelaskan apa yang saya pikirkan saat ini. Ketika saya menuliskan judul &lt;b&gt;Saat ini, Sungguh, Saya benar-benar sedang merasakan indahnya 'jatuh cinta'&lt;/b&gt; saya merasa bahwa Anda, para pembaca, akan mencari satu hal yang pasti tentang apa yang saya rasakan ini. Kenapa saya jatuh cinta? Kepada [si]apa saya jatuh cinta? Bagaimana proses hingga saya jatuh cinta? dan lain sebagainya yang akan saya jawab dengan perasaan cinta pula!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kenapa saya jatuh cinta?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya hidup dan saya hidup harus dengan cinta. Saya sadar bahwa saya lahir juga karena cinta ayah saya kepada ibu. Saya juga sadar bahwa saya masih hidup saat ini karena cinta Allah yang masih diberikan kepada saya. Saya pun sadar bahwa saya masih bisa tersenyum saat ini, karena saya memiliki teman dan rekan sejawat yang benar-benar mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, sebagaimana sabdanya &lt;i&gt;Rasulullah SAW&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesadaran akan pentingnya cinta dalam hidup itulah, saya harus jatuh cinta dan menaruh cinta. Untuk apa saya membenci jika saya dikelilingi oleh teman-teman yang mencinta? Untuk apa saya bermuram durja kalau banyak cinta yang menyapa? Itulah cinta, sebuah kekuatan yang mampu menggerakkan yang diam dan membuat diam yang bergerak. Laksana seorang pecinta yang menuruti kata-kata sosok yang dicinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh.. cinta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kepada [si]apa saya jatuh cinta?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm.. saya rasa bagian inilah yang paling Anda cari. Kepada [si]apa saya jatuh cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih dahulu, saya ingin menjelaskan kenapa saya menuliskan [si]apa! karena saya tidak ingin Anda kecewa setelah membaca tulisan ini. [si]apa saya tulis karena saya bukan mencintai siapa-siapa tetapi saya mencintai si "apa". Dan "apa" itu adalah dunia tulis menulis....:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tolong jangan berhenti membaca dan langsung berkomentar setelah membaca bagian ini, karena masih ada kejutan yang lainnya he he he]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya si dunia tulis menulis itu telah membuat saya mabuk kepayang. Bagaimana tidak, misalnya, tadi malam saya tidak tidur hanya karena mabuk menulis. Jam 12 malam, saya telah menyelesaikan 'editan' satu artikel untuk Be-Excellent-Santri. Saya matikan laptop dan saya pun bersiap untuk tidur. Ketika mata ingin saya pejamkan, ide menulispun berkeliaran dan saya tidak tahan untuk menggerakkan tangan kembali menekan tombol power dan laptop pun hidup dan saya pun menulis kembali hingga tak terasa subuh pun tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah subuh saya tertidur dan jam 6 pagi telah bangun dan [lagi-lagi] tak kuasa menahan 'nafsu' untuk bercengkrama dengan tulisan-tulisan saya. Saya begitu tergila-gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh... Cinta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bagaimana Prosesnya hingga saya jatuh cinta?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu kapan perasaan ini muncul. Saya hanya mengetahui bahwa perasaan itu muncul tiba-tiba ketika saya 'memaksakan' diri untuk terus menulis dan menulis. Walaupun terkadang tulisan itu tidak selesai, tidak menarik bahkan terkadang memalukan diri saya sendiri. Saya merasakan perasaan itu muncul dan langsung mendekap saya dengan mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus menulis sejak saya masih &lt;i&gt;mondok&lt;/i&gt; di Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah. Saya semakin giat ketika saya melanjutkan pendidikan di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dan kini, saya benar-benar telah merasakan bagaimana indahnya 'jatuh cinta' pada dunia tulis menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anda pun bisa jatuh cinta!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, melalui buku pertama saya, saya pun berharap Anda bisa merasakan apa yang saya rasakan kini. Saya merasa ada yang hilang ketika saya tidak membelai &lt;i&gt;tuts&lt;/i&gt; laptop saya dan memandang mesra deretan kata dalam layarnya. Saya merasa saya telah mengacuhkan 'panggilan sayang ide' ketika mereka menyapa. Begitu mesranya. Dan saya berharap, Anda pun bisa jatuh cinta [pada dunia tulis menulis].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;; Catatan Radinal Mukhtar Harahap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, ditengah kesunyian, Selasa 19 Januari 2010. Pukul 12.17 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-7665934120111657286?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/7665934120111657286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/saat-ini-saya-sedang-jatuh-cinta.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7665934120111657286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/7665934120111657286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/saat-ini-saya-sedang-jatuh-cinta.html' title='Saat ini, Saya Sedang Jatuh Cinta!'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-3904313583442656957</id><published>2010-01-16T04:20:00.000-08:00</published><updated>2010-01-16T04:21:17.130-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>[Oleh-Oleh] Pertemuan dengan K.H. Shalahuddin Wahid</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Tidak ada Indonesia tanpa adanya Islam. Tidak berkembang islam, di Indonesia pada masa pra kemerdekaan, tanpa adanya eksistensi pesantren dan juga santri&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat menggerakkan yang saya tulis diatas saya dengar secara langsung dari KH. Ir. Shalahuddin Wahid ketika menghadiri pembinaan santri Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di pesantren Miftahul Ulum Al-Yasini, Areng-areng, Pasuruan. Taushiyah Gus Sholah, begitu beliau biasa dipanggil, begitu menyadarkan saya tentang eksistensi santri dan pondok pesantren di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut beliau, kesimpulan tersebut terinspirasi oleh tulisan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah jilid I. Buku yang menjanjikan, sebagaimana ditulis dalam sampul depan buku tersebut, perubahan paradigma kemerdekaan Indonesia dari paradigma perjuangan pahlawan menjadi paradigma perjuangan para santri dan juga tokoh pesantren ini telah membuktikan apa yang dilontarkan oleh E.F.E Douwes Dekker Danudirja Setiabudi berikut ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jika tidak karena sikap dan semangat para ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membahas hal ini lebih lanjut, saya ingin menuliskan kembali apa yang pernah saya tulis dalam artikel saya yang berjudul &lt;i&gt;Be Excellent Santri, Why Not?&lt;/i&gt; tentang pendapat Aji Hermawan, seorang pakar manajemen dan sumber daya manusia dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga menjabat sebagai Direktur Recognition and Mentoring Program (RAMP) IPB itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Indonesia tidak akan pernah mengalami kemerdekaan tanpa peran pesantren melalui santri-santrinya. Berbagai riset dan penelitian yang dilakukan banyak pakar maupun Indonesianis (sebutan peneliti asing yang meneliti Indonesia), selalu menemukan bahwa pesantren sangat berperan penting dalam mewarnai perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Ini dapat dilihat melalui resolusi jihad (seruan berjuang mempertahankan NKRI dari penjajah) yang dikeluarkan oleh pengasuh pesantren Tebuireng, KH. Hasyim Asy’ari. Melalui resolusi jihad tersebut lahirlah peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini, saya rasa, penting untuk saya sadari secara pribadi, dan mungkin bisa pembaca rasakan juga, bahwa dalam pergerakan kebangsaan Indonesia, sebagaimana diterangkan oleh Gus Sholah dalam mengawali tulisan saya ini, eksistensi dan entitas santri sangat berperan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini, saya berharap, kekhawatiran dari Ahmad Zahid Ali, editor &lt;i&gt;majalah santri&lt;/i&gt; akan eksistensi dan entitas santri dalam pendidikan di Indonesia dapat terjawab. Bahwa santri adalah bagian terpenting dalam bangsa Indonesia, dan sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 31 ayat 1 mengatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan [dan juga berprestasi dalam hal ini].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Santri tak pantas berprestasi. Karena kini bukanlah zamannya santri berfokus pada ilmu-ilmu keagamaan. Santri juga harus menimba ilmu-ilmu duniawi yang menyebabkan waktu dan konsentrasi santri menjadi 'agak' terpecah. Sudah menjadi rahasia umum, santri membudaya menjadi sosok yang disibukkan dengan banyak hal tentang kajian-kajian kitab, pendalaman bahasa arab, maupun pendekatan spiritualitas dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas shalat sunnah, puasa sunnah dan lain sebagainya. Ketika waktu sudah demikian padatnya, bagaimana meluangkan waktu hanya untuk sekedar mendalami ilmu-ilmu duniawi [dalam kaitannya dengan ilmu-ilmu umum]? Secara logika sederhana, persentasi untuk memenuhinya tak lebih dari 50%. Jika kemudian dituntut untuk ikut berprestasi, bukankah gaungnya akan terhempaskan oleh prestasi dari pelajar umum? sehingga timbullah pernyataan, "Santri tak pantas berprestasi!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kata-kata kegelisahan yang diutarakan oleh Ahmad Zahid Ali dalam &lt;i&gt;majalah santri volume I November 2009&lt;/i&gt;. Kegelisahan, yang menurut saya, dapat menjadi renungan bagi saya seorang santri, dan bagi yang merasa santri [dan bukan mantan santri].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Santri, dalam pengertiannya sebagai seorang pengkaji ilmu agama, bukan cuma harus menggali pendidikan agama saja,"&lt;/i&gt; ini diutarakan oleh Gus Shalah malam ini, &lt;i&gt;"karena dalam agama islam, seorang muslim itu harus dapat membaca seluruh ayat Allah yang tertuang dalam teks [al-qur'an dan al-hadis], dalam alam [ayat kauniah yang sangat berkaitan erat dengan sains dan tekhnologi] dan juga dalam diri manusia itu sendiri.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berjuang para santri, jasamu dibutuhkan untuk membangun bangsa ini. Perananmu dalam segala sektor kehidupan sedang dinanti. Untuk apa lari atau bahkan bunuh diri, untuk sebuah pengabdian nan suci!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;; Catatan Pertemuan Santri Berprestasi Departemen Agama&lt;br /&gt;Radinal Mukhtar Harahap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasuruan, 16 Januri 2010. Pukul 00.19 setelah perkumpulan selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-3904313583442656957?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/3904313583442656957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/oleh-oleh-pertemuan-dengan-kh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3904313583442656957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3904313583442656957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/oleh-oleh-pertemuan-dengan-kh.html' title='[Oleh-Oleh] Pertemuan dengan K.H. Shalahuddin Wahid'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-3248064258766690763</id><published>2010-01-13T16:44:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T16:45:36.303-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Mengapa Saya Harus Terus Menulis?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;Sekali lagi, dalam beberapa hari ini, saya mendapatkan ide menulis dari komentar teman-teman terhadap tulisan saya. Ketika saya menulis tentang &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=246084083044&amp;amp;h=2ead562d78f3b2cce9e7a47e58d9963f&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fnotes.php%3Fref%3Dsb%23%2Fnotes.php%3Fid%3D1228629244" target="_blank" title="http://www.facebook.com/notes.php?ref=sb#/notes.php?id=1228629244"&gt;Bagaimana Cara Mendapatkan Ke-Asyik-an Menulis&lt;/a&gt; dan menyimpulkan bahwa caranya adalah dengan terus menulis, salah satu pembaca mengatakan bahwa hal ini adalah biasa! biasa, ya sangat biasa sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mengapa saya harus terus menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah menulis, sebenarnya sama saja dengan tips menulis yang selalu dipaparkan oleh banyak penulis besar, yaitu menulis, menulis dan menulis. Begitu pula dengan rumus 3 L dalam menulis yaitu Latihan (menulis), latihan dan latihan. Artinya semua tips itu mengatakan bahwa untuk menjadi seorang yang bisa menulis bahkan ahli, sebagaimana dikatakan Daniel Letivin, kita harus terus menulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dalam berbagai penelitian, terhadap komponis, pemain bola basket, penulis novel fiksi, pemain ski, pianis konser, pemain catur, penjahat kelas kakap, dan apa pun pekerjaan Anda, angka 10.000 jam selalu muncul berulang kali. Belum pernah ada yang menemukan seseorang menjadi ahli kelas dunia dengan waktu latihan yang lebih sedikit. Sepertinya otak membutuhkan waktu sepanjang itu untuk menyerap semua yang dibutuhkan untuk menjadi seorang yang ahli di bidangnya”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 10.000 yang dipatok oleh Letivin tersebut telah jelas menggambarkan bahwa proses terus-menerus, atau dalam bahasa agamanya istiqomah, adalah harga mati untuk sebuah kesuksesan. Karena kesuksesan yang didapat tanpa proses istiqomah atau terus-menerus, akan cenderung bersifat sesaat dan kemudian hilang begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, beberapa tahun yang lalu, kita banyak mengenal penyanyi-penyanyi bagus yang dihasilkan dari beberapa acara di televisi. Dari AFI di Indosiar, KDI di TPI dan lain sebagainya. Mereka semua sukses mendapat dukungan dari banyak penonton. Lalu, kemanakah mereka kini? hanya sedikit yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan para DAI yang ditampilkan di TPI beberapa waktu yang lalu. Penyampaian yang menarik dan atraktif membuat acara ini menjadi salah satu acara yang paling favorit bagi pemirsa di Indonesia. Namun, berapa orang saja yang sampai saat ini masih eksis dikenal masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, mengapa kita tidak menulis terus-terusan untuk menjadi seorang yang ahli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips ini memang sangat biasa, bahkan karena seringnya kita mendengar, maka terkadang kita meremehkan hal ini. Bernafas misalnya, karena ini adalah hal yang sangat rutin dan sering kita lakukan, bahkan kita sendiri sering tidak sadar bahwa kita sedang bernafas. Begitu pula dengan tips ini, karena terlalu sering di dengar, maka tips ini menjadi sangat biasa bahkan sering diremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga merasakan demikian. Namun perasaan itu menjadi berubah ketika saya &lt;b&gt;melakukannya dan melaksanakannya&lt;/b&gt;. Setiap saya menulis, saya selalu merasakan hal yang berbeda dari apa yang saya rasakan sebelumnya. Ketika saya menulis sekarang, saya merasakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang saya tulis sebelumnya, begitu pula ketika saya menulis nantinya, saya merasakan bahwa saya akan merasakan hal yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kata kuncinya adalah praktek. Tips teruslah menulis hanya akan menjadi biasa ketika itu kita dengar, tetapi menjadi hal yang sangat luar biasa, ketika itu kita lakukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, mengapa saya harus terus menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat tertarik untuk membahas secara singkat apa yang telah saya tuliskan di buku pertama saya tentang beberapa alasan mengapa saya, dan saya mengharapkan Anda juga merasakan ini, harus terus menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=246084083044&amp;amp;h=2607708b80cf6cb26d7e9987f954e47a&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fnotes.php%3Fref%3Dsb%23%2Fnote.php%3Fnote_id%3D243018293044" target="_blank" title="http://www.facebook.com/notes.php?ref=sb#/note.php?note_id=243018293044"&gt;Menulis itu sangat berhubungan erat dengan kesuksesan.&lt;/a&gt;. Dengan menulis saya bisa merancang hidup saya kedepan. Apakah saya ingin menjadi lebih baik ataukah menjadi lebih buruk bahkan gagal dalam segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa menulis buku pertama. Itu semua karena saya telah merancang hal ini dengan tulisan yang jelas, spesifik dan terperinci. Tidak hanya impian yang kemudian hilang begitu saja. Tidak hanya angan-angan yang lupa seiring dengan banyaknya hal yang kita ingat. Dan itu semua terinspirasi dari sebuah tulisan tentang penelitian yang terdapat di harvard bisnis scholl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nah, dalam kaitannya dengan dunia menulis, penelitian yang dilakukan terhadap para lulusan MBA di Harvard Business School antara tahun 1979 dan 1989 mungkin bisa menjadi jawaban. Penelitian yang berkaitan dengan penulisan rencana hidup ini menghasilkan sebuah hasil yang sangat bombastis, yaitu;&lt;br /&gt;Pada tahun 1979, para lulusan MBA tersebut ditanya, “Apakah Anda telah menyusun suatu rencana hidup yang jelas, spesifik dan tertulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1989, periset yang dipimpin oleh Mark McCormack melakukan wawancara dengan semua responden pada tahun 1979 yang lalu. Hasilnya, 13% yang menyatakan memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik tetapi tidak tertulis, memiliki penghasilan rata-rata dua kali lipat dibandingkan dengan mereka yang belum memiliki dan menyusun rencana hidup yang berjumlah 84%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa bukan? Namun yang sangat luar biasa adalah 3% para lulusan yang telah memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik, dan tertulis memiliki penghasilan yang besarnya rata-rata 10 kali lipat dibandingkan 97% lulusan sekolah tersebut.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dapat juga di baca di buku pertama saya tersebut]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah yang menjadikan kenapa saya terus menulis! Bagaimana dengan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-3248064258766690763?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/3248064258766690763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/mengapa-saya-harus-terus-menulis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3248064258766690763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3248064258766690763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/mengapa-saya-harus-terus-menulis.html' title='Mengapa Saya Harus Terus Menulis?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-3558264751125778782</id><published>2010-01-13T16:41:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T16:43:37.807-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Bagaimana Saya Ke-Asyik-an Menulis?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;Beberapa waktu yang lalu, saya menuliskan sebuah catatan yang berjudul &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=243338938044&amp;amp;h=24d617ff985ff1c6fed67a74c38b4031&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fprofile.php%3Fref%3Dprofile%26id%3D1228629244%23%2Fnote.php%3Fnote_id%3D241176773044" target="_blank" title="http://www.facebook.com/profile.php?ref=profile&amp;amp;id=1228629244#/note.php?note_id=241176773044"&gt;Asyik Menulis dan Menulis Asyik&lt;/a&gt;. Tanpa saya perkirakan sebelumnya, ternyata catatan tersebut mendapat banyak komentar. Dan komentar yang paling menarik saya untuk menuliskan catatan ini adalah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;saya belum merasa asyiknya menulis... :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gmana tipsnya ka?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga terbesitlah keinginan untuk menulis catatan ini dengan sebuah judul &lt;b&gt;Bagaimana cara supaya mendapatkan ke-asyik-an menulis?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu [tepatnya saya lupa], saya sama sekali tidak pernah berpikir bahwa akhirnya saya 'jatuh cinta' pada dunia tulis menulis hingga akhirnya ke-asyik-an. Saya, dahulu, hanya menulis jika ada pekerjaan rumah [PR] atau jika ada tugas yang mengharuskan saya menulis [Dahulu saya terpilih menjadi redaktur majalah Matla- Majalah santri Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini, saya malah ke-asyik-an menulis. Tidak menulis sehari, saya rasa, sama halnya dengan seorang pecandu rokok yang tak merokok. Ketika saya tidak menulis sehari saja, saya merasa ada sesuatu yang hilang dari diri saya. Dan ternyata saya telah menemukan 'Asyik'-nya menulis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya temukan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dengan menulis Saya mampu mengikat ilmu&lt;br /&gt;2. Dengan menulis Saya mampu berbagi dengan teman-teman Saya&lt;br /&gt;3. Dengan menulis Saya mampu mengurangi stress&lt;br /&gt;4. Dengan menulis Saya mampu merancang hidup bahagia&lt;br /&gt;5. Dengan menulis Saya mampu menjaga semangat Saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Untuk membaca penjelasannya, dapat dibaca langsung dibuku pertama saya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu semua, saya dapatkan setelah saya &lt;b&gt;terus menulis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus menulis? Ya terus menulis untuk mengembangkan kemampuan menulis saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus menulis? Ya untuk mengetahui 'potensi menulis' yang terpendam dalam diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus menulis? Ya, walau pun sering tulisan saya di ledek oleh teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus menulis? Ya, walau pun sering tulisan saya ditolak oleh media massa dan penerbit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus menulis? Ya, ya, ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Bagaimana cara supaya mendapatkan ke-asyikan- menulis? Teruslah menulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-3558264751125778782?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/3558264751125778782/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/bagaimana-saya-ke-asyik-menulis.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3558264751125778782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/3558264751125778782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/bagaimana-saya-ke-asyik-menulis.html' title='Bagaimana Saya Ke-Asyik-an Menulis?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-1475377550585258608</id><published>2010-01-11T05:18:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T05:42:14.758-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Apa Korelasi Antara Menulis dan Kesuksesan?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S0slvrDMcdI/AAAAAAAAAUU/DHXoYJn7v0Q/s1600-h/TheSecretCD.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 186px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S0slvrDMcdI/AAAAAAAAAUU/DHXoYJn7v0Q/s200/TheSecretCD.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425471677038096850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;photo&gt;Sebuah kesimpulan yang saya dapatkan dari buku &lt;i&gt;The Secret&lt;/i&gt;-nya Rhonda Bryne adalah bahwa apa yang kita pikirkan itulah yang akan menghampiri kita. Tidak peduli apakah itu negatif atau positif, segala yang kita pikirkan akan melambung jauh mengikat hal-hal yang terpikirkan tersebut. Kemudian jatuh dan akhirnya menimpa diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang saya alami ketika ujian hari ini. Dasar penulis, yang dipikirkan setiap saat adalah ide segar yang bisa dibagikan kepada orang banyak. Dan saya mendapatkan ide segar tersebut dari soal ujian tafsir, tepatnya pada kata &lt;b&gt;korelasi!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apa definisi pasti dari kata korelasi yang tertuang di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun sepemahaman saya, kata tersebut mempunyai makna keterkaitan, kesinambungan, dan kata lain yang memiliki makna seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa korelasi antara menulis dan kesuksesan? dapat kita pahami dengan bahasa yang lebih sederhana dengan menyatakan apa kaitan antara menulis dan kesuksesan! apakah dengan menulis kita bisa sukses dalam segala bidang? ya segala bidang! Bukan cuma menerbitkan artikel atau buku karena itu sangat berkaitan erat dengan dunia tulis menulis. Bagaimana dengan para sales misalnya, yang hanya bertugas untuk menawarkan barang atau jasa; Apakah sales juga bisa 'sukses' dengan menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas hal tersebut lebih lanjut, ada baiknya kita menyatukan definisi sukses terlebih dahulu. Karena saya yakin bahwa arti sukses itu banyak, sebanyak kepala yang mendefinisikannya. Ada yang mengatakan bahwa sukses adalah ketika ia mempunyai banyak uang, mempunyai banyak rumah dan sebagainya. Ada pula yang menyatakan bahwa sukses adalah ketika kita dapat memenuhi kebutuhan kita dan juga membantu kebutuhan orang lain. Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan kali ini, saya hanya ingin memaknai kesuksesan dengan tercapainya semua yang kita mau dan cita-citakan. Seorang penulis berkeinginan untuk bisa menerbitkan buku, misalnya, maka kesuksesannya adalah ketika ia berhasil menerbitkan buku. Seorang sales, kembali kepada contoh diatas, saya kira mereka akan berkata bahwa keinginan terbesar mereka adalah diterimanya barang dan jasa yang mereka tawarkan. Begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, yang perlu kita pahami juga adalah, bahwa kesuksesan tersebut akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan. Jika seorang penulis mampu menerbitkan buku kecil pada awalnya, dan ia akhirnya sukses, maka ia akan berkeinginan untuk menulis buku yang lebih bagus daripada itu dan itulah kesuksesan yang ia cita-citakan. Begitu pula dengan sales dan profesi lainnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, &lt;b&gt;Kesuksesan adalah ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada pokok pembahasan, Apa korelasi antara menulis dan kesuksesan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, saya ingin mengutip apa yang ditulis oleh Inspirator Sukses Mulia, Jamil Azzaini dalam website pribadinya. Kutipan ini saya kutip juga didalam buku pertama saya yang berjudul; &lt;i&gt;Menulis Itu Asyik Lho!; Langkah Asyik Melejitkan Potensi Menulis.&lt;/i&gt;&lt;photo&gt;&lt;/photo&gt;&lt;/photo&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S0soGmiY1PI/AAAAAAAAAUc/ehRFz4mn6VI/s1600-h/Samp+Buku+Menulis1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 146px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S0soGmiY1PI/AAAAAAAAAUc/ehRFz4mn6VI/s200/Samp+Buku+Menulis1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425474269987001586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;photo&gt;&lt;photo&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Setiap tulisan yang kita buat akan mengingatkan kita pada komitmen-komitmen yang telah kita buat, dan itu adalah obat yang sangat baik untuk membangkitkan semangat yang kerap kali pudar di tengah jalan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;photo&gt;Kata-kata yang begitu menggerakkan tersebut sangat erat kaitannya dengan buku beliau yang berjudul &lt;i&gt;Tuhan Inilah Proposal Hidupku!&lt;/i&gt;. Buku yang akan menggiring kita kepada pembuatan proposal hidup sebagaimana kita sering membuat proposal kegiatan. Buku yang mengharuskan kita menuliskan apa yang kita inginkan dimasa-masa hidup kita. Apa yang akan kita kerjakan agar orang-orang bangga terhadap kita, terlebih Tuhan kita.&lt;br /&gt;&lt;/photo&gt;&lt;/photo&gt;&lt;/photo&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S0sp3eKCC9I/AAAAAAAAAUk/xSKe_fwKHFY/s1600-h/buku+tuhan+inilah+proposal+hidupku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 142px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S0sp3eKCC9I/AAAAAAAAAUk/xSKe_fwKHFY/s200/buku+tuhan+inilah+proposal+hidupku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425476209062579154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;photo&gt;&lt;photo&gt;&lt;photo&gt;Dan tulisan dalam proposal hidup itulah yang dimaksud beliau sebagai tulisan yang akan mengingatkan kita pada komitmen-komitmen yang telah kita buat. Dan terbukti, itu adalah obat yang sangat baik untuk membangkitkan semangat yang kerap kali pudar di tengah jalan, dalam menggapai keinginan/kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tulislah apa yang kamu inginkan! komitmenlah terhadap apa yang kamu tulis! maka kesuksesan akan menghampirimu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/photo&gt;&lt;/photo&gt;&lt;/photo&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-1475377550585258608?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/1475377550585258608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/apa-korelasi-antara-menulis-dan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1475377550585258608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1475377550585258608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/apa-korelasi-antara-menulis-dan.html' title='Apa Korelasi Antara Menulis dan Kesuksesan?'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/S0slvrDMcdI/AAAAAAAAAUU/DHXoYJn7v0Q/s72-c/TheSecretCD.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-219286910612548375</id><published>2010-01-09T06:21:00.000-08:00</published><updated>2010-01-09T06:23:06.157-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>[Oleh-Oleh] Menulis Dengan Metode 'Pak!'</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;Hari ini, saya merasakan kebahagiaan tersendiri karena dapat menghadiri "Launching Mentor FM Plus Angkatan Ke-10" di Warung Bakso 99 Ruko Delta sari Indah Waru. Saya beruntung karena berkumpul bersama orang-orang yang ingin menjadi seorang trainer dan penulis yang menggugah, mengubah dan menginspirasi. Di bawah bimbingan Spiritual Motivator Nasional yaitu N. Faqih Syarif H; penulis buku al-Quwwah ar-Ruhiyah ini berusaha mematahkan gembok-gembok mental yang ada dalam diri para peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, hal yang paling menarik yang beliau sampaikan saat itu adalah menulis dengan metode PAK!;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P = Pusatkan Pikiran Anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A = Atur Tulisan Tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K = Karanglah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;! = Hebat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan menjelaskan satu persatu berikut ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pusatkanlah pikiran Anda&lt;/i&gt; artinya dalam memulai menulis Anda harus memusatkan pikiran Anda terhadap apa yang Anda tulis. Misalnya Anda ingin menulis tentang "hukum di Indonesia", maka pusatkanlah pikiran Anda pada hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya dengan menjalani stategi gugus, yaitu menuliskan sebebas-bebasnya segala hal yang berkaitan dengan pikiran Anda sekarang. Ketika seseorang mengatakan kepada Anda "Hukum di Indonesia", maka tulislah segala sesuatu yang terdetik di kepala Anda. Tangkaplah semua itu karena itulah yang akan menjadi ide Anda dalam menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, jahitlah percikan-percikan ide tersebut sehingga mempunyai kesinambungan antara satu dan lainnya. Ambil yang mempunyai kaitan erat dan buang apa yang tidak relevan terhadap apa yang Anda pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, Tulislah dengan cepat semua hal yang telah diambil diatas. Secepat-cepatnya, jangan memikirkan tentang kesinambungan antara satu kalimat dengan kalimat lain; apakah tulisan tersebut sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD); dan lain sebagainya yang menghambat keluarnya ide tersebut. Tulislah dengan cepat sehingga ide yang ada dikepala Anda tentang hal itu habis dan tak tersisa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Atur tulisan tersebut&lt;/i&gt;. Ya, setelah menulis dengan cepat semua gugusan yang ada pada pusat pikiran Anda, kini saatnya Anda, dalam bahasa Pak Faqih, menggunakan topi kritisi untuk mengatur semua tulisan yang ada agar mempunyai kesinambungan yang jelas dan rangkai. Tambahlah bila kurang, dan kurangi bila berlebihan. Atur semua agar tampil menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan &lt;i&gt;Karanglah&lt;/i&gt; agar menjadi sebuah karangan yang enak untuk dibaca, mudah untuk dipahami dan nikmat untuk diresapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir adalah Hebat (!) alias percantik kembali tulisan tersebut dengan data-data yang ada. Beri kata-kata itu ruh agar lebih berisi dan tentunya bergizi. Jika ini semua telah Anda lakukan, maka selamat Anda telah menjadi seorang penulis!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode itu sangat menarik. Dan yang lebih membuat saya tertarik sebenarnya adanya keterkaitan metode ini dengan apa yang saya bahas di buku pertama saya "Menulis Itu Asyik Lho!: Langkah Asyik Melejitkan Potensi Menulis".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal bab I; pembahasan mengenai langkah memulai menulis, saya menjelaskan pada langkah pertama yaitu dengan mengosongkan diri terlebih dahulu. Artinya, ketika kita berniat untuk memulai menulis, maka kita harus mengosongkan diri terlebih dahulu dari ketakukan akan menyalahi ejaan yang ada; ketakutan dari menyalahi pendapat orang lain; ketakutan dari segala hal negatif lainnya. Dan ini dijelaskan kembali pada metode PAK! ini dalam bagian Pusatkan Pikiran Anda; yaitu dengan berfokus pada apa yang Anda tulis bukan pada apa yang mengatur tulisan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atur tulisan Anda; sangat sesuai dengan apa yang saya jelaskan pada Bab III di pembahasan tentang tulisan jelek; alias amburadul yang tak tahu kemana arah dan tujuannya. &lt;i&gt;Shakespeare&lt;/i&gt; mengatakan dengan lantang bahwa &lt;i&gt;Di dunia ini tidak ada karya yang baik yang sekali jadi!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karanglah; yang segera, jangan menunggu mood, jangan menunggu waktu kosong, jangan menunggu sarjana, jangan menunggu ini dan itu; karena menunggu itu membosankan dan menjenuhkan. Karanglah sekarang juga! Pembahasan ini saya bahas di Bab I pada bagian memulai menulis dari sekarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebat!!! Anda telah menjadi penulis dengan mempercantik tulisan Anda. Anda telah meracik tulisan yang sempurna setelah meniupkan ruh ke barisan kalimat-kalimat yang ada. Inilah penutup Metode "Pak!"-nya Pak Faqih yang selaras dengan penutupan Bab buku saya yang berjudul Akhirnya Bisa menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, selamat menulis dan teruslah menulis. Karena, di dalam pengantar buku saya tersebut, Pak Faqih mengatakan bahwa jika Anda tidak menulis, maka Anda akan menjadi manusia pra-sejarah; yang tak dikenal apalagi terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;;Catatan menghadiri Launching Mentor FM Plus Angkatan 10&lt;br /&gt;Radinal Mukhtar Harahap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-219286910612548375?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/219286910612548375/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/oleh-oleh-menulis-dengan-metode-pak.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/219286910612548375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/219286910612548375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/oleh-oleh-menulis-dengan-metode-pak.html' title='[Oleh-Oleh] Menulis Dengan Metode &apos;Pak!&apos;'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-8307992313166536431</id><published>2010-01-07T18:01:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T18:02:59.986-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku Pertama'/><title type='text'>Melejitkan Potensi Menulis!</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Anda adalah Keajaiban yang berjalan!&lt;/i&gt;  Toni Buzan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30413176&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=236255413044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=236255413044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs198.snc3/20575_1180452471327_1228629244_30413176_1658723_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, Head Strong, bukanlah buku baru. Cetakan kedua saja, yang saya miliki, dicetak pada bulan november 2003. Namun demikian, saya baru bisa membacanya langsung, walaupun terjemahan, diakhir tahun 2009. Saya sungguh terkejut dengan kata-kata Tony Buzan diatas yang dituliskannya di halaman 132. Sedikit tidak percaya, kemudian saya melanjutkan bacaan kehalaman 133 hingga 134; Dan saya menemukan jawabannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;setiap tubuh manusia terdapat energi atom yang cukup besar dan dapat membangun kota terbesar di dunia beberapa kali secara berulang-ulang. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa setiap mata manusia mengandung 130 juta penerima cahaya. Setiap penerima cahaya tersebut dapat menerima paling sedikit lima foton per detik. Tak Cuma itu, mata juga mampu mendeteksi lebih dari 10 juta warna yang berbeda secara instan. Bahkan cem laboratory di Switzerland memperkirakan bahwa diperlukan alat senilai 68.000.000 dolar AS untuk membuat satu duplikat mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga memiliki jantung yang berdetak 100 ribu kali sehari secra otomatis. Setiap detakan tersebut dapat memompa 1.500 galon darah setiap harinya melalui pembuluh darah yang apabila diurutkan dari ujung awal hingga ujung akhir, panjangnya cukup untuk mengelilingi bumi pada garis equator sebanyak dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, darah yang mengalir di seluruh tubuh manusia mengandung 22 triliun sel darah yang masing-masing memuat jutaan molekul. Di dalam setiap molekul terdapat sebuah atom yang berosilasi (bergerak harmonik secara periodik) dengan kecepatan 10 juta kali perdetik.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;NB; Ini hanyalah ringkasan dari sebagian hasil penelitian Tony Buzan. Untuk Lebih lengkapnya, dapat dibaca di buku &lt;i&gt;Head Strong&lt;/i&gt; karangan beliau atau di buku pertama saya &lt;i&gt;Menulis Itu Asyik Lho!&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jauh sebelum hasil penelitian itu ditemukan, ternyata dalam islam hal itu telah dikemukakan dalam al-Qur'an di surat at-Tin ayat 4;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, sampai seberapa jauh kita menggunakan potensi yang telah diberikan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan menulis, hal ini juga saya bahas dalam buku pertama saya tersebut, saya tertarik untuk mengutip perkataan Gola Gong dalam sampul belakang bukunya, &lt;i&gt;menulis itu bukan bakat, tapi usaha yang terus diasah.&lt;/i&gt;. Hal ini sangat sesuai dengan definisi bakat yang terdapat di &lt;i&gt;One.Indoskripsi.Com&lt;/i&gt; yang menyatakan bahwa &lt;i&gt;bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi inti dari melejitkan potensi (menulis) adalah dengan mulai menulis, terus menulis dan akhirnya bisa menulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;NB: Untuk mengetahui trik-trik tentang memulai menulis, terus menulis dan akhirnya bisa menulis, di dalam buku pertama saya di bahas panjang lebar lho? he he he&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, mari kita melejitkan potensi-potensi (menulis) yang ada pada diri kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30413175&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=236255413044&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=236255413044&amp;amp;id=1228629244"&gt;&lt;img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs198.snc3/20575_1180450831286_1228629244_30413175_511003_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="caption"&gt;sampul depan dan belakang buku Menulis Itu Asyik Lho!; Langkah Asyik Melejitkan Potensi Menulis&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Buku Menulis Itu Asyik Lho karya saya masih dalam tahap percetakan. Insya Allah akan segera terbit di akhir januari! Harga melalui distributor 25.000 rupiah. Namun jika memesan langsung dari penulisnya, yaitu saya, dapat diskon 25%. Jadi cukup membayar 19.000 saja (Tidak termasuk ongkos kirim bagi yang memesan diluar surabaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memesan; ketik MIAL/nama/alamat pengiriman/jumlah eks yang dipesan. Contoh; MIAL/Radinal Mukhtar Harahap/Jl. Zubeir Ahmad No. 58 Padang Sidimpuan/3. Selanjutnya anda akan mendapat balasan nomor rekening pembayaran yang dituju. (Biaya ongkos kirim, akan diberitahukan maksimal 3 hari setelah pemesanan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-8307992313166536431?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/8307992313166536431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/melejitkan-potensi-menulis.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/8307992313166536431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/8307992313166536431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2010/01/melejitkan-potensi-menulis.html' title='Melejitkan Potensi Menulis!'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-4944542727663112269</id><published>2009-12-22T04:58:00.000-08:00</published><updated>2009-12-22T04:59:23.199-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Ide Yang Terus Berkembang</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Ide akan berkembang dan membiak apabila kita banyak membaca--apalagi jika membaca buku2 bergizi. Inilah keajaiban pikiran.&lt;/i&gt; Hernowo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa perlu berterima kasih kepada sahabat saya Abdullah Tamam yang telah menginspirasi saya untuk menulis catatan ini. Bukan berlebihan bagi saya jika mengatakan bahwa 'tulisan pertamanya' di facebook yang berjudul &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=212672063044&amp;amp;h=ea59e8b72e1adc62ad70657a6205d5ad&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fnote.php%3Fnote_id%3D216972596159" target="_blank" title="http://www.facebook.com/note.php?note_id=216972596159"&gt;SEBUAH CATATAN PASCA PERINGATAN HARI IBU&lt;/a&gt; telah membangkitkan kenangan-kenangan saya dahulu. Yaitu ketika ibu saya masih menemani saya di dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Begitu banyak khilaf yang diperbuat anakmu ini bu.... siang hari tak pernah berhenti engkau memikirkan kami yang jauh dari pelupuk matamu tanpa sedikitpun kami memikirkan keadaanmu disana.....malam-malam selalu engkau lalui dengan untaian bait-bait do’a untuk kami anakmu, tapi disini kami hanya mendendangkan suara dengkuran khas orang yang berfantasi di alam mimpi.....ibu, maafkan semua khilafku!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kata-kata yang menggetarkan itu. Kata-kata yang begitu bertenaga dan menggerakkan pikiran saya untuk kembali terbang ke alam romantika kehidupan anak dan ibu. Kehidupan yang begitu indah, begitu mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca tulisan tersebut, saya langsung menghubunginya. Memberikan apresiasi atas tulisannya dan akhirnya berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ga' bisa menulis kalau belum ada inspirasi dari membaca, Nal!" itulah kata-kata yang kemudian menjadi titik awal ide untuk menuliskan tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup! Menulis dari membaca. Konteks ini tentu saja mengingatkan saya pada kata-kata Pak Hernowo sebagaimana saya tulis dalam pembukaan tulisan ini. &lt;i&gt;Ide akan berkembang dan membiak apabila kita banyak membaca--apalagi jika membaca buku2 bergizi. Inilah keajaiban pikiran&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca itu membaca buku; maka menulislah setelah membaca buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca itu membaca diri; maka menulislah dengan menggunakan perasaan diri dan pengalaman sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca itu membaca alam; karena itulah inspirasi yang berasal dari Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca itu penting, sepakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;; Catatan Radinal Mukhtar Harahap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-4944542727663112269?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/4944542727663112269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2009/12/ide-yang-terus-berkembang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4944542727663112269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/4944542727663112269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2009/12/ide-yang-terus-berkembang.html' title='Ide Yang Terus Berkembang'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-6828421290756336090</id><published>2009-12-14T08:11:00.001-08:00</published><updated>2009-12-14T08:14:17.162-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Berdamai dengan Musibah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;"Alif Lam Mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan "Kami telah beriman", sedang mereka tidak di uji lagi?"&lt;/i&gt; (Al-'Ankabut; 1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, saya sama sekali tidak tahu bahwa ujian, pada dasarnya adalah bertujuan untuk menempa jati diri. Tepatnya ketika di usia 11 tahun, ketika saya ditinggal selama-lamanya oleh ibu kandung saya yang selama ini mendidik dan menyangi saya dan ketiga saudara saya. Saya merasakan hidup ini begitu hampa tanpa sosok beliau. Begitu pula ketika tiga tahun berikutnya, ketika saya masih duduk di bangku kelas 2 pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, ayah saya pun menyusul ibu. Hidup begitu hampa. Tidak ada lagi tempat mengadu sebagaimana teman-teman saya yang masih mempunyai dua orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lambat laun, kesedihan akan kepergian dua orang tua saya semakin berkurang. Saya dapat memahami bahwa Tuhan, dalam hal ini Allah, tidak akan pernah main-main dalam mendidik hambanya untuk menuju jalan kesuksesan; atau dalam bahasa agamanya untuk memperkuat keimanannya. Saya begitu merasakan ketika saya membanding-bandingkan diri saya sendiri terhadap diri teman-teman saya. Saya mendapatkan bahwa saya mempunyai keunggulan dalam motivasi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika teman saya waktu itu masih berpikir hanya untuk menamatkan pendidikan dari pesantren tanpa ada usaha yang terkait dengan dana, maka saya telah berpikir bagaimana cara untuk tetap belajar di pesantren sambil mengumpulkan dana untuk biaya pendidikan tersebut. Walhasil, saya berusaha menjadi 'guru' bagi teman-teman saya sendiri. Saya berusaha memahami pelajaran melebihi apa yang dipahami oleh teman-teman saya agar dapat mengajari mereka. Dan dari sana, beberapa teman saya membantu saya dalam pembiayaan pendidikan saya. Dan yang lebih membuat saya bahagia, akibat usaha saya untuk memahami pelajaran melebihi apa yang dipahami teman-teman saya, diakhir pendidikan, saya mendapatkan beasiswa sebagai alumni terbaik ke-2 di pesantren tersebut. Ini tidak lain karena, apa yang saya pelajari, terus saya ulang tanpa terasa terus teringat dan melekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kehilangan kedua orang tua tersebut kembali mendidik saya untuk lebih keras dalam bekerja dan belajar. Karena saya masih mempunyai satu orang adik perempuan yang harus tetap sekolah. Kini ia masih duduk di kelas X MAN 1 Padang Sidimpuan. Dan saya telah berjanji padanya untuk terus menyekolahkannya hingga ia mencapai cita-citanya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana ayat yang saya kutip diatas, saya hanya ingin menyampaikan bahwa dunia, pada dasarnya memang berisi berbagai macam cobaan. Tidak akan pernah ada seorang pun yang terlepas dari cobaan atau pun ujian. Ujian itu mesti; dan kita dituntut untuk melewatinya bukan untuk lari darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napoleon Hill, sebagaimana ditulis Andrew Ho dalam bukunya &lt;i&gt;The New Inspiration&lt;/i&gt;, pernah mengatakan bahwa &lt;b&gt;dari pengamatan riwayat tokoh-tokoh sukses di dunia ini, kita mendapatkan bahwa mereka mengalami ujian dan tantangan yang besar baru bisa berhasil. Sebelum sebuah tugas yang berat diberikan, kita akan diuji dengan berbagai cara!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, mari, meminjam judul bukunya Komaruddin Hidayat, berdamai dengan musibah. Sebagaimana kata-kata Prie GS dalam Majalah Luar Biasa yang sering saya kutip, &lt;b&gt;"bahwa tidak ada yang harus ditakuti dari sebuah derita jika seseorang memang harus menghadapinya"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari berdamai dengan musibah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini kuhadiahkan buat teman-temanku yang sedang tertimpa musibah. Semoga bisa menjadi penghibur dan pembangkit motivasi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;; Radinal Mukhtar Harahap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-6828421290756336090?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/6828421290756336090/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2009/12/berdamai-dengan-musibah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6828421290756336090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/6828421290756336090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2009/12/berdamai-dengan-musibah.html' title='Berdamai dengan Musibah'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-1583101125970242226</id><published>2009-12-11T17:08:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T17:10:16.869-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Bantu saya! Saya kehabisan ide</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;Saya mempunyai seorang teman di pesantren dahulu; adik kelas sih sebenarnya. Tapi saya lebih senang menganggapnya sebagai seorang teman ketimbang sebagai seorang adik. Selain lebih enjoy untuk bercanda dan berkata-kata, mengganggapnya sebagai teman akan menghindarkan saya dari anggapan orang bahwa saya adalah gurunya, apalagi abang iparnya he he he...:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mempunyai minat yang besar dalam menulis. Ketika saya telah menamatkan pendidikan formal di pesantren, dan pada saat itu ia belum menamatkannya, ia sering menghubungi saya untuk sama-sama belajar menulis. Ia begitu semangat. Setiap hari, dengan segala keterbatasan yang ada di pesantren dan padatnya jadwal, ia tetap menulis. Saya sungguh salut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, kini saya jarang menemukan tulisan-tulisannya, baik di facebook atau pun di blog. Dan tulisan ini pun, saya hadiahkan khusus buatnya, dan secara umum untuk pembaca yang mau membaca tulisan ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duh, saya mau menulis apa ya? Saya kehabisan ide nich?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa? Kehabisan ide?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Ga' tau mau menulis apa. Mau menulis ini, sudah di tulis oleh si A. Itu sudah di tulis oleh si B. Malah si C menulis ini dan itu. Lalu apa yang mau saya tulis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm.. Tulis aja kamu kehabisan ide!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman, maaf ya, kalau tulisan ini tidak bagus. Soalnya saya sedang kehabisan ide. Saya tak tahu mau menulis apa. Well, ketika saya curhat sama teman saya, saya malah disuruh untuk menuliskan tentang saya yang kehabisan ide. Gila ga' tuch?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya dari dahulu sangat berminat untuk menulis. Tapi ya itu, saya ga' pernah tau apa yang mau saya tulis. Karena setelah saya membaca beberapa buku, saya melihat bahwa semua hal telah di tulis. Saya mau menulis tentang pendidikan, baik di tinjau dari sisi ini atau pun dari sisi itu, eh sudah di tulis oleh si A. Saya mau menulis tentang manajemen, yang juga ditinjau dari sisi ini dan itu, eh sudah di tulis juga oleh si B. Selain dua itu, ya saya yang ga' bisa. Soalnya ga' tau apa-apa kecuali tentang kedua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya gimana lagi. Terpaksa saya harus mengalah dengan si A dan si B. Saya tidak jadi menulis dan akhirnya menulis tulisan ini. Itu hanya karena satu hal, yaitu saya kehabisan ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mau bantu ga'? Kasih ide dong? tentang apa gitu. Biar saya bisa tulis dan nanti bisa dibaca banyak orang. Kan asyik tuch, jika tulisan saya dibaca banyak orang. Selain bisa berbagi saya juga bisa menambah ilmu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke dech teman ya? siapa yang dapat ide bagi-bagi ke saya ya. Jangan lupa! Soalnya saya sedang kehabisan ide nih. Ingat saya ketika mendapatkan ide. Ingat-ingat.. ting...:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nih, ku udah tuliskan tentang diriku yang kehabisan ide!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini tulisanku tentang kehabisan ide"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, berarti ente dah nulis donk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, iya ya.. ga' nyangka ku udah nulis he he he..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562871938530015123-1583101125970242226?l=kumpulan-q.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/feeds/1583101125970242226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2009/12/bantu-saya-saya-kehabisan-ide.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1583101125970242226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562871938530015123/posts/default/1583101125970242226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-q.blogspot.com/2009/12/bantu-saya-saya-kehabisan-ide.html' title='Bantu saya! Saya kehabisan ide'/><author><name>Radinal Mukhtar Harahap</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12547640029821494673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_G9iUxQNI9Wc/ShS-OmBt3gI/AAAAAAAAANg/7Xp6VfjebPQ/S220/DSCN20882.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562871938530015123.post-1094406462882255219</id><published>2009-12-11T08:34:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T08:35:45.070-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Tulisanku Yang Berserakan (Mei-Desember 2009)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang akhir tahun ini, rasanya perlu untuk mengumpulkan kembali link tempat tulisan-tulisan saya pernah nampang. Selain untuk refleksi terhadap diri sendiri, hal ini sangat perlu bagi saya untuk dapat menyusun resolusi di tahun mendatang. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di Pembelajar.Com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=ead96c2fe4e3fc8e45b791ca79c67893&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fpembelajar.com%2Fkepentingan" target="_blank" title="http://pembelajar.com/kepentingan"&gt;Kepentingan&lt;/a&gt;; 25 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=26175986bc4378b792a16a0ac9523642&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fpembelajar.com%2Fmencintai-anak" target="_blank" title="http://pembelajar.com/mencintai-anak"&gt;Mencintai Anak&lt;/a&gt;; 13 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=d0caea4894ff9a33a03f85008305b03c&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fpembelajar.com%2Fmasih-maukah-kita-berbuat-buruk" target="_blank" title="http://pembelajar.com/masih-maukah-kita-berbuat-buruk"&gt;Masih Maukah Kita Berbuat Buruk?&lt;/a&gt;; 24 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=78a2fa0ee4d90ce3b129fb3006417724&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fpembelajar.com%2Fmembebaskan-diri" target="_blank" title="http://pembelajar.com/membebaskan-diri"&gt;Membebaskan Diri&lt;/a&gt;; 04 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=929eb974da5500d821947fd4cb09e80a&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fpembelajar.com%2Fmenanam-bambu" target="_blank" title="http://pembelajar.com/menanam-bambu"&gt;Menanam Bambu&lt;/a&gt;; 22 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di AndaLuarBiasa.Com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=955c848376de7661ac793d45cff32563&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.andaluarbiasa.com%2Ftiga-cerita-beasiswa" target="_blank" title="http://www.andaluarbiasa.com/tiga-cerita-beasiswa"&gt;Tiga Cerita Beasiswa&lt;/a&gt;; 25 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=5027a5caca80aaa23b4c2e07d5338986&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.andaluarbiasa.com%2Fsiapa-yang-menggali-dialah-yang-masuk-ke-dalam" target="_blank" title="http://www.andaluarbiasa.com/siapa-yang-menggali-dialah-yang-masuk-ke-dalam"&gt;Siapa yang menggali, dialah yang masuk ke dalam&lt;/a&gt;; 05 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=17996454e974eb25454f8ca90ffba902&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.andaluarbiasa.com%2Fthe-right-man-in-the-right-place" target="_blank" title="http://www.andaluarbiasa.com/the-right-man-in-the-right-place"&gt;The Right Man In The Right Place&lt;/a&gt;; 18 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=48d4e2bea5c825cfaf5047df6ad9aeb4&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.andaluarbiasa.com%2Fjangan-remehkan-potensi-anda" target="_blank" title="http://www.andaluarbiasa.com/jangan-remehkan-potensi-anda"&gt;Jangan Remehkan Potensi Anda&lt;/a&gt;; 13 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=59b4c682166a6153ad42bd3ad491ceeb&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.andaluarbiasa.com%2Fhadiah-sandal-untuk-raja" target="_blank" title="http://www.andaluarbiasa.com/hadiah-sandal-untuk-raja"&gt;Hadiah Sandal untuk Raja&lt;/a&gt;; 09 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di AndrieWongso.Com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=a54f964534c4eac15b90afd30b80609a&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fandriewongso.com%2Fawartikel-3046-Artikel_Anda-Berani_Hidup_Tak_Takut_Mati" target="_blank" title="http://andriewongso.com/awartikel-3046-Artikel_Anda-Berani_Hidup_Tak_Takut_Mati"&gt;Berani Hidup Tak Takut Mati&lt;/a&gt;; 22 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=5078503cd0e65617daa8c6332d57f681&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fandriewongso.com%2Fawartikel-3075-Artikel_Anda-Andalah_Penentu_Sukses%21" target="_blank" title="http://andriewongso.com/awartikel-3075-Artikel_Anda-Andalah_Penentu_Sukses!"&gt;Andalah Penentu Sukses!&lt;/a&gt;; 17 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=9d03b6aae47f10d195061dcf7e251efe&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fandriewongso.com%2Fawartikel-3108-Artikel_Anda-Kelahiran_dan_Kematian%2C_Mau_Menangis_atau_Tertawa-" target="_blank" title="http://andriewongso.com/awartikel-3108-Artikel_Anda-Kelahiran_dan_Kematian,_Mau_Menangis_atau_Tertawa-"&gt;Kelahiran dan Kematian; Mau Menangis atau Tertawa?&lt;/a&gt;; 10 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Tulisan di MenulisKreatif.Osolihin.Co&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=5a3806f8ec68a2ab14141f22fe335d76&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fmenuliskreatif.osolihin.com%2F2009%2F05%2Ftips-menulis-cerpen%2F" target="_blank" title="http://menuliskreatif.osolihin.com/2009/05/tips-menulis-cerpen/"&gt;Tips Menulis Cerpen&lt;/a&gt;; 17 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=76ae0fe4eedc750448c8a0689b86c960&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fmenuliskreatif.osolihin.com%2F2009%2F05%2Fbeasiswa%2F" target="_blank" title="http://menuliskreatif.osolihin.com/2009/05/beasiswa/"&gt;Beasiswa&lt;/a&gt;; 26 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=9bb7da81987fea1a12e6f801377d2f00&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fmenuliskreatif.osolihin.com%2F2009%2F06%2Ftips-menulis-opini%2F" target="_blank" title="http://menuliskreatif.osolihin.com/2009/06/tips-menulis-opini/"&gt;Tips Menulis Opini&lt;/a&gt;; 10 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di PenulisLepas.Com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=195421453044&amp;amp;h=dcd82619c80ccd2d957fc1b705d6cdd1&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fpenul
